• PDF

Habis Hujan Terbitlah Pelangi

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 18:16
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
  • Sudah dibaca: 2498 kali
"Paman." panggilku.
Tak ada sahutan. Pria yang kupanggil sepertinya tidak
mengetahui kehadiranku. Aku berdiri disebelahnya. Ku
dengar helaan nafasnya. Dia memandang ke langit yang
mendung, kemudian dialihkan pandangannya ke arah
tumpukan puing bangunan.


Aku melihat pak Turi mengeluarkan beberapa foto dari
saku celananya. Dia menoleh ke arahku sebentar.
Terlihat matanya mulai berkaca-kaca.
"Ini anakku yang paling kecil." melas pak Turi dengan
mengusap foto anaknya.
"Berapa anggota keluarga paman yang belum ditemukan?"
tanyaku prihatin.
"Mereka semua telah hilang., habis." jawabnya dengan
putus asa. Dia mengeluarkan selembar kertas berisi
daftar nama keluarganya yang hilang.
"Ini Maman, anakku yang tertua. Udin, yang kedua.
Hasan ketiga dan Berlina... dia baru delapanbelas
bulan." pak Turi tak dapat melanjutkan kata-katanya.
Berlina adalah bayi perempuan yang sudah tujuh tahun
diidam-idamkan oleh pak Turi dan istrinya. Kini hasil
penantiannya itu telah hilang. Pak Turi mengusap air
matanya yang meleleh di pipi dengan sarungnya.

Dengan langkah tertatih disebabkan oleh kakinya yang
terluka dijahit dua hari yang lalu, pak Turi melangkah
ke arah puing bangunan untuk mencari tempat duduk.
Mentari mulai menerobos awan gelap. Pagi yang cerah
ini seharusnya menjadi suasana yang ceria, tetapi
tidaklah demikian bagi ribuan penduduk disekitar
tempat ini. Kemarin malam hujan turun dengan tak
hentinya seperti menambah penderitaan para korban
gempa bumi yang tinggal di tenda-tenda.

"Mengapa Allah menghukum kami?" tanya pak Turi pada
diri sendiri dengan sengungukkan. Aku pun menghampiri
dan duduk disebelahnya. 
"Paman., bencana alam dapat terjadi dimana saja. Ia
tidak memilih di Aceh atau di Jawa. Semua orang dapat
mengalami."
"Paman tidak sendirian, banyak orang yang mengalami
musibah bahkan mereka mengalami musibah yang lebih
parah dari keadaan paman sekarang." jawabku untuk
mencoba menguatkannya.
Dia melirikku tajam. "Musibah apa yang lebih parah
lagi pak, jika semua anggota keluarga bapak telah
hilang semua?" tanyanya dengan suara parau. 
"Bapak tidak mengalaminya maka bapak tidak tahu
bagaimana rasanya jika semua anggota keluarga bapak
hilang." kata pak Turi dengan memukul dadanya
sendiri.
Aku menghela nafas. "Saya mengerti paman, kalau saya
yang mengalami, mungkin perasaan saya akan sama
seperti pama."

Aku menengadah dan melihat pelangi melintas langit
yang mulai membiru. "Seperti pelangi di atas langit 
itu paman. Setelah hujan, baru akan tampak pelangi.
Sebagai seorang yang beragama, setelah kejadian ini
kita tidak boleh terus meratapi nasib kita, paman.
Kita tidak boleh menyerah. Kita harus dapat bangkit.
Melakukan apa yang dapat kita lakukan. Saya percaya
Tuhan akan melihat ketaatan kita."

Aku beranjak mengajak pak Turi kembali ke kamp
pengungsi yang tidak begitu jauh jaraknya dari tempat
kami berada. Aku mengambil pisau yang hendak dipakai
pak Turi untuk mengiris nadi tangannya dan membuang
jauh-jauh diantara puing bangunan. Beberapa perawat
menyongsong pak Turi untuk dibawa kembali ke ruang
kesehatan. Mentari semakin kuat menyorotkan sinarnya
diantara awan mendung dan tampak pesona angkasa yang
berwarna-warni. Habis hujan terbitlah pelangi.

Vancouver, 10 Januari 2004

Peter

 

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."