Hidup Menjadi Berkat (Seperti Batu Yang Hidup--1 Petrus 2:1-10)

Penilaian Pengunjung: / 58
TerjelekTerbaik 
Kenyataan hidup yang paling menyakitkan kita semua ialah bahwa Umat Allah ternyata tidak selalu hidup rukun seorang dengan yang lain. Saudara mungkin sempat membayangkan bahwa kita sebagai orang percaya atau anak Tuhan di dalam pengharapan dan kekudusan pasti dapat hidup dalam kerukunan, namun kalau kita telusuri kenyataannya tidak selalu benar. Di dalam surat Efesus 4:4-6 jelas sekali dicatat bahwa dari sudut pandangan Allah hanya ada satu tubuh, tetapi yang kita saksikan dengan mata kepala kita faktanya orang-orang percaya sering terpecah-belah dan saling mementingkan diri.

Dalam bagian Alkitab yang kita baca1 Petrus 2:5 "Menjadi batu hidup bagi pembangunan rumah rohani". Dalam konteks ini saya berkesimpulan bahwa orang percaya perlu mengoreksi diri. Orang-orang percaya perlu mengecek kehidupannya kembali, khususnya apa yang sudah diperbuatnya dan apa yang direncanakannya. 

Saudara, Alkitab yang kita baca mengumpamakan kita ini ibarat sebuah batu, dan kita semua bekerja keras untuk menumpuk lebih banyak batu. Batu ini bentuknya berbeda-beda, ukurannnya juga berbeda, ada yang besar ada yang kecil, ada yang kasar ada yang halus. Batu yang terdiri dari berbagai macam ini akan dipersatukan dalam suatu bangunan oleh si tukang bangunan; supaya membentuk bangunan yang benar-benar kuat dan kokoh, tahan. Bahkan hamba Tuhan pendeta dan penginjil di gereja ikut bekerja keras dalam penginjilan, mereka berusaha membawa lebih banyak batu ke lokasi konstruksi bangunan kita. Memang sering kali timbul masalah, kadang kala batu itu hilang karena diambil orang. Oleh sebab itu pendeta dan majelis selalu siap menjaga kemungkinan dari gereja lain untuk mencuri batu-batu lalu menumpukan pada bangunan mereka.

Celakanya kadang kala kita begitu disibukkan untuk mengawasi, mencari dan menumpuk batu di lokasi sendiri sehingga bangunan itu tidak pernah berdiri. Kita ini merupakan batu-batu milik Allah, tetapi kita belum diletakkan pada bangunan-Nya yang tepat, di mana kita dapat menambah berat dan memberi kekuatan. Jika kita sudah diletakkan, kita akan tahu batu-batu mana saja yang ada di bawah kita dan bagaimana kita saling mendukung, batu yang paling atas tidak bias menyombongkan diri, sebab justru karena batu dari bawah mendukungnya barulah ia bias berada di atas. 

Itu sebabnya antara batu yang satu dengan yanag lain saling membutuhkan dan saling kontak satu dengan yang lain. Tidak ada yang berusaha mementingkan diri sendiri, sebab sebuah batu yang tersingkir di tepi jalan sendiri, tanpa bergabung satu dengan yang lain maka batu itu tidak bermanfaat sama sekali, kecuali dipakai untuk melempar anjing atau kucing. Anggota jemaat juga demikian, kita tidak seharusnya mempertahankan diri kita, kesombongan kita,  padahal kita adalah satu warga, yakni WNS, warga Negara Surga. Kita hanya perlu mempertahankan kualitas kita masing-masing, supaya tatakala digabung dan dipersatukan benar-benar utuh sebagai suatu bangunan.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana kita bisa "menjadi batu hidup bagi pembangunan rohani". Apakah ada resepnya? Ada tiga hal yang harus kita  perbaharui, supaya kita dapat menjadi 'batu yang hidup' dan 'bukan batu yang mati."

I. PERBAHARUI MANUSIA LAMA KITA
Kalau kita perhatikan Alkitab, khususnya 1 Petrus 2:1, rasul Petrus mengatakan 'buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala kemunafikan, kedengkian dan fitnah". Perkataan 'buanglah" di sini dipergunakan Petrus menunjukkan perbuatan yang dilakukan sekali, tetapi berlaku untuk selama-lamanya; maksudnya ketika dikatakan 'buanglah" itu berarti kita membuang segala perbuatan yang tidak disenangi Tuhan semuanya dan sekali saja untuk selama-lamanya. 

Seringkali kita terjebak menjadi begitu tamak, tatkala kita mengatakan aku hendak 'membuang' perbuatan jahatku, namun karena melihat di depan-belakang-kiri-kanan tidak ada orang, maka kita pungut lagi apa yang sudah kita buang. Kita tidak bedanya ibarat seorang anak kecil yang berdoa "Oh Tuhan ampunilah saya, karena tadi pagi saya telah mencuri uang mama, Oh Tuhan, aku berjanji tidak akan berbuat lagi baik sekarang besok dan sampai selama-lamanya. Aku bertobat Tuhan, aku mohon Tuhan mau menolong daku dan mengampuniku. Tetapi Tuhan, tolong jangan suruh aku mengembalikan uangnya, sebab aku sudah berjanji dengan temanku nanti sore mau pergi makan-makan ama teman-teman di Restoran."

Sesungguhnya tujuan utama hidup kita adalah agar bisa menjadi saksi bagi orang lain, sehingga orang lain melihat diri kita ada sesuatu yang dapat dicontoh atau diteladani. Namun tanpa kita sadari, acapkali juistru kita menjadi "batu sandungan" bagi orang lain, bukan menjadi "batu yang hidup". Sebuah batu, jikalau terpisah sendiri ia kan menjadi batu yang tidak berguna, bahkan kalau ada orang yang kebetulan melewati jalan tersebut, batu itu akan terinjak dan bisa membuat orang terpeleset dan jatuh. Batu itu telah menjadi batu sandungan. Mestinya tatkala pertama kali kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita, semua perbuatan jahat kita sudah kita tanggalkan jauh-jauh. Tetapi bukankah faktanya kita masih menggandol manusia lama kita; yang kadang kala tanpa disadari muncul lagi. Itulah sebabnya saya katakan kita harus memperbaharui semua itu, supaya hidup kita menjadi lebih sempurna.

Petrus adalah seorang rasul yang sudah memperbaharui dirinya. Kita tahu Petrus adalah seorang yang gegabah, suka bertindak tergopo-gopo dan emosinya tidak stabil. Petrus seperti orang yang "ngomong dahulu, baru berpikir" , jadi sering kali ngawur. Petrus pernah dengan sesumbar mengatakan demikian, "Oh Tuhan aku mengasihi Engkau, aku akan memberikan nyawaku bagiMu. Oh Tuhan Engkau boleh ragu terhadap Yudas Iskariot, Yohanes dan Tomas, tetapi jangan ragu terhadap aku. Sebab aku ini lain, ya.. aku ini lain. Sekali lagi aku akan memberikan nyawaku bagiMu." Tetapi Tuhan Yesus berkata kepadanya: "Nyawamu akan kau berikan kepadaKu? Aku berkata kepadamu Petrus, sebelum ayam berkokok dua kali engkau telah menyangkal Aku sebanyak tiga kali." 

Lalu benar, ia kemudian menyangkal Yesus tiga kali. Tetapi Yesus tidak membiarkan Petrus itu putus asa dan gagal terus,  Ia mau mengubah Petrus. Kemudaian Yesus menampakkan Diri kepadanya. De tepi danau itu, Yesus memperbaharui Petrus, sehingga ia menjadi pengabar injil yang luar biasa. Di dalam Kisah para-rasul dicatat bahaw ada 3000 orang bertobat, karena pemberitaan Injilnya, tidak termasuk anak kecil dan wanita. Luar biasa, manusia lamanya telah diubahkan oleh Yesus. Bagaimana dengan kita???

II. PERBAHARUI IMAN KEPERCAYAAN KITA
Manusia itu begitu sombong, ia senantiasa menganggap diri sudah dewasa, seakan-akan sudah tahu banyak. Kalau ada nasihat, kalau ada pengajaran yang diberikan, manusia cenderung tutup telinga dari pada duduk diam mendengarkan. Oleh sebab itu, di dalam pembaharuan Iman Kepercayaan Kita, rasul Petrus mengingatkan bahwa "engkau harus jadi seperti anak kecil yang baru lahir, yang senantiasa rindu akan susu yang murni dan rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan".  Dengan kata lain kita akan dilahir-barukan. Dahulu kita lahir secara 'daging", dan daging itu akan cepat binasa. Apapun juga yang lahir secara daging akan mati dan hancur. Itu berarti di dunia ini sesungguhnya tidak ada yang kekal, kecuali Yesus Tuhan kita. Umur, kuasa, jabatan, kehidupan, semuanya akan hancur.

Saudara, batu bangunan itu dapat berdiri teguh karena ada dasarnya yang teguh, tanpa dasar yang teguh bangunan itu akan runtuh, walaupun angin yang menghembusnya sepoi-sepoi. Orang percaya juga demikian, kita tidak dapat berdiri kokoh dan teguh tanpa dasar yang kuat, dan dasar kita siapa? yakni Yesus Kristus. Ia akan menopang kita, asal saja kita mau diperbaharui. Batu yang ukurannya berbeda, yang bentuknya berbeda, untuk digabungkan dan disatukan menjadi bangunan yang indah, kadang kala batu tersebut harus dipatahkan, batu tersebut akan dihancurkan. Demikian juga kita manusia, ada bagian-bagian tertentu dari diri kita yang harus dihancur-luluhkan. Mungkin itu berupa iri hati, mungkin itu berupa dendam, mungkin itu berupa kebencian dan sebagainya, supaya kita benar-benar diperbaharui untuk bertumbuh dan memperoleh keselamatan.

Tatkala seorang pasien divonis oleh dokter bahwa tulang kakinya patah dan harus menjalani operasi, maka untuk menuju proses operasi itu, si pasien tidak beralasan mengatakan bahwa dokter itu jahat. Walaupun akhirnya dokter itu akan mengambil pisau kemudian memotong kulit dan daging kakinya, kemudian memperbaiki tulangnya, kemudian menjahit kembali bekas potongan itu.  Si pasien harus menyerahkan sepenuhnya keprcayaan pada dokter, ia tidak boleh melawan dokter itu. Pada saat si pasien mencoba untuk melawan dokter itu, amak kakinya tidak pernah akan sembuh, namun tatkala ia menyerahkan sepenuhnya, maka dokter itu akan memberikan kesembuhan kepadanya. Kataatan sang pasien menyebabkan perubahan dalam hidupnya, sekarang ia bisa jalan, ia bisa lari, ia bisa bekerja.

Mungkin saat ini hidup kita lagi penuh dengan keraguan? Ada ketakutan, karena penderitaan masih belum kunjung selesai. Di Surat Kabar pernah dituliskan rekor seseorang yang paling lama masuk rumah sakit. Dari usia 3 tahun sampai pada waktunya ia mati hampir 103 tahun. KAlau anda orang itu, apakah anda bisa percaya melalui iman anda bahwa Allah mengasihi anda? Perlu kita ketahui, bahwa pada saat Allah pertama kalai menciptakan manusia di dunia ini, ia tidak memperikan penderitaan appun kepada mereka. Namun manusia itu jatuh ke dalam dosa, mereka makan buah yang dilarang oleh Tuhan. Sebagai

III. PERBAHARUI KOMITMEN PELAYANAN KITA
Seperti tema kita, "Menjadi batu hidup". Saudara, sebenarnya pelayanan kepada Tuhan itu merupakan perintah yang harus kita jalankan. Kita yang sudah ditebus oleh Yesus dengan darah yang tercurah di atas kayu salib, sehingga kita memperoleh keselamatan, adalah kita yang sedang berhutang kepada Allah. Kita yang dahulunya bukan Umat Allah telah dijadikan Umat-Nya, kita yang dahulu tidak dikasihani telah beroleh belas kasihan-Nya (lihat 1 Petrus 2:10). Hutang itu sesungguhnya tidak mungkin kita bayar. Namun karena Anugerah Tuhan, kita diberi kesempatan sebagai mitra kerja-Nya.untuk melayani Dia. Kita berusaha, sebab pemikiran kita dengan cara ini bisa membayar hutang keselamatan itu, tetapi sekali lagi tidak mungkin. Walaupun pekerjaan pelayanan ini kita kerjakan dengan sungguh-sungguh..

Saudara, jujur saja; bukankah acapkali justru pelayanan kita itu tidak sungguh-sungguh dilakukan? Kita yang seharusnya menjadi 'batu hidup' telah menjadi 'batu sandungan' bagi orang lain. Kita tidak menaruh curahan perhatian penuh buat pekerjaan Tuhan. Contoh kecil saja, bukankah tidak jarang kita yang ditugaskan sebagai penyambut tamu, tetapi sering kali kita terlambat hadir, bahkan alpa tanpa pemberitahuan. Sering kali orang-orang yang ikut dalam paduan suara, kalau mau tampil atau konser baru latihan dengan serius, tetapi kalau hari-hari biasa yang ikut latihan hanya beberapa orang saja. Sering kali kita sebagai guru Sekolah Minggu, karena menganggap cerita Alkitab sudah cukup mahir, maka untuk mengajar pada anak-anak, kita tidak perlu persiapan lagi. Dan masih banyak lagi.  Kita begitu buta, hampir-hampir kita tidak tahu apa kesalahan kita.

Mestinya kita harus Menjadi Batu yang Hidup, yang artinya berguna bagi orang lain. Kalau kita hanya berguna bagi diri kita sendiri itu sudah  biasa; egois,  tetapi kalau kita berguna buat orang lain itu pelayanan.

12 Mei 2003

Saumiman Saud
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
iwan   |223.255.230.xxx |21-05-2011 16:26:58
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."