Namanya Susan Fi

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Namanya Susan Fi. Sering juga dipanggil sebagai Susi Fi. Nama yang agak aneh bukan? Aku sendiri juga bertanya-tanya setelah tahu nama lengkapnya dari temannya. Tapi entah benar atau tidak. Teman lainnya pernah bercerita bahwa itu hanya nama panggilan saja. Karena di lingkungan kampus, atau di lingkungan gereja anak-anak muda itu punya masyarakat sendiri, punya aturan sendiri hingga punya nama julukan sendiri. Maka jadilah Susan Fi. Ada yang bilang bahwa Fi itu kepanjangan dari Fantastis dan Idealis. Ada yang juga menjuluki Fi sama dengan Formula One (F1), nama khas dari balap mobil dunia. Akh, ada-ada aja.

Kalau fantastis idealis mungkin masih masuk akal. Susan Fi, bukan saja seorang mahasiswi yang cantik manis dengan tubuh semampai tapi juga berotak encer. Bukan saja aktif melayani di gereja dari song leader sampai perkunjungan semuanya dikerjakan, tapi juga seorang gadis yang kuat tangkas suka berolahraga dari tenis sampai panjat tebing, bahkan bungee jumping. Dan bukan saja orang tuanya penyandang gelar konglomerat yang kaya raya di Indonesia, tetapi gadis berambut panjang ini seorang yang rendah hati dengan senyumnya yang senantiasa menghias bibirnya. Maka tak heran pemuda mana yang hatinya tidak bertekuk lutut rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Seakan tak percaya. Gadis ini nyata, bukan khayalanku, atau jangan-jangan dia seorang malaikat di bumi yang sedang menjelma? Dua jurusan yang diambilnya di universitas Australia antara Biokimia dan Komunikasi, membuat orang terperangah dari dua jurusan yang seakan berlawanan tetapi dia dapat memperoleh nilai A tanpa kesulitan. Susan Fi juga bukan seorang gadis kuper tetapi teman-temannya dari kalangan jet-set dengan mobil mewah dan rumah gedung berharga jutaan dollar sampai dengan orang-orang yang tanpa rumah, yang tidur kedinginan meringkuk di pinggir jalan pusat kota, diapun dapat bergaul. Susan juga bukan seorang gadis yang pelit. Uang sakunya dari orang tuanya selalu tidak begitu saja dihamburkan tetapi digunakan seperlunya saja dan sisanya ditabung bahkan tidak jarang digunakan untuk menyumbang orang-orang miskin yang memerlukannya. Dan jika ia mempunyai waktu senggang digunakannya untuk bekerja part time di sebuah restoran cepat saji. Uang hasil kerjanya juga ditabung dan digunakan seperlunya, sebulan sekali Susan menyumbang persepuluhan pada gerejanya.

Waktu itu sekitar jam sepuluh malam, pendeta Arthur menelponku. “Apa……??????” tanyaku dengan penuh kengerian. Bulu kudukku berdiri merinding. Rasanya lemas sudah otot di seluruh tubuhku. Seakan disekeliling kepalaku penuh bermunculan dengan tanda tanya. Pertanyaan yang satu belum terjawab sudah timbul pertanyaan yang lainnya. Karena tak kutemukan jawabannya membuat kepalaku berdenyut-denyut seperti seluruh aliran darah memancar mengalir keras kearah kepalaku. Pusing. Lebih dari pusing. Berputar. Seperti dipelintir. Seperti terjadi gempa bumi, tanah yang kupijak seakan bergoyang. Aku pun jatuh terduduk. Dengan tak sadar telepon yang masih ada di genggamanku terbentur pada dahiku. Tak terasa sakit. Karena kepalaku sendiri sudah terasa sakit. “Ya, ya…. saya akan segera kesana…..” jawabku pada orang yang tadi berkata-kata di seberang telepon tapi tak kudengarkan karena seakan telingaku pun kompak untuk cuek mendengarnya. Kucari-cari letak gagang telepon pada tempatnya. Masih dalam kegelapan, aku seperti mimpi. Karena aku terbiasa tidur dengan keadaan gelap maka aku pikir itu hanya mimpi. Tetapi tidak……..!!! Tiba-tiba ada cahaya yang lebih terang, yang mungkin lebih dari jutaan kilowatt yang memancar. Kini giliran mataku yang sakit…… sakiiiittt…… perih. Aku seakan buta meski aku ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Aku menutupi mataku dan menundukkan kepalaku. Tiba-tiba pikiranku melayang teringat apakah aku akan seperti Saulus yang bertobat waktu dalam perjalanan di Damsyik itu? Tidak. Aku toh sudah bertobat menerima Kristus sebagai juruselamatku. Hal itu tak mungkin. Tetapi terdengar suara, “Rif, kamu sudah mendengar kabar dari pendeta Arthur?” Hah??? Rasanya aku kenal banget suara siapa itu.
“Kak, tolong kau matikan lampunya.” Syukurlah kakakku memang sayang dengan adiknya makanya dia mengerti. Lampu dimatikan. Mataku cukup lega. Tetapi tidaklah demikian dengan kepalaku.
“Rif, kamu kenapa?” tanya kakakku.
“Nggak, nggak kenapa.” jawabku sambil memegang kepalaku.
“Kau sudah mendengar berita dari pendeta Arthur, bukan?” tanya kakakku kembali.
“Sudah.”
“Gih ganti baju sana, kita cepat ke tempat pendeta Arthur.” ajak kakakku sambil meninggalkan kamarku.

Aku masih memegang foto Susan dengan tegang dan gemetar. Terasa di sebelah ujung kanan atas dari foto tersebut masih basah. Aku menyadari itu bukan basah oleh karena keringat. Kami semua pada diam. Hening. Hembus nafaspun seakan tak terdengar. Aku tak mengerti. Apakah aku yang tak mendengar kehadiran mereka? Susan Fi. Aih, fantastis idealis? Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya. Lho apa hubungannya ayat Alkitab itu dengan Susan Fi seperti yang dikatakan oleh pendeta Arthur. Tak sadar ada perasaan panas dalam hati yang menyengat. Apakah Susan Fantastis Idealis itu dikatakan telah memperoleh seluruh dunia? Aih kadang pendeta Arthur itu ngomong seenaknya. Ngerti perasaan orang lain kek.

Tak tahan lagi jebol sudah pertahanan air mataku. Panas. Kupejamkan mataku seakan memeras semua air mataku. Untuk mendorong mereka turun perlahan di permukaan wajahku. Masih tak percaya, itu perasaanku sampai pagi harinya. Kepalaku masih penuh dengan tanda tanya yang belum juga terjawab. Meski aku sudah minum aspirin empat butir, aku masih tak tahu kemana aku mencari jawabnya. Seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu. Apakah itu gambaran Susan Fi? Si fantastis idealis? Teringat Susan Fia teringat akan diriku. Dan membuatku berdoa, Tuhan tolong hambamu. Hanya Engkau sandaranku dalam hidup ini, Tuhan. KepadaMu saja hamba menyerahkan hidup ini. Pakai hidupku ini untuk menjadi alatMu yang berguna bagiMu. Tuhan masihkah ada pengampunan bagi Susan Fi? Mungkin demikian pengharapanku, tetapi hanya Tuhan yang berkuasa atas hidup manusia ini.

Susan Fi mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Di dalam kamarnya. Di kamar pribadinya. Di kamar dimana aku pernah bermain gitar menyanyikan sebuah lagu ciptaanku dan bersaksi kepadanya. Di kamarnya yang terpajang puluhan poster David Beckham pemain bola itu. Mengingatkanku suatu hari dia ingin ke Inggris untuk bertemu dengan David Beckham. Di kamarnya pula kubayangkan dimana dia sering berdiskusi denganku berjam-jam melalui telepon menyatakan keinginannya menjadi garam dan terang bagi banyak orang. Cita-citanya jika suatu hari Tuhan memanggilnya sebagai hamba Tuhan dia akan mentaati. Cita-citanya yang ingin mengikuti Evangelism Explosion kursus penginjilan dimana kita dibekali untuk dapat menginjili dengan efektif dan cita-citanya yang lain membentuk kelompok penginjilan kaum muda untuk pergi ke pedalaman Amerika Latin atau negara Eropa bekas komunis. Aiih… cita-citamu hanya tinggal fantastis idealis, Susan.

Kepahitan, kekecewaan, penyesalan bercampur aduk seakan mulai mencari kambing hitam. Salah siapakah ini? Benarkah Tuhan mengetahui Susan akan mengakhiri hidupnya? Benarkah Susan fantastis idealis Kristen yang telah dilahir barukan? Mengapa teman-temannya tak ada yang tahu Susan mengalami depresi ganda hingga dia harus membayar jalan keluarnya seperti demikian? Mengapa dia harus mengambil jalan keluarnya sendiri? Gosip-gosip kepahitan mulai bertebaran. Nurani-nurani kekecewaan mulai meragukan atas diri Susan. Kehidupan Susan Fi masih terbayang di pikiranku, bahwa apa yang indah dan baik dipermukaan, belum tentu juga indah dan baik di dalamnya.

Dalam hidup manusia, masalah adalah bayang-bayang hidup setiap pribadi. Setiap orang mempunyai masalah. Setiap orang bergelut dengan masalahnya setiap hari. Setiap orang ingin mencari jalan keluarnya. Setiap orang ingin lepas dari masalahnya. Kadang kita tidak dapat menghadapinya hanya dengan kekuatan kita sendiri. Kadang kita tak dapat menghadapinya sendirian.

Aku sangat menyayangkan kejadian yang menimpa Susan Fi. Entah bagi Susan Fi yang lain, ‘apakah kau menyadari ketika kau berjalan dalam masalah, ketika kau menemui kesulitan dan ketika kau hanya mengandalkan kekuatan dirimu. Kau tidaklah sendirian. Ada seorang sahabat setia yang senantiasa akan menolongmu, menunjukkan jalan keluar bagimu dan mendampingimu. Dialah Yesus Kristus, Tuhan yang hidup, Allah penguasa langit dan bumi, yang mau mendengar keluh kesahmu. Dia bersedia melihat betapa hitamnya dan menjijikannya masalahmu. Dia akan memberikan kekuatan untuk menghadapi semua masalah hidup ini.’

Ah seandainya Susan mau memandang dan menyerahkan masalahnya pada Allah sang PenciptaNya, aku yakin, Tuhan akan memberi dia kekuatan dan jalan keluar untuk menghadapi masalahnya. Why, Susan, why? Aku selalu merenung apakah tak ada seorangpun yang Susan percayai untuk menceritakan bebannya? Atau tak seorang pun yang peduli dengan cerita, penderitaan, pergumulan Susan? Tak seorangpun yang menyangka, termasuk aku, bahwa Susan mempunyai masalah dan menyelesaikannya dengan caranya sendiri. Tak kupercaya tapi inilah kenyataan….…., Fantastis Idealis.

Vancouver 3 Mei 2005



Peter Purwanegara


Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."