Pengantar Bunga

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Siapa yang tidak kenal dengan Don? Seorang bapak muda dengan seorang istri dan seorang putri. Tinggal di sebuah perumahan mewah. Pekerjaannya sebagai analis teknik di sebuah perusahaan komputer membuat hidup Don berkecukupan. Aku mengenalnya dalam persekutuan keluarga di gereja. Meski Don tidak ikut dalam pelayanan tetapi dia tiap Minggu hadir dalam kebaktian. Kadang-kadang waktu makan siang, kami bertemu di kedai kopi untuk minum kopi bersama. Selama setengah jam kami sering bercerita berbagi pengalaman tentang pekerjaan, keluarga dan kekristenan.

Don orangnya cekatan, disiplin. Tidak kurang selama setengah jam ada sepuluh kali telpon genggamnya berdering. Mengganggu percakapan kami. Kadang dia tidak dapat menikmati kopinya hanya karena harus mengerjakan sesuatu di komputer ‘notebook’-nya. Hampir lima hari seminggu aku selalu melihat wajah Don tampak tegang, kadang juga kaku jika diajak berbicara. Hanya waktu pada hari Minggu waktu di gereja, Don kelihatan lebih santai. Hidup rasanya indah. Waktu berjalan dengan tak terasa. Kami bersyukur karena kami masih mempunyai pekerjaan tetap meski kami tahu bahwa saat ini bukannya saat yang baik bagi ekonomi dunia. Dimana-mana banyak orang kehilangan pekerjaan. Kehidupan mereka berubah drastis. Dari yang berkecukupan hingga menjadi kekurangan. Ketika jam makan siang tiba, aku berjanji dengan Don untuk ‘ngopi’ bersama di kedai kopi yang biasa kami datangi. 

Seperti biasa siang itu di kedai kopi banyak orang yang berdatangan. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan jam 1 siang. Ku arahkan pandanganku ke tempat duduk dimana kami biasa duduk. Ternyata orang lain yang duduk di tempat tersebut. Aku mencari Don. Ternyata dia belum datang. Ah, tentu dia sedang sibuk, demikian pikirku. Maka aku akan menunggu sekitar 15 menit. Tak terasa limabelas menit berlalu. Don juga belum datang. Maka aku memesan kopi ‘latte’ kesukaanku sambil menunggu Don datang. Sampai aku selesai membaca majalah yang aku bawa ternyata Don masih belum muncul. Timbul tanda tanya dalam hatiku. Karena biasanya Don akan menelponku jika dia tidak dapat datang. Aku hanya berpikir, mungkin dia sangat sibuk hingga juga tidak dapat menelponku. 

Keesokan hari aku masih tidak melihat Don di kedai kopi itu. Akhirnya aku menelpon telpon genggamnya. Tidak dinyalakan. Ya sudahlah aku pikir demikian. Hari ketiga, tak terduga aku melihat Don duduk di pojok kedai. Aku menyapanya. Tetapi dia tampak murung. Dan asal-asalan membalas sapaanku. Aku merasa dia lagi tidak enak hati. Aku menanyakan kemana saja dia 3 hari tidak ada kabar berita. Dia tampak sedih. Aku hampir tersedak ketika mendengar ceritanya. Don dirumahkan oleh perusahaan dimana dia bekerja. Aku ikut sedih mendengar ceritanya itu.“Mengapa harus aku.” kata Don dengan geram.

“Aku percaya Don ada kehendak Tuhan dibalik semua ini.” hiburku.
“Tetapi tidak seperti ini ceritanya.” lanjut Don dengan jengkel.
“Apa ada kemungkinan perusahaanmu dapat mempekerjakanmu kembali?” tanyaku.
“Rasanya tidak mungkin. Aku tidak tahu.”
“Apa kau mulai cari lowongan pekerjaan lain?” usulku.
“Nggak tahulah. Aku masih ‘shock’.” Matanya murung dan suaranya bergetar.

Aku mengajak dia untuk berdoa bersama.

Setelah itu kami masih sering bertemu di kedai kopi. Dan kadang aku membelikan kopi untuk Don, meski Don juga sering menolaknya. Seminggu kemudian Don mulai mencari pekerjaan. Dan dia masih tampak tegang ketika kami bertemu. Aku tahu mungkin aku juga akan mengalami ketegangan serupa jika situasiku seperti Don. Istri Don tidak bekerja, maka tanggungan finansial rumah tangga ada di pundak Don. Dengan frustasi Don mengatakan mungkin bulan depan dia harus menjual rumahnya, menjual harta bendanya yang lain pula, jika dia masih belum menemukan pekerjaan yang sama gajinya dengan pekerjaan yang lama. Ini yang berat menurutku, karena saat ini banyak perusahaan yang tidak mau merekrut pegawai dengan gaji tinggi. Aku hanya mengatakan coba mencari pekerjaan sesuai ijasahnya dulu, jika tidak mungkin dia harus mencari pekerjaan lain. 

Benar juga sebulan kemudian, Don masih belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan yang diinginkannya. Dia tampak makin tegang, ketika kami bertemu. Dia menyatakan bahwa rumahnya sudah ditawarkan untuk dijual. “Aku mau bekerja untuk apa saja.” demikian Don mengingatkanku, jika di perusahaanku dimana aku bekerja ada lowongan. Tapi mana aku tega mengatakan padanya jika perusahaanku butuh seorang sopit truk misalnya. Dia yang dulu eksekutif, masa sekarang harus bekerja kasar. Maka aku hanya mencarikan lowongan yang sesuai dengan levelnya. Sudah ratusan surat lamaran telah dikirim oleh Don tetapi dia tidak mendapat satupun balasan. 

Dua bulan telah lewat, rumahnya terjual dengan lebih murah dari harga belinya. Untungnya, rumahnya sudah terbayar lunas. Aku pun ikut membantu Don untuk pindahan rumah. Aku masih melihat guratan kekecewaan di wajah istri Don. Tapi inilah hidup yang harus kita hadapi hanya dengan iman dan pengharapan pada Tuhan. Memasuki bulan ketiga, aku masih melihat Don masih tegang jika bertemu dengannya di kedai kopi. Don sempat bercerita betapa sulitnya kehidupannya yang sekarang bukan saja secara finansial, keluarga mau pun harus menyesuaikan diri dengan apartemennya yang berkamar dua. Tak heran aku terbiasa dengan perilakunya tersebut. 

Tetapi….. lambat laun aku merasa juga, ada perubahan dalam diri Don. Sikapnya mulai lebih santai sedikit, kadang juga tersenyum jika aku melontarkan joke-joke ringan. Aku hanya berpikir mungkin dia mulai biasa dengan kehidupannya yang sekarang. Bulan berikutnya, Don tampak lebih santai. Dengan pakaian kaos lengan pendek dan sepatu olahraga dia datang ke kedai kopi dimana kami bertemu. Aku tak tahan menahan rasa penasaranku, aku pun bertanya, “Hei Don, aku melihat kamu sekarang agak berubah?”“Masa?” tanyanya balik dengan tersenyum.

“Kamu ada sesuatu yang belum kamu ceritakan sama aku ?” tanyaku kembali.
Dia hanya menatapku. Terdiam.
Lalu dia menghela nafas.

“Ya, aku ada sesuatu yang belum ku ceritakan padamu.” Don memulai percakapannya kembali. “Sebenarnya aku malu menceritakan hal ini padamu Ref.” “Bulan lalu aku iseng-iseng menolong teman Kristin yang suaminya seorang pengantar bunga. Dia pas lagi sakit, jadi teman Kristin tersebut mencoba menghubungi Kristin menanyakan kalau aku mau menggantikan pekerjaan suaminya selama suaminya sakit. Pertama, tentu saja aku tidak sudi bekerja untuk mengantar bunga. Harga diriku mengatakan bagaimana mungkin, dulu pekerjaanku eksekutif sekarang mengantar bunga.” 

“Seminggu kemudian, hal itu sudah kulupakan. Lalu Ina anakku menanyakanku kalau aku dapat membelikan peralatan gambar sebagaimana yang pernah aku janjikan. Aku mengiyakan. Tetapi apa yang terjadi. Kartu kreditku ditolak ketika aku membayar peralatan gambar Ina yang hendak kubeli. Betapa malunya aku saat itu ketika banyak mata memandang diriku sekitar kasir tempat dimana aku membayar. Dari peristiwa itu aku baru menyadari bahwa selama berbulan-bulan aku tidak pernah mendapat masukkan lagi.” Don berhenti sejenak untuk menyeruput kopinya.“Dan lucunya teman Kristin menelponku lagi untuk menanyakan apakah aku masih mau mengantar bunga. Sebenarnya aku jengkel juga. Aku sedang kesulitan keuangan tapi ada orang menawarkan pekerjaan yang menurutku kurang pas. Dan aku ingin menolak. Tetapi Kristin juga pernah mengatakan padaku, bagaimana kalau aku iseng-iseng saja mengantar bunga daripada nganggur. Kalau aku tidak senang, aku akan keluar seketika itu juga. Maka aku pun setuju.”

 “Tetapi aneh Ref, ketika aku mengantar bunga, perlahan mulai aku merasakan ada perubahan dalam diriku. Yang aku kira seminggu aku akan keluar dari pekerjaan itu ternyata aku merasa menyukainya. Apakah ini kehendak Tuhan? Entahlah. Dan aku menganalisa mengapa aku mulai menyukai pekerjaan ini. Ternyata ….. ketika aku mengantar bunga hampir sembilan puluh persen orang yang menerima bunga yang kuantar itu selalu tersenyum.” 

Aku pun ikut tersenyum mendengar cerita Don tersebut. Unik, tapi nyata. “Kamu nggak percaya kan?” tanyanya.“Aku percaya Don. Maka itu aku juga dapat merasakan bahwa ada perubahan dalam dirimu.”

“Lucunya, lama kelamaan aku juga ikut ketularan untuk tersenyum.” katanya. Memang agak aneh kalau orang lain tersenyum kita hanya diam dan dingin saja.

“Yah syukurlah Don, kalau kamu suka dengan pekerjaan ini. Paling tidak, kamu masih ada pendapatan dan bisa ikut tersenyum……” lanjutku.

Perubahan Don menjadikan pertemuan kami semakin akrab. Sungguh perubahan itu bukan saja baik bagi Don juga bagi keluarganya dan orang-orang disekitarnya. Sempat sepintas aku berpikir, apakah pekerjaan kita harus selalu yang ‘baik’ dan dipandang tinggi oleh orang lain. Sebagai orang Kristen, bukannya yang terpenting pekerjaan kita halal dan dapat memuliakan nama Tuhan. Aku berharap dengan pekerjaan Don yang baru, dia dapat menjadi banyak berkat bagi banyak orang dan meninggikan nama Tuhan. 

Selamat berjuang Don. Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. Amsal 17:22. 

Vancouver, 6 Oktober 2003

Peter
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."