• PDF

Penahbisan Pendeta (1Timotius 3:1-13)

Penilaian Pengunjung: / 4
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 14:46
  • Ditulis oleh Saumiman Saud
  • Sudah dibaca: 16517 kali
Sering kali saya ditanya oleh beberapa simpatisan bahkan juga aktifis, apa beda penginjil dengan pendeta? Apakah karena masa pelayanannya? Apakah karena gelarnya? Apakah karena tunjangan hidupnya (gajinya) beda? Mungkin, dan bisa saja. Apakah karena mereka yang telah menikah baru boleh disebut pendeta? Tidak juga, karena ada beberpa pendeta yang belum menikah. Atau karena gender, misalnya karena dia lelaki atau perempuan?[1] Apakah karena kotbahnya bagus? Mengapa ada hamba Tuhan yang melayani hingga pensiun tetap saja sebagai penginjil, tidak menjadi pendeta? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang lain.

Karena ketidaktahuan mereka (kurangnya) mereka mendalami Tata Gereja sehingga membuat mereka tidak tahu dan tidak pernah tahu akan hal ini. Apalagi pengajaran atau informasi mengenai ini jarang disosialisasikan kepada jemaat, kecuali para majelis dan pengurus inti, itupun secara sekilas saja; kecuali mereka yang terlibat di dalam panitia penyusun Tata Laksana gereja. Celakanya ada majelis dan pengurus juga tidak mengetahuinya.  

Menurut Bob Jokiman, konsep tradisi gereja-gereja di Indonesia penahbisan pendeta adalah untuk "melayakkan" si hamba Tuhan untuk memimpin sakramen dan memberi berkat sambil mengangkat kedua tangan dan telapak tangan dibuka, tidak boleh dikepal. [2] Selanjutnya lagi menurut beliau bahwa, tradisi atau peraturan bahwa hanya pendeta yang boleh memberkati mungkin diambil dari Perjanjian Lama, di mana hanya Imam Besar Harun yang memberkati dengan mengangkat kedua tangannya: "Harun mengangkat kedua tangannya atas bangsa itu, lalu memberkati mereka, kemudian turunlah ia, setelah mempersembahkan korban penghapus dosa, korban bakaran dan korban keselamatan." (Imamat 9:22). Terus terang banyak pendeta juga tak tahu mengapa hanya pendeta yang boleh memberkati seperti halnya mengapa pendeta harus pakai jubah warna hitam, kenapa tidak merah darah. Kita hanya ikut tradisi saja. Walau ada juga catatan dimana raja juga memberkati rakyatnya tapi tidak ditulis mengangkat kedua tangannya: "Kemudian berpalinglah raja lalu memberkati seluruh jemaah Israel , sedang segenap jemaah Israel berdiri." (1Raja2 8:14, 2Tawarikh 6:3)

Gelar Pendeta itu sebenarnya bukan jabatan, tetapi lebih merupakan “tugas dan panggilan”, makanya jangan sampai terjadi perebutan. Kependetaan seseorang juga tidak hilang walaupun beliau sudah tidak berjabatan di sebuah gereja atau pindah. Tujuan penahbisan pendeta itu sendiri adalah untuk konfirmasi Jemaat atas karunia yang dimiliki oleh seorang hamba Tuhan. Katakanlah semacam pengakuan sah karena ditumpang tangan oleh para pendeta lainnya serta disaksikan oleh jemaat.

Seminari, kemudian diundang (dipanggil) melayani, maka biasanya ada gereja yang melakukan suatu upacara semacam penerimaan seseorang sebagai penginjil yang sah di gerejanya. Istilah yang  dipakai di beberapa gereja secara umum adalah pengerja. Di Gereja Methodist dan Gereja Kristus Yesus, menyebutnya Guru Injil. Sedangkan di GKI, bagi yang belum ditahbiskan menjadi pendeta, mereka  dipanggil penatua (pnt). Ada juga gereja yang memberikan istilah pdm (Pendeta muda) atau pdp (Pendeta pembantu). Lalu setelah melayani dua tahun atau lebih dan kedua belah pihak merasa cocok, maka majelis gerejanya mulai mengadakan proses untuk menahbiskannya menjadi pendeta.

Beberapa gereja memang peraturannya sudah ada dan jelas to the point, jadi tinggal menjalankannya saja. Namun ada gereja-gereja tertentu memakai “trik” di dalam Tata Laksana gerejanya untuk poin ini. Sering dijabarkan dengan kata-kata yang berbunyi “sesuai kebutuhan”. Nah kata “sesuai kebutuhan” ini relatif sekali, tergantung siapa yang menafsirkannya. [3] Artinya penahbisan pendeta hanya dilakukan sesuai kebutuhan, namun sesuai kebutuhan itu sendiri sangat abstrak. Dalam hal ini peranan Sinode gereja sangat diperlukan, supaya dapat membantu gereja lokal atau memberikan saran supaya gereja lokal melaksanakan Tata Laksana gereja yang sudah disusun. Sinode dibentuk sebagai suatu lembaga bukan sekadar mengumpulkan uang iuran anggota gereja, kemudian membuat program yang sesungguhnya sudah ada di gereja. Namun lebih dari itu mereka dituntut juga memperhatikan kebutuhan gereja anggota, dalam hal ini termasuk masalah kependetaan di gereja.

Gereja yang berlatar belakang Tionghoa hingga hari ini, masih terasa asing atau langka (saya sebut saja tabu) dengan penahbisan pendeta. Biasanya di gereja itu hanya ada satu “pendeta” senior, sedangkan yang lainnya ada para penginjil muda. Jikalau kebetulan ada pendeta lain yang melayani bersama, kemungkinan besar hamba Tuhan tersebut telah ditahbiskan di gereja lain, baru diundang bergabung dengan mereka. Jadi biarpun sudah sekian lama hamba Tuhannya melayani, tanpa ada tanda-tanda proses penahbisan pendeta baginya. Bagi yang hamba Tuhannya yang berkesempatan melayani di tempat lain, maka tiba waktunya mereka tidak bersedia diperpanjang lagi. Dengan demikian maka di gereja tersebut tidak ada pendeta baru; karena silih berganti hamba Tuhannya.

Beda dengan Sinode GKI, sepengetahuan saya tidak ada masalah kalau di dalam satu gereja terdiri dari beberapa orang pendeta. [4] Misalnya, ada pendeta di komisi Dewasa, pendeta di komisi Pemuda dan Pendeta komisi Sekolah Minggu, bahkan yang melayani musik gerejawi. Kalau sudah demikian tentu tidak akan menyebabkan lagi seorang hamba Tuhan ditunda hingga tidak ada batas waktu. Sebab secara natural bila tiba waktunya apabila beliau belum ditahbiskan pendeta, kemungkinan ada syarat-syarat yang belum dipenuhi bersama, sehingga kalau pun hamba Tuhan tersebut pindah ke ladang lain tidak masalah.

Sesuai Kebutuhan

            Yang dimaksud dengan sesuai kebutuhan ini tidak jelas, apalagi di gereja yang dilayaninya tidak begitu banyak jemaatnya. Dengan kata lain bisa terjadi selama-lamanya tidak sesuai kebutuhan. Majelis dan jemaat sudah waktunya jeli melihat hamba-hamba Tuhan yang melayani di gerejanya apabila telah melebihi 4 atau 5 tahun dan mereka ternyata melayani dengan baik dan setia; maka sudah saatnya mempertanyakan atau mengusulkan supaya beliau ditahbiskan sebagai pendeta. Kecuali hamba Tuhan tersebut tidak bersedia, maka itu lain ceritanya. Sebab penahbisan seseorang menjadi pendeta memang harus disetujui oleh kedua belah pihak. [5]

Seorang teman kelas saya tidak bersedia ditahbiskan menjadi pendeta karena beliau lebih terbeban melayani sebagi dosen dan guru. Dosen saya, Peter Wongso [6] pernah mengatakan bahwa gereja yang hamba Tuhannya telah 5 tahun melayani, [7] jika pelayanannya masih dibutuhkan, maka gereja harus menahbiskannya menjadi pendeta. Gereja akan menjadi penghambat pekabaran injil bila menghalangi seorang hamba Tuhan ditahbiskan menjadi pendeta. Sebaliknya seorang hamba Tuhan yang sudah melayani di sebuah gereja melebihi 5 tahun, namun belum ditahbiskan menjadi pendeta, sudah saatnya beliau melihat pada ladang lain yang lebih membutuhkan pelayanannya. Bila gereja tersebut membutuhkan pelayanan hamba Tuhan tesebut maka tidak ada alasan untuk tidak menahbiskannya. Bila Anda sebagai majelis di gereja tersebut, maka Anda perlu pertanyakan hal ini? Mengapa? Apa yang menjadi hambatannya?

Saya kurang tahu di Indonesia , tetapi di Amerika ada organisasi yang dapat melakukan upacara penahbisan pendeta bagi seoarang hamba Tuhan, apabila tidak memungkinkan dilakukan dari gerejanya sendiri. Tentunya harus memenuhi syarat-syarat mereka, misalnya telah melayani berapa tahun, kemudian telah tamat secara Akademis di Seminari, serta mendapat rekomendasi dari beberapa rekan pendeta yang mengenalnya. [8]

Pindah Ladang

Tidak gampang bagi seorang hamba Tuhan mengambil keputusan pindah ladang, sebab ia akan mulai lagi dari awal pelayanannya. Mulai lagi dengan pengenalan akan ladang pelayanannya, pengenalan akan jemaatnya, pengenalan akan watak mereka dan penyesuaian diri. Itu sebabnya semestinya bila jemaat sudah merasa cocok dengan seorang hamba Tuhan yang melayani di gerejanya, dan telah menerima dengan segala kelemahannya yang ada sebagai seorang manusia; tidak perlu ragu lagi untuk memproses penahbisan pendeta baginya. Tentu telah melewati pergumulan dan persyaratan yang memenuhi 1 Timotius 3:1-13 dan Akademisnya.

Di gereja asal saya, Gereja Methodist Indonesia (GMI), karena sistem gerejanya begitu rupa, tidak begitu terasa dengan masalah pindah ladang. Karena perpindahan ladang pelayanan mereka masih terbatas pada lingkungan gereja sesama Methodist. Kecuali ada kasus-kasus khusus sehingga mereka terpaksa harus meninggalkan gereja tersebut. Lagi pula sistem pelayanan di gereja tersebut berdasarkan penempatan dari pimpinan pusat, jadi tidak berdasarkan keinginan pribadi dari hamba Tuhan tersebut. Berbeda dengan hamba-hamba Tuhan yang melayani di gereja-gereja lain, apabila seorang hamba Tuhan pindah ladang berarti ladangnya yang baru tidak ada hubungan administrasi dengan gereja awalnya, keputusan ini diambil secara pribadi.

Sering kali kalimat “sesuai kebutuhan” dalam Tata Laksana Gereja untuk masalah penahbisan pendeta dipakai sebagai alat untuk mencegah dan ‘trik” agar seorang hamba Tuhan di gereja tidak ditahbiskan atau ditunda. [9] Kadang memang ada gereja yang takut atau trauma menahbiskan hamba Tuhannya menjadi pendeta, sebab baru saja ditahbiskan belum satu tahun, beliau sudah pindah ladang pelayanan. Walaupun sebenarnya sebelum penahbisan dilakukan telah diminta komitmennya, namun apa boleh buat, kalau beban pelayanannya sudah tidak di sana , dan konsentrasi pelayanannya sudah tidak maksimal ditujukan kepada gereja tersebut, maka tinggal tunggu waktunya beliau pindah ladang pelayanan. Makanya tergantung bagaimana jemaat gereja memperlakukan hamba Tuhan itu dan sikap serta karakter hamba Tuhan tersebut. Tidak hanya itu, juga tergantung dari rekan-rekan kerja dalam tim hamba Tuhan.  

Jemaat yang masih polos biasanya menganggap bahwa hamba Tuhan itu seperti malaikat, jadi tidak bakal ada pertentangan atau pertikaian. Padahal jika mau jujur, kadang apa yang diajarkan oleh seorang hamba Tuhan tidak sama seperti apa yang dipraktekkannya. Dalam kotbah beliau berkata, mari kita saling mengasihi, jangan iri, jangan dendam dan sebagainya, namun dalam prakteknya sering kali justru semua ini terjadi. Oleh karena itu janganlah menganggap hamba Tuhan di gereja Anda sebagai malaikat, mereka itu utuh 100% manusia biasa. Mereka penuh kelemahan dan rapuh, itu sebabnya jemaat senantiasa perlu mendukung mereka di dalam doa; jangan hanya mencari kesalahannya saja. Itulah sebabnya rasul Paulus menulis dalam 1Tesalonika 5:25   “Saudara-saudara, doakanlah kami”

Dianggap Saingan

Di gereja-gereja tertentu sikap dan perlakuan jemaat senantiasa membedakan antara hamba Tuhan yang sudah pendeta maupun yang masih penginjil. Konsep mereka masih menganggap lebih “rendah” mereka yang belum ditahbiskan. Itu sebabnya biasanya yang lebih berpengaruh di dalam mengambil keputusan adalah para pendeta. Apalagi pada umumnya mereka secara otomatis diikutsertakan di dalam kepengurusan inti.

Di gereja tertentu sang pendeta sekaligus otomatis menjadi ketua atau wakil ketua majelis.   Ditambah lagi pendeta yang merasa senior takut jika pengaruhnya beralih kepada pendeta yang lain, maka biasanya ia berusaha agar para penginjil tersebut tidak segera ditahbiskan. Di pihak lain mereka yang belum ditahbiskan sedang menanti waktunya yang belum kunjung tiba. Padahal sebenarnya masalah pengaruh itu sendiri tidak muncul karena penahbisan pendeta, tergantung pada pembawaan dan cara pelayanan hamba Tuhan itu. Kasus kecil seperti ini jangan dianggap remeh, sebab justru hal-hal inilah dapat membawa sengketa dan pertikaian di dalam gereja. Pelayanan menjadi tidak sejahtera karena sesama rekan pelayanan tidak saling mendukung. Bahkan ada kesan masing-masing mencari keuntungan diri sendiri.

Posisi sebagai pendeta di gereja-gereja tertentu sangat besar, sehingga bisa dimaklumi secara manusia beliau tidak mau orang kedua muncul. Apalagi kalau sang pendeta lupa akan panggilan-Nya semula, maka pelayanan yang dijalankan kadang selalu berhubungan dengan kepentingan diri sendiri. Apabila dapat menguntungan maka dikerjakan sendiri, tetapi yang dianggap tidak menguntungkan diserahkan pada pada hamba Tuhan lainnya.

Jemaat gereja yang memperlakukan hamba Tuhan secara pilih kasih perlu insaf, sebab dengan cara demikian akan memacu kekeruhan di dalam gereja itu sendiri. Bayangkan saja di sebuah gereja yang terdiri dari banyak hamba Tuhan, masing-masing hamba Tuhan memiliki pengaruh tersendiri. Sementara majelis juga berbuat demikian, tidak adil di dalam pembagian fasilitas. Hal ini tentu tidak menciptakan kesatuan di dalam gereja. Akhirnya masing-masing hamba Tuhan menjaga kepentingan diri sendiri. Pekabaran Injil tidak terlaksana dengan lancar, sebab diisi dengan penuh kecurigaan. Setiap usulan program dari hamba Tuhan yang lain juga ditanggapi dengan penuh negatif dan penuh kecurigaan. Pelayanan seperti ini tentu tidak memuliakan nama Tuhan.

Pendapat Majelis & Pendeta Senior

Yusman Liong [10] memberikan sedikit respon perihal penahbisan pendeta dari sisi pandangan majelis dan pendeta senior di gereja. Beberapa hal yang saya kutip langsung di sini adalah, biasanya di dalam tubuh majelis ada yang pro pada hamba Tuhan tersebut, namun ada yang tidak. Kalau kebetulan yang tidak pro menduduki posisi majelis, maka kemungkinan besar usul penahbisan ini ditolak mereka. Selain itu ada majelis yang berpikir akan menambah biaya pengeluaran kas gereja, sementara ini masih banyak pendeta tetangga yang masih bisa membantu pelayanan di gereja jika dibutuhkan, atau pendeta senior merasa beliau masih sanggup mengerjakan sendiri. Apalagi pepatah Tionghoa mengatakan satu gunung tidak boleh ada dua harimau, sehingga dalam satu gereja juga jangan ada dua pendeta jadi bisa tidak akur.

Sama seperti pendapat Jantje Hariawan [11] bahwa pihak Sinode tidak pernah mengusulkan hal ini, sedangkan majelis tidak mengerti harus bagaimana menahbiskan. Sementara pendeta setempat juga tidak memberikan dukungan dan respon, sebab baginya muncul saingan dalam pelayanan. Dengan demikian memungkinkan penahbisan seorang hamba Tuhan menjadi pendeta menjadi tertunda atau tidak sama sekali di gereja tersebut.

Jiwa besar dari seorang pendeta senior dituntut di sini, sebab tanpa jiwa besar ini pendeta senior akan merasa negatif terhadap para pendeta muda. Akibatnya adalah, pelayanan tidak damai sejahtera, terjadi sikut-menyikut terus antara sesama hamba Tuhan/pendeta. Tentu hal semacam ini tidak baik bagi jemaat Tuhan dan juga bagi Tuhan. Itu sebabnya Susanti mengatakan ada pendeta yang melayani sekian tahun lamanya, kehidupan dan karakternya tidak seperti seorang pendeta, itu sebabnya beliau tidak layak ditahbiskan menjadi pendeta. Memang kenyataannya ada juga yang begitu, namun Hadi Subroto mengatakan, pada saat pendeta tersebut diusulkan untuk ditahbiskan, tentu karakternya tidak demikian, sehingga tim majelis atau sinode melayakkan hamba Tuhan tersebut ditahbiskan.

Siapa saja yang ditahbiskan pendeta?

Di GMI [12] dan GKKK dan GKI Ujung Pandang, selain mereka yang melayani di gereja juga para dosen serta guru Agama; atau pimpinan perguruan, tentunya mereka yang tamatan Seminari juga ditahbiskan menjadi pendeta. Sedangkan kalau di gereja-gereja tentunya para hamba Tuhan yang sudah melayani dengan jangka waktu tertentu, mendapat dukungan dari majelis dan jemaat gereja, memenuhi syarat yang ditentukan oleh Sinode dan pribadinya bersedia ditahbiskan. Ada beberapa gereja yang karena teologi dan peraturan gereja masih belum mengijinkan menahbiskan hamba Tuhan wanita.

Lalu Bagaimana?

Bagi saya, pelayanan di gereja membutuhkan kekompakan tim hamba Tuhan. Antara pendeta dengan penginjil semestinya diperlakukan sama oleh majelis gereja. Walaupun karena peraturan gereja terdapat perbedaan fasilitas maupun tunjangan tersebut. Sang gembala mesti selalu berjuang untuk para rekannya, jangan hanya mementingkan diri sendiri. Pelayanan di gereja jangan disamakan dengan perusahaan di kantor, jadi yang pendeta jangan dengan sesukanya mengatur sang penginjil muda. Kadang tanpa disadari, seorang pendeta yang sudah lama bercokol di sebuah gereja menganggap seakan-akan gereja itu adalah “bisnis” pribadinya. Para penginjil yang baru dianggap seperti karyawannya. Apalagi sang penginjil terlihat berpengaruh di jemaat, maka sang pendeta merasa mulai tersaingi. Kalau sudah demikian jangankan mereka ditahbiskan menjadi pendeta, mungkin sebentar lagi akan disingkirkan.

Jika Anda adalah hamba Tuhan di gereja, dan hingga hari ini masih belum ada tanda-tanda proses menuju penahbisan pendeta; padahal Anda sudah melayani melebihi 5 tahun di gereja tersebut dengan baik; maka perlu diadakan semacam evaluasi diri. Mungkin gereja ini tidak membutuh Anda? Atau rekan pendetanya yang tidak membutuh Anda? Tetapi jika tidak butuh mengapa dipertahankan hingga saat ini, kenapa tidak terus terang dibicarakan?

Dalam perbincangan dengan Peter Wongka [13], beliau mengungkapkan bahwa sebenarnya konsep Pendeta bagi gereja-gereja di Indonesia berbeda dengan konsep di Amerika. Seperti Bob Jokiman mengatakan bahwa Pendeta di Amerika lebih dilihat dari segi karunia pelayanan, sedangkan di Indonesia masih terpengaruh konsep bahwa Pendeta itu adalah Gembala Sidang di gereja dan merangkap semuanya, sehingga mereka yang melayani tanpa jemaat misalnya di Sekolah [14], Lembaga permasyarakatan dan bidang-bidang non gereja lainnya, tidak berhak ditahbiskan menjadi pendeta. Pendeta juga dianggap satu-satunya pemimpin rohani di gereja, sehingga yang lainnya sebagai asisten saja sudah cukup, jadi tidak perlu ditahbiskan pendeta. Apalagi untuk menahbiskan pendeta diperlukan biaya yang cukup besar, demikian diungkapkan Yusman Liong.

Majelis gereja dalam hal ini harus bijak dan celik memperhatikan masalah ini, jangan hanya menjadi ‘boneka’ saja. Anda akan merasa rugi bila hamba Tuhan di gereja Anda dengan terpaksa harus meninggalkan gereja hanya gara-gara ada pihak-pihak tertentu yang menghambat mereka menuju penahbisan pendeta. Memang ditahbiskan atau tidak seharusnya tidak mengurangi semangat pelayanan seorang hamba Tuhan. Tetapi bagimanapun, seseorang yang sudah 5-6 tahun dibentuk di Seminari dan ditambah kesetiaannya sekian lama melayani, pastilah mereka rindu suatu saat menjadi seorang pendeta, walaupun tidak semua demikian. Makanya, jikalau Anda adalah majelis atau pejabat yang berkompeten di gereja, jangan sampai Anda mencegah atau menghambat seorang hamba Tuhan ditahbis menjadi pendeta. Sebab Anda akan dituduh menghambat pekerjaan Tuhan. Amin.

*) Penulis adalah alumni SAAT, Malang, melayani di Gereja Injili Indonesia San Jose, California


[1] Di beberapa gereja karena alasan teologis masih belum menahbiskan pendeta yang wanita, termasuk gereja Katolik hingga hari ini. Di gereja HKBP misalnya, penahbisan pendeta wanita yang pertama terjadi tahun 1986, itupun setelah gereja itu merayakan jublium 125 tahun

[2] Email respon Bob Jokiman, RE: [Pesan SAAT] Minta saran/masukan/pendapat dan sebagainya......, Jumat 30 juni 2006, jam 06:33:15

[3]  Saya sebutkan relatif, karena tidak tahu kapan dibutuhkan. Bisa saja pada waktu mengadakan sakramen gereja malah mengundang pendeta gereja lain, pada mereka sesungguhnya butuh pelayanan itu. Apalagi ada beberapa sinode yang mengizinkan hamba Tuhan yang belum ditahbiskan boleh melayani sakramen, otomatis kebutuhannya makin langka.

[4] Di beberapa GKI Jatim dan Jabar, saya tahu dalam sebuah gereja terdiri dari beberapa orang pendeta dengan tugas masing-masing. Misalnya kalau di Surabaya , GKI Sulung, GKI Residen Sudirman, sedangkan di Jakarta misalnya GKI Samanhudi, dan lain-lain

[5] Menurut Bob Jokiman, di Amerika, pentahbisan/ordination adalah sebagai peneguhan/konfirmasi Jemaat terhadap karunia pelayanan yang dimiliki oleh hamba Tuhan itu. Jadi tak perlu terlalu rumitlah, kalau saya setuju satu tahun cukuplah! Cukup Radikal.

[6] Peter Wongso, Rektor Kehormatan SAAT dalam kotbahnya di salah-satu Upacara Penahbisan Pendeta di Surabaya

[7] William Lo, hamba Tuhan dari Sabah Malaysia , memberikan sedikit informasi kepada saya bahwa, di gerejanya untuk penahbisan pendeta perlu diperhatikan beberapa kriteria antara lain:
1. Tamat pendidikan teologi minimal B.Th - 4 thn di seminari
2. Pengalaman pastoral 5-7 thn pelayanan
3. Rekomendasi dari jemaat setempat-majelis gereja
4. Rekomendasi dari klasis/resort-daerah tanggungjawab
5. Memenuhi persyaratan Rasul Paulus dlm 1 Tim 3:1-13 (kesaksian hidup)
6. Menulis karya tulis (pastoral 5-6000 w) dan diterima-aspek teologis
7. Lulus wawancara dgn pimpinan sinode
8. Perjanjian-komitmen pelayanan selepas penahbisan
9. Rekomendasi dari Pdt. klasis/resort
10. 3 bulan sebelum acara penahbisan diumumkan di jemaat

Memang di dalam catatan Tata Laksana Gereja kebanyakan seperti ini, masalahnya tidak dipraktekkan oleh majelis gereja. Kadang masalah takut saingan membuat yang senior justru tidak mendukung yang yunior, sehingga yang senior tidak pernah mengajukan hal ini dalam rapat majelis.

[8] Salah satu organisasi ini bernama International Ministerial Fellowship, atau kunjungi website mereka http://www.i-m-f.org/

[9] Ada Tata Laksana Gereja yang tidak mencantumkan syarat-syarat penahbisan pendeta bagi penginjilnya, ini malah lebih gawat lagi dari sekadar sesuai kebutuhan. Kebanyakan Tata Laksana mencantumkan kalimatnya seperti ini: “Penahbisan pendeta akan dilakukan bila seorang hamba Tuhan melayani … tahun ke atas sesuai kebutuhan gereja” Entah karena disengaja atau tidak, oleh sebab itu lain kali perlu dikoreksi kalimat tersebut menjadi  “ … tahun ke atas atau sesuai kebutuhan”, dengan ada atau hendak menunjukkan bahwa yang ….tahun ke atas sudah harus ditahbiskan, dan yang sesuai kebutuhan bisa saja dilakukan pada waktu kapan saja. Cuma sayangnya, para senior bisa sewot.

[10] Yusman Liong adalah Pendeta GKIm Sumber Sari, Bdg, beliau juga memberi respon via email

[11] Jantje Hariawan, Pendeta GKKA Tenggilis Mejoyo Sby memberikan respons via email.

[12] Ada pendeta yang ditempatkan di Sekolah (istilah Peter Wongka diinstall), mungkin tugasnya menjadi guru atau dosen Agama, atau menjadi pimpinan Sekolah tersebut.

[13]  Peter Wongka adalah pendeta senior di New Life Baptist Church Los Angeles

[14] Sekali lagi tidak semua gereja demikian, teman saya yang melayani di Sekolah, beberapa juga ditahbiskan menjadi pendeta. Tetapi memang yang menahbiskan tetap saja gereja, bukan lembaga sekolah itu sendiri.


--------------------------------------
Rom 8:28 "And we know that to them that love God all things work together for good, even to them that are called according to his purpose".

Kunjungi juga situs :
http://www.gii-usa.org atau
http://www.glorianet.org/

Bagi anda yang hendak join dengan milis 5MENIT2AYAT silahkan kirim email kosong ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya Please doakan untuk rencana menerbitkan buku-buku via Lentera Kehidupan literatur, ada satu judul Di Balik Topeng Orang Percaya sedang proses.

Oh ya, jika anda kebetulan berkunjung/sekolah/pindah di San Francisco or San Jose; jangan sungkan mampir ke Gereja Injili Indonesia San Jose. Atau supaya lebih jelas email ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya . Kebaktian di dalam Bahasa Indonesia hari Minggu jam 10.00 am
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Odi  - Jadilah seperti keturunan Harun dan Keturunan Yehu   |122.144.6.xxx |09-09-2009 01:59:59
Dunia ini sudah bercampur aduk antara yang ditetapkan Tuhan dengan yang
dirancang manusia, yang benar menjadi abu-abu dan yang salah semakin dinaggap
benar, yang Imam hendakya berkarya dengan tugasnya dan yang melaksanakan
kehiduoan dunia hendaknya bepijak dari yang menjadi imam, sayangnya sekarang
para imam sudah terkontaminasi dalam politik dan kehidupan manusia awam sehingga
kekudusannya mulai hilang dan semakin mengaburkan tugasnya, PUJI DAN SEGALA
HORMAT KEPADA ALLAH BAPA, ALLAH PUTRA, ALLAH ROH KUDUS YANG DISEMBAH OLEH
ABRAHAM ISHAC DAN YAKUB AMIN'
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."