Ini Aku, Utuslah Aku

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Masih teringat 26 Desember 2004, aku masih dalam gereja mengikuti kebaktian Minggu dan pada saat doa syafaat diumumkan bahwa ada bencana gempa bumi tsunami di Asia Tenggara hingga Selatan yang telah memakan korban sekitar seribu jiwa. Dan aku berpikir bencana tersebut tidak akan begitu parah seperti bencana-bencana alam lainnya. Ternyata dugaan tersebut salah.

Semakin hari berita yang dimuat dalam media massa begitu menggetarkan hati. Dan ketika melihat tayangan berita yang ada dapat mengharu birukan pemirsa di rumah. Di stasiun televisi lokal, berita bencana Aceh pada minggu pertama merupakan berita utama wajib tonton.

Kengerian demi kengerian tertutup oleh rasa kasihan mendalam. Serasa tak sempat terpikirkan lagi apa sebabnya, mengapa semua itu terjadi. Yang diperlukan sekarang adalah suatu tindakan pertolongan yang nyata. Sumbangan dana akan sangat membantu tetapi mereka juga butuh pertolongan langsung.

Karena berada diseberang lautan maka sarana media teknologi saja yang dapat menghubungkan dan mengetahui apa yang terjadi pada bencana alam di Aceh tersebut. Baik melalui televisi, surat kabar, telepon dan internet. Berita mengenai musibah tsunami Aceh seakan tak pernah absen mengisi kotak e-mailku setiap harinya. 

Ketika menonton berita-berita kesakitan, penderitaan para korban yang perlu ditolong sesegera mungkin, seakan diriku berada disana, yang siap sesegera mungkin pula menolong mereka. Kupejamkan mata dengan mengiring doa, Tuhan tolong mereka, Tuhan tidak akan meninggalkan mereka, kasihanilah mereka.

Dari teman-teman milis banyak juga yang mengirim tulisan bagaimana sebagai umat kristiani dapat berbuat sesuatu untuk sesama mereka yang di Aceh. Dari sebuah e-mail berisi membuka lowongan sebagai relawan untuk pergi ke Aceh. Otakku tiba-tiba terinspirasi oleh e-mail itu. Bulan Februari aku berencana akan pulang ke tanah air. Maka aku pikir hal ini merupakan sesuatu yang tepat. Aku pulang ke Indo dan aku dapat sekaligus ke Aceh menjadi relawan untuk menolong para korban
bencana alam tersebut.

“No way.” Begitu kira-kira jawaban yang kuterima ketika aku menanyakan hal itu kepada keluarga dan teman-temanku. “Memangnya kamu mau mati?” “Cari penyakit!” “Kurang kerjaan?” “Kamu kurang waras?” “Emangnya kamu siapa?”

Tuhan apa benar sih, aku pengen terjun menolong ke lapangan tapi kok orang-orang sekelilingku tidak ada yang setuju dengan rencana ini? Aku pun juga ikut bertanya-tanya. Apa ini kehendak Tuhan? Udah tahu ada musibah, kalau kita mampu menolong ya menolonglah, begitu selutuk hatiku.

Aku pun mulai membuat daftar persiapan mental dan peralatan yang perlu aku bawa untuk menghadapi medan yang aku perkirakan akan sama seperti medan habis perang itu. Tidak mudah, tetapi motivasi ingin menolong dan terjun langsung yang mendorongku untuk tetap berdoa menanti jawaban Tuhan.

Beberapa teman yang telah aku kontak, bukannya malah mendorong eh, tapi malah mengirim email dengan berita-berita yang membuat aku jadi ragu. Ada berita tentang banyaknya penyakit menular yang mulai berjangkit di daerah-daerah tertentu. Sehingga tidak sedikit relawan yang telah sampai di lapangan harus pulang. Ada pula yang kena sakit menular. Berita lain juga menuliskan betapa sulitnya situasi disana dengan medan yang kacau balau. Dan masih banyak pula kesaksian yang membuatku pasang surut. Apakah aku siap menghadapi itu semua?

Aku hanya berdoa dalam hati. Tuhan tolong beri aku petunjuk. Jika Kau ijinkan aku ke Aceh sebagai relawan aku akan menurut, tetapi jika tidak, aku pun juga akan menerimanya. Aku masih berhubungan dengan lembaga kristen yang mengirim para relawan ke Aceh tersebut. Dan tetap saja, teman-temanku yang baru aku beritahu bahwa kalau Tuhan ijinkan, aku akan pergi ke Aceh sebagai relawan, semua pada terkejut.

Waktu pun berjalan terus. Sampai hari keberangkatanku kembali ke Indonesia, aku belum menerima kabar dari lembaga kristen yang hendak menghubungiku jika ada kloter relawan berikutnya yang berangkat ke Aceh. Awal Februari, sesampai di tanah air, aku masih mencari informasi dengan menghubungi lembaga kristen tersebut. Berita yang kudapat saat itu bantuan evakuasi telah
selesai dan bantuan kemanusiaan serta rehabilitasi telah ditangani oleh pemerintah.

Apakah ini jawaban Tuhan? Mungkin saja. Karena aku hanya dapat berserah saja. Jika Tuhan menghendaki aku pergi ke Aceh, tentu Tuhan dengan mudah akan memberangkatkanku. Jika Tuhan tidak menghendaki, mungkin banyak yang perlu aku pelajari. Mungkin aku belum siap secara mental maupun fisik menghadapi medan di lapangan. Mungkin aku perlu bertanya pada diriku motivasi apa sebenarnya yang mendorongku ingin melakukan kegiatan tersebut? Ikut-ikutan? Berpetualang? Kebetulan karena aku pulang ke tanah air? Ingin mempunyai cerita hebat yang jarang dimiliki
orang lain? Ingin dipuji karena keberanianku? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang harus kujawab.

Wahai diriku, aku tidak kecewa. Paling tidak, mungkin ada sesuatu yang dipelajari dari peristiwa ini. Tetapi aku percaya jika suatu saat nanti Tuhan menghendaki aku melayani di suatu tempat, aku akan berkata seperti nabi Yesaya yang mengatakan, “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Surabaya, akhir Februari 2005

Peter

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."