• PDF

Di Persimpangan

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 18:23
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
  • Sudah dibaca: 1750 kali
Senin pagi hari sebelum aku memulai pekerjaan rutinku, tiba-tiba intercom di dalam kantor berbunyi. “Pak Niki, pak Subaja ingin menemui bapak sekarang juga di kantornya.” Deg! Hatiku langsung berdebar-debar. Pasti ada sesuatu yang penting sehingga atasanku, pak Subaja, memanggilku untuk berbicara sepagi ini. Suara Rini sang sekretaris yang lemah lembut itu tidak membuatku semakin santai, tetapi membuat degup jantungku makin kencang.

Wajah pak Subaja tidak kelihatan marah atau tegang seperti yang kubayangkan.
“Pagi, Niki.” sambutnya.
“Pagi, pak.”
“Kamu pasti heran apa yang membuatku memanggilmu sepagi ini. Aku akan langsung pada pokok masalah. Ini bukan masalah tentang kamu, tetapi tentang Ray.” terang pak Subaja. Yang membuatku paling tidak, sedikit lega dan bisa santai kembali.
“Ada apa dengan Ray, pak?” tanyaku heran.
“Begini, komisi displin, menemukan bukti bahwa Ray menggunakan narkoba. Dan aku tidak mau pekerjaku yang bekerja di perusahaanku terlibat dalam penggunaan narkoba. Aku ingin engkau memecatnya paling lambat akhir minggu ini.” Suara pak Subaja bagaikan halilintar di siang bolong. Ray? Terlibat dalam penggunaan narkoba? Apa tidak salah? Aku seakan tidak percaya dengan perkataan pak Subaja. Jika bukan pak Subaja sendiri yang berkata mungkin aku menganggap hal itu omong kosong. Tetapi hal ini atasanku yang berbicara, dan ia mengatakan sudah menemukan buktinya.

Kulihat map yang diberikan pak Subaja berisi bukti foto Ray yang diambil dari kamera, sedang menggunakan narkoba di kantor kami. Entah aku harus berkata apa lagi kepada pak Subaja. Aku benar-benar bingung. Ray, salah satu tenaga penjualan tiga besar di divisiku. Baru minggu lalu aku membanggakan namanya sebagai tenaga penjualan atau salesman of the month. Aih Ray…Ray… aku ingin tidak percaya dengan perkataan pak Subaja tersebut. Tetapi bagaimana kalau hal itu memang terjadi?

Aku mengenal Ray di persekutuan pemuda. Waktu itu temanku yang lain memperkenalkan kami. Dan Ray sedang mencari pekerjaan. Kebetulan di divisiku bagian pemasaran sedang membutuhkan tenaga penjualan. Maka aku menawarkan lowongan tersebut kepada Ray. Dengan iming-iming bahwa dia akan di training dan hasilnya akan membuat dia sebagai tenaga penjual yang handal. Karena terus terang banyak pemuda yang aku tawarkan pekerjaan tersebut mereka kebanyakan enggan untuk menerimanya karena memang pekerjaan tersebut perlu keberanian dan otak yang encer supaya dapat melakukan penjualan.

Aku sangat senang ketika Ray mau menerima pekerjaan tersebut. Apalagi dia seorang pemuda yang aktif dalam pelayanan gerejawi. Maka aku merasa dia akan menjadi seorang teman kerja yang baik dan dapat kupercaya. Aku sendiri yang men-training Ray langsung. Dan Ray sebagai pemuda yang berotak encer juga patuh terhadap semua instruksi yang kuberikan.

Di gereja, Ray bukan hanya sebagai aktifis tetapi juga memimpin banyak pemuda untuk melayani. Tidak sedikit jemaat yang mendapat berkat oleh karena teladannya. Di pekerjaan, Ray juga dengan gigih mau untuk belajar menjadi yang terbaik. Penjualan yang dilakukannya naik pesat, otomatis komisi yang didapat juga semakin banyak. Setahun lalu kalau kuingat Ray masih mengendarai motor roda dua tapi kini dia sudah dapat mencicil mobil. Aku sangat bangga dengan prestasi Ray. Bukankah ini yang seharusnya terjadi, seorang Kristen yang melayani Tuhan dan berprestasi di pekerjaannya? Dan kini rasanya tidak masuk akal kalau aku mendengar kabar buruk tentang Ray.

Aku sangat menyayangkan kejadian ini. Dan aku tidak tega rasanya untuk memecat Ray. Aku tahu betapa bangga dan bahagianya Ray ketika setelah setahun bekerja, aku promosikan dia sebagai supervisor. Apakah kini aku harus memecatnya? Seharian pikiranku selalu teringat akan masalah Ray. Meski aku sudah berusaha untuk bekerja sesibuk-sibuknya. Aku hanya dapat menyerahkan masalah Ray ini kepada Tuhan. Aku berdoa dalam kantorku. Jika Tuhan menghendaki aku memecat Ray, terjadilah apa yang harus terjadi. Jika tidak, aku memohon Tuhan memberi kesempatan kedua kepada Ray.

Aku mencoba melupakan masalah Ray ini. Aku pikir masih banyak pekerjaan lainnya yang lebih penting daripada masalah Ray. Hari Selasa, tanpa sengaja aku bertemu dengan Ray. Aku baru menyadari bahwa penampilan Ray memang agak beda dengan waktu dia baru masuk sebagai pekerja pemula tahun lalu. Tampangnya sedikit lebih kurus, matanya agak sayu seperti orang mengantuk yang kurang tidur, jalannya tak bersemangat. Aku kembali teringat akan masalah Ray tersebut. Aih aku tak seharusnya melupakan masalah ini. Sebaliknya aku harus mengajak bicara Ray.

Sorenya, aku meminta Ray bertemu di kantorku. Tanpa aku memaksa, dia mengaku bahwa dia memang terlibat penggunaan narkoba.

“Maafkan saya, pak. Saya sudah mengecewakan bapak.” melas Ray.
“Minta ampunlah hanya kepada Tuhan.” sahutku.
“Bagaimana saya minta ampun pak. Saya ketagihan.”
“Ray, selain engkau minta ampun kepada Tuhan dan mohon Tuhan menolongmu untuk mengatasi ketagihanmu itu, engkau juga harus berusaha untuk melawan ketagihanmu.” nasehatku.
“Saya berusaha pak. Tapi kadang saya stress maka saya menggunakannya.” Demikian alasan Ray. Tetapi aku tidak mau tahu. Kalau dia ingin tetap bekerja di perusahaan ini dia harus berusaha. Dan aku ingin melihat usahanya tersebut. Ray menyanggupinya.

Maka kini giliranku untuk maju berjuang. Karena aku tahu kalau pak Subaja sudah memerintah, maka hanya ada tiga hukum yang berlaku di perusahaan ini. Pertama, boss adalah raja. Kedua, jangan membantah perintah raja. Ketiga, jangan pernah melawan hukum pertama dan kedua.

“Pak, beri Ray kesempatan kedua.” mintaku kepada pak Subaja.
“Niki, jika Ray aku beri kesempatan kedua. Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan kepada komisi dispilin dan karyawan lain di perusahaan ini? Jika seseorang mencuri, aku akan mengampuni. Tetapi bagaimana dengan konsekwensi tindakannya? Dia harus dihukum. Sama dengan kasus Ray. Jika aku menganggap hal ini sudah beres begitu saja, maka lain kali jika ada karyawan yang melakukan tindakan melanggar hukum. Apa aku juga harus tutup mata?” kata pak Subaja panjang.

Aku tahu permintaanku untuk memberi kesempatan kedua kepada Ray rasanya tipis. Akhirnya pak Subaja memutuskan bahwa Ray akan dirumahkan. Memang tidak ada aturan yang menuliskan demikian. Tetapi penjualan perusahaan sedang menurun dan pak Subaja mempunyai alasan untuk memotong pengeluaran. Aku juga menyadari bahwa tindakan Ray akan membawa akibat. Dan pak Subaja menganggap kasus Ray selama tidak merugikan perusahaan, ia tidak akan melaporkan ke polisi.

Mungkin kasus ini merupakan pelajaran yang berharga bagi Ray. Aku merasa sedih untuk mengabarkan kabar buruk tersebut kepada Ray. Dia hanya menangis. Meminta kepadaku untuk sekali lagi meminta kesempatan kedua kepada pak Subaja. Tapi aku katakan hal itu sudah tidak mungkin. Aku merasa kasihan kepadanya. Ray mengatakan dia tidak akan mempunyai penghasilan untuk membiayai keluarganya dan cicilan mobilnya. Aku tahu hal itu berat. Aku hanya mengatakan, hal ini merupakan pelajaran berharga baginya. Bertobat dan meminta ampun kepada Tuhan. Jangan lakukan hal itu lagi. Tetap berdoa minta pimpinan Tuhan. Mungkin Tuhan mempunyai rencana lain dibalik ini semua. Jangan berputus asa mencari pekerjaan baru. Aku akan memberitahunya jika ada lowongan pekerjaan yang aku tahu. Dan aku tetap mengingatmu dalam doaku, Ray.

Vancouver, 1 April 2006


Peter Purwanegara

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."