• PDF

Apakah Anda Mendengarkan?

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:25
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 3332 kali
Pada suatu momen, Pdt. Kristian Si Setia dan Nasran Si Nekat, seorang sopir bus kota, meninggal bersamaan.  Sejurus kemudian, keduanya dibawa oleh malaikat ke depan pintu surga.  Kebetulan, kedua orang itu saling mengenal semasa mereka hidup.  Pendeta Kristian sering menumpang bus yang dikendarai Nasran.  Sesampai di depan pintu yang megah dan berkilauan itu masing-masing mereka diberi jubah dan mahkota untuk dikenakan sebelum memasuki surga.  Namun, betapa kagetnya Pdt. Kristian tatkala ia melihat jubah-jubah dan mahkota-mahkota itu.  Segera ia berbicara kepada malaikat itu, “ini benar-benar tidak adil!  Masak saya yang setia melayani Tuhan seumur hidup mendapat jubah dan mahkota yang jauh lebih jelek dibanding supir bus kota ini?  Jangankan melayani, ke gereja pun ia tak pernah!”
Lalu malaikat itu menjawab, “sabar dulu pak pendeta, dengarkan dulu penjelasan saya, tentunya tidak sembarangan supir bus itu mendapatkan yang lebih baik daripada Anda.  “Ayo jelaskan bung malaikat, saya pingin tahu alasannya!  kata pendeta itu dengan ngotot.  “Begini, anda mendapatkan lebih jelek dari orang ini,” ujar malaikat sambil menunjuk pada Nasran, “karena saat Anda berkotbah semua jemaat tertidur dan jika orang ini menyetir semua penumpang bus berdoa.  Ia berhak mendapat semua pahala ini sebab ia telah membuat banyak orang lebih dekat kepada Tuhan.”

            Kemungkinan besar Anda pernah mendengar anekdot tadi.  Biasanya, setelah para pendeta mendengar cerita tadi mereka akan tersenyum kecut, karena humor itu “menyentil” mereka.  Faktanya memang tak sedikit pendeta yang tidak mempersiapkan dan menyampaikan kotbah dengan baik.  Tak jarang di antara mereka yang melakukan persiapan kotbah yang sekadarnya.  Mereka baru mempersiapkan kotbah pada Sabtu malam.  Atau, saya pernah tahu ada pendeta yang tidak persiapan, tapi malah bangga dengan mengatakan. “saya kalau mau kotbah tidak persiapan, karena saya mengandalkan suara Roh Kudus.  Ia yang memberitahukan kepada saya apa yang akan saya kotbahkan hari ini.  Ya, ampun!  Atau, banyak juga pendeta yang tidak gemar membaca sehingga apa yang mereka sampaikan kurang mendalam.  Ada pula pendeta yang tidak pernah berkunjung ke rumah anggota jemaatnya sehingga mereka tidak mengenal pergumulan domba-dombanya.  Maka tak heran bila kotbah(-kotbah) mereka tidak mendarat dan terasa di awang-awang.  Semua hal itu memang dapat mengakibatkan sebuah kotbah yang disampaikan menjadi kurang gregetnya dan membosankan sehingga tak sedikit jemaat mengantuk atau tidak konsentrasi dalam mendengarkan kotbah pada kebaktian minggu. 

Namun, bila ada seorang pengunjung kebaktian yang mengantuk atau melamun saat kotbah disampaikan, maka tidak otomatis disebabkan sang pengkotbahnya kurang baik dalam mempersiapkan atau menyampaikannya.  Buktinya, saya sendiri pernah mengetahui ada seorang ibu yang setiap kali kotbah dimulai ia tertidur, dan saat kotbah usai ia terjaga kembali.  Tak peduli siapa pun yang berkotbah, atau semenarik apa pun kotbah itu ia tetap tertidur.  Saya tidak tahu apa yang membuat wanita itu selalu tidur kala kotbah disampaikan.  Mungkin saja, karena ia begitu lelah; setiap hari wanita ini harus bangun pagi-pagi buta untuk memasak makanan yang akan dijualnya di pasar.  Atau mungkin saja ia menderita penyakit tertentu, sehingga ia selalu mengantuk (tapi mengapa ia mengantuknya hanya saat kotbah ya?).   Saya jadi teringat Eutikhus, yang tertidur saat mendengarkan Paulus berkotbah dan akhirnya jatuh dari lantai tiga hingga tewas (untung Tuhan membangkitkannya melalui Paulus).  Sangat mungkin Eutikhus kecapaian atau habis begadang sehingga ia tertidur saat kotbah sekalipun seorang rasul yang menyampaikannya.  Namun di luar semua itu, cukup banyak jemaat yang merasa bosan dan mengantuk saat kotbah disampaikan bukan karena kecapaian atau penyakit tertentu tetapi memang mereka tidak menyadari pentingnya kotbah. 

Padahal, kotbah memiliki peran yang penting bagi setiap orang percaya.  Bagi sebagian gereja, misalnya gereja-gereja beraliran Calvinis, kotbah mendapat tempat sentral dalam ibadah.  Semua puji-pujian dalam tata liturgi mencapai puncaknya pada kotbah.  Kotbah itu dianggap sesuatu yang penting sehingga biasanya mimbar di gereja-gereja didesain indah dan gagah, serta diletakkan di atas tempat yang tinggi.  Dalam sepanjang sejarah gereja, kotbah memiliki peran yang amat penting.  Gereja Kristen yang dimulai pada peristiwa pentakosta, dibangun di atas kotbah Rasul Petrus.  Setiap minggu jemaat mula-mula berkumpul untuk memuji Allah dan mendengarkan kotbah dari para rasul.  Tak hanya itu setiap kebangunan rohani biasanya terjadi melalui kotbah-kotbah.  Amerika Serikat pernah mengalami kebangkitan rohani melalui kotbah yang disampaikan oleh Jonathan Edward juga George Whitefield dan Dwight. L. Moody.  Daratan Tiongkok dan warga tionghoa di Asia Tenggara, tak terkecuali Indonesia, pernah mengalami gerakan rohani besar-besaran melalui kotbah-kotbah yang disampaikan oleh John Sung.  Fenomena kebangkitan rohani melalui kotbah-kotbah pun tetap ada sampai saat ini.  Memang, peran vital kotbah dalam kehidupan umat Tuhan tak dapat disangkal karena melaluinya Tuhan ingin bersabda dan berkarya. 

Namun sayang, sebagian orang Kristen kini tidak lagi punya kerinduan untuk mendengarkan kotbah.  Saat kotbah diucapkan tubuh mereka memang ada di dalam gedung gereja, namun pikiran mereka entah ada di mana.  Mata mereka menatap wajah pengkotbah, namun mata hati mereka membuta.  Setiap minggu telinga mereka mendengar suara kotbah namun sesungguhnya tidak mendengarkan.  Perlu diketahui ada perbedaan yang signifikan antara “mendengar (to hear)” dan “mendengarkan (to listen).”  “Mendengar” berarti kita menangkap suara(-suara) melalui indra telinga.  Sedang “mendengarkan” berarti kita mendengar dan memperhatikan sesuatu dengan sungguh.  Jadi mendengarkan pastilah mendengar, namun orang yang mendengar belum tentu mendengarkan. 

Seorang hamba Tuhan yang sudah melayani bertahun-tahun pernah menyampaikan unek-unek kepada saya, “seringkali saya frustasi, banyak anggota jemaat saya telah mendengar kotbah saya setiap minggu, namun kehidupan mereka tidak berubah sama sekali.  Mereka tetap berkubang di dalam dosa, dan karakter mereka tidak menjadi lebih baik.  Bahkan yang lebih menyedihkan lagi hal itu terjadi juga di kalangan aktivis.  Jika demikian, apa gunanya saya berkotbah setiap minggu, semua itu mubazir.”  Mendengar itu saya hanya bisa memberi penghiburan, bahwa tentunya tidak semua anggota jemaatnya yang tidak pernah berubah, pasti ada barang satu orang yang bertumbuh imannya karena mendengar kotbah darinya.  Namun, saya bisa memahami pergumulan yang dialami hamba Tuhan ini.  Rupanya (sebagian) anggota jemaat di gereja tempat ia melayani hanya mendengar kotbah, tetapi tidak mendengarkan.  Oleh sebab itu mari kita mendengarkan Firman Tuhan, dan juga melakukannya (Yak. 1:22)!  Biarlah hati kita diliputi cinta akan Firman-Nya, baik kita yang mendengarkan maupun yang memberitakannya. (Pancha W. Yahya)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."