• PDF

Sox and the City

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 18:29
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
  • Sudah dibaca: 2786 kali

Jum’at kemaren 30052008, filem yang salah satu disukai oleh urban yappie, Sox and the City nongol menjadi filem layar lebar, setelah enam tahun hanya menjadi filem teve. Dan hari Seninnya udah jadi box office, menenggelamkan Indiana Joni and de Kingdom of de Crystal Skull.

Sox and the City, cerita empat ce yang jadi rebutan perhatian dari para pemirsa televisi di seluruh dunia mempunyai kesamaan hobi, seperti gila belanja, gila mode, gila kerja, gila ngerumpi (apalagi ngrumpi tentang sox), selama pertunjukan Sox and the City 94 episode (enam tahun), keempat ce tersebut diceritakan sudah pernah berhubungan tukar menukar sox dengan 94 pria!!!

Jadi memang seperti judulnya, setiap episode selalu ada ‘adegan’ sox-nya. Memang hobi sox ini entah koq bisa bersamaan di antara keempat ce tersebut. Sox (kaus kaki) [diambil dari kata sock] itu kan pribadi yach. Kalau dibuat tuker-tukeran apa enggak membawa benih-benih penyakit masuk ke dalam tubuh? Emang sich, kaus kaki untuk melindungi kaki. Kayaknya kaki itu paling enggak berharga. Cuma bayangin kalau enggak ada kaki ya susah dunk untuk ngebuat jalan. Kitanya enggak bisa kemana-mana dengan bebas seperti orang yang kakinya lengkap.

Kaki juga anggota tubuh yang paling deket sama kotoran. Tempat kaki ada di bawah, deket sama tempat dimana kita berjalan. Yang kotor, yang berdebu, yang bau, yang berantukan sama batu kerikil. Maka kaki anggota tubuh yang kaya knya kurang berguna juga perlu dilindungi. Nyatanya selaen dipakaikan sepatu, juga perlu ditambah kaus kaki. Kegunaan kaus kaki selaen untuk melindungi kaki dan menghangatkan, kini menjadi untuk kenyamanan dan mode.

Kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Yoh 13:5. Coba kalau dibuka pelayanan memijat, mencuci, membersihkan kaki orang laen. Ditanggung pasti kagak ada orang yang mau melayani. Amit-amit dech. Kan bau tuh kaki. (ya pake masker tabung oksigen donk) Mending kalau melayani satu dua orang, lah kalau yang dilayani adalah 5000 orang yang baru diberi makan sama Tuhan Yesus. Kitanya pasti lari terbirit-birit. Who cares!

Mending kalau ada pelayanan pilihan. Milih pelayanan yang laen aja Tuhan. Lah kalau hanya itu saja pelayanan yang harus kita lakukan. Maka bersiaplah menyediakan tabung oksigen bersama maskernya. Sayangnya kalau enggak ada masker plus tabung oksigennya. Harus melayani face to face. Maka harus menjalankan Plan B, mencari sesuatu benda yang bisa dipakai untuk menyumpal hidung!

Baidewei, kalau mo pelayanan yang enak, melayani di tempat yang enak itu mah namanya dilayani bukan melayani. Kalo melayani itu sudah pasti enggak enak!!! (Maka itu apreciate tuh ama pembantu kamu, karyawan kamu yang udah melayani Anda dengan susah payah - yang tetap aza enggak pernah memuaskan kita iya enggak?) Klo dibayangkan, Tuhan ditanya apakah puas dengan pelayanan kita? Jawabnya, kita semua sudah tau. Enggak puas. Jauh dari puas. Banyak kurangnya. Dan mungkin tidak memenuhi standar Tuhan.

Maka Tuhan Yesus kagak sembarangan asal aza mau membasuh kaki murid-Nya, tetapi Dia juga mendemonstrasikan apa yang pernah dikatakan. Pertama, bahwa Dia mengasihi murid-murid-Nya hingga Dia rela ‘direndahkan’ membasuh kaki murid-Nya. Sebaliknyalah, jika seseorang yang mengasihi Tuhannya dan mau melayani Tuhan di tempat yang paling buruk sekalipun, dia akan tetap melayani. Dan pelayanan yang tidak enak pun akan tetap dijalani. Itulah the Power of Love. Ibarat seorang co yang jatuh cinta kepada seorang ce, dia akan melakukan apa saja untuk menyenangkan memenangkan hati sang ce. (Meski contoh ini kurang tepat karna cinta manusia mengharapkan balasan). Tetapi kasih Tuhan rela berkorban tanpa pamrih. Contoh yang lebih masuk akal mungkin, orang Kristen yang berani mati (martir) bagi Kristus untuk kebenaran dan kemuliaan Allah tanpa mempedulikan hidupnya.

Demo kedua, seperti yang Tuhan Yesus pernah katakan bahwa “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Tuhan Yesus tentu bukan menganjurkan murid-murid-Nya melayani supaya ‘menjadi yang terbesar’ di antara mereka. Tetapi lebih ditekankan untuk rendah hati. Contoh aja mengikuti cara Tuhan Yesus. Apakah kita mau membasuh hamba Tuhan yang melayani di gereja kita? Amit-amit dech. Apalagi kalau pertanyaan itu dilontarkan pada pemimpin gereja. Amit-amit sekali lagi. Gw yang gajiin dia, sekarang gw disuruh mencuci kakinya? Emangnya kebagusan? Atau seorang boss mencuci kaki karyawannya. Alamak. Itu mah mimpi. Atau majikan mencuci kaki pembantunya. Sorry, bisa enggak ya ngomong topik yang laen keq?

Susah kan? Apalagi namanya Tuhan. Udah menjelma menjadi manusia. Lahir di kandang. Eh masih juga mencuci kaki manusia. Kalau bahasa sekarangnya tuh, Tuhan Yesus itu habis-habisan dech. Dia enggak setengah-setengah. 100 persen. Bahkan Allah sendiri yang mau dulu mengambil tindakan mengasihi manusia. Itu sih udah di luar pikiran manusia. Udah di luar kamus manusia.

Tuhan ampuni kami. Meski demikian seringkali kami melupakan kasih-Mu. Tidak menghargai apa yang telah Kau lakukan untuk kami. Tuhan, Engkau tahu bahwa kami enggak selayaknya Engkau selamatkan tetapi oleh Anugerah-Mu, oleh Kasih-Mu, yang enggak kita mengerti sehingga Engkau mau menarik kami dari lubang kematian kekal. Ajar kami untuk hidup kuat dalam menghadapi hidup ini hanya dengan berserah kepada-Mu. Sucikan kami setiap hari, menjauhi dosa dan menang atas godaan. Ajar kami untuk mengasihi-Mu dengan benar. Thank you Jesus.




s0lide0gl0ria.wordpress.com

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."