• PDF

Ketika Evie Hidup Sendiri

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 18:00
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
  • Sudah dibaca: 1699 kali
Telepon di samping tempat tidurku tiba-tiba berbunyi. Tak ayal lagi aku tersentak terbangun. Aku merasa sedikit bingung. Lalu aku melihat jam yang bertengger di dinding. Jam enam pagi. Aih siapa sih yang sepagi begini menelepon aku ? Gagang telepon pun kuangkat. Kudengar seseorang sedang menangis sengungukan.

“Ref……, to….tolong…. aku. Jo..Jo…Josi hilang…..Dia ta…tadi lari ke…luar….. ketika a…aku mengambil… koran pagi.”

Aku mengenal suara Evie diseberang. Josi? Siapa dia? Evie kan masih belum punya pacar. Jadi ? Oh Josi…, kucing kesayangan Evie.

“Aduh kasihan kamu. Apa yang dapat aku bantu?” tanyaku dengan simpatik.


“Kamu bisa kemari….. membantu aku mencarinya?”

Aku sebenarnya nggak terlalu suka kucing. Dan aku baru sempat tidur empat jam karena mempersiapkan makalah untuk pertemuan di kantorku jam sepuluh nanti. Aku harusnya bisa tidur dua jam lagi. Mataku masih berat karena mengantuk. Tetapi mulutku berkata lain.

“Oke, aku akan ke sana sekitar setengah jam.”

Aih, apa boleh buat. Bukannya aku tadi menawarkan diri untuk menolongnya? Maka aku harus menepati.

Evie tinggal di pusat kota. Untung, jam enam pagi lalu lintas masih belum begitu padat. Beberapa orang melihat kearahku dengan pandangan heran. Aku baru teringat kalau aku belum menyisir rambut dan hanya memakai pakaian tidurku karena tergesa-gesa. Sesampai di apartemen Evie, aku melihat beberapa tissue bertebaran di lantai dan mata Evie masih sempat mengucurkan air mata.

“Kemana kamu sering membawa Josi?” tanyaku. Evie mengatakan Josi sering diajak jalan-jalan ke toko di bawah apartemennya dan di taman belakang. Maka aku turun ke lantai dasar mencari Josi di sekitar toko kelontong yang disebutkan Evie. Setengah jam berlalu. Udara dingin jam enam pagi menusuk tulangku. Dan aku tidak menemukan Josi. Maka aku kembali ke apartemen Evie dengan perasaan sedih untuk mengkabarkan pada Evie bahwa Josi tak kutemukan.

Sesampai di apartemen Evie, aku melihat Evie tersenyum lebar sambil menggendong Josi. “Josi telah kembali.” katanya dengan gembira. Josi rupanya hanya ingin jalan-jalan pagi merasakan udara segar musim panas di Vancouver. Dan aku telah menghabiskan waktuku sembilan puluh menit.

“Maka itu kamu cepat cari pacar dong Eve. Supaya pacar kamu dapat membantu kamu mencari Josi.”

Ini bukan pertama kali Evie meminta bantuanku. Memang aku kadang tidak habis pikir. Evie katanya mau hidup mandiri tetapi masih juga minta bantuan orang lain. Lalu mengapa tidak mencari teman seapartemen, kan dapat saling membantu. Seperti beberapa minggu yang lalu juga demikian.

“Ref, kamu sedang ada dimana?” telpon Evie dengan nada gugup.

“Dalam perjalanan menuju ke kantor”

“Bisa minta tolong belikan ‘band-aid’…..” mohon Evie. Aku menduga ada sesuatu yang terjadi.

“Kamu kenapa ?” tanyaku ingin tahu.

“Jariku teriris pisau. Aku nggak punya ‘band-aid’” katanya polos. Lho? ‘Band-aid’ aja nggak punya. Karena aku pikir ‘band-aid’ kan merupakan salah satu obat plester pembalut untuk pertolongan pertama. Untungnya, aku dalam perjalanan dekat dengan apartemen Evie. Maka tidak sampai sepuluh menit aku sudah mengantarkan ‘band-aid’ untuk Evie. Pada umumnya ada pengantar bunga, pengantar pizza, tetapi belum ada pengantar ‘band-aid’.

Aku teringat kalau di dalam Alkitab, Adam yang hidup sendirian lalu Allah mengatakan tidak baik Adam seorang diri saja, maka Allah menjadikan seorang penolong bagi Adam yakni Hawa. Maka sekarang Evie yang rasanya memerlukan seorang penolong. Aku pernah membayangkan entah bagaimana jika Evie jatuh sakit dan memerlukan pertolongan segera.

Hidup menyendiri seperti Evie tidaklah mudah. Hal ini merupakan bukan hanya menjadi masalah tetapi juga sudah menjadi ‘trend’ untuk hidup menyendiri. Tetapi sayangnya dengan hidup menyendiri biasanya akan membuat si penyendiri tersebut semakin depress, maka tidak jarang para penyendiri memelihara binatang peliharaan. Menurut statistik, hidup menyendiri ternyata banyak dilakukan oleh wanita, meski pada umumnya dikatakan wanita lebih mudah stress. Maka tidak heran jika semaraknya web site pencari teman atau jodoh, menjamur dan menjadikan para pengelolanya kaya raya. Karena memanfaatkan para penyendiri yang mengasingkan diri tersebut.

“Itu resikonya kalau kamu hidup sendirian Eve. Maka itu cari teman di gereja dong yang mau tinggal bersama kamu.” saranku pada Evie.

“Ah, nggak mau. Entar jadi berantem. Juga nggak ada teman gereja yang mau tinggal sama aku.”

“Ah kamu sih. Di gereja kamu juga nggak mau bergaul dengan yang lain.”

“Bukan aku nggak mau bergaul tapi para pemuda di gereja itu suka mengelompok. Aku dicuekin.” bantah Evie.

Memang aku harus akui di gerejaku, anggota jemaatnya suka mengelompok dengan yang kenal daripada harus bergabung dengan orang baru. Aku akan memberitahu Kristin sebagai ketua komisi Pemuda untuk memperhatikan masalah Evie ini.

Terbayang dalam kepalaku, bukankah gereja menjadi garam dan terang bagi dunia? Salah satunya dengan perilaku perhatian yang diberikan kepada jemaat dan sesama. Berapa banyak Evie yang lain yang belum mendapat perhatian gereja dan malah ‘menyibukkan diri’ dengan kegiatan di luar gereja yang berlawanan dengan ajaran Firman Tuhan ? Kiranya banyak gereja menyadari bahwa gereja bukan hanya tempat berdoa dan mendengarkan Firman Tuhan saja, tetapi juga tempat dimana jemaat dapat saling memperhatikan dan mengasihi.

Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Ibrani 10:24,25.

Vancouver, 06 Februari 2004

Peter

 

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."