Peter Purwanegara

Lahir dan dibesarkan di Surabaya. Seusai sekolah menengah atas melanjutkan pendidikannya di Vancouver, Canada di fakultas administrasi. Pelayanan di gereja lokal sejak kecil. Bakat menulis dikenalnya semenjak sekolah menengah pertama disalurkan ke beberapa media rohani lokal. Saat ini tinggal di Vancouver, Canada, bekerja pada surat kabar lokal dan melanjutkan belajar paruh waktu dalam bidang periklanan. 

Selain hobinya menulis (dan membaca); aktifitas luar ruang, design grafis, fotografi, tennis dan olahraga serta warna biru menjadi kesukaan bapak muda berputri satu ini. Mottonya cukup sederhana, "Never say I Can't" dan "Be Creative" serta ayat Alkitab favoritnya, "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa engkau Kuutus, haruslah engkau pergi." (Yeremia 1:7).

  • PDF
  • Cetak

Swearing

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:33
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Seorang teman mengatakan bahwa dia mempunyai resolusi tahun baru yakni mengurangi kata-kata ‘swearing’ yang dia ucapkan. Wow! Heran tapi penasaran sekaligus aku berpikir ... hmmm interesting.

Lalu aku bertemu dengan Rick seorang teman yang lain, yang gemar swearing; aku pun sempat menegur dia, “Kenapa sih kamu suka banget sedikit-sedikit keluar tuh ucapan swearing.” Si Rick ini kebetulan orang bule, dia bilang, “Tahu nggak, buat orang Kanada atau Amerika ‘swearing’ itu sudah jadi bagian hidup sehari-hari….” Ya ampun ... Ringan sekali dia menjawabnya.

Selanjutnya: Swearing

  • PDF
  • Cetak

Jon Lotre

  • Rabu, 29 April 2009 17:32
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Selasa siang itu Jon mengajakku untuk ‘ngopi’ di kedai kopi yang biasa kami datangi. Jon baru bangun tidurnya kayaknya, karena pekerjaan Jon sebagai pembersih kantor (janitor) yang dilakukan pada malam hari. Maka pagi harinya dia harus tidur. Baru siang ini dia sempat bertemu denganku. Aku mengenal Jon sekitar setahun yang lalu. Jon berasal dari Filipina, maka dia dapat bergaul denganku. Mungkin kebiasaan atau kebudayaan kami masih mirip dari Asia Tenggara.

Selanjutnya: Jon Lotre

  • PDF
  • Cetak

Berjuang Mendaki ke Puncak

  • Rabu, 29 April 2009 17:31
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Otakku seakan tak bekerja, ketika mendengar kabar bahwa Phil dalam keadaan kritis di rumah sakit. Maka seharusnya waktu makan siang bagiku tapi aku hanya lupakan saja. Aku cepat mengendarai mobilku menuju rumah sakit. Di ruang gawat darurat, aku sempat melihat tubuh Phil yang menurut kabar 45% tubuhnya terbakar. Setelah itu suster menyuruhku untuk menanti di ruang tunggu.

Dan kali ini penantianku merupakan salah satu penantian yang sangat tidak enak selama hidupku. Aku mencoba membaca majalah atau surat kabar yang ada, tapi otakku kembali tak dapat kuajak berkompromi membaca. Maka akhirnya aku hanya dapat berdoa sambil memejamkan mata untuk kesehatan Phil. Hal ini pun hanya berlangsung singkat. Kembali pikiranku melayang-layang membayangkan keadaan Phil.

Selanjutnya: Berjuang Mendaki ke Puncak

  • PDF
  • Cetak

Dipecat: “Menyakitkan harga diri, menggoyang rasa percaya diri”

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:31
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Michael Lee berpikir ia dapat melihat kedatangan itu jika ia menegakkan kepalanya saat itu. Sebagai pengembang piranti lunak “software developer”, Lee harus bekerja keras kadang-kadang sampai larut malam untuk membasmi apa yang ia sebut “kuman-kuman perusak acara” dalam aplikasi komputer yang baru. 

Kemudian, pada tanggal 1 Agustus, bos Lee berkata bahwa ia ingin bertemu dengannya. Itu bukanlah hal yang aneh. Tetapi kali ini bos Lee membawanya ke kantor direktur perusahaannya.

Selanjutnya: Dipecat: “Menyakitkan harga diri, menggoyang rasa percaya diri”

  • PDF
  • Cetak

Living On The Edge

  • Rabu, 29 April 2009 17:30
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
Setelah kejatuhan manusia dalam dosa, maka manusia tidak saja menyukai berbuat dosa, menentang kehendak Allah tetapi manusia secara status, adalah sendirian, putus hubungan dengan Allah.

Kehidupan manusia pun tanpa arah, maju kena mundur kena. Putus hubungan dengan Allah maka manusia juga kehilangan ikatan hidup dengan Sang Pencipta. Manusia kehilangan ‘sesuatu’ dalam hidupnya, dalam hatinya. Manusia menjadi musafir yang berkeliling-keliling tanpa tujuan (karena manusia sudah kehilangan tujuan). Tujuan yang semula dikira dapat memuaskan hati manusia ternyata tidak memuaskan.

Selanjutnya: Living On The Edge

Selanjutnya...

Halaman 14 dari 15