Ketika Rumput Tetangga Lebih Hijau

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Bulan Februari 2005 yang lalu masih ramai dibicarakan tentang Tenaga Kerja Indonesia yang terutama di negara Malaysia yang hendak dipulangkan kembali ke Indonesia. Maka hampir setiap hari berita tersebut didengung-dengungkan, khususnya di media kotak kaca.

Ketika terbang dari Singapura ke Surabaya, betapa banyaknya TKI, yang juga bersamaan terbang dengan kami, dan suasana di dalam pesawat terbang pun menjadi ramai dengan terdengarnya percakapan dalam bahasa Indonesia, wah kayak pasar, selutuk seorang penumpang di sebelah saya.


Seperti banyak media massa yang meliput, banyaknya tenaga kerja Indonesia yang merantau ke negeri orang disebabkan antara lain, tumbuhnya pengangguran yang semakin tak terhitung setiap harinya, berkurangnya lowongan kerja, kualifikasi kerja yang tidak memenuhi, sedikitnya gaji yang diterima dibanding dengan negara lain, merasakan enaknya hidup di negara orang, dapat mengirim uang ke kampung halaman dengan cukup banyak dan menjadi suatu tanda kebanggaan kalau pulang
bekerja dari luar negeri.

Maka tidak sedikit orang yang ingin kembali ke Malaysia atau yang ke negara lainnya, bahkan banyak
pula yang tidak mau kembali ke tanah air. Belum lagi permasalahan perijinan kerja yang tidak legal,
menjadikan ruwetnya permasalahan dalam dua negara serumpun yang bertetangga itu.

Masalah-masalah seperti diatas itu mengingatkan apa yang juga terjadi di dalam gereja. Anton seorang pemuda anggota dari Gereja Injil Surgawi Permai, seorang pengurus gereja yang aktif melayani. Dan entah dikarenakan tidak imbangnya dengan banyaknya pekerja gereja dan sedikitnya pelayanan, atau kualifikasi pelayanan yang tidak memenuhi, atau tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari sang gembala, atau tidak mendapatkan cukup ‘makanan rohani’ maka….. Anton mulai
melirik pada Gereja Injil Supermarket lainnya.

Anton mencoba rumput lain, dan tanggapan yang diberikan luar biasa. Anton disambut dengan hangat, perhatian pengurus senantiasa nempel kayak perangko pada diri Anton. Dan Anton merasakan suatu suasana ibadah yang lain dari pada gereja asalnya. Anton juga seakan merasa memakai sepatu Cinderella dari magnit yang membuatnya kerasan di gereja tetangga.

Mungkin kita akan bertanya-tanya, why? Mengapa? Apa sebab? Apa si Anton bersikap habis manis sepah di buang sama gereja asalnya? Atau si Anton seperti selera pria masa kini alias suka jajan? Atau Anton kayak tenaga kerja Indonesia yang lebih suka merantau bekerja di negara orang? Atau karena dengan merantau Anton mendapatkan ‘gaji’ (makanan rohani) yang lebih dari gerejanya sendiri ?

Pada umumnya tidak ada gereja yang ingin anggotanya supaya merantau ke gereja lain, lalu menelantarkan gereja asalnya. Nah, nah kalau begitu apa sebab? Tentu gereja asal Anton harus mengevaluasi diri, mengapa dapat terjadi seperti kasus Anton. (Tetapi yang yang banyak terjadi adalah pihak gereja malah menyalahkan si Anton, menyalahkan gereja lain yang ‘menyabet’
Anton, menyalahkan si A, si B – mana mau ‘menyalahkan’ diri sendiri) yang menyebabkan Anton kayak kutu loncat ke gereja lain dan masih banyak kambing hitam maupun putih lainnya..

Anton yang diwawancarai oleh wartawan gereja hanya menjawab, “Habis aku ndak merasa damai sejahtera di gereja asalku. Aku merasakan tidak diperhatikan oleh gereja. Aku seperti hanya melakukan rutinitas kegiatan pelayanan. Gerejaku selalu dirundung masalah. Kalau diberi saran jalan keluar, saranku tidak pernah diterima. Jadi apa salah kalau aku mencoba mencicipi masakan lain?”

Memang tidaklah sedikit gereja yang mempunyai masalah. Dan masalah itu pun berlarut-larut tidak dapat dan tidak mau diselesaikan maka tidak heran jemaat tidak dapat duduk dengan tenang. Sayangnya ada juga gereja jika jemaat mengingatkan pengurus gereja atau gembala sidang untuk masalah tertentu, tetapi peringatan atau teguran jemaat tersebut tidak pernah dihiraukan karena
seringkali gereja merasa sudah cukup mapan dengan keadaannya. 

Well, tulisan ini bukan ingin mencari kambing hitam, siapa yang salah siapa yang benar dalam kasus Anton. Memang tidak dapat dipungkiri jika Anton sudah ‘srek’ dan ‘kerasan’ (betah) dalam gereja lokal maka (meski terjadi masalah gereja) seharusnya dia tidak perlu mencicipi rumput hijau tetangganya. Tetapi yang terjadi pada umumnya persoalan gereja dari tahun ke tahun berlarut-larut tanpa ada penyelesaian, dan dalam gereja seakan sudah tidak memiliki apa itu namanya Kasih, sehingga jemaat merasa tidak betah.

Dana sayangnya gereja kadang tidak mau tahu alias tutup mata, seorang Anton biar saja ‘pergi’ dari
gereja lokal karena masih banyak yang lain kok. Biar saja si Anton tidak hadir daripada kehadirannya akan ‘mengacau’ gereja. Alangkah piciknya pemikiran seperti demikian. Jika diaplikasikan dari ayat Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus yang sebagai gembala, ia akan mencari satu domba ‘tersesat’ meski sampai pelosok jurang yang terdalam sekalipun. Tetapi pemimpin gereja akan berpikir ‘emangnya gua pengangguran mikirin dia, bela-in dia sampai sejauh itu?’ No way! Sayang sekali banyak orang yang masih berani menyandang Kristen di gereja (atau sudah lupa ingatan akan siapa dirinya) tetapi nyatanya tingkah lakunya sama dengan yang lain yang non-Kristen.

Kita tidak dapat menyalahkan para tenaga kerja Indonesia yang ‘menyerbu’ negara tetangga kita, yang tanpa pandang bulu perlu ijin atau tidak. Pokoknya bekerja di negeri orang dapat bayaran yang lebih baik dari dalam negeri sendiri dan dapat pulang dengan bangga sambil membawa oleh-oleh. Karena dalam negeri sendiri lowongan kerja sulit, gaji sedikit dan penghasilan hidup hanya pas-pasan begitu-begitu saja. Tetapi ketika mereka mencangkul di ladang tetangga yang lebih hijau ternyata hasilnya lebih baik. Alangkah baiknya jika para pemimpin negeri berpikir sedikit mengenai nasib pekerja tersebut dengan membuat peluang lowongan kerja semakin terbuka, dengan gaji yang cukup dan dapat merasakan bahwa bekerja dalam negeri adalah suatu kebanggaan. Semoga.

Surabaya, 22 Feb 2005

Peter
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."