Peter Purwanegara

Lahir dan dibesarkan di Surabaya. Seusai sekolah menengah atas melanjutkan pendidikannya di Vancouver, Canada di fakultas administrasi. Pelayanan di gereja lokal sejak kecil. Bakat menulis dikenalnya semenjak sekolah menengah pertama disalurkan ke beberapa media rohani lokal. Saat ini tinggal di Vancouver, Canada, bekerja pada surat kabar lokal dan melanjutkan belajar paruh waktu dalam bidang periklanan. 

Selain hobinya menulis (dan membaca); aktifitas luar ruang, design grafis, fotografi, tennis dan olahraga serta warna biru menjadi kesukaan bapak muda berputri satu ini. Mottonya cukup sederhana, "Never say I Can't" dan "Be Creative" serta ayat Alkitab favoritnya, "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa engkau Kuutus, haruslah engkau pergi." (Yeremia 1:7).

  • PDF
  • Cetak

Bisnis atau Pribadi?

  • Rabu, 29 April 2009 18:13
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Dalam suatu kelas design yang pernah ku ikuti, aku mendapat suatu pelajaran menarik. Sewaktu memulai awal semester, sang pengajar berkata, "Saya akan memberlakukan kalian seperti rekan bisnis. Jadi ketika kalian menyelesaikan tugas kalian, maka saya akan menilai seperti dalam dunia bisnis. Jika design anda jelek maafkan saya akan mengkritik dan mengatakan design anda jelek. Tetapi jika design anda bagus, saya akan katakan bagus."

Dalam kelas tersebut terdapat duapuluh peserta dan satu pengajar jadi total duapuluh satu orang. "Dalam penyelesain tugas, kalian akan mempresentasikan pada kelas dan akan mendapat penilaian, kritikan dari duapuluh orang lainnya." Sambung sang pengajar tersebut.

Selanjutnya: Bisnis atau Pribadi?

  • PDF
  • Cetak

Bebaskah?

  • Rabu, 29 April 2009 18:02
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Drupa, mengaku berasal dari SriLangka, dan dia sekarang telah hidup menetap di Canada dengan status pelarian (refugee). Waktu Drupa melarikan diri dari SriLangka, dia harus membayar $35.000 CAD (uang dollar Canada) kepada suatu biro agen yang mengurus pelariannya.

Sing Sien, mengaku dari Cina, dia harus menyelundup untuk masuk ke Canada dan dia sekarang dapat hidup dan menetap di Canada. Tetapi untuk pelariannya ke Canada, Sien harus membayar $60.000 CAD (Canada dollar) jika di konversikan ke Rupiah, kurang lebih sekitar Rp.400.000.000,- (Empat ratus juta rupiah).

Selanjutnya: Bebaskah?

  • PDF
  • Cetak

Gadis Kecil Itu Bernama Isaya

  • Rabu, 29 April 2009 18:01
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Aku teringat waktu itu aku masih bekerja di kedai kopi dengan posisi sebagai pelayan. Karena untuk menyelesaikan kuliah ternyata memerlukan biaya yang tidak sedikit. Aku bekerja di kedai tersebut karena ajakan temanku Benny. Karena aku pikir aku punya waktu dan masih perlu uang, maka kuterima ajakan tersebut.

Menjelang akhir tahun, tiba-tiba Benny menyodorkan sebuah brosur dengan ajakan membantu anak-anak kecil di dunia ketiga seperti di Asia, Amerika Latin atau Afrika, yang dikelola oleh sebuah organisasi Kristen. Anak-anak kecil yang hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Mereka tak cukup makanan, tak cukup air bersih, tak ada obat-obatan dan mungkin mereka tidak akan pernah mendapatkan pendidikan pula.

Selanjutnya: Gadis Kecil Itu Bernama Isaya

  • PDF
  • Cetak

Mungkinkah Cowok dan Cewek Hanya Berteman?

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 18:00
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Sandi, seorang gadis yang berkunjung pada suatu gereja. Dan di gereja tersebut Sandi bertemu dengan John yang menyambut Sandi dengan ramah. John juga senantiasa mengajak Sandi bercakap-cakap dan mendorong Sandi untuk ikut pelayanan. Beberapa saat Sandi merasa kuatir kalau John ada hati terhadap dirinya. Dan mungkin saja suatu saat John akan mengajaknya pergi keluar berdua (dating).

Selanjutnya: Mungkinkah Cowok dan Cewek Hanya Berteman?

  • PDF
  • Cetak

Ketika Evie Hidup Sendiri

  • Rabu, 29 April 2009 18:00
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Telepon di samping tempat tidurku tiba-tiba berbunyi. Tak ayal lagi aku tersentak terbangun. Aku merasa sedikit bingung. Lalu aku melihat jam yang bertengger di dinding. Jam enam pagi. Aih siapa sih yang sepagi begini menelepon aku ? Gagang telepon pun kuangkat. Kudengar seseorang sedang menangis sengungukan.

“Ref……, to….tolong…. aku. Jo..Jo…Josi hilang…..Dia ta…tadi lari ke…luar….. ketika a…aku mengambil… koran pagi.”

Aku mengenal suara Evie diseberang. Josi? Siapa dia? Evie kan masih belum punya pacar. Jadi ? Oh Josi…, kucing kesayangan Evie.

“Aduh kasihan kamu. Apa yang dapat aku bantu?” tanyaku dengan simpatik.

Selanjutnya: Ketika Evie Hidup Sendiri

Selanjutnya...

Halaman 9 dari 15