• PDF

Re: Penumpang Malam

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 18:21
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
  • Sudah dibaca: 1764 kali
Dear Peter, membaca tulisan dari pengalaman Michael dalam kisah Penumpang Malam mengingatkan keluarga kami yang hampir mempunyai pengalaman sama dengan Jenny. Kami mempunyai seorang putra, sebut saja Nanda (kependekan dari Ananda). Waktu itu dia masih duduk di bangku SMP 3. Suatu hari saya mengetahui bahwa dia mencuri uang ayahnya. Setelah kami konfrontasi dengannya. Baru kami mengetahui bahwa dia mencuri uang untuk mengajak pacarnya bertamasya dan bersenang-senang. Nanda berusaha menyenangkan pacarnya tersebut. Saya sebut pacarnya itu gadis yang mahal. Dan kami juga mengetahui bahwa Nanda didepan pacarnya berlaku seperti anak orang kaya. Sedangkan keluarga kami hanya keluarga biasa-biasa saja.

Setelah mengakui perbuatannya, Nanda kami hukum dengan tidak boleh keluar rumah pada akhir pekan. Kami tahu hal itu menjadikan suatu hukuman yang cukup berat baginya. Tapi apa boleh buat kami harus menghukumnya supaya dia menyadari perbuatannya mencuri.

Tetapi pada Sabtu malam waktu kami memanggilnya untuk makan malam, kami hanya menemukan kamar tidurnya yang kosong. Nanda minggat. Saya sangat terkejut dengan tindakannya tersebut karena dia belum pernah melawan perintah kami. Malam itu kami mencoba berdoa meski pikiran kami kalut. Karena kami cukup kuatir kemana Nanda pergi. Apakah dia berada di tempat yang aman?
Saya hanya dapat berdoa supaya Tuhan melindungi anakNya. Malam itu juga kami berdua saling mengevaluasi. Apakah ada yang salah pada kami dalam mendidik Nanda? Bagaimana mungkin sebelumnya Nanda kami kenal sebagai anak yang baik. Tetapi kini dia menampakkan sikap perlawanannya kepada kami.

Keesokan harinya kami menemukan Nanda berada di kamarnya. Kami sepakat dengan tindakannya tersebut kami akan memberi hajaran dengan harapan dia dapat berpikir secara dewasa. Kami bertiga duduk di ruang makan. Kami bertanya dengan tegas. Apakah dia ingin tetap tinggal dengan kami atau dia harus keluar dari rumah ini. Hati kami sangat sedih ketika mengucapkan ultimatum tersebut. Kami tentu sangat mengharapkan dia akan menjawab pilihan yang pertama. Puji Tuhan. Nanda memilih pilihan yang pertama. Kami tandaskan bahwa jika dia memilih tetap tinggal bersama kami maka dia
harus mentaati peraturan rumah tangga ini.

Setahun berlalu Nanda hidup dengan normal dan baik. Kami tak menyangka bahwa kejadian itu kembali terulang pada diri Nanda. Setelah kami konfrontasi kembali dengannya, dia bersedia mentaati perintah kami. Dan kami berpikir apakah hal ini dikarenakan lingkungan Nanda di sekolah? Sehingga dia menjadi suka melanggar perintah orang tuanya? Maka kami pun pindah ke kota lain. Dengan harapan Nanda akan mendapatkan lingkungan yang baik. Kami sering mendorong dia untuk mengikuti persekutuan dan berkumpul dengan anak-anak muda gereja.

Setahun sudah kami menikmati susana kota kami yang baru. Suatu hari kami mendapat telepon bahwa Nanda ditangkap polisi karena mencuri di pusat perbelanjaan. Kami tak tahu harus berkata apa. Saya hanya mencucurkan air mata. Apa yang terjadi dengan anak kami? Apakah ada yang salah dalam keluarga kami?  Karena Nanda sudah mencapai usia remaja dewasa maka hakim memutuskan untuk memasukkan Nanda di pusat rehabilitasi remaja. Kami tahu bahwa jika Nanda masuk ke pusat rehabilitasi, dia belum tentu akan menjadi anak yang lebih baik. Maka kami memanggil teman kami
seorang pengacara untuk mengajukan banding atas putusan hakim tersebut. Meski kami harus mengorbankan segala harta benda kami untuk membayar pengacara, kami rela demi kebaikan Nanda.

Sang pengacara mengajukan penawaran kepada Nanda. Jika dia masuk ke dalam pusat rehabilitasi maka namanya akan tercantum dalam daftar catatan kriminal. Maka dia akan sulit mendapatkan pekerjaan, dia tidak akan pernah mendapatkan paspor dan hidupnya akan lebih sulit. Apakah hal itu yang Nanda inginkan? Demikian papar sang pengacara. Jika Nanda tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya, maka dia harus melakukan pelayanan masyarakat beberapa ratus jam, berkelakuan baik selama dua tahun dan tidak melakukan tindak kriminal lagi. Nanda menyatakan sanggup.

Puji Tuhan. (maaf kami hanya ingin menyatakan perasaan kami). Nanda telah berubah setelah kejadian itu. Dia tidak pernah mencuri atau melawan kehendak kami. Bahkan dia lulus SMA. Masuk universitas dan mendapatkan gelar S1. Dan sekarang dia sudah melanjutkan studinya untuk mendapatkan gelar Master. Kami menyadari bahwa semua ini hanya anugerah Tuhan. Kami sebagai orang tua berusaha sebaik mungkin untuk memberikan yang terbaik kepada Nanda. Kami juga menyadari bahwa Nanda hanya titipan Tuhan. Kami tidak dapat memaksa dia seperti yang kami inginkan. Kami hanya berserah. Kami hanya menyerahkan Nanda kepada Tuhan. Biarlah Dia memakai Nanda sebagai saluran berkatNya.

Salam,
Sahabat Maya dalam Tuhan.

Vancouver, 13 Oktober 2005


Peter Purwanegara
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."