Super Christian

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Sewaktu SD, saya tidak ingat kelas berapa, di gereja saya diputar sebuah film rohani.  Di masa stasiun televisi cuma satu-satunya dan ragam hiburan belum semarak sekarang, pemutaran film itu menjadi suatu daya tarik tersendiri.  Oleh sebab itu saat film diputar, gereja penuh sesak oleh anggota jemaat yang antusias menonton, termasuk anak-anak seperti saya.  Film yang diputar saat itu berjudul “Super Christian.”  Kala menonton memang saya tidak memahami sepenuhnya detail film itu karena film itu memakai bahasa Inggris yang asing bagi saya.  Untungnya, lembaga rohani yang memutar film itu menyediakan seseorang untuk menjelaskan kepada kami adegan demi adegan dalam film itu.

            Film yang diproyeksikan ke layar lebar itu dibuka dengan adegan aktivitas seorang kristen pada suatu Minggu pagi.  Sebuah jam meja berdering, dan seorang pria muda sontak bangkit dari tempat tidurnya.  Segera pria itu menuju ke kamar mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke gereja.  Sembari mendendangkan lagu-lagu rohani, pria itu menyemprotkan minyak wangi ke bagian-bagian tubuhnya, menyisir rambut lalu memengenakan stelan jas berwarna putih, dengan kemeja putih, kaos kaki dan sepatu putih pula.  Pokoknya pria ini kelihatan amat rapi dan perlente. 

           Lalu pria tersebut memasuki mobil yang membawanya berangkat ke gereja.  Di sepanjang perjalanan, sang pria pun menyapa dengan ramah para tetangga di kompleks rumahnya sambil mendengarkan lagu-lagu rohani yang diputar dalam tape mobilnya.  Singkat cerita, pria kristen ini telah tiba di gereja.  Di dalam gereja ia mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan khidmat.  Ia menyanyi dengan bersungguh-sungguh dan mendengarkan kotbah dengan penuh konsentrasi.  Kalau mengamati pria kristen ini, tidak salah bila kita mengatakan bahwa ia adalah seorang Kristen yang sungguh-sungguh dan saleh.

            Film itu pun bergulir pada adegan berikutnya.  Cerita film itu pun memvisualisasikan aktivitas yang dilakukan tokoh kita di hari Senin pagi.  Adegan Senin pagi digambarkan sangat kontras dibanding adegan sebelumnya.  Pagi itu pria Kristen itu bangun dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke kantornya.  Setelah semua siap, ia pun masuk ke dalam mobil untuk menuju ke kantor.  Selama perjalanan, lagu-lagu yang terdengar bukanlah lagu-lagu rohani seperti saat hari Minggu, tapi lagu-lagu berirama rock.  Tingkah laku pria ini dalam berkendara pada hari itu pun bertolak belakang dengan yang ia lakukan pada hari sebelumnya.  Kalau pada hari Minggu ia mengendarai mobilnya dengan santun, namun hari itu ia menyetir secara ugal-ugalan, tidak memedulikan pengendara lain.  Sewaktu mobil-mobil di depannya berhenti tanpa sebab yang jelas, ia pun membuka kaca mobilnya dan memaki-maki.  Di kantor, pria ini sering mengumpat, menggoda rekan-rekan wanitanya, dan melakukan praktik-praktik yang tidak sepatutnya dilakukan seorang Kristen.  Intinya apa yang dilakukan oleh pria ini pada hari Minggu sangat bertolak belakang dengan hari-hari biasa.  Bagaikan langit dan bumi.

Meski telah puluhan tahun berlalu—anggap saja saya menonton film itu saat kelas 6 SD, itu artinya sudah hampir dua puluh tahun lampau—namun film itu masih membekas dalam benak saya.  Saya tidak tahu mengapa.  Mungkin karena zaman itu pemutaran film semacam itu adalah langka langka seperti yang telah saya ungkap di bagian awal tulisan ini.  Sekarang, saat saya mengenang kembali film itu, saya berpikir tentang satu hal.  Saya menggumuli pertanyaan yang tak saya pikirkan sewaktu menonton film itu, yaitu mengapa film ini berjudul “Super Christian”?  Sebetulnya apa sih maksud sang sutradara dengan memberikan judul itu pada film yang dibuatnya? 

Saat memikirkan hal ini pertama-tama saya langsung saja mengasosiasikan judul itu dengan tokoh-tokoh film (atau komik) superhero yang selama ini saya kenal.  Ya, Super Christian itu mirip dengan Superman, Superwoman, Superboy, Batman, atau Spiderman.  Tapi, di mana ya kemiripannya?  Figur-figur ini adalah manusia-manusia yang memiliki kemampuan super yang tak dimiliki orang kebanyakan—kecuali Batman yang mengandalkan kemampuan manusiawi yang terlatih dibantu dengan alat-alat canggih—tapi pemeran utama dalam film Super Christian adalah seorang manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan yang menonjol.  Lalu apa ya yang menghubungkan pria Kristen itu dengan para manusia super itu?  Tapi tunggu, jangan putus asa dulu.  Kalau mau lebih cermat, kita akan menemukan kemiripan dalam diri tokoh-tokoh super itu selain mereka sama-sama punya kehebatan tertentu.  Kalau kita perhatikan, semua tokoh super itu selalu menyembunyikan identitas ke-super-an mereka.  Clark Kent senantiasa tampil sebagai wartawan yang tak bernyali dan kurang sigap demi menutupi bahwa dirinya adalah Superman.  Setiap kali melakukan aksinya sebagai Batman dan Spiderman, Bruce Wayne serta Peter Benyamin Parker memakai semacam topeng agar tidak ada seorang pun yang tahu kalau mereka adalah pahlawan super.

            Jika demikian, lantas apa hubungannya dengan pria Kristen dalam film Super Christian?  Dalam hal penyembunyian identitas itulah saya melihat korelasi antara Super Christian dan manusia-manusia super itu.  Di dalam film Super Christian, kelihatannya tokoh kita ini memiliki “kehebatan” melebihi orang-orang kebanyakan.  Setiap hari Minggu tokoh ini terlihat sebagai seorang Kristen yang super.  Ia tak pernah absen ke gereja, juga selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah.  Tak hanya itu, kasih dan perhatiannya kepada sesama pun sangat menonjol dalam dirinya (pada hari Minggu). 

Namun apa yang terjadi pada hari-hari biasa?  Ternyata dalam keseharian, identitasnya sebagai manusia Kristen “super” disembunyikannya rapat-rapat.  Tak tampak secuil pun karakter kristianinya ketika ia berada di kantor atau tempat-tempat lain.  Bahkan sebaliknya, ia tampak sebagai seseorang yang hidupnya sembarangan dan bergelimang di dalam praktik-praktik kotor.

            Sejujurnya, film itu telah membawa kita—atau setidaknya saya—pada sebuah perenungan mendalam.  Sebenarnya kita ini adalah super christian itu.  Setiap hari Minggu kita ini kelihatan sangat rohani.  Kita memakai pakaian super rapi ke gereja, menyanyikan lagu-lagu pujian dengan suara merdu, mempersembahkan banyak uang, bahkan aktif melayani.  Orang-orang di gereja menganggap kita ini adalah orang Kristen yang super (baca: hebat).  Tapi setelah hari Minggu lewat, kita tak lagi terlihat sebagai orang-orang Kristen super.  Hidup kita persis atau bahkan mungkin lebih buruk daripada orang-orang yang tidak pernah mengalami kasih Kristus.  Pikiran, perkataan, gaya hidup kita semuanya benar-benar melenceng dari apa yang dikehendaki Tuhan.  Kita membiarkan diri tersapu oleh arus di dalam dunia yang penuh dosa.  Kalau teman-teman di sekolah atau kampus menyontek atau berlaku yang tidak senonoh, kita juga sama.  Kalau rekan sekantor melakukan korupsi—entah uang atau waktu—kita tak beda.  Bahkan tak jarang orang-orang Kristen justru berperan sebagai pemimpin dalam berbuat kejahatan. 

Sungguh menyedihkan!  Kalau kita cuma jadi orang Kristen super, waktu hari Minggu atau di gereja, itu membuat hati Tuhan sedih.  Menurut Rasul Paulus, sewaktu kita berbuat dosa, Roh Kudus berdukacita (Ef. 4:30).  Roh Kudus yang telah mempertobatkan kita dari dosa, akan sedih ketika melihat orang-orang Kristen tidak taat kepada pimpinan-Nya dan kembali lagi berkubang di dalam lumpur dosa.  Sudah seharusnya kita ini menjadi orang-orang Kristen super tak hanya pada hari Minggu, namun setiap hari bahkan dalam seantero hidup kita.  Jika demikian, niscaya kita menjadi “superhero-superhero” yang menyelamatkan orang lain.  Kita menjadi penerang bagi dunia yang gelap walau hanya secercah (“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga,” Mat. 5:16). (Pancha W. Yahya)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."