Smack Down, Gun Down, Choke Yourself

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
Kalau di Indo yang lalu terdengar kabar gonjang ganjing karena pertunjukkan Smack Down yang menjadi kambing hitam dari beberapa kecelakaan yang dialami oleh penontonnya. Mungkin saja pertunjukkan tersebut masih baru bagi penonton lokal, sehingga menimbulkan kegairahan untuk meniru-niru. Dan akibatnya fatal, anak-anak yang meniru para idolanya, mengalami cedera bahkan sampai tewas. Menyedihkan? Tentu saja. Gara-gara salah pertunjukkan tersebut? Atawa yang menonton belum siap mental? Atau salah si A, si B.....masih panjang daftar untuk mempersalahkan pihak yang lain.

Paling tidak teori yang mengatakan bahwa apa yang kita lihat dapat mempengaruhi kita, ada benarnya. Terutama bagi anak-anak. Di Amerika beberapa kali juga terjadi penembakan yang setelah diusut, dinyatakan bahwa si penembak mempunyai 'kelainan jiwa' juga ingin meniru-niru gaya bintang film dari Matrix misalnya, yang memakai jaket panjang hitam, berkacamata hitam, dengan sikapnya yang dingin, tidak ketinggalan membawa pistol laras panjang. Keren abis, begitu mungkin yang ada dibenak mereka. Tapi akibatnya juga fatal. Mereka menembak orang lain seperti yang ada di permainan video game. Tanpa bersalah, mungkin saja menggairahkan. Akibatnya beberapa orang tewas tanpa sebab. (Salah satu peristiwanya adalah Columbine High School, di Colorado Amrik sono).

Di Amerika Utara baru-baru ini juga terdapat kasus meniru-niru yang mirip tapi sedikit beda. Yakni beberapa anak melakukan permainan mencekik leher. Lho apa anak-anak itu sudah kekurangan permainan, sampai mencekik leher dijadikan ajang permainan? Permainan dapat dilakukan oleh dua orang anak dengan cara saling mencekik. Kalau tidak punya teman, bisa bermain sendiri dengan pura-pura menggantung diri, mengikat leher sendiri dengan sabuk pinggang atau tali yang kuat. Apa enaknya? Rasa sensasi yang tidak terkatakan ketika leher mereka tercekik selama tiga sampai lima detik (karena aliran darah tersumbat, rasanya seperti mau pingsan tapi nggak jadi, setelah cekikan itu dilepaskan). Lega rasanya. Tetapi kalau kebablasan waktu cekikannya. Maka tanpa ampun nyawapun melayang.

Ngeri juga kan, mendengar kabar kabur seperti demikian. Tentu bagi orang tua kuatir anaknya amit-amit jangan sampai bermain dengan api seperti demikian. Tetapi orang tua pun yang sudah super hati-hati memperhatikan anaknya pun dapat kecolongan. Mereka tidak pernah menyangka. Bahwa anaknya suatu saat terbanting atau membanting anak lain meniru gaya smack down. Orang tua tidak menyangka bahwa anaknya mampu membeli pistol dan menembak orang lain tanpa ada rasa takut. Orang tua juga tidak menyangka bahwa anaknya ditemukan menggantung diri hanya karena permainan konyol yang salah perhitungan. Dan masih banyak orang tua tidak menyangka anaknya berbuat tanpa sepengetahuan mereka.

Kalau anaknya mempunyai hobby memelototi bintang porno di internet atau anaknya tiba-tiba memberitahu bahwa dia hamil, apakah hal itu salah orang tua? Salah si A, si B. Bisa jadi orang tua cuek mulu dengan anak mereka. Tetapi tidak jarang ada orang tua yang sudah berusaha menjadi ‘teman’ bagi anak mereka, kelolosan juga.

Salah teman sekolah, lingkungan atau internet atau video game atau teve? Banyak pilihan. Tetapi coba bayangkan saja kalau teman sekolah, lingkungan, internet, video game, film, teve ditiadakan. Apakah kasus anak-anak di atas tidak akan terjadi? Tidak mungkin. Karena sejak jaman bahula pun tanpa adanya teknologi, kekerasan, pembunuhan, kekejian telah ada. Di Alkitab mencantumkan, Kain yang hanya karena iri hati dengan adiknya, pun tega-teganya membunuh Habel.

Tidak sedikit pula keluarga yang mempunyai komunikasi, perhatian, kasih sayang yang baik antar ortu dan anak juga dapat terjadi mempunyai masalah. Maka tidak heran, banyak ortu yang kebat kebit dalam hatinya kuatir nanti anaknya terpengaruh jelek oleh manisnya dunia.

Tuhan yang telah menciptakan keluarga, maka Dia pula yang akan memberkati keluarga. Ia tidak akan pernah meninggalkan keluarga yang bersandar kepadaNya. Karena keluarga ibarat sebuah pertalian segitiga; Tuhan-orang tua-anak. Tanpa Tuhan maka dapat dibayangkan betapa menyedihkannya keluarga tersebut.

Karena keluarga yang mengandalkan Tuhan akan menghasilkan buah yang baik pula. Keluarga yang takut akan Tuhan niscaya akan berjalan dalam pimpinan Tuhan. Maka tidak berlebihan jika orang tua mendidik anak-anaknya sedini mungkin. Menanamkan dasar-dasar iman kristiani. Sehingga pada waktunya ketika si anak sudah terjun ke masyarakat, orang tua hanya mengingatkan kembali ajaran Kristen yang telah dibinanya.

Pengaruh dunia tentu saja tidak dapat begitu saja mudahnya untuk diatasi selama kita masih hidup dalam dunia. Persekutuan keluarga, membaca Alkitab setiap hari, berdoa bersama rasanya tidak belerbihan jika dilakukan oleh sebuah keluarga Kristen. Memang bukan jaminan 100 persen bahwa dengan adanya aktifitas tersebut anggota keluarga tidak akan terpengaruh oleh manisnya dunia, tetapi dengan adanya jalinan bersekutu, komunikasi dan perhatian; pengharapan kepada Kristus sebagai Tuan dalam rumah tersebut nyata dan bukti praktisi dari iman kristiani.

Yang tidak kalah penting adalah orang tua harus dapat menjadi teladan, panutan bagi anak-anaknya. Bagaimana anak-anak dapat mentaati orang tua jika, ortu sendiri berkelakukan berlawanan dengan apa yang mereka nasehatkan kepada anak-anaknya?

Paulus mengajarkan di Efesus tentang keluarga, hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Kiranya Roh Kudus yang membimbing para orang tua untuk dapat mendidik dan menjadi panutan bagi anak-anaknya. Dan menyerahkan hidup anak-anaknya ke dalam tangan Tuhan.

Vancouver 31, Januari 2007



Peter Purwanegara

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."