Wejangan Orang Tua - Yosua 23 & 24

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Yang paling ditakutkan kita adalah apabila “orang-orang yang dipakai begitu luar biasa oleh Tuhan pada masa mudanya, namun begitu lanjut usia justru mengecewakan Tuhan”. Tidak jarang kita menemukan contoh-contoh seperti ini di dalam Alkitab, misalnya Salomo dan Daud. Bahkan hamba Allah yang luar biasa seperti Musa, ia telah mengecewakan Allah pada masa hidupnya; sehinga Allah tidak mengijinkan dia memasuki tanah Kanaan. Para pemimpin dunia juga ada yang demikian, misalnya presiden Marcos dari Filipina, atau presiden Soeharto dari negeri tercinta.

Namun ada satu pengecualian yakni Yosua. Ia seorang tokoh dan sekaligus pemimpin yang secara konsisten mengikuti Allah. Sebagai manusia memang Yosua pernah melakukan kesalahan juga seperti pada saat ia ditipu oleh bangsa Gibeon. Ceritanya begini, bangsa Gibeon mendengar tentang apa yang dilakukan Yosua terhadap penduduk Yerikho dan Ai, itu sebabnya mereka menjadi takut maka demi menyelamatkan diri, mereka menyamar menjadi orang miskin dengan pakaian robek-robek mendatangi Yosua meminta belas kasihan. Akibatnya maka Yosua berjanji demi Allah bahwa mereka tidak akan dibinasakan.

Nah janji ini atas nama Allah, sehingga mereka benar-benar tidak boleh diusik lagi (lih psl 9). Namun kejadian ini diketahui oleh Yosua pada hari yang ke tiga. Lalu Yosua bertanya mengapa mereka menipunya? Yosua tidak dapat membatalkan janji itu, karena atas nama Allah. Namun Yosua kemudian mengutuk mereka atas nama Allah supaya mereka menjadi budak Israel. Orang Gibeon tidak mengeluh, sebab sebagai budak mereka masih dapat hidup berdampingan dengan orang Israel, dan mereka masih mendapat perlindungan. Dan pada waktu itu mereka dijadikan Yosua tukang belah kayu dan tukang timba air.

            Secara umum Yosua ini bersih. Itu sebabnya mengapa saya menganggap wejangannya begitu penting untuk kita pelajari. Mari kita lihat sekilas wejangan tersebut.

I. YOSUA TELAH MENAATI SEMUA PERINTAH ALLAH

Siapa Yosua itu? Mulanya ia adalah Abdi Musa (lih Yos 1:1), namun karena Musa mati, maka Yosua harus menggantikannya. Inilah regenerasi kepemimpinan dalam pelayanan. Pemimpin boleh saja mati, namun pekerjaan Tuhan tetap berlanjut. Jaman sekarang banyak pemimpin yang berkharisma. Kepemimpinannya luar biasa, namun ia tidak dapat menciptakan pelanjutnya. Tidak hanya itu, bahkan ada yang tidak berani berbicara tentang masalah pelanjut, kalau bisa jabatannya seumur hidup. Tidak salah menjabat seumur hidup seperti Musa, namun jauh-jauh hari semestinya sudah dipersiapkan calon pangganti. Supaya kharismanya bisa tertular pada generasi selanjutnya. Namun sebaliknya, banyak sekali pemimpin yang sudah uzur, masih mempertahankan kursinya. Jangan coba Anda menyentuhnya, kalau tidak mencari kesulitan.

Tentu tidak gampang bagi Yosua yang masih muda sebagai pengganti Musa. Ia bakal menghadapi banyak tantangan dan kesulitan. Dengan mata kepala sendiri Yosua pernah menyaksikan betapa tegar tengkuknya orang-orang Israel tatkala berontak kepada Musa. Ia juga pernah menyaksikan bagaimana orang-orang Israel itu bersungut-sungut tatkala mereka tidak puas dengan masalah konsumsi. Hingga hari ini Yosua masih ingat terhadap kedahsyatan Musa memimpin orang Israel menyeberangi Laut Teberau dalam keadaan kering. Tentu semua ini menjadi tantangan yang besar? Apakah ia juga sanggup sejajar dengan Musa si pendahulunya itu? Bagaimana pendapat orang-orang Israel ?

Namun kita bersyukur, berkali-kali Yosua mendapat perintah dan dukungan dari Tuhan Allah supaya kuat dan teguhkan hati. Peringatan Tuhan agar dia jangan pula menyimpang ke kanan ataupun ke kiri. Dan hingga usia lanjut semua perintah Tuhan sudah ditaati, itulah yang membuat  Yosua terhitung sebagai orang yang berhasil.

Setiap manusia memiliki hidup yang cukup rentan dan riskan. Khilaf sedikit saja kita akan jatuh pada kesalahan (dosa). Hingga hari ini tidak ada asuransi yang dapat kita beli untuk menjamin agar kita akan hidup bersih hingga masa tua. Oleh sebab itu yang kita butuh hanyalah ketaatan seperti Yosua. Format dari Tuhan itu selalu sama, apabila orang Israel taat, maka mereka menang. Sebaliknya apabila mereka tidak taat maka mereka kalah.

Kita datang dari latar belakang yang berbeda, namun kebutuhan kita sama. Kita butuh Tuhan, kita butuh petunjuk arah hidup. Khususnya bagi mereka yang merantau ke luar kota untuk sekolah, bekerja dan menetap di sana . Apalagi mereka yang baru saja pindah ke suatu kota , kadang merasa sangat kesepian, teman belum ada, suasana asing sekali. Atau sebaliknya ada juga yang merasa  justru bebas merdeka, tidak dikungkung lagi oleh orang tua. Dalam kondisi ini jika tidak ada firman Tuhan yang kita taati dan sebagai penopang hidup tentu akan menggoyahkan hidup kita.

II. YOSUA TELAH MENGERJAKAN SEMUA PERINTAH TUHAN

Yosua sudah tua (lanjut usia). Saat itulah ia mengumpulkan para tua-tua Israel untuk membagikan beban yang ada dalam hatinya (Yos 23:1). Ia telah menyelesaikan tugas di bumi ini, Ia telah memimpin umat Israel memasuki Tanah Perjanjian. Ia telah mengalahkan kekuatan-kekuatan Kanaan yang mengancam Israel . Ia telah menyelesaikan tugasnya untuk membagi tanah kepada suku-suku Israel . Dan saat ini ia akan meninggalkan pesan-pesan yang terakhir untuk umat Israel .

Menarik sekali ~ Yosua tidak menonjolkan nama pribadinya, tidak seperti para pemimpin masa kini, padahal boleh dibilang ia yang berjasa dan layak untuk semua ini. Para pemimpin masa kini sering menyebut, saya telah membangun ini dan itu. Saya telah mengangkat siapa dan siapa. Saya merencanakan apa dan apa. Beda dengan Yosua, nama Tuhan yang ia kedepankan. Lihat ayat 3 “Dan kamu ini telah melihat segala yang dilakukan Tuhan Allahmu kepada semua bangsa di sini demi kamu, sebab Tuhan Allahmu, Dia telah berperang bagi kamu” Lalu ayat 5 mencatat “Tuhan Allah yang mengusir dan menghalau mereka dari depanmu.”

Ayat 6 Kuatkanlah benar-benar hatimu dalam memelihara dan melakukan segala yang tertulis dalam kitab Hukum Musa supaya kamu jangan menyimpang ke kanan maupun ke kiri. Nasihat yang ia terima dahulu waktu masih muda dari Tuhan, sekarang dengan nasihat yang sama ia pakai untuk menasihati umat Israel . Bahkan Yosua menambah kata “benar-benar”, menunjukkan ketegasan. Yosua tahu bahwa dengan menjalankan nasihat tersebut, maka langkah umat Israel juga akan berhasil.

Saya tidak tahu hingga detik ini masih adakah tersisa dalam hidup Anda segala janji yang belum terpenuhi. Apakah Anda sudah mengerjakannya? Hutang janji apa yang Anda belum bayar? Pelayanan apa yang belum Anda kerjakan? Komitmen apa yang Anda belum penuhi? Yosua telah melaksanakan semua? Lalu, kita bagaimana? Anda bagaimana?

III. YOSUA TELAH MENYERAHKAN SEMUA KEPADA ALLAH

Bagi Yosua, kemenangan demi kemenangan yang ia rebut tidak terlepas dari sangkut-paut dirinya dengan Tuhan. Makanya di ayat 8 nasihatnya supaya umat Israel harus berpaut kepada Tuhan; seperti yang telah dilakukan selama ini. Bagi Yosua apabila ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan maka Tuhan tidak segan-segan menolong dan memberikan kekuatan yang sangat dahsyat. Ayat 10 mencatat “Satu orang saja dari padamu dapat mengejar seribu, sebab Tuhan Allahmu Dialah yang berperang bagi kamu” Satu melawan seribu, tidak tanggung-tanggung. Semua kekuatan ini tentu berasal dari Tuhan. Itulah sebabnya di ayat 11 dikatakan “Maka demi nyawamu, bertekunlah mengasihi Tuhan Allahmu”  

Seseorang yang menyerahkan semua kepada Tuhan, pasti di dalam kehidupannya terlihat nilai plus. Tatkala Musa mengirim dua belas orang pengintai untuk mengintip kota Kanaan yakni negeri Perjanjian ini, maka sepuluh orang kembali dengan bersungut-sungut. Mereka berkata di kota itu penuh melimpah susu dan madu dan tinggal juga orang-orang yang bertubuh tegap (raksasa) orang Enak; dengan demikian maka tidak ada harapan lagi bagi kita untuk merebut kota tersebut. Beda dengan pendapat dua orang lain yakni Yosua dan Kaleb, mereka juga melihat kota Kanaan penuh dengan susu dan madu, dan dihuni oleh orang-orang besar (raksasa), namun Yosua berkeyakinan akan merebut kota itu. Inilah letaknya kelebihan orang yang menyerahkan semua kepada Tuhan. Ada nilai plusnya.

Pada kesempatan lain tatkala Yosua menyampaikan pidato lanjutannya di Sikhem. Secara panjang lebar ia menyampaikan sejarah perjalanan panggilan mulai dari Abraham hingga memasuki negeri perjanjian itu. (lih. dan banding dengan Yosua 24). Yosua juga menantang para pendengarnya untuk mengambil keputusan dalam hal keagamaan mereka.  Yos 24:15  “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" Sekali lagi letak perbedaan Yosua dengan umat Isreal lainnya. Ia memiliki nilai plus dari yang lain.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memiliki nilai plus atau minus? Nilai minus nadanya biasanya sumbang atau tidak enak. Orang yang dipakai Tuhan dengan sungguh-sungguh harus memiliki nilai plus. Dengan demikian maka pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib untuk  menebus dosa kita juga tidak sia-sia. Akhirnya biarlah kita tetap memegang wejangan orang tua yang bernama Yosua ini. Ia sukses karena keteguhan dan ketaatan serta kesetiaannya pada Firman Tuhan. Perjalanan hidupnya tidak menyimpang dari Firman Tuhan. Bahkan hingga akhir riwayat hidupnya ia ditemukan bersih. Kita juga rindu kehidupan yang demikian bukan? “Hanya, kuatkan dan teguhkan hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa, jangan menyimpang ke kanan dan ke kiri, supaya engaku beruntung kemanapun engkau pergi”.(Yos 1:7)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."