Pancha W. Yahya

Dilahirkan di Semarang, pada tanggal 8 Febuari 1976 dari pasangan Alm. Hanoto Jahja dan Tanti Widjaja. Dan pada tahun 2001, menikah dengan Sumanti Jonatan, S.Th.

Pendidikan:
1. SD Kristen 1 Semarang lulus tahun 1988
2. SMP PL Domenico Savio Semarang lulus tahun 1991
3. SMA Negeri 3 Semarang lulus tahun 1994
4. Sarjana Theologia dari Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang lulus tahun 2000

Pekerjaan:
Pernah menjadi pengerja di GKI Sinode Wilayah Jawa Barat
Jl. Jatinegara Barat III/2A dari th. 2000 - 2005, sekarang sedang menjalani
studi lanjut di SAAT Malang

Dapat dihubungi langsung di Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

  • PDF
  • Cetak

Perumpamaan tentang Anak-Anak yang Hilang

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 14:05
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Sebuah lukisan tergantung dalam sebuah ruangan di biara St. Petersburg, Rusia. Lukisan tersebut diselesaikan oleh Rembrant pada abad ke 17 dan diberi judul “Kembalinya si Anak Hilang (The Return of the Prodigal Son)”. Di dalam lukisan itu terlihat seorang bapak dengan mantel berwarna merah, membungkuk dan dengan lembut menyentuh bahu seorang anak muda gundul, dan compang-camping yang berlutut di hadapannya. Satu lukisan yang memberikan gambaran yang sangat hidup tentang perjumpaan sang bapa yang menerima kembali si bungsu yang hilang (Luk. 15:11-32). 

Selanjutnya: Perumpamaan tentang Anak-Anak yang Hilang

  • PDF
  • Cetak

Finding Nemo

Penilaian Pengunjung: / 6
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 14:05
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Alkisah hiduplah seekor ikan badut (clownfish) yang bernama Nemo bersama ayahnya, Marlin yang sangat protektif kepadanya. Mereka berdua tinggal di perairan Geat Barrier Reef. Ayah Nemo berlaku sangat protektif kepada anaknya karena Nemolah satu-satunya anggota keluarganya yang masih ada, sebab istri dan ratusan telur anaknya telah dimakan ikan Baracuda. 

Suatu hari, Nemo hanyut tersapu gelombang dan akhirnya ditangkap oleh penyelam pencari ikan hias.

Selanjutnya: Finding Nemo

  • PDF
  • Cetak

Mengapa Tuhan Yesus Tidak Kunjung Datang?

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 13:56
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Jikalau kita menyimak bagian-bagian dalam Perjanjian Baru mengenai kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, kesan kuat yang timbul adalah Yesus akan datang kembali sesegera mungkin dari waktu penulisan bagian-bagian itu. Ayat-ayat yang menyatakan hal itu antara lain: Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: "Ya, Aku datang segera!" Amin, datanglah, Tuhan Yesus!“ (Why. 22:20). 

Tetapi fakta yang terjadi adalah Tuhan Yesus belum kunjung datang, bahkan setelah lewat dua puluh abad lamanya. Mengapa Yesus tidak kunjung datang yang kedua kali? Setidaknya ada tiga jawaban atas pertanyaan tersebut. 

Selanjutnya: Mengapa Tuhan Yesus Tidak Kunjung Datang?

  • PDF
  • Cetak

Waktu: “Harta” yang Paling Mahal

  • Rabu, 29 April 2009 13:52
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Pepatah Tiongkok berbunyi, “sejengkal waktu dapat membeli segumpal emas, tetapi segumpal emas tidak dapat membeli sejengkal waktu.” Ada lagi pepatah orang Inggris tentang waktu yang kita semua kenal, “time is money, waktu adalah uang.” Kalau boleh saya akan menambah pepatah Inggris itu supaya lebih jelas maknanya menjadi, “time is money, but money is not time” (waktu adalah uang tetapi uang bukanlah waktu). 

Ternyata, kedua pepatah itu punya kemiripan bukan?

Selanjutnya: Waktu: “Harta” yang Paling Mahal

  • PDF
  • Cetak

Lebih Berbahagia Memberi

  • Rabu, 29 April 2009 13:52
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Suatu malam, seorang pria datang ke rumah Ibu Teresa untuk memberitahukan bahwa ada sebuah keluarga Hindu dengan delapan anak, sudah berhari-hari tidak makan sedikit pun. Lalu Ibu Teresa mengambil beras secukupnya dan membawa ke rumah keluarga itu. Kemudian, ibu dari keluarga itu menerima beras dari tangan Ibu Teresa, membaginya menjadi dua bagian, lalu pergi. Beberapa saat kemudian setelah ibu itu kembali, Ibu Teresa bertanya kepadanya, “Ke mana saja Engkau pergi? Apa yang Engkau lakukan? Lalu ia menjawab “mereka juga kelaparan” sambil menunjuk ke tetangga sebelah rumahnya, yaitu sebuah keluarga Muslim yang memiliki jumlah anak yang sama dengannya dan yang juga tidak memiliki makanan sedikit pun (dikutip dari buku Ungkapan Hati Ibu Teresa, hal. 16).

Selanjutnya: Lebih Berbahagia Memberi

Selanjutnya...

Halaman 23 dari 27