Mr. Trouble Maker (Roma 16:17-20)

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 

            Seorang penulis mengatakan bahwa di dunia ini ada empat tipe manusia. Yang pertama tipe manusia Lapangan, artinya orang tersebut tidak betah kalau duduk terus di kantor, dia lebih tertarik bekerja langsung di lapangan; di sana ia bisa berhubungan langsung dengan costumer atau konsumen. Bila ia diminta kerja di kantor, rasanya tersiksa sekali. Tipe yang kedua adalah tipe Pemimpin, jadi orang ini lebih tertarik untuk mengatur, walaupun kadang ia lupa bahwa dia sendiri sebagai bawahan yang seharusnya diatur. Tipe yang ketiga adalah tipe Konseptor, orang ini sangat berlian idenya, banyak hal yang dapat segera dirancang dan dipikirkan; namun jangan coba-coba minta dia yang kerjakan. Sedangkan tipe keempat yang akan kita bahas adalah tipe Trouble Maker, orang ini lebih mengarah ke arah yang negatif, si pembuat kacau, suka merusak suasana dan menciptakan kegagalan.

            Roma 16:17-20 yang kita baca, berhubungan dengan si Trouble Maker. Kehadirannya justru membuat gereja tidak nyaman, sebab sering kali pengajarannya bertentangan. Hal ini yang akan menyebabkan perselisihan dan perpecahan. Orang yang Trouble Maker suka sekali dengan keadaan yang kacau, ia sangat menikmati dan merasa senang bila orang lain mengalami kesusahan. Ia justru tidak aman kalau orang lain itu tenang dan menikmati keberhasilan. Rasanya hampir di setiap komunitas ada saja orang-orang yang suka berulah seperti itu. Kadang kita berpikir bahwa orang tersebut sedang mencari perhatian, namun karena berulang-ulang terus demikian maka mungkin inilah karakter orang tersebut. Itu sebabnya ia dijuluki si Trouble Maker. Dalam bahasa lain boleh kita sebut sebagai si “biang keladi”, “biang pengacau” atau “biang kerok”. Sering juga ia disebut sebagai si “Manusia Aneh”. Oleh karena orang ini suka berulah (bertingkah), maka sering kali timbul masalah yang seharusnya tidak perlu terjadi.

            Memang benar, tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna, setiap kita sudah tercemar. Roma 3:23 “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemulian Allah”. Jadi sering kali muncul “insiden”, padahal “insiden” tersebut tidak pernah kita ingin dan pikirkan. Cuma untungnya sebagai orang-orang percaya yang sudah diperbaharui Tuhan Yesus, hidup kita sudah terpasang “Rem (brake)” Namun rupanya “Rem (brake)” tersebut kadang “tidak menjamin”, sebab ada orang percaya justru tidak bersandar pada “Rem (brake)” tersebut. Dengan demikian “insiden” tersebut tetap saja terjadi bagi orang percaya. Makanya tidak jarang si Trouble Maker itu juga banyak muncul di gereja. Si Trouble Maker ini untuk selanjutnya kita sebut sebagai Mr. T

            Siapa sebenarnya Mr. T itu?

Jikalau ia adalah rekan kerja kita di kantor, maka kehadirannya sering kali membuat kita tidak nyaman bekerja. Biasanya orang ini setingkat manager yang tugasnya mengatur dan memerintah. Kadang kala apa yang diperintahkan tidak masuk akal, dan omelannya sangat “menggatalkan” telinga. Mr. T ini juga ada kemungkinan pegawai kesayangan bos, yang sering menjadi mata-mata terhadap karyawan yang lain. Atau seseorang yang dijuluki si pacar gelap bos, boleh jadi beliau adalah familinya bos, yang selalu melaporkan segala kejadian di kantor. Dengan demikain maka Mr. T ini sangat mengganggu kenyamanan suasana kerja.

Saya pernah diceritakan oleh seorang ibu yang bergumul berat tatkala setiap pagi ia harus berangkat kerja ke kantor. Ia mengatakan kadang entah kenapa tubuhnya gemetar, sebab ia begitu teringat dengan manager di kantor yang selalu mencari kesalahannya. Untuk keluar dari perusahan tersebut ia masih belum berani, karena ia merasa sangat sulit mencari pekerjaan lain. Oleh karena hal ini ia sempat pergi mencari konselor, ia berpikir bahwa dirinya ada kelainan dan sakit jiwa. Lihatlah, Mr. T itu sangat menyusahkan orang.

Dalam lingkungan pemerintahan juga ada Mr T, kadang ada saja oknum pejabat yang suka datang ke kantor minta uang kopi kepada para pengusaha. Yang celakanya setiap hari raya seakan-akan dirayakan oleh sang pengusaha. Mulai dari Hari Natal dan Tahun Baru, Hari Raya Imlek dan bahkan hari Raya Lebaran menjadi langganan dari Mr. T ini. Belum lagi kalau di dalam konteks negeri tercinta, di sana-sini ada organisasi pemuda ini dan itu, yang juga dapat menjadi Mr. T bagi para pengusaha dan masyarakat.

Undang-undang atau peraturan pemerintah juga dapat menjadi Mr. T seseorang atau sekelompok orang. Sebab konsep perundangan itu dimunculkan bukan berdasarkan pendapat umum, tetapi berdasarkan permintaan sekelompok orang. Salah satu yang menarik adalah mengenai UU Pornografi. Saya yakin semua orang percaya juga ingin memberantas masalah ini, namun konsep perundangannya dapat menjadi Mr. T. Seorang rekan saya dengan berseloroh mengatakan bahwa seandainya UU pornografi ini diberlakukan, maka Kitab Kidung Agung harus dicopot dari Alkitab.

Dalam lingkungan kampus juga terkenal dosen yang “killer”, ia senang melihat mahasiswanya tidak lulus. Kadang saya berpikir seandainya para mahasiwanya tidak lulus semua, yang “bodoh” sang dosen atau sang mahasiswa? Sudah saatnya dosen model begini pensiun atau sekolah lagi, supaya dapat mengajar dengan baik dan pengajarannya mudah dipahami semua mahasiswa. Di rumah tangga juga ada Mr. T ini, kadang mungkin beliau adalah orang tua kita. Saya pernah menyaksikan ada suami yang tidak mau kerja, dan membiarkan sang isteri bekerja mati-matian. Tidak hanya itu, bahkan sang suami juga mengambil uang isterinya untuk berjudi. Belum lagi sang anak terpengaruh narkoba. Hal ini menjadi Mr. T di dalam keluarga bukan? Sebagai orang percaya, ia tidak berani bercerai? Jika mencoba melawan, kemungkinan besar bisa dipukul sang suami, dan itu tidak jarang terjadi. Inilah Mr. T dalam lingkungan rumah kita. Belum lagi adik, kakak, dan kakak ipar yang sering kali dapat menjadi Mr. T di dalam rumah tangga juga bukan?

Lalu apakah di gereja juga ada Mr T ini? Tadi kita sedikit menyinggungnya, bahwa orang tersebut rupanya bercokol di sana juga. Sering kali mereka yang sudah berkali-kali terpilih sebagai majelis, maka sekali saja tidak terpilih langsung sakit hati. Lalu tidak berniat lagi datang ke gereja. Tidak cukup itu, bahkan ada yang menghasut pengikutnya untuk membuka persekutuan lain? Bukankah orang ini adalah Mr. T di dalam gereja? Kadang tanpa kita duga, juga ada pendeta yang menjadi Mr. T, beliau sudah melayani cukup lama, mapan; tidak ada yang berani menegurnya. Majelis bungkam, ngomongnya dari belakang saja. Sebagai orang Kristen apalagi aktivis, takut kualat kalau ngomongin sang pendeta, namun di pihak lain yang hendak diomongi makin menjadi-jadi. Dengan rekan kerja tidak ada yang akur, sikut sana-sini dengan cara yang sangat rohani. Saya harap pendeta ini tidak sedang melayani di gereja Anda. Konsep dan cita-cita pelayanannya besar dan luar biasa, misinya juga luas; namun semuanya untuk kepentingan pribadi. Sungguh ia telah menjadi Mr. T.

Masih banyak lagi, kadang teman juga dapat menjadi Mr. T di dalam hidup kita. Ada teman yang kalau tidak ada kepentingan tidak pernah mencari kita; bahkan kalau kita memerlukan bantuannya jangan harap ia dapat melakukannya. Teman yang sejati adalah teman yang tatkala kita mengalami kesulitan, ia masih bersedia mendampingi dan menolong.

 Ciri-ciri Mr. T?

  1. Mr. T selalu menjadi penghambat, sebab ia tidak menghendaki kesuksesan seseorang. Ia lebih senang jika orang itu gagal, ketimbang berhasil

  2. Mr. T suka menciptakan masalah, persoalan yang gampang akan menjadi susah dan rumit serta berbelit.

  3. Mr. T juga sering memperbesar masalah yang kecil. Sebab dasar Mr. T adalah pengacau keamanan.

Menurut para ahli psikologi setiap orang cenderung menjadi Mr. T, hal ini diawali oleh Personality Trouble.

  1. Iri Hati

Mr. T tidak bisa melihat orang lain senang, ia jengkel kalau orang lain sukses. Ia lebih suka melihat penderitaan orang lain. Ia merasa gelisah bila melihat orang sudah punya pacar, lalu mulai melempar gosip di sana-sini. Pokoknya ia lebih senang orang “buntung” ketimbang “beruntung”. Amsal 14:30, isinya kira-kira begini ”Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” Jangankan tulang sudah busuk, orang yang terkilir saja sakitnya sudah tidak kepalang, apalagi iri hati yang sampai membusukkan tulang, tentu sangat menyakitkan bukan?

  1. Tidak pernah merasa puas diri

Dalam satu sisi jika Anda tidak puas tentu tidak masalah, misalnya Anda tidak puas dengan nilai ujian hari ini, hasil pekerjaan hari ini. Namun kalau di dalam segala hal terjadi ketidakpuasan tentu ini merupakan masalah. Apalagi tidak puas terhadap seluruh hasil karya orang lain. Orang yang tidak merasa puas terhadap segala hal, hidupnya penuh kritikan sana-sini. Coba lihat 1 Timotius 6:8  “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. Bila tidak ditaati, maka akibatnya di ayat selanjutnya,  1 Timotius 6:9-10 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

  1. Rasa Sombong

Mengapa seseorang menjadi sombong? Menganggap diri paling pintar, lebih kaya, lebih senior dan memiliki banyak gelar. Pendapatnya harus dituruti, bila tidak maka ia segera mengundurkan diri dalam sebuah organisasi termasuk juga di gereja. Orang yang sombong tidak pernah menghargai pendapat orang lain. Lihat Yesaya 2:11 “Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.” (lihat juga ayat 17)

  1. Selalu memaksa kehendak

Ciri lain dari Personality Trouble adalah suka memaksakan kehendaknya pada orang lain. Ia hidup seperti katak dalam tempurung, pikirannya hanya dia yang dapat melakukan sesuatu. Sama seperti ciri sombong tadi, maka ia selalu menempatkan apa yang ia mau ke depan, sedangkan kehendak orang lain baginya adalah “tong sampah”. Jika ia sebagai pemimpin rapat, maka sering kali ia bertanya kepada peserta usul dan pendapat, namun kesimpulannya adalah pendapatnya sendiri. Galatia 2:6 “Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu--bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka--bagaimanapun juga, mereka yang terpandang itu tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku”.

Jika Personality Trouble ini tidak beres, dan tidak ada kesedian kita membuangnya jauh-jauh, cepat atau lambat sangat memungkinkan seseorang menjadi Mr. T.

Mari kita melihat beberapa contoh Mr. T di dalam Alkitab kita.

~ Nehemia 4, di sini kita melihat bagaimana Nehemia mengalami hambatan tatkala ia hendak membangun kembali tembok Yerusalem. Perhatikan Nehemia 4:1 “Ketika Sanbalat mendengar, bahwa kami sedang membangun kembali tembok, bangkitlah amarahnya dan ia sangat sakit hati. Ia mengolok-olokkan orang Yahudi” 

~ 1 Raja-raja 21:1-16, Nabot si pemilik kebun Anggur itu sangat tidak nyaman menghadapi raja Ahab. Nabot tidak bersedia menyerahkan kebun Anggurnya pada Ahab karena kebun itu hasil nenek moyangnya. Namun atas campur tangan isteri Ahab Izebel, maka akhirnya Nabot dibunuh 1 Raja-raja 21:7 Kata Izebel, isterinya, kepadanya: "Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu

~ Yosua 7:22-26  Akhan si Mr. T itu, sebab Yosua telah memerintahkan padanya untuk tidak mengambil harta kekayaan musuh, namun secara diam-diam ia mengambilnya, itu sebabnya orang Israel mendapat penghukuman dari Tuhan. Lihat Yosua 7:20-21  Lalu Akhan menjawab Yosua, katanya: "Benar, akulah yang berbuat dosa terhadap TUHAN, Allah Israel, sebab beginilah perbuatanku: aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali."

~ 1 Raja-raja 12:7-8 Raja Rehabeam tidak mendengar nasehat para tua-tua di Israel, ia lebih mendengar saran teman-teman sebayanya; akhirnya ia menaikkan pajak sehingga timbul protes dari rakyatnya. 1 Raja-raja 12:8-10  Tetapi ia mengabaikan nasihat yang diberikan para tua-tua itu, lalu ia meminta nasihat kepada orang-orang muda yang sebaya dengan dia dan yang mendampinginya, katanya kepada mereka: "Apakah nasihatmu, supaya kita dapat menjawab rakyat yang mengatakan kepadaku: Ringankanlah tanggungan yang dipikulkan kepada kami oleh ayahmu?" Lalu orang-orang muda yang sebaya dengan dia itu berkata: "Beginilah harus kaukatakan kepada rakyat yang telah berkata kepadamu: Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, tetapi engkau ini, berilah keringanan kepada kami--beginilah harus kaukatakan kepada mereka: Kelingkingku lebih besar dari pada pinggang ayahku!

            Masih banyak lagi, misalnya 1 Raja 18:17-18 mengenai Ahab dan Elia, 1 Samuel 25:3-28 Daud dan Nabal, kitab Esther ada Haman dan Mordekhai dan Kisah Para Rasul 16:17-20 mengenai rasul Paulus.

            Bagaimana caranya kita menghadapi Mr. T ini?

Secara umum kita dapat coba melihat bagaimana orang-orang sekuler menghadapi Mr. T

  1. Tahan Emosi

Mr. T tidak harus mempengaruhi kehidupan atau pekerjaan kita. Mari kita terapkan pikiran bahwa Mr. T ini adalah orang yang perlu kita bantu, itu sebabnya kita memerlukan emosi yang stabil. Amsal 19:19 Orang yang sangat cepat marah akan kena denda, karena jika engkau hendak menolongnya, engkau hanya menambah marahnya”.

  1. Tetap Fokus

Apabila teman kita si Mr. T ini berulah, selama urusannya tidak ada hubungannya atau mengganggu kita, maka abaikan saja. Namun apabila ulahnya berhubungan dengan pekerjaan kita, maka fokuskan perhatian pada masalah kerja saja. Manusia sering kali sulit memisahkan antara masalah pribadi dengan masalah organisasi. Secara organisasi mungkin kita tidak sependapat dengan dia, namun secara pribadi kita adalah teman. Namun di lapangan yang terjadi adalah, secara organisasi kalau kita tidak menyetujui pendapatnya, maka kita akan dianggap musuh. Di sinilah letak ketidakdewasaan kebanyakan orang, termasuk orang percaya di gereja.

  1. Jaga Jarak

Jangan takut, kita tidak akan dicela kalau kita menjauhi Mr. T, sebab justru dengan dekat padanya sering terjadi keonaran. Namun karena Mr. T juga adalah rekan kerja kita bahkan sangat mungkin ia adalah atasan kita, maka bagaimanapaun kita tetap membina komunikasi dengannya. Kecuali kita terpaksa meninggalkan pekerjaan itu. Tentu komunikasinya hanya sebatas masalah pekerjaan saja, lebih dari itu “No Way”

  1. Selalu Waspada

Jangan lengah dengan maksud terselubung dari Mr. T. Sebab kita sudah tahu ciri khasnya agar orang lain gagal. Kadang ia berpura-pura manis dan baik pada kita hanya dengan maksud untuk memanfaatkan kita. Bila kita terlena, maka kita akan kehilangan banyak teman.

  1. Sikap Positif

Meskipun dianjurkan kepada kita menjaga jarak terhadap Mr. T, namun tidak salahnya bila secara pelan-pelan kita berusaha mengajarkan dan mempengaruhinya hal-hal yang positif. Bagimanapun Mr. T tetap adalah manusia, ia butuh teman yang mengasihi dia dan bersedia menolongnya.

Bagaimana Orang Percaya Menghadapi Mr. T ini?

Kita harus kembali kepada ajaran Tuhan Yesus. Di dalam pelayanan Tuhan Yesus Ia tidak jarang bertemu dengan Mr. T. Saya menemukan empat prinsip yang Tuhan Yesus ajarkan, dan mungkin Anda dapat menemukan yang lainnya.

  1.  
    1. Tuhan Yesus MENGASIHI Mr. T ini, misalnya tatkala orang-orang sekitar menjauhi Zakheus si Pemungut Cukai, namun Tuhan Yesus justru mendekatinya. (lihat Lukas 19)

  1.  
    1. Tuhan Yesus MENGAMPUNI Mr. T ini, misalnya salah seorang penjahat yang disalibkan bersama dengan Tuhan Yesus atau terhadap orang-orang yang menyalibkan-Nya.

  1.  
    1. Tuhan Yesus MENGHINDARI si Mr. T, misalnya pada waktu ancaman bahaya, dan belum saatnya Yesus disalibkan, ia menghindari dari ancaman tersebut. Yohanes 8:59  “Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah”.

  1.  
    1. Tuhan Yesus MENGHADAPI si Mr. T ini, misalnya sewaktu di Taman Getsemani, setelah Ia bergumul sedemikian rupa, akhirnya Ia menghadapi juga cawan pahit itu. Markus 14:42 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya “Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."

Saya tidak tahu bagaimana posisi Anda saat ini, apakah Anda sedang menghadapi Mr. T atau Anda adalah Mr. T itu sendiri? Setiap manusia cenderung menjadi Mr. T, namun orang-orang yang takut akan Tuhan, yang telah menyerahkan seluruh kehidupan dan kehendak dirinya kepada Tuhan semestinya ia menjadi Mr. P atau Peace Maker, karena Allah yang kita percayai itu adalah Allah yang Sumber Damai Sejahtera (lihat Roma 16:20). Jadilah Mr. Peace Maker, tanggalkan gelar Mr. Trouble Maker Anda. (Campbell, Saumiman Saud, Oct, 11.06)


--------------------------------------
Rom 8:28 "And we know that to them that love God all things work together for good, even to them that are called according to his purpose".

Kunjungi juga situs :
http://www.gii-usa.org atau
http://www.glorianet.org/

Bagi anda yang hendak join dengan milis 5MENIT2AYAT silahkan kirim email kosong ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya Please doakan untuk rencana menerbitkan buku-buku via Lentera Kehidupan literatur, ada satu judul Di Balik Topeng Orang Percaya sedang proses.

Oh ya, jika anda kebetulan berkunjung/sekolah/pindah di San Francisco or San Jose; jangan sungkan mampir ke Gereja Injili Indonesia San Jose. Atau supaya lebih jelas email ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya . Kebaktian di dalam Bahasa Indonesia hari Minggu jam 10.00 am

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."