Bisnis atau Pribadi?

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Dalam suatu kelas design yang pernah ku ikuti, aku mendapat suatu pelajaran menarik. Sewaktu memulai awal semester, sang pengajar berkata, "Saya akan memberlakukan kalian seperti rekan bisnis. Jadi ketika kalian menyelesaikan tugas kalian, maka saya akan menilai seperti dalam dunia bisnis. Jika design anda jelek maafkan saya akan mengkritik dan mengatakan design anda jelek. Tetapi jika design anda bagus, saya akan katakan bagus."

Dalam kelas tersebut terdapat duapuluh peserta dan satu pengajar jadi total duapuluh satu orang. "Dalam penyelesain tugas, kalian akan mempresentasikan pada kelas dan akan mendapat penilaian, kritikan dari duapuluh orang lainnya." Sambung sang pengajar tersebut.


"Karena kita akan berada dalam situasi bisnis, maka jika seseorang dikritik, orang itu harus dapat
menerima dengan besar hati, atau kalian dapat menyanggah kritikan tersebut dengan alasan kalian. Dan jika anda tidak dapat menerima kritikan atau penilaian tersebut, jangan dimasukan ke hati." Demikian kira-kira kotbah sang pengajar.

Kata pengantar sang pengajar tersebut memang membuat para peserta pada berdebar tegang, karena kami harus bersiap-siap untuk menerima penilaian atau kritikan dari duapluh orang lainnya dan kami diharapkan dapat menerima kritikan tersebut dengan besar hati dalam presentasi kami.

Siapa sih yang senang dikritik? Atau diberitahu kelemahannya? Memang tidak menyenangkan tetapi ketika kupikir kembali. Jika kita tidak pernah diberitahu kelemahan kita atau dikritik orang lain maka kita juga tidak pernah tahu bagaimana dengan diri kita. Dalam kasusku adalah berkarya dalam bidang design grafis. Jika tidak ada orang yang memberitahu kelemahan karyaku tentu aku mengganggap karyaku sudah bagus dan memuaskan. Tetapi jika ada orang lain yang melihat karyaku, dan mengatakan bahwa karyaku kurang bagus, maka aku baru tahu kalau karyaku ada kelemahannya.

Tetapi sayangnya banyak orang yang diberitahu bahwa karyanya kurang bagus, bukannya terima kasih, malah marah-marah, sakit hati bahkan mendendam dan berantem. Sebagai manusia normal, ketika diberitahu bahwa karya kita kurang bagus, perasaan kecewa timbul adalah normal. Tetapi apakah kita akan berhenti sampai di sana?

Maka seperti perkataan sang pengajar di atas, bahwa kita harus bisa menerima kritikan tersebut dengan besar hati. Tentang kritikannya benar atau tidak itu urusan nanti, karena kritikan yang menurut kita, mencela, menjelekkan, menyakitkan hati, kadang ada kebaikan atau pelajaran dibalik itu.

Seperti dalam dunia bisnis, jika seseorang memberitahu akan kelemahan bisnis kita seharusnya kita berterima kasih demi kepentingan bisnis kita. Tetapi banyak pula para pebisnis yang tidak bisa menerima kritikan. Menurut statistik, pebisnis yang dapat menerima kritikan dan memperbaiki bisnisnya, lebih berhasil daripada pebisnis yang tidak mau menerima kritikan.

Demikian pula jika seseorang mengkritik kita, seharusnya kita berterimakasih, paling tidak masih ada orang yang memperhatikan kita. Kata orang, mengkritik dan mulut panjang itu beda. Mengkritik terjadi pada waktu dan tempat tertentu. Mulut panjang, mengkritik sepanjang waktu dan di berbagai tempat.

Pakar psikologi mengatakan, orang yang tidak dapat menerima kritik adalah orang yang diperkirakan
mempunyai rasa rendah diri yang kuat, merasa tidak mampu, mempunyai masa lalu yang kebanyakan ditekan; sehingga mereka berusaha untuk membuat benteng pertahanan dengan tidak mau atau malu melihat kelemahan mereka.

Kritikan bukan penghakiman; yang dikritik pasti salah dan sang pengkritik adalah yang benar. Kritikan
merupakan suatu input/ masukan. Kita semua perlu dikritik. Dan bagi pengkritik, diterima ya syukur,
tidak diterima ya sudah. Dalam mengkritik dan dikritik tidak ada suatu pemaksaan. Yang mengkritik memaksakan kehendaknya supaya yang dikritik mengikuti kehendak pengkritik. Demikian pula sebaliknya. Karena kritikan tidak selalu benar, namanya orang 'ngasih' input. Ya boleh-boleh saja.

Kritikan juga merupakan suatu pendapat dari titik pandang orang tersebut. Jadi tentu bisa saja
subyektif, menurut kepentingan orang tersebut misalnya. Tetapi apa salahnya mendengarkan pandangan orang lain bahkan mungkin berlawanan 180 derajat. Mengkritik seharusnya berbeda dengan 'menyerang' atau mencari kesalahan. Tetapi banyak orang menggunakan kritikan untuk menjadi 'senjata'. Bukan saja mencari kesalahan bahkan menghancurkan harga diri orang tersebut.

Demikian dalam kekristenan yang sering terjadi adalah perpecahan karena kritikan. Hal ini patut disayangkan. Bukannya kita menyadari bahwa kita semua adalah manusia yang lemah. Yang sering terjadi adalah, sang pengkritik hanya ingin mengkritik tetapi tidak mau dikritik. Tetapi itulah natur dosa manusia yang menggunakan kritik untuk meninggikan, membenarkan diri sendiri.

Kembali ke gambaran kelas desain yang ku ikuti di atas. Dapat dibayangkan jika setiap orang akan
mengkritik memakan waktu satu menit saja. Maka setiap peserta yang presentasi harus bersabar menunggu 20 menit menerima kritikan dari peserta lainnya. Tetapi untungnya yang terjadi tidaklah demikian. Karena biasanya yang mengkritik adalah orang yang suka berbicara, orang yang suka mengutarakan pendapat atau orang yang pandai bicara. Meski ada juga orang pendiam yang mengkritik tetapi biasanya yang terjadi, mereka akan berbicara seperlunya atau hanya mengutarakan pendapatnya singkat saja.

Maka aku sering memplesetkan pepatah pribadi seperti "Kritiklah daku, kau tak kan ku jitak." Karena siapa tahu kritikan itu berharga bagiku. Jadi kalau ada orang lain yang mengkritikku, silahkan. Seperti cerita kelasku di awal tulisan, aku teringat, seorang gadis menangis sewaktu presentasinya dikritik oleh beberapa peserta lainnya. Tentu yang ku tahu gadis itu bukan menangis bahagia. Mungkin saja dia merasa frustasi, karena karyanya yang diharapkan akan membuat kagum banyak orang tetapi malah menjadi sasaran kritik. Sebuah pepatah mengatakan, "Sebuah karya yang agung, telah melewati banyak kritik."

Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak. Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat.
Amsal 12:15; 13:10.

Vancouver, 23 April 2004

Peter
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."