• PDF

Hidup bagi Dosa, Mati bagi Allah

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:26
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 3748 kali
Mungkin Anda kaget dengan judul tulisan ini.  “Seingat saya bunyinya tidak begitu deh,“ kiranya demikian respons Anda ketika membaca judul tersebut.  Apakah itu tidak salah ketik?  Tidak… tidak… judul itu bukan salah ketik!  Judul itu memang sengaja ditulis demikian!  Memang kalimat “hidup bagi dosa, mati bagi Allah” tidak sesuai dengan Alkitab.  Paulus dalam Roma 6:11, menulis demikian, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.”  Tetapi dalam praktiknya kita sering melakukan hal yang sebaliknya, yaitu kita hidup bagi dosa dan mati bagi Allah.  Oleh sebab itu, kita akan membahas satu demi satu praktik yang salah itu, supaya kita menyadari kesalahan itu dan tidak melakukan lagi.

Hidup bagi dosa

     Roma pasal yang ke-6 ditulis oleh Rasul Paulus karena ada orang-orang yang salah mengerti ajaran Paulus mengenai keselamatan.  Paulus mengajarkan bahwa keselamatan tidak diperoleh karena menaati hukum Taurat.  Tetapi keselamatan didapat karena kasih karunia Allah melalui iman di dalam Yesus Kristus.   

Dalam Roma 5:20,  Paulus mengatakan demikian, “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.”  Ada sebagian dari jemaat di kota Roma yang salah  menafsirkan perkataan Paulus tersebut sehingga mereka berkata, “Marilah kita berbuat dosa sebanyak-banyaknya supaya bertambah banyak pula kasih karunia Allah” (Rom. 6:1).  Merespons perkataan mereka Paulus berkata,” Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (Rom. 6:2). 

Sadar atau tidak, kita memiliki pola pikir yang mirip dengan yang dimiliki oleh jemaat di kota Roma.  Karena kita telah dibebaskan dari dosa bukan karena jerih payah kita, melainkan karena kasih karunia (yang cuma-cuma dan seolah murahan) kita menjalankan hidup ini dengan sembarangan, tanpa menjaga kekudusan hidup kita.  Kita menjadi orang kristen yang terlalu kompromi dengan yang namanya dosa.  Dengan mudahnya kita berbuat dosa sama mudahnya seperti kita minta ampun atas dosa-dosa yang kita perbuat.  Kita jarang bergumul dan berperang melawan dosa-dosa kita.  Padahal Rasul Paulus berkata, “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa” (Rom. 6:6).  Sebetulnya kita telah mati bagi dosa!  Apa maksud kalimat tersebut?  Maksudnya ialah sebetulnya kedagingan dan manusia lama kita telah disalibkan dan dikuburkan dan sekarang kita telah mengenakan manusia yang baru.  Kita sekarang telah dibebaskan dari dosa bagaimana mungkin kita mau kembali dibelenggu dengan dosa itu? 

     Masih ingat sebuah film Indonesia yang berjudul, “Daun di atas bantal” yang disutradarai oleh Garin Nugroho seorang sutradara film yang cukup produktif pada waktu itu? Secara garis besar film itu mengisahkan mengenai liku-liku kehidupan anak jalanan, yang penuh dengan penderitaan dan masalah.  Menariknya, film itu diperankan oleh dua orang anak yang “dicomot” oleh Garin dari jalanan.  Seusai menyelesaikan shooting film tersebut, karena kasihan, artis film Christine Hakim, yang berperan sebagai ibu dari anak-anak itu, mengasuh kedua orang anak jalanan di rumahnya.  Tetapi apa yang terjadi?  Suatu hari, sepulang dari bepergian, Christine Hakim tidak lagi menemui kedua anak itu di rumahnya.  Mereka telah raib!  Kemana perginya mereka semua?  Dipastikan mereka kembali lagi ke “habitat” mereka di jalanan, yang mungkin dapat menjadikan mereka anak-anak yang rusak.

     Kita mirip dengan kisah dua anak jalanan tadi.  Hanya bedanya, kita diangkat oleh Allah sendiri dari “habitat” kita yaitu lumpur dosa.  Kita tadinya dibelenggu dengan kuasa dosa yang membuat kita tidak berdaya untuk melakukan sesuatu yang baik dan menyenangkan Allah.  Kini kita dilepaskan dari belenggu tersebut, dan kita menjadi orang-orang yang bebas.  Dan bahkan status kita dulunya anak-anak gelap menjadi anak-anak terang, hamba dosa menjadi manusia Allah (man of God: 1 Tim. 6:11).  Masakan kita mau kembali lagi ke “habitat” kita yang lama, kembali diperhamba oleh dosa?

Mati bagi Allah

     Pada jaman Perjanjian Lama, orang-orang Israel mempersembahkan hewan-hewan dan barang-barang yang mati kepada Allah.  Mereka yang kaya dapat mempersembahkan seekor lembu yang tidak bercacat.  Atau mereka yang kurang kaya dapat mempersembahkan persembahan berupa kambing jantan.  Yang lebih miskin dapat memberikan burung tekukur jantan atau anak burung merpati jantan.  Bahkan bagi yang sangat tidak mampu boleh memberikan sepersepuluh efa (kurang lebih 3,6 liter) tepung.  Semua hewan yang hendak dipersembahkan itu disembelih dan dibakar menjadi persembahan kepada Tuhan. 

Namun pada jaman Perjanjian Baru, Allah menghendaki kita memberikan persembahan yang hidup kepada-Nya.  Apa itu persembahan yang hidup?  Apakah itu berarti kita membawa hewan-hewan itu dan melepas mereka di dalam gereja, atau kita memelihara hewan-hewan itu dalam pekarangan gereja?  Tentu saja tidak!  Roma 12:1, sebuah ayat yang sangat kita kenal berkata, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”   Dari ayat itu jelas sekali Paulus ingin mengatakan bahwa persembahan yang hidup adalah seantero hidup kita persembahkan kepada Allah

     Suatu hari sekretaris Presiden Abraham Lincon mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.  Ketika presiden menanyakan alasan pengunduran dirinya, sekretaris itu menjawab, “saya ingin membaktikan diri saya kepada Amerika dengan mati sebagai prajurit Amerika.”  Menanggapi perkataan itu presiden berkata, “Amerika tidak membutuhkan orang-orang yang mau mati untuk Amerika, tetapi Amerika membutuhkan orang-orang yang mau hidup untuk Amerika!”  

Dalam benak banyak orang kristen, orang-orang yang hebat adalah para martir yang mati syahid karena memberitakan Injil dan membela kekristenan.  Sedangkan mereka sendiri bukanlah siapa-siapa karena mereka tidak punya bukanlah martir-martir itu.  Tetapi Alkitab mengatakan bahwa yang dibutuhkan Tuhan bukannya orang-orang yang mau mati untuk-Nya (apalagi orang-orang yang hanya memberikan persembahan dalam bentuk yang mati)!  Yang dibutuhkan oleh Tuhan adalah orang-orang yang mau hidup bagi Tuhan.  Orang-orang yang memberikan tubuhnya menjadi senjata-senjata  kebenaran (Rom. 6:13), menjadikan hidupnya melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya (Ef. 2:10), memberikan tenaganya bekerja sebagai kawan sekerja Allah (1 Kor. 3:9), dan menjadikan hidupnya terang di tengah-tengah dunia yang gelap pekat oleh kelamnya dosa (Ef. 5:8).  Sekarang selanjutnya terserah Anda!  Mau menjadi orang yang mati bagi dosa dan hidup bagi Allah ataukah sebaliknya?  (Pancha W. Yahya)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."