Peter Purwanegara

Lahir dan dibesarkan di Surabaya. Seusai sekolah menengah atas melanjutkan pendidikannya di Vancouver, Canada di fakultas administrasi. Pelayanan di gereja lokal sejak kecil. Bakat menulis dikenalnya semenjak sekolah menengah pertama disalurkan ke beberapa media rohani lokal. Saat ini tinggal di Vancouver, Canada, bekerja pada surat kabar lokal dan melanjutkan belajar paruh waktu dalam bidang periklanan. 

Selain hobinya menulis (dan membaca); aktifitas luar ruang, design grafis, fotografi, tennis dan olahraga serta warna biru menjadi kesukaan bapak muda berputri satu ini. Mottonya cukup sederhana, "Never say I Can't" dan "Be Creative" serta ayat Alkitab favoritnya, "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa engkau Kuutus, haruslah engkau pergi." (Yeremia 1:7).

  • PDF
  • Cetak

I Want To Know What Love Is

  • Rabu, 29 April 2009 18:23
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara

Aku tidak sengaja membaca kolom tulisan Toga Mulyawan yang berceloteh kritis tentang musik-musik dunia yang lagi nge-trend saat ini. Tulisannya jelas detil, tajam, tidak berputar-putar, jujur dan obyektif, tidak memihak. Kalau di perfilman ada Roger Ebert yang dianggap sebagai pengkritik film nomer satu di Amerika Serikat. Maka Canada punya Toga Mulyawan sebagai pengkritik musik. Maka sepulang kerja, dengan iseng aku menulis email kepadanya. Aku tidak terlalu berharap mendapat balasan, karena sebagai jurnalis di surat kabar terkemuka nasional tentu dia bukanlah orang yang mempunyai banyak waktu untuk membalas email iseng seperti dariku.

Selanjutnya: I Want To Know What Love Is

  • PDF
  • Cetak

Namanya Susan Fi

  • Rabu, 29 April 2009 18:22
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Namanya Susan Fi. Sering juga dipanggil sebagai Susi Fi. Nama yang agak aneh bukan? Aku sendiri juga bertanya-tanya setelah tahu nama lengkapnya dari temannya. Tapi entah benar atau tidak. Teman lainnya pernah bercerita bahwa itu hanya nama panggilan saja. Karena di lingkungan kampus, atau di lingkungan gereja anak-anak muda itu punya masyarakat sendiri, punya aturan sendiri hingga punya nama julukan sendiri. Maka jadilah Susan Fi. Ada yang bilang bahwa Fi itu kepanjangan dari Fantastis dan Idealis. Ada yang juga menjuluki Fi sama dengan Formula One (F1), nama khas dari balap mobil dunia. Akh, ada-ada aja.

Selanjutnya: Namanya Susan Fi

  • PDF
  • Cetak

Re: Penumpang Malam

  • Rabu, 29 April 2009 18:21
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Dear Peter, membaca tulisan dari pengalaman Michael dalam kisah Penumpang Malam mengingatkan keluarga kami yang hampir mempunyai pengalaman sama dengan Jenny. Kami mempunyai seorang putra, sebut saja Nanda (kependekan dari Ananda). Waktu itu dia masih duduk di bangku SMP 3. Suatu hari saya mengetahui bahwa dia mencuri uang ayahnya. Setelah kami konfrontasi dengannya. Baru kami mengetahui bahwa dia mencuri uang untuk mengajak pacarnya bertamasya dan bersenang-senang. Nanda berusaha menyenangkan pacarnya tersebut. Saya sebut pacarnya itu gadis yang mahal. Dan kami juga mengetahui bahwa Nanda didepan pacarnya berlaku seperti anak orang kaya. Sedangkan keluarga kami hanya keluarga biasa-biasa saja.

Selanjutnya: Re: Penumpang Malam

  • PDF
  • Cetak

Angin Biang Ribut

  • Rabu, 29 April 2009 18:21
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Konon menurut cerita, di sebuah mobil dihuni oleh empat mahluk berjenis pria dengan rambut hitam dalam perjalanan menuju sebuah kota wisata. Karena dasar menurut orang kota menyebut mereka cowok jadi tidak memakai aturan dunia etis (emang nggak semua sih). Maka dalam keheningan yang tak bersuara dan situasi yang sedang mengantuk serta perut kosong yang meraung-raung minta dikasihani untuk diisi, tiba-tiba…..“Dduuuutttt.”

Sebuah suara universal entah siapa yang mengajarkan, para cowok itu dapat menduga suara apa itu gerangan. Maka suasana yang tenang tentram, damai sejuk dan membuat ngantuk menjadi kacau….. Keempat cowok itu saling pandang. Saling mencurigai. Saling berpikir keras siapakah yang melakukan perbuatan yang tak sepatutnya itu. Apa lagi di ruang yang kecil pengap itu sudah dipenuhi oleh bau keringat mereka. Sekarang ditambah dengan aroma lainnya. Mata mereka melirik ke kanan ke kiri. Tak terasa si pengemudi sudah menutup lubang hidungnya. Dua di antaranya cepat-cepat membuka jendela mobil. Dan yang terakhir Joko hampir memuntahkan isi perutnya.

Selanjutnya: Angin Biang Ribut

  • PDF
  • Cetak

Katrina Pasti Berlalu

  • Rabu, 29 April 2009 18:21
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Katrina mulai merias wajahnya di depan cermin. Gaunnya yang berwarna hijau kebiruan sangat kontras dengan bedak putih di wajahnya dan pewarna mata yang berwarna biru serta pewarna bibir yang merah. Dia hendak berpergian. Mengunjungi sahabat karibnya. Dia hendak mengabarkan suatu peringatan bagi sahabatnya tersebut yang telah hidup dan bekerja di Amerika. Dia hanya mendengar bahwa hidup temannya tersebut telah jauh dari Tuhan, bergelimang dosa dan hanya hidup berpesta
pora. Menyedihkan sekali. Maka itu Katrina perlu mengingatkan temannya.

Selanjutnya: Katrina Pasti Berlalu

Selanjutnya...

Halaman 5 dari 15