Peter Purwanegara

Lahir dan dibesarkan di Surabaya. Seusai sekolah menengah atas melanjutkan pendidikannya di Vancouver, Canada di fakultas administrasi. Pelayanan di gereja lokal sejak kecil. Bakat menulis dikenalnya semenjak sekolah menengah pertama disalurkan ke beberapa media rohani lokal. Saat ini tinggal di Vancouver, Canada, bekerja pada surat kabar lokal dan melanjutkan belajar paruh waktu dalam bidang periklanan. 

Selain hobinya menulis (dan membaca); aktifitas luar ruang, design grafis, fotografi, tennis dan olahraga serta warna biru menjadi kesukaan bapak muda berputri satu ini. Mottonya cukup sederhana, "Never say I Can't" dan "Be Creative" serta ayat Alkitab favoritnya, "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa engkau Kuutus, haruslah engkau pergi." (Yeremia 1:7).

  • PDF
  • Cetak

Romeo Must Die

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:35
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Karena artikel ini bukan mau ngebahas resensi film, jadi memang bukan mau menulis tentang cerita isi film tersebut diatas. Tetapi yang menariknya adalah pernyataan judul dari film Jet Li yang pernah dirilis di Amrik beberapa tahun lalu, yakni ‘Romeo Must Die’. Kalau kembali mengingat cerita yang ditulis oleh Shakepeare, memang Romeo harus 'meminum itu racun' yang bisa membuat Romeo kayak orang putus nafas, alias orang mati dan seharusnya cerita ending dari Romeo Juliet itu akan berakhir happy. Tetapi karena nggak ada yang ngebilangin si Juliet bahwa 'matinya' Romeo itu hanya sementara jadi Juliet pun nekat bunuh diri. Dan akhir cerita menjadi tragedi.

Selanjutnya: Romeo Must Die

  • PDF
  • Cetak

48 Jam

  • Rabu, 29 April 2009 17:34
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
“Yah, aku harus pergi sekarang.” seru Mark sambil mengambil tasnya.

“Mark, kau barangkali sudah lupa. Minggu lalu kau berjanji hendak ke gereja bersama kami,” ingat ayahnya.

“Tapi Yah, aku sudah ada janji dengan Tom.” Mark berjalan melewati ayahnya.

“Lalu mengapa kau berjanji pula dengan kami hendak ke gereja pada hari ini?” tanya ayahnya tak mau kalah.

“Ah Yah ... sudahlah, ke gereja kan bisa ditunda Minggu depan.”

Selanjutnya: 48 Jam

  • PDF
  • Cetak

Bau Keringat

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:34
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Setiap Minggu pagi aku pergi ke gereja untuk berbakti. Dan selalu duduk di bangku nomer dua dari belakang. Kebiasaan tempat duduk ini sudah berjalan 3 tahun. Menjelang Natal, pengunjung gereja pun mulai meningkat. Dan kebanyakan orang kayaknya mempunyai kesenangan yang sama denganku, yakni duduk di bangku bagian paling belakang. Seperti hukum tak tertulis saja.

Di tengah-tengah kebaktian, ketika aku sedang konsentrasi untuk mendengarkan pendeta yang sedang berkotbah. Tiba-tiba tercium bau keringat seseorang yang menyengat hidungku. Aku berpikir, hal itu hanya kebetulan saja. Beberapa menit kemudian, tercium kembali bau tersebut. Kali ini bau tersebut lebih lama dan ‘tidak mau pergi’ dari daerah sekitar hidungku. Aku mulai tak tenang. Tanpa kusadari tangan kananku menutup hidungku. Aku semakin tak dapat berkonsentrasi mendengarkan kotbah. Karena bau keringat itu masih menyengat.

Selanjutnya: Bau Keringat

  • PDF
  • Cetak

Sudahkah Kita Mengabarkan Injil, Pada Hari Ini?

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:33
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Apakah judul di atas terdengar ‘ekstrim’? Masa kita diwajibkan memberitakan Injil setiap hari. Waktu kita kan terbatas. Nggak tahu kalau kita sedang sibuk banyak kerjaan? Banyak pekerjaan rumah dan harus belajar. Dan mungkin kita dapat mempunyai seribu satu alasan untuk hal ini. Tetapi saya akan ceritakan suatu peristiwa.

Parmajit, seorang India yang taat dalam agamanya ‘sikh’ dan ketaatannya pada agamanya tersebut dia tampakkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dia memakai sorban, memelihara rambut dan jenggot yang panjang (karena menurut aturan agama mereka, rambut di seluruh tubuh manusia ini nggak boleh dipotong atau dicukur).

Selanjutnya: Sudahkah Kita Mengabarkan Injil, Pada Hari Ini?

  • PDF
  • Cetak

Sex Appeal Itu Bukan Siomay

  • Rabu, 29 April 2009 17:33
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Bagi Richard Gere, Julia Robert itu menarik, cantik, menyenangkan; itu yang terjadi di film Pretty Woman. Tapi bagi Tony, Julia Robert itu dikatakan jeleknya amit-amit. Udah tinggi, kurus, mulutnya lebar, rambutnya keriting dan lain sebagainya. Tony menganggap Zhang Ziyi bintang film yang berakting di "Crouching Tiger, Hidden Dragon" itu lah yang dinamakan cantik, ideal, menyenangkan.

Lalu mana yang benar? Relatif jawabnya. Tergantung siapa orang yang menganggap orang lain itu menarik. Jadi meski ada seorang pemuda yang bernama Arnold cakepnya amit-amit, bintang olahraga dan pujaan gadis-gadis seluruh Jakarta, tetapi bagi Diah, Arnold itu cuma biasa-biasa saja seperti pemuda umumnya. Ya susah juga bukan? Ini contoh sederhana bahwa ‘sex appeal’ seseorang bagi orang lain itu berlainan.

Selanjutnya: Sex Appeal Itu Bukan Siomay

Selanjutnya...

Halaman 13 dari 15