• PDF

Ke Gereja, untuk Siapa?

Penilaian Pengunjung: / 5
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:23
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 3935 kali
Saat bersiap-siap untuk berangkat ke gereja pada hari Minggu, pikiran apa yang ada dalam benak Anda? Mungkin ada orang yang tidak memikirkan apa-apa. Pokoknya semua berjalan otomatis dan mekanis. Hari Minggu ya ke gereja, titik. Kalau hari Minggu tidak ke gereja, rasanya ada yang kurang atau hilang.  

Ada juga yang berangkat ke gereja dengan terpaksa. Mestinya hari itu ia sedang malas, atau bahasa gaulnya lagi ilfil, ilang filing tetapi toh tetap melangkahkan kaki ke gereja. Apa boleh buat, orangtua, saudara-saudara, teman atau pemamahannya sendiri—nanti kalau tidak ke gereja dihukum Tuhan atau tidak diberkati—telah memaksanya untuk tetap berangkat ke gereja meski ia enggan. 

 

Sebagian orang lagi barangkali berangkat ke gereja dengan segudang harapan. Harapan itu macam-macam, dari yang “rohani” sampai yang tidak “rohani.” Ada yang ke gereja karena kepingin ketemu doi yang diincarnya atau yang sudah jadi kekasihnya. Ada pula yang berangkat ke gereja karena di sana banyak teman curhat, sehingga yang dilakukan sepanjang kebaktian adalah ngobrol, atau terus-terusan mengirim sandek (sms) kendati orang yang dikiriminya ada di ruangan yang sama. Yang unik, ada lho orang yang berangkat ke gereja sekadar untuk menikmati semangkuk bubur ayam atau makanan lain yang dijual di kantin gereja yang akan disantapnya selepas kebaktian bubar. 

Namun, ada juga yang berangkat ke gereja dengan keinginan-keinginan “rohani.” Mereka ke gereja karena rindu diberkati oleh kotbah yang akan mereka dengar. Orang-orang ini, tentunya tidak semuanya, biasanya agak malas ke gereja kalau ia tahu pengkotbah tidak sesuai dengan seleranya. Ada orang yang berangkat ke gereja dengan tujuan untuk menikmati pujian yang ia nyanyikan dalam kebaktian atau merasakan pengalaman spiritual melalui penumpangan tangan sang hamba Tuhan.  Kalau mau jujur, saya yakin masih banyak lagi hal lain yang dapat ditambahkan mengenai apa yang orang pikirkan atau harapkan saat ia hendak berangkat ke gereja. Semuanya itu menyangkut satu hal, yaitu motivasi beribadah.

Ibadah adalah hak Tuhan
Sebetulnya, apa sih yang seharusnya memotivasi kita untuk beribadah pada hari Minggu? Apakah hal-hal seperti yang dicontohkan tadi boleh menjadi dorongan bagi kita untuk ke gereja? Untuk menjawab pertanyaan itu, pertama-tama kita harus paham bahwa inisiatif ibadah (setiap minggu) itu datangnya dari Allah bukan dari manusia. Kalau kita membaca Alkitab, kita akan menemukan bahwa Tuhanlah yang memerintahkan bangsa Israel untuk mengkhususkan satu hari, yakni hari Sabat, untuk beribadah kepada-Nya secara komunal (Kel. 20: 8-11; Ul. 5:12-15). Meski pada zaman itu orang sudah mengenal penanggalan, pembagian hari, minggu dan bulan, namun mengkhususkan satu hari yaitu meninggalkan rutinitas pekerjaan untuk menyembah Allah secara bersama-sama adalah gagasan yang baru. Selama bangsa Israel menjadi budak di Mesir mereka dipaksa untuk bekerja non-stop, tujuh hari dalam seminggu. Demikian juga yang dilakukan bangsa-bangsa pada waktu itu, mereka tidak mempraktikkan hari sabat (hari beristirahat). Tetapi Tuhan sendiri telah menggariskannya. Bangsa Israel harus mengkhususkan satu hari, yakni pada setiap hari Sabat, untuk menyembah-Nya.

Dalam acara-acara tertentu, tempat yang khusus dan terbaik diberikan kepada orang yang penting, entah itu pejabat atau pimpinan. Oleh sebab itu tempat itu biasa disebut tempat VIP (Very Important Person) atau bahkan VVIP (Very Very Important Person). Kalau kita punya uang lebih, kita bisa membeli tiket khusus (baca: VIP) sewaktu kita menonton sebuah pertunjukan atau menumpang pesawat terbang. Sewaktu duduk di kursi khusus itu kita mendapat perlakuan yang khusus pula.  Seolah-olah kita lebih “penting” daripada orang-orang yang duduk di kursi biasa. Dalam hal ibadah, Tuhan menghendaki kita untuk menyediakan suatu hari khusus untuk menyembah Dia. Tuhan tidak membiarkan kita menyembah-Nya (secara komunal) pada sembarang waktu, sewaktu-waktu atau semau kita. Mengapa? Karena kita harus menganggap Tuhan itu penting bahkan yang paling utama bagi kita, oleh sebab itu  kita mau mempersembahkan waktu yang khusus untuk-Nya. 

Sewaktu Tuhan memberikan sepuluh perintah yang salah satunya berisi perintah untuk menguduskan hari Sabat, Ia mendahuluinya dengan sebuah deklarasi. Deklarasi itu menegaskan bahwa hukum-hukum itu yang harus ditaati oleh bangsa Israel karena hukum-hukum itu diberikan oleh Allah yang telah menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir (Kel. 20:1; Ul. 5:6). Jadi, semua perintah yang diberikan Tuhan itu bukan sebuah opsi—boleh dilakukan boleh tidak—tetapi sesuatu yang bersifat mengikat dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dilihat dari sudut pandang ini, pelaksanaan hukum-hukum itu sebenarnya bukan demi kesenangan mereka tetapi adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh umat kepada Tuhannya yang telah menyelamatkan mereka.

Menyoal ibadah, Rick Warren dalam bukunya yang ternama The Purpose Driven Life, menjelaskan dengan tegas, “penyembahan bukanlah kepentingan kita! Kita menyembah demi kepentingan Allah.  Ketika kita menyembah, tujuan kita adalah untuk mendatangkan kesenangan bagi Allah bukan bagi diri kita sendiri.” Dan, kalau kita menelusuri asal kata “ibadah,” kita akan menemukan kebenaran yang sama seperti yang telah dijelaskan oleh Rick Warren. Saat membaca teks asli Perjanjian Lama (bahasa Ibrani), kita akan menemukan bahwa untuk kata “ibadah” dipakai kata “abodah.” Dua kata yang mirip bukan? Tentu saja dua kata itu mirip, karena kata “ibadah” dalam bahasa Indonesia adalah kata serapan dari bahasa Ibrani, dan bahasa-bahasa lainnya yang serumpun yaitu bahasa Arab dan Aram. Yang menarik adalah kata “abodah” memiliki hubungan yang erat dengan kata “ebed” yang diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Indonesia sebagai “hamba” (mis. Yes. 42:1). Nah, kata “ebed” dalam bahasa Ibrani itu diadopsi oleh bahasa Indonesia menjadi kata “abdi.” Dari sini kita telah melihat hubungan yang jelas dan tegas antara beribadah dan mengabdi. Ketika kita beribadah kepada Tuhan, seolah-olah kita ini hamba yang sedang mengabdi kepada-Nya. Jadi, fokus ibadah kita bukan diri kita sendiri, apalagi untuk kesenangan diri sendiri melainkan fokus kita adalah untuk Tuhan dan bagaimana kita memberi yang terbaik untuk menyenangkan-Nya.

So What?
Kalau ibadah itu semata-mata untuk Tuhan, bukan berarti kita tidak boleh “mengharapkan” apa pun di dalam ibadah. Sudah tentu kita boleh rindu menikmati saat kita menyanyikan pujian. Saat hati kita hancur dan lemah, kita sah saja memiliki keinginan untuk dihibur dan dikuatkan oleh Firman Tuhan.  Tetapi seharusnya adalah kita tidak menjadikan diri kita sebagai tujuan dan fokus ibadah. Sewaktu menjalani ibadah seharusnya kita tidak bertanya, “Apa yang aku dapatkan?” atau “Apa yang aku nikmati?” Tetapi sebaliknya pertama-tama kita harus bertanya, “Apa yang dapat saya berikan kepada Tuhan dalam ibadah?” Atau yang lebih tegas lagi, kita datang dengan sebuah tekad, “aku ingin memberi yang terbaik di dalam ibadah.” Sewaktu kita memuji, kita memuji dengan segenap hati dan suara kita. Mungkin suara kita tidak semerdu Jeffry S. Chandra atau Joy Tobing tapi kita akan menyanyi dengan penuh kesungguhan dan dengan meresapi setiap lirik pujian yang kita nyanyikan. Saat kita menyanyi dengan cara demikian, maka dengan sendirinya kita akan mendapat berkat dari lagu-lagu itu.  

Kalau kita menyadari fokus ibadah adalah Tuhan, maka saat duduk di ruangan kebaktian, pikiran kita tidak akan mengembara ke pusat pembelanjaan yang kita rencanakan kunjungi selepas kebaktian, atau membayangkan betapa nikmatnya pizza yang akan kita santap sepulang dari gereja. Sebaliknya, seantero diri—tubuh, hati, pikiran—kita persembahkan untuk Dia. Saat kita memberi setotal-totalnya dalam ibadah, justru kita akan menikmati ibadah dan membawa pulang berkat-berkat rohani yang melimpah. Berlawanan dengan itu, kalau kita mengikuti kebaktian dengan membawa sekantong harapan yang berfokus pada diri, justru kita akan pulang dengan “tangan” hampa. Bahkan tak jarang kita pulang dengan grundelan atas hal-hal yang membuat kita tidak puas atas ibadah itu. Entah itu pengkotbahnya yang tidak sreg di hati kita atau suasana kebaktian yang membuat kita kecewa. Suatu yang aneh memang! Saat memberi kita  menerima, namun saat menuntut kita tidak mendapat apa-apa. Sekarang tinggal mana yang akan Anda pilih? Ke gereja untuk diri sendiri atau untuk Tuhan? (Pancha W. Yahya)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Nita   |203.78.119.xxx |21-07-2012 20:04:44
good... aku lagi mau buat persekutuan pemuda yang latar belakangnya tentang
ibadah.. temanya aku kopi dari judulnya yah.. tenkuuy. Gb
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."