• PDF

Step Out of Comfort Zone

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 14:35
  • Ditulis oleh Saumiman Saud
  • Sudah dibaca: 1992 kali
Setiap kita memiliki kenikmatan dan kesenangan yang berbeda. Ada orang yang suka memancing ikan, jadi liburannya berhari-hari dihabiskan hanya di tepi kolam atau pantai hanya untuk memancing ikan. Ia begitu sabar menunggu, ia rela diterpa sinar terik matahari, ia rela menghabiskan waktunya demi kesenangannya ini. Lain pula dengan orang yang hobbynya shopping, ia tidak merasa capek keliling-keliling seluruh plaza, padahal tanpa membeli sesuatu apapun, ia begitu menikmati akan kesenangannya ini. Teman saya hobbynya membaca buku, kalau ia sudah memiliki buku baru, ia tidak akan beranjak dari buku itu berjam-jam bahkan berhari-hari bahkan tatkala ia ke WC buku tersebut juga dibawa. Inilah beberapa contoh kenikmatan yang dimiliki manusia. Belum lagi yang hobbynya sepak bola, tinju, nonton film, dan sebagainya.

Sekarang ketika kita menerima anugerah Tuhan sebagai orang percaya, dan mendapatkan keselamatan itu. Ada tugas penting yang Tuhan inginkan kita perbuat. Kita juga harus keluar dari manusia lama kita, menuju suatu kehidupan yang baru. Tidak gampang, perlu pengorbanan. Pengorbanan ini juga relatif, tergantung pada orang tersebut. Mungkin  bagi seseorang pengorbanan itu tidak terlalu besar, karena masalah itu bukan kesukaannya. Misalnya pada jam pertandingan sepak bola, bagi  yang sudah terikat akan hobby ini, maka ia akan merasa pengorbanan yang sangat besar, apabila pada waktu yang bersamaan ia harus memilih meninggalkan sepak bola hanya karena hendak melakukan sesuatu buat orang lain. Namun bagi mereka yang tidak hobby sepak bola, tentu hal ini tidak menjadi masalah.

Lalu bagaimana? Saya mencatat ada tiga step yang harus diketahui dan dipahami oleh kita sehubungan out of comfort zone ini:

1. Langkah pertama, harus ada kerelaan

Dalam Alkitab ada beberapa tokoh yang secara suka-rela meninggalkan “area kesenangannya (comfort zone), misalkan Musa. Sejak kecil ia sudah hidup di kerajaan raja Firaun, segala kesenangan sudah dimiliki. Boleh dibilang sebagai orang Israel yang telah diadopsi sebagai anak angkat puteri Firaun, ia adalah orang yang paling beruntung. Haknya tentu tidak berbeda dengan seorang putera Mahkota. Namun ia harus tinggalkan semua ini, sebab ada tugas panggilan yang berasal dari Tuhan yakni memimpin bangsanya keluar dari Mesir menuju tanah Perjanjian. (Ibrani 11:24, 27)

Hari ini mungkin kita tidak dipanggil Tuhan untuk meninggalkan segalanya, kita juga tidak dipanggil untuk satu tugas yang berat yakni meningalkan keluarga kita. Namun apabila kita  diminta Tuhan untuk mengorbankan waktu sejenak, untuk melakukan pekerjaanNya, apakah kita rela? Saya ingat John Sung dalam hal ini, ia seoarang yang pintar, dan cerdas. Hasil ujiannya juga gemilang. Ia bahkan mencapai gelar doktor di sebuah Universitas bergengsi di Amerika. Namun ia rela membuang segala ijasahnya, hanya untuk menjadi seorang hamba, yakni hamba Tuhan.

Ada orang bilang hidup itu seperti roda yang sedang berputar, kadang kita berada di posisi atas dan kadang pula di bawah. Ketika seseorang berada pada posisi bawah, ia berharap suatu saat dapat mencapai posisi atas, namun ketika ia mencapai posisi atas ia kadang kala lupa bahwa hidup ini ibarat “roda”, sehingga pada waktunya turun, ia ngotot bertahan. Hal inilah yang sering kali mengakibatkan gereja terjadi pertikaian. Kalau menjadi majelis harus yang seumur hidup, kalau menjadi Gembala Sidang juga harus seumur hidup, jabatan gereja ibarat dinasti, bahkan anak cucu juga telah dipersiapkan menggantikan tahtanya. Rekan kerja dianggap saingan dan musuh. Ia tidak rela melepaskan jabatan itu, mati-matian mempertahankannya. Karena jabatan ia juga bisa menjadi keras kepala, tidak mau taat pada  pada Tuhan. Henry Ward Beecher mengatakan “Salah satu perbedaan antara ketekunan dan keras kepala adalah bahwa yang satu berasal dari kemauan yang keras, sedangakan yang lainnya berasal dari ketidakmauan yang keras.”

Beda sekali dengan sikap Yonatan anak raja Saul itu. Mestinya ia adalah calon pengganti ayahnya yakni sang putera mahkota, namun ia tidak keras kepala mempertahankan jabatan itu, bahkan secara sukarela ia memberikan jabatan tersebut pada Daud. "Janganlah takut, sebab tangan ayahku Saul tidak akan menangkap engkau; engkau akan menjadi raja atas Israel, dan aku akan menjadi orang kedua di bawahmu. Juga ayahku Saul telah mengetahui yang demikian itu." (1 Samuel 23:17)

Terlalu sering saya mendengar orang-orang meninggalkan Tuhan kalau ia sudah gagal, artinya ia kehilangan comfort zone-nya. Ketika usahanya bangkrut, ketika ia sudah gagal total, baru dengan penuh rohani mengatakan, kali ini Tuhan memukul saya, jadi saya terpaksa harus ikut Tuhan. Ada lagi yang saya temukan teman muda-mudi, mereka baru berpacaran saja sudah meninggalkan persekutuan, bahkan kadang hari Minggu tidak ke gereja. Alasannya, malam minggu harus “apel” (kunjungi pacar), jadi minggunya terlambat bangun. Berbeda sekali dengan Musa dan John Sung ini bukan? tatkala segala kesenangan ia miliki, ia rela tinggalkan semua, dan memilih taat pada Tuhan.

2. Langkah ke dua, harus berani berkorban

Demikian juga nabi Nehemia, ia seorang kepercayaan raja Arthasasta. Boleh dikatakan jabatannya sudah cukup mapan. Namun ketika mendengar berita dari kampung halamannya, ia menjadi sedih dan menangis. Itu sebabnya dengan keberanian dan iman ia berkata kepada raja. "Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali." (Nehemia 2:5) Keputusan yang diambil Nehemia ini cukup berani, sebab saat itu ia berhadapan dengan raja. Sebagai orang kepercayaan namun bersungut-sungut karena tembok Yerusalem, tentu ia bakal mendapat hukuman dari raja. Namun kita lihat, ia berani mengutarakan perihal ini kepada raja. Artinya apa? Artinya Nehemia siap meninggalkan kesenangan ini.

Memang kalau kita tidak berani mengambil resiko, maka kita tidak akan pernah dapat meninggalkan “wilayah kesenangan” kita. Ada orang memang tidak mau mengalami kesusahan sedikit pun. Percaya kepada Tuhan Yesus, berbakti di gereja, memberi persembahan baginya itu sudah cukup. Kalau diajak untuk terlibat di dalam pelayanan, maka hal ini yang menjadi pergumulannya. Baginya tugas ini rasanya berat sekali, ia merasa seperti mengorbankan segala-galanya.

Tatkala Nabi Hosea diminta Tuhan untuk mengawini perempuan sundal, tentu hal ini bukan suatu tugas yang gampang. Namun Hosea rela mengorbankan harga dirinya, keluar dari kenikmatan hidup sebagi seorang nabi, yang kemungkinan besar karena hal ini ia akan diejek dan dicaci. Hosea berani membayar harga, karena ia tahu Tuhan Allah telah membayar harga kepadanya juga.

Jaman sekarang di gereja kita tidak susah mencari orang yang mau melayani Tuhan, apalagi yang peranannya di depan, misalnya Paduan Suara, Pemimpin Pujian dan sebagainya yang dapat terlihat oleh orang banyak, karena baginya ada nilai plus dan kebanggaan tersendiri. Namun kita sulit mencari orang-orang yang rela berkorban buat Tuhan. Apalagi karena itu mereka yang harus mengeluarkan uang, diejek, dicaci, dimarahi. Tidak banyak yang berani mengambil resiko dan berkorban? Bagaimana dengan anda?

3. Langkah ke tiga, harus beriman

Tatkala Abraham diminta Tuhan Allah keluar dari tanah Ur-Kasdim, tentunya hal ini bukan suatu keputusan panggilan yang gampang. Apalagi Abraham sendiri tidak tahu kemana ia harus pergi, sebab Allah hanya memberikan suatu petunjuk pergilah ke suatu negeri. Negeri yang mana? Dahulu belum ada peta yang jelas, itu berarti ia harus keluar dari kesenangan yang telah dibangun bertahun-tahun beserta sanak saudaranya. Kejadian 15:7 mencatat  firman TUHAN kepadanya: "Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu." Kalau tidak hanya dengan iman, tentu tidak mungkin Abraham dapat melangkah maju. Apalagi ketika ia harus mempersembahkan anak kesayangannya Ishak, anak yang ditunggu kelahirannya selama 25 tahun, tentu ini pergumulan berat. Sekali lagi, jika tidak dengan iman, tentu iman yang dimaksud di sini bukan hanya sekadar percaya kepada Allah, tetapi sekaligus ada penyerahan secara total kepada Tuhan, dan memercayakan seluruh hidup kita kepadaNya.

Saya kurang tahu bagaimana pergumulan anda tatkala suatu hari harus keluar dari “wilayah” yang anda suka dan senangi selama ini? Banyak orang maunya yang senang dan gampang, asalkan semua sudah dipersiapkan dan terjamin baru melangkah. Di gereja juga sering ditemukan kejadian seperti ini, apabila semua dana telah tersedia, barulah semua program itu dikerjakan, maunya yang instan. Kalau dana belum tersedia, jangan pikir ada tindakan lanjutnya. Hal ini tentu tidak sesuai dengan prinsip kekristen yang mengatakan bahwa “Allah akan Menyediakan”. Lihat Abraham ketika keluar dari kesenangan hidupnya, Allah tetap memeliharanya, lihat Musa, Allah juga menjaga dan memeliharanya, walaupun kadang ada kesukaran dan jalan buntu namun Allah membuka jalan keluar. “ Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.“ (1 Korintus 10:13)

Surat Ibrani mencatat banyak tokoh-tokoh yang diminta keluar dari kesenangannya, dan hanya dengan iman saja mereka  lakukan itu (lihat Ibrani 11). Dengan iman maka Petrus keluar dari wilayah kesenangannya, kemudian berjalan di atas air. Namun tatakala imannya goyah, maka ia pun tenggelam. Dengan iman Daniel dan kawan-kawan harus mempertahankan diri, dan mereka tidak makan makanan hidangan raja.

Saya ingat sekali tatkala kuliah di Seminari, salah satu peristiwa penting di dalam hidup saya yang  harus out of comfort zone adalah masalah kehidupan di Asrama. Di sana kami dibentuk dengan tidak mengalami kebebasan seperti biasanya. Setiap hari harus kuliah, bangun dan tidur ditetapkan jamnya, kehidupan dipantau dan diatur, masuk-keluar juga terbatas, seminggu hanya boleh sekali saja. Tidak boleh berpacaran, tidak boleh nonton dan banyak lagi. Nah untuk menghadapi zona yang baru ini, kalau tidak berdasarkan kesukarelaan, rela berkorban dan berjalan dengan iman, tentu tidak dapat melewati hari-hari dengan penuh sukacita, hidup rasanya seperti tersiksa.

Kita jangan berpikir setiap kita out dari comfort zone berarti memasuki kondisi yang tidak menyenangkan? Tatkala kita memutuskan untuk berpacaran, menikah, pindah pekerjaan, kuliah di Luar Negeri dan sebagainya, kita sudah memutuskan untuk keluar dari wilayah kesenangan kita. Jadi mestinya kita tidak perlu gentar dan takut, karena di zona yang baru ini pasti kita akan menemukan comfort yang yang tersendiri. Masalahnya adalah, sudah siapkah anda melangkah?

*) Penulis adalah rohaniwan, penulis, lulusan Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, yang saat ini melayani di Gereja Injili Indonesia San Jose, California .
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."