• PDF

Angin Biang Ribut

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 18:21
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
  • Sudah dibaca: 2903 kali
Konon menurut cerita, di sebuah mobil dihuni oleh empat mahluk berjenis pria dengan rambut hitam dalam perjalanan menuju sebuah kota wisata. Karena dasar menurut orang kota menyebut mereka cowok jadi tidak memakai aturan dunia etis (emang nggak semua sih). Maka dalam keheningan yang tak bersuara dan situasi yang sedang mengantuk serta perut kosong yang meraung-raung minta dikasihani untuk diisi, tiba-tiba…..“Dduuuutttt.”

Sebuah suara universal entah siapa yang mengajarkan, para cowok itu dapat menduga suara apa itu gerangan. Maka suasana yang tenang tentram, damai sejuk dan membuat ngantuk menjadi kacau….. Keempat cowok itu saling pandang. Saling mencurigai. Saling berpikir keras siapakah yang melakukan perbuatan yang tak sepatutnya itu. Apa lagi di ruang yang kecil pengap itu sudah dipenuhi oleh bau keringat mereka. Sekarang ditambah dengan aroma lainnya. Mata mereka melirik ke kanan ke kiri. Tak terasa si pengemudi sudah menutup lubang hidungnya. Dua di antaranya cepat-cepat membuka jendela mobil. Dan yang terakhir Joko hampir memuntahkan isi perutnya.


Tetapi ketiga pemuda tanggung tersebut menatap Joko dengan pandangan tajam. Seakan mengatakan “Elo yang melakukan, kan?” Karena sebelumnya Joko mengaku sakit perut dan minta berhenti di sebuah rumah makan untuk buang hajat. Maka ketegangan pun mulai terasa di antara
keempat cowok tersebut. Joko mengaku benar-benar tidak melakukannya. Lalu siapa?

Itu cerita tentang buang angin yang nama kasarnya kentut (maaf) inggrisnya ‘farts’. Gas racun yang diproduksi oleh tubuh manusia. Bagi sebagian orang bule farts itu normal, tapi bagi orang Asia itu adalah tabu. Ah gara-gara angin, kecil kan. Meski kecil bisa memabukkan. Itu masalahnya.

Dengan angin yang kecil begitu saja mungkin bisa terjadi keributan di antara teman seperti cerita di atas. Apalagi angin ribut atau angin topan yang gede kayak Katrina, Rita dan teman-temannya yang lain yang baru-baru ini terjadi di Amrik. Hal itu bukan masalah kecil lagi, tapi sudah masalah mati dan hidup. Kalau melihat dari berita suratkabar atau televisi maka berapa banyak angin topan itu menghancurkan rumah, membuat banjir, merusakkan harta benda sampai mematikan hidup manusia.

Mungkin bagi kita yang jauh dari lokasi bencana tidak terlalu merisaukan. Tetapi bagi korban bencana baik yang masih hidup atau yang ditinggalkan oleh anggota keluarganya, bencana tersebut tidak kalah dashyatnya dengan bencana tsunami Aceh yang lalu. Bencana yang terjadi di Amrik negara adidaya yang kaya raya makmur sentosa, maka mereka akan mudah mendapatkan pertolongan yang layak. Begitu banyak orang akan berpikir, tetapi bagi yang mengalami hal itu tidak semudah dugaan orang. Ketika terjangan angin topan Katrina, para pejabat tinggi Amrik malah salah pengertian dan komunikasi, sehingga banyak korban bencana yang seharusnya dapat diungsikan sepagi mungkin, malah menjadi terkatung-katung. Belum lagi ketika terjangan angin topan Rita terjadi, mengungsikan 2 juta jiwa tidaklah mudah dalam waktu yang singkat.

Bencana adalah bencana. Baik itu di negara adidaya atau di negara yang kurang mampu. Semua manusia akan sama merasakan penderitaan yang tidak menyenangkan. Karena manusia waktu menderita di mana saja juga sama, perlu mendapatkan pertolongan. Demikian pula dengan manusia baik yang di Amrik, di Eropa, di Asia, di Afrika semua membutuhkan pengampunan yang sama dari
Kristus. Tidak ada manusia di Amrik akan lebih mudah mendapat pengampunan, tetapi di negara yang berkembang akan sulit mendapat pengampunan.

Peristiwa angin topan Katrina dan Rita mengingatkan cerita di Alkitab tentang Tuhan Yesus yang waktu sedang berperahu bersama murid-muridNya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.

Tuhan Yesus tidur bukan karena lengah atau kecapaian. Atau Dia tidak tahu apa yang terjadi. Dia adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi, Allah yang Maha Kuasa maka apa yang terjadi dalam dunia semua di bawah kontrolNya.

Bencana Katrina dan sepupunya Rita jika diteropong secara positif, melalui bencana ini kita diingatkan, bahwa dalam hidup ini hanya Tuhanlah yang diutamakan. Ketika penderitaan datang, ketika kita sudah tidak mempunyai apa-apa lagi; apakah kita masih ingat kepada Allah Pencipta kita? Atau apakah kita malah akan mencaci maki bertanya, mengapa Tuhan? Mungkin kita tidak mengerti mengapa Tuhan membiarkan bencana alam itu terjadi? Tetapi jika kita melihat dibalik setelah kejadian tersebut berapa banyak orang yang diingatkan akan kasih Tuhan dalam hidupnya. Berapa banyak orang yang mengerti anugerah Tuhan begitu berlimpah dalam hidupnya? Berapa banyak orang yang dikuatkan? Berapa orang yang semula membenci Tuhan mengutuk Tuhan, akhirnya mengerti bahwa pengharapannya ada di tangan Tuhan? Dan masih banyak cerita kesaksian yang
menguatkan iman kita.

Tetapi biarlah kita yang kurang iman seperti para murid Kristus, dapat mengarahkan pandangan kita tetap kepada Tuhan Yesus. Apapun yang terjadi, Tuhan Yesus tidak akan membiarkan anakNya jatuh tergeletak. Tetapi Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. (Matius 8:26) 

Vancouver, 30 September 2005


Peter Purwanegara

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."