• PDF

Terlambat

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:24
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 2987 kali
  Sepasang suami istri selalu terlambat menghadiri kebaktian.  Setelah belasan menit ibadah berjalan, tak jarang saat pengkotbah sedang menjalankan tugasnya barulah mereka tiba di gereja.  Yang keterlaluan, meski terlambat mereka senantiasa duduk di deretan kursi paling depan.  Dan, khidmatnya ibadah pun diinterupsi oleh bunyi bising hak sepatu juga semerbak wewangian parfum yang ditebarkan suami istri ini.  Alhasil, keterlambatan mereka telah mengganggu anggota jemaat yang sedang khusuk mengikuti ibadah, juga pendeta yang sedang berkonsentrasi berkotbah.

            Karena keterlambatan itu dianggap telah mengganggu “stabilitas” gereja, maka masalah ini diangkat di dalam rapat majelis.  Para majelis pun berkutat untuk menemukan solusi atas problem ini.  Akhirnya, setelah melewati perdebatan panjang, sampailah para majelis pada sebuah keputusan.  Forum rapat itu meminta pendeta memberikan teguran kepada pasangan suami istri ini secara pribadi.  Singkat cerita, setelah pendeta menegur pasangan itu, minggu berikutnya mereka tidak datang terlambat lagi.  Namun, hal itu tidak bertahan lama.  Selang beberapa minggu kemudian mereka kembali pada habit semula, terlambat.

            Masalah keterlambatan rasanya adalah masalah umum yang dihadapi oleh banyak gereja, tak terkecuali gereja-gereja di negeri yang terkemuka dengan budaya jam karet ini.  Di hampir setiap gereja, selalu saja ada orang yang terlambat hadir kebaktian.  Tragisnya, yang biasa terlambat ya orang-orang itu-itu juga, seperti yang cerita yang telah diungkapkan di awal tulisan ini  Jikalau kita bertanya kepada orang-orang yang biasa terlambat tentang alasan keterlambatan mereka, akan muncul seribu satu macam hal.  Ada yang mengatakan rumahnya jauh, sulit bangun pagi, repot mempersiapkan anak(-anak) yang masih kecil dan lain sebagainya.  Tapi ada juga yang punya alasan begini, “ah, nggak papa saya telat yang penting khan saya datang sebelum kotbah dimulai?”  Atau ada yang mengungkapkan demikian, “masih mending saya terlambat, daripada saya nggak kebaktian sama sekali?”

            Saya tidak tahu dengan pasti apa yang terkandung di balik alasan-alasan yang dikemukakan para petelat ini.  Tapi yang pasti ada yang salah dengan pemahaman mereka mengenai ibadah.  Bagi sebagian besar mereka, ibadah itu tidak penting atau kurang penting.  Mengapa saya berani berkata demikian?  Buktinya untuk acara-acara lain mereka bisa datang tepat waktu, mengapa ke gereja selalu telat?  Misalnya waktu menghadiri sebuah jamuan makan malam, apalagi bila yang mengundang orang penting dan terhormat atau menonton film di gedung bioskop, mereka tidak akan terlambat, bahkan datang lebih awal.  Begitu juga kalau mereka memiliki janji bertemu dengan rekan bisnis atau pelanggan, mereka pasti akan datang tepat waktu.  Atau kalau mereka hendak menumpang pesawat terbang, mereka telah tiba lama sebelum waktu check in ditutup.

            Selain memandang ibadah kurang penting, orang-orang yang punya kebiasaan terlambat mengikuti kebaktian juga memiliki cara pandang yang pragmatis.  Pokoknya yang menguntungkan buat saya akan saya lakukan dan yang merugikan tidak akan saya lakukan.  Orang-orang ini, misalnya, akan berusaha datang tepat waktu ketika menghadiri pertemuan bisnis dengan costumer karena itu akan mendongkrak citranya sebagai seorang enterpreneur yang bonafide lalu ujung-unjungnya bisnisnya akan diuntungkan.  Sebaliknya, mereka tidak mau terlambat datang ke bandara, karena jika telat mereka akan dirugikan secara waktu bahkan uang.  Sedang kalau mereka datang ke gereja tepat waktu keuntungan apa yang mereka peroleh selain mendapat senyuman dan jabatan hangat para penyambut kebaktian—di beberapa gereja para penyambut akan masuk ke dalam ruang ibadah setelah ibadah dimulai sehingga pengunjung kebaktian yang terlambat tidak menerima layanan dari para penyambut.  Sebalilknya, saat terlambat menghadiri kebaktian, mereka tidak dirugikan apa-apa.

            Cara pandang orang-orang ini terhadap ibadah kepada Tuhan, sangat bertolak belakang dengan cara pandang Tuhan tentang diri mereka.  Sementara mereka memandang ibadah tidak penting, dan itu berarti mereka menganggap Tuhan tidak penting, namun Tuhan menganggap orang-orang ini penting dan berharga.  Oleh sebab itu Tuhan mau menyelamatkan mereka dari hukuman dosa, meski harus mengurbankan diri-Nya demi keselamatan itu.  Padahal, Tuhan tidak diuntungkan apa-apa bila Ia menebus manusia dari perbudakan dosa, sebaliknya malah Ia “dirugikan” bila melakukan penebusan itu.  Namun Tuhan mau melakukannya karena Ia mengasihi manusia.  Ia rindu mendekap erat anak-anak-Nya dan bersekutu dengan mereka. 

Setelah sekian lama terpisah karena dosa, kini manusia percaya dapat menikmati persekutuan dengan Penciptanya.  Hubungan orang percaya dan Tuhannya adalah hubungan kasih sekaligus ketakjuban.  Relasi kasih terwujud pada keintiman antara orang percaya sebagai anak-anak dengan Allah sebagai Bapa.  Ketakjuban lahir dari kesadaran bahwa meski manusia telah diselamatkan, namun ia tetap ciptaan yang terbatas dan penuh cela bila dibanding Allah yang Maha dan suci.  Takjub disertai syukur adalah dua hal yang seharusnya melandasi ibadah orang percaya.  Kita datang menyembah Allah karena memang Ia layak untuk kita sembah.  Kita menaikkan ibadah demi menyampaikan syukur atas segala kebaikan yang sudah Tuhan curahkan bagi kita.  Tatkala anak-anak Tuhan menyembah-Nya, itu bukan sebuah keterpaksaan, melainkan lahir dari dorongan hati yang terdalam.  Semua sikap yang muncul dalam ibadah—termasuk menghadirinya tepat waktu bahkan lebih awal agar memiliki kesempatan untuk mempersiapkan batin—merupakan wujud dari kerinduan untuk memberi yang terbaik kepada Tuhan dan Juru selamatnya.  Selamat beribadah! (Pancha W. Yahya)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
deard   |61.94.250.xxx |09-08-2009 19:05:34
terkadang kekristenan masih gamang dalam tata ibadah nya sendiri....simpang
siur.....yang penting ada jemaat, pendeta dan pelayan jemaat masih tetap bisa
mencari nafkah dari gereja....berkedok firman....tapi...
miris
memang......
semoga ada perubahan yang berarti
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."