• PDF

Mmmamamamaa, Ani beda ya

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 18:28
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
  • Sudah dibaca: 2756 kali
Hari ini aku menghadiri undangan dari putriku yang melakukan presentasi untuk Natal 2007 di sekolahnya. Tau sendiri karena acara Natal jadi gedung pertemuannya penuh banget. Padahal udara di luar sudah mencapai titik nol derajat dan hujan gerimis, ternyata banyak orang tua yang masih pengen ngeliat anak-anaknya presentasi.

Aku melihat putriku yang sedang duduk di depan bersama dengan teman-teman kelasnya. Aku melambaikan tanganku. Dia melihatnya dan membalas melambaikan tangannya. Aku tahu presentasi anak-anak sekolah dasar ini bukan suatu presentasi yang wah ato yang luar biasa, tapi aku percaya bahwa ini merupakan salah satu cara ekspresi dan juga suatu kegiatan yang positif bagi anak-anak. Terutama menjelang Natal. Meski aku tahu tidak semua anak-anak itu tahu apa arti Natal sesungguhnya.

Mataku melayang-layang menatap semua bagian dari gedung pertemuan itu. Aku tidak mengenal banyak orang tua murid lainnya yang memenuhi aula. Ketika aku melihat para murid yang dari Taman Kanak-kanak hingga kelas 6 yang duduk memenuhi aula pertemuan itu. Ada satu murid yang sangat spesial, yang menjadi pusat perhatianku seketika itu. Seorang gadis kecil yang duduk di atas kursi roda.

Aku memandang gadis kecil itu dengan seksama. Gadis kecil itu duduk lemah terkulai di atas kursi rodanya. Aku menduga dia tidak dapat menggerakkan semua anggota tubuhnya. Kepalanya jika tidak rebah di atas bantal akan terkulai lemah seperti bunga layu. Aku tercekat melihat keadaan gadis kecil itu. Tetapi dia ditolong oleh seorang wanita yang menggerak-gerakkan kursi rodanya, yang aku duga dia seorang suster atau perawat. Waktu anak-anak menyanyikan lagu-lagu Natal, sang perawat mendampingi si gadis kecil itu dengan memegang tangannya untuk mengikuti para anak lain yang menyanyikan lagu Natal dengan memakai gaya.

Gadis kecil itu seperti ‘patung’ yang tanpa ekspresi meski ’suster’-nya itu ikut menggerak-gerakkan diri gadis kecil itu untuk dapat berpartisipasi dalam acara Natal itu. Pandanganku seakan lengket dengan pemandangan di depan mataku itu. Perasaanku bercampur aduk. Merasa kasihan. Tentu. Merasa senang karena sang suster berusaha untuk mengikutkan sang gadis kecil itu untuk tidak tersisih dari teman-temannya meski dia cacat.

Selesai beberapa lagu Natal yang dinyanyikan oleh para murid. Giliran tiap kelas mementaskan persembahan Natal mereka. Karena mungkin panggung pentas kekecilan maka sang gadis yang duduk di atas kursi roda itu didorong turun oleh perawatnya. Dan….. mereka menuju ke tempatku dimana aku berdiri di belakang. Mereka berhenti tepat di sebelahku. Hatiku makin tercekat melihat dari dekat si gadis kecil yang cacat itu. Tak ada ekspresi di wajahnya.

Tapi….. aku melihat lebih seksama. Di mata gadis kecil itu mengalir air mata. Dia menangis. Entah kenapa. Tapi aku duga mungkin karena keadaannya. Sang perawat mengusap pipi si gadis sambil membisikkan kata-kata menghibur. Sang perawat juga mencium kening si gadis kecil itu.

Aku menyapa mereka, menawarkan jika mereka membutuhkan sesuatu aku akan siap menolong. Mereka tidak memerlukan apa-apa. Gadis kecil itu ternyata menderita Cerebral Palsy, ketidaknormalan kerja otak mengakibatkan si gadis kecil itu tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Ngomong aja susah, apalagi menulis. Anika nama gadis kecil itu. Dia cacat semenjak lahir. Yang kuduga perawat Anika, ternyata adalah mamanya. Aku melihat air mata Anika meleleh kembali di pipinya. Mata kami pun bertemu bertatapan. Aku tidak dapat menterjemahkan apa arti pandangannya. Campur aduk. Seakan dia berkata, antara ‘kau jangan memandang kasihan padaku’ dan ‘aku menangisi diriku’. Tak tahan kupalingkan wajahku ke arah panggung pentas.

Entah tampak seperti ada awan putih menutupi mataku yang basah. Kuusap air yang meleleh itu. Aku menatap ke arah Anika kembali. Dia sedang berbisik di telinga mamanya. Di tengah keramaian Natal itu, seakan aku mendengar bisik Anika, “Mmmamamamaa, Ani beda ya.”

Pikiranku menerawang, betapa berharganya seorang manusia itu yang telah begitu indahnya dicipta oleh Tuhan. Puji syukur atas segala keadaan kita apa adanya. Tetapi berapa sering kita mengeluh, mengeluh kepada Tuhan. Teringat putriku, yang tidak jarang membuatku kesal karena kekerasan kepalanya atau kenakalannya. Dan sebenarnya aku tidak mau datang menghadiri pementasan Natal kali ini karena dia telah berbuat salah, dan ketidakhadiranku adalah hukumannya. Meski dia sudah memohon kepadaku berkali-kali jangan sampai tidak datang atau lupa akan hari dan jam itu. Tetapi karena aku mengasihinya. Meski waktuku tidak banyak. Meskipun dia sudah berbuat salah. Kehadiranku akan sangat berharga baginya. Dia senang sekali ketika melihat kehadiranku.

Anika mungkin tidak mengerti akan keadaannya. Tak seorang pun yang mau hidup seperti demikian. Seumur hidupnya mungkin akan tergantung pada orang lain. Kasih Allah berdaulat atas hidup Anika. Mungkin bagi orang lain tak ada yang peduli. Tapi melalui keluarganya, meski mungkin sedih, tapi aku percaya mereka akan mengasihi Anika lebih dari anak lain. Aku berdoa bagi Anika dan keluarganya.

Jika Anika berkata, “Mmmamamamaa, Ani beda ya.” Mamanya akan berbisik dengan lembut dan penuh kasih memeluknya dengan erat, “Aku tetap akan mengasihimu, Ani.”

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."