Peter Purwanegara

Lahir dan dibesarkan di Surabaya. Seusai sekolah menengah atas melanjutkan pendidikannya di Vancouver, Canada di fakultas administrasi. Pelayanan di gereja lokal sejak kecil. Bakat menulis dikenalnya semenjak sekolah menengah pertama disalurkan ke beberapa media rohani lokal. Saat ini tinggal di Vancouver, Canada, bekerja pada surat kabar lokal dan melanjutkan belajar paruh waktu dalam bidang periklanan. 

Selain hobinya menulis (dan membaca); aktifitas luar ruang, design grafis, fotografi, tennis dan olahraga serta warna biru menjadi kesukaan bapak muda berputri satu ini. Mottonya cukup sederhana, "Never say I Can't" dan "Be Creative" serta ayat Alkitab favoritnya, "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa engkau Kuutus, haruslah engkau pergi." (Yeremia 1:7).

  • PDF
  • Cetak

Oskar Schindler

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 18:15
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Pengusaha Jerman ambisius, Oskar Schindler lahir pada tanggal 28 April 1908, di Zwittau, Austria-Hungaria, yang kini bernama Moravia menjadi negara bagian Republik Cekoslowakia. Schindler lahir sebagai seorang Katolik dan dibesarkan dengan segala keberadaan serta uang yang cukup. Pada masa mudanya dia banyak berendam dalam dosa seperti kencan dengan banyak wanita,
meminum minuman keras dan senang berjudi.

Dia menikah dengan Emily Pelzl pada tanggal 6 Maret 1928 setelah enam minggu mereka bertemu. Schindler bukanlah tipe suami yang setia dan dia selalu mempunyai banyak koleksi wanita simpanan. Pada bulan Desember 1939, Jerman menduduki Polandia dan menangkap para orang Yahudi untuk dikumpulkan di satu daerah.

Selanjutnya: Oskar Schindler

  • PDF
  • Cetak

Tak Bisa Ke Lain Hati ...

  • Rabu, 29 April 2009 18:15
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Suatu hari beberapa pemuda berkumpul di pelataran gereja. Si Umbul sambil membawa gitar dia memainkan sebuah lagu yang lagi populer saat itu, Tak bisa ke lain hati ... dari KLA Project yang dinyanyikan oleh Katon Bagaskara. Sama si Umbul syair 'Tak bisa ke lain hati' diplesetkan menjadi Tak bisa ke lain Gereja..

Kenapa mBul? Apakah karena banyak jemaat gerejamu pindah gereja atau suka 'jajan' kayak di supermarket? Ada barang baru coba dulu kalau cocok beli terus, kalau gak cocok ganti produk lain. Sama kayak gereja, 'test drive' dulu tidak cocok ya pindah gereja. Gitu aja kok repot.

Selanjutnya: Tak Bisa Ke Lain Hati ...

  • PDF
  • Cetak

Dilarang Mengemis

  • Rabu, 29 April 2009 18:15
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Lengkap sudah penderitaan para pemain skateboard, peminta-minta uang dan pembersih kaca mobil; khususnya di kota Vancouver mulai tanggal 8 Oktober 2004 yang lalu, dikeluarkan surat perintah resmi dari pemerintah daerah untuk melarang para pemain skateboard bermain di jalanan, peminta-minta uang dan pembersih kaca mobil melakukan prakteknya di jalanan.

Kalau permainan skateboard mungkin kita kebanyakan sudah tahu, dengan adanya permainan tersebut dilakukan di jalanan, maka banyak menimbulkan kecelakaan dan kerusakan. Demikian pula, jangan dikira di negara Kanada yang disebut 'maju' tetap masih banyak pengemis yang berkeliaran. Di perempatan jalan, di pinggir lampu merah, pinggir mal-mal dan di tempat 'strategis' lainnya.

Selanjutnya: Dilarang Mengemis

  • PDF
  • Cetak

Supermam

  • Rabu, 29 April 2009 18:14
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Pagi itu seperti biasa kami berdua makan pagi bersama, sedangkan Tom, suamiku sudah pergi ke kantor. Kiera menghadap roti makan paginya. Aku masih menyiapkan makan siang Kiera yang akan dibawanya ke sekolah.

“Mam.” panggil Kiera manja.
“Ya sayang.” sahutku tanpa menengok kearah Kiera.
“Kemarin Lia diantar oleh Mamanya ke perhentian bis.” kata Kiera, sambil memakan rotinya. Aku tidak mengerti apa maksud Kiera.
“Lalu ?” tanyaku.
“Pasti Lia senang diantar oleh Mamanya.” sahut Kiera selanjutnya.

Selanjutnya: Supermam

  • PDF
  • Cetak

Nasi Kecap

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 18:14
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Sore hari itu setelah pulang kerja, aku masih harus berdiri di halte bis menunggu 'limosin' kesayanganku. Aku melirik jarum jam tangan penunggu bis di sebelahku. Lima tiga puluh. Aih, aku hanya bisa menghela nafas. Menunggu bis lima belas menit, lalu perjalanan bis menuju rumah, memakan waktu sekitar sembilan puluh menit. Astaga, satu jam setengah, demikian teriak hatiku. Tubuhku sudah mau roboh saja rasanya karena lelah habis bekerja. Kakiku kesemutan. Dan perut kosong masih belum terisi karena tadi siang aku tidak makan siang, memang aku tidak punya uang
jadi aku hanya minum air putih saja sebanyak-banyaknya. Anggap saja aku sedang berpuasa, demikian aku menghibur diriku.

Selanjutnya: Nasi Kecap

Selanjutnya...

Halaman 8 dari 15