Pemimpin Yang Pantang Mundur (Nehemia 1:1-4, 11; 2:1-8, 10, 18, 19; 4:6; 6:1-3, 15-16)

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
Mungkin masih belum punah dari ingatan kita sebuah lagu yang berjudul “Maju Tak Gentar” yang selalu kita nyanyikan sewaktu upacara bendera atau memperingati Hari Kemerdekaan dan Hari Besar. Isinya “Maju tak gentar, membela yang benar. Maju serentak, pasti kita menang. Maju tak gentar, saya lupa kata-katanya..” Lagu ini penuh semangat, dengan harapan bila musuh menyerang maka kita pun tetap maju tanpa gentar. Kondisi begini tidak segampang kita bernyanyi. Sering kali di dalam kenyataan, apabila kesulitan datang menyerang maka kita mundur terlebih dahulu. Pada kesempatan ini kita melihat seorang tokoh yang bernama Nehemia. Apa saja yang dilakukannya sehingga kita boleh sebut dia sebagai seorang pemimpin yang pantang mundur.

1. Pemimpin yang pantang mundur harus memiliki Visi dan Misi yang jelas.

            Kita tidak ada informasi yang terlalu banyak mengenai siapa Nehemia ini. Namun di dalam Nehemia 2:1 ia menyebut dirinya bin Hakhalya, dan juga pekerjaannya sebagai juru minuman raja (ada penulis yang memberi dia gelar si Bartender). Pada jaman itu seorang juru minuman raja disebut juga sebagai tangan-tangan yang murni dan ia juga adalah orang kepercayaan raja. Kepiawaian juru minuman raja juga merupakan suatu kebanggaan bagi Istana. Ratu Syeba sempat tercengang tatkala melihat juru minuman raja Salomo (lihat 1 Raja 10:5, 2 Taw 9:4).

Seorang juru minuman raja tentu sangat dekat dengan raja, ia bisa saja menjadi pembisik raja dan keluarganya untuk hal-hal yang luput dari pengamatan orang lain. Namun ia juga harus menanggung resiko besar bila raja dibunuh (dikudeta), maka kemungkinan ia pun harus disingkirkan atau dibunuh; sebab ia merupakan seorang yang terlalu banyak mengetahui rahasia kerajaan.

Nehemia 1 mencatat bahwa salah seorang saudaranya yang bernama Hanani melaporkan tentang keadaan orang-orang Yahudi yang terluput dalam penawanan dan tentang Yerusalem. Rupanya orang-orang Yerusalem itu saat ini sedang berada dalam kesukaran besar dan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. "Pada saat Nehemia mendengar ini maka duduklah ia menangis dan berkabung selama beberapa hari dan berdoa di hadirat Allah" (lih. Nehemia 1:4-11)

Rupanya Nehemia tidak mahir bersandiwara atau membohongi diri seperti kebanyakan orang percaya masa kini. Ia tidak dapat menutupi perasaan dirinya bahwa pada saat itu hatinya sedang gundah gulana dan wajahnya terlihat sedih. Jika mau gampang maka Nehemia bisa saja mengambil  tabungannya lalu dititipkan kepada Hanani untuk menolong orang-orang Yerusalem seperti yang dilakukan kebanyakan orang pada masa kini juga. Kirim saja sumbangan sekadarnya seperti yang dilakukan untuk mereka yang korban gelombang Tsunami di Nias, Aceh dan Pangandaran, setelah itu habis perkara. Tetapi Nehemia mau berbuat sesuatu yang lebih dari itu. Ia membiarkan ketenangan batinnya dan kenyamanan hidupnya digantikan dengan dukacita.

Itu sebabnya tatkala raja Artahsasta melihat adanya perubahan di wajah Nehemia, maka bertanyalah ia sebenarnya apa gerangan yang terjadi? Padahal dengan berwajah muram di depan raja adalah suatu perbuatan yang sangat membahayakan. Ia bisa dihukum mati. Kesempatan dialog ini dipakai oleh Nehemia untuk mengutarakan perasan dan visinya kepada raja. Ia menceritakan keadaan kampung halamannya sekaligus mengutarakan apa yang hendak ia perbuat. “Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu, utuslah aku ke Yehuda ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali” (Nehemia 2:5)

Nehemia memiliki visinya yang sangat jelas sekali. Ia bukan sekadar mendukung di dalam doa dan dana, tetapi sekaligus ia akan mendukung di dalam dayanya. Terus terang ketika saya merenungkan kembali bagian ini, secara pribadi saya sangat tertegur. Gereja dan sekolah di kampung halaman saya saat ini sedang membutuhkan dana untuk membangun kembali kelas taman kanak-kanak dan pastori gereja yang telah terbakar tahun yang lalu gara-gara keteledoran tetangga. Sejak kecil saya sekolah dan mengenal Tuhan di tempat ini. Bahkan saya juga boleh belajar melayani di tempat ini hingga saya sekolah teologia ke Malang juga atas beasiswa mereka. Saya berutang   keselamatan pada pelayanan pendahulu di gereja ini. Saat ini mereka memiliki kebutuhan, itu sebabnya saya merasa sangat tertegur. Mungkin saya tidak dapat dapat seperti Nehemia menuju langsung ke kampung halaman saat ini, tetapi paling sedikit saya dapat berbuat sesuatu untuk mereka melalui cara saya tersendiri. Saya berdoa agar Tuhan memberikan hikmat kepada saya.

Hari ini kita banyak bertemu dengan anak-anak Tuhan yang visi dan misinya tidak jelas. Mereka menggebu-gebu ingin melakukan sesuatu untuk Tuhan, namun kalau sudah berhubungan dengan pengorbanan maka tunggu dulu. Orang-orang muda merasa bangga kalau menjadi guru Sekolah Minggu, namun kalau tiba pada saat kelas persiapan dan dan kehadirannya yang dituntut lebih awal maka hal ini menjadi pergumulan. Beranikah kita seperti Nehemia yang rela meninggalkan jabatan tertingginya, untuk terjun langsung ke dalam dunia pembangunan yang penuh dengan kesulitan dan tantangan?

Sebaliknya kita juga banyak menemukan anak-anak Tuhan yang baru berkorban sedikit saja telah merasa jasanya besar sekali. Orang seperti ini sangat bahaya, sebab kalau ternyata ia berkorban yang lebih banyak, maka ia bisa menginjak-injak kepala pendeta, para majelis di gereja dan anggota lainnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena visinya tercemar pada motivasi dan ambisi. Dia pikir dengan uang dapat mengerjakan dan mengatur semuanya. Nehemia tidak demikian, motivasinya sangat murni sekali, ia rela tinggalkan kesenangannya, ia mau peduli, ia rela berkorban, ia juga cinta Tuhan dan sesama. Apakah Anda dan saya rindu berbuat demikian?

2. Pemimpin yang pantang mundur harus memiliki strategi yang mantap

Tatkala Nehemia telah mengantongi ijin dari raja, maka ia segera minta sebuah surat pengantar untuk disampaikan kepada para bupati dan juga kepada Asaf pengawas Taman Raja, supaya beliau menyediakan material untuk keperluan pembangunan awal.

Rupanya tidak semua niat baik kita selalu disenangi orang, itu sebabnya tidak heran bila Sanbalat dan Tobia tidak senang akan niat baik Nehemia ini. Padahal jelas sekali tujuannya adalah mengusahakan kesejahteran bagi orang Israel . Heran memang, di dunia ini masih ada saja orang yang senang bila melihat orang lain susah. Jaman dulu kita mengenal istilah “Tengkulak”, boleh dibilang mereka ini yang memonopoli hasil tanaman orang desa. Tatkala para mahasiswa KKN ke desa, mereka mengajarkan cara bercocok tanam yang lebih baik, cara memasarkan dan membuka wawasan bagi mereka, maka hal ini sangat menganggu kenyamanan para tengkulak; sebab keuntungannya bakal berkurang. Tidak beda bukan bahwa para tengkulak itu merasa tidak senang melihat kesejahteraan orang lain. Pernahkah Anda punya pikiran seperti itu? Bila ada harus cepat-cepat bertobat.

Nehemia memulai visi dan misinya dengan cara yang cukup unik. Survey dilakukan pada malam hari (Nehemia 2:11 -dst), tanpa diketahui oleh orang lain. Selesai mengadakan survey Nehemia memberitahukan dan sekaligus mengajak orang-orang Yahudi membangun kembali reruntuhan Yerusalem. “Ketika kuberitahukan kepada mereka betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi Aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka “kami siap untuk membangun” Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang yang baik itu” Jadi walaupun masih ada orang-orang yang tidak mendukung seperti Sanbalat da kawan-kawan, namun ia tetap maju. Beda dengan para pemimpin masa kini, ada pemimpin yang “plin plan”, kadang hari ini ia mengatakan begini besoknya berkata begitu. Pemikirannya tidak pernah kita ketahui. Di wajahnya senyum-senyum dengan Anda, namun di hatinya penuh taktik dan akal busuk. Apa lagi Visi dan Misinya, sudah pasti tidak jelas, tergantung perasaan dan dapat diombang-ambingkan orang lain. Kalau ia lagi senang maka semuanya akan berjalan lancar; namun kalau ia lagi bermasalah, bahkan yang gampang pun dapat dipersulit. Mereka yang “plin-plan" ini tidak cocok untuk menjadi pemimpin, sebab ia tidak berani mengambil keputusan dengan tegas. Saya harap pemimpin yang model begini tidak ada di gereja Anda.

Nehemia tidak demikian, dia bukan orang model “plin-plan”, strateginya mantap dan melibatkan banyak orang. Ia tidak hanya bergantung pada orang-orang tertentu, tetapi ia ingin semua orang dapat mengerjakannya. Jemaat Tuhan sering kali kecewa karena mereka tidak dilibatkan dalam tugas pelayanan di gereja, sebab para pendeta dan majelis matanya lebih tertuju pada mereka yang kaya raya saja. Kadang bagi mereka yang rohaninya tidak dewasa, maka apabila ia memberikan persembahan dalam jumlah “besar”, maka ia merasa sekan-akan gereja adalah miliknya.

3. Pemimpin yang pantang mundur harus memiliki Tekad yang Bulat

Bukan nabi Nehemia namanya kalau hanya mengalami sedikit tantangan saja langsung mundur dalam tugas-tugasnya. Nehemia telah mengorbankan segala-galanya untuk visi dan misinya yang luar biasa ini. Walaupun di depan mata ada Sanbalat dan Tobia beserta kawan-kawannya yang selalu mengancam segala suatu yang dikerjakannya, namun ia tetap saja melaksanakan rencananya. Sebab ia tahu bahwa Allah senantiasa menjadi perlindungannya. Nehemia 4:6 mencatat “Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati.

Seorang pemimpin yang merasa dirinya kuat dan hebat karena mengandalkan diri sendiri sesungguhnya ia adalah pemimpin yang paling lemah. John Stott mengatakan bahwa seorang pemimpin Kristen semestinya memiliki lima unsur yakni Visi yang jelas, kerja keras, ketekunan, ketabahan dan pelayanan yang rendah hati dan disiplin baja; dan Nehemia ternyata memiliki semua ini. Kemudian Stott melanjutkan lagi bahwa sebenarnya ada dua dosa yang terbesar yang dimiliki oleh para pemimpin yakni;

Yang pertama, Pesimisme, jadi ada sedikit saja ancaman langsung mundur. Dalam konteks Indonesia kita biasa dididik dengan cara demikian. Apalagi mereka yang keturunan Tionghoa, para orang tua selalu mengajarkan sikap mengalah. Jangan memperbesar persoalan. Sikap mengalah ini yang kemudian berkembang hingga dewasa, cara menghadapi pejabat juga demikian. Mengalahnya dengan cara memakai uang, dan akibatnya timbul kolusi, KKN dan segalanya. Saya tidak mengatakan bahwa korupsi itu diakibatkan oleh mereka, tetapi cara mengalah inilah yang merupakan salah satu sumbernya.

Yang kedua, sikap Pasrah, sikap yang menerima keadaan. Hal ini juga membauat kita tidak maju. Kita harus tanggalkan sikap mengalah dan pasrah itu, dan coba mengambil sikap lain yang juga diajarkan oleh nenek moyang orang Tionghoa yakni “Ai Pia Ciak Eh Ya” apa maksudnya? Jika Anda hendak berhasil, maka harus berjuang dan bersaing, kalau tidak mau ya tidak akan pernah berhasil

Nehemia memiliki mental baja seperti ini, Maju pantang mundur. Musuh berusaha menyerang dan menggagalkan, namun ia tetap berjuang. Olok-olokan, kritikan datang bertubi-tubi dari pihak Sanbalat dan kawan-kawan, namun ia tetap mengerahkan pekerjanya untuk mengerjakan tugasnya. Bahkan tatkala ada ancaman yang lebih membahayakan, maka para pekerjanya dilengkapi senjata, jadi di sebelah tangan mereka memegang senjata, lalu tangan lain memegang alat bekerja. Nehemia 6:15-16 mencatat bahwa akhirnya pekerjaan pembangunan itu selesai. Dan tatkala para musuh mengetahui ini maka takutlah mereka semua dan kehilangan muka. Mereka menjadi sadar bahwa tangan Allah turut membantu di dalam pembangunan ini.

Di dalam konteks kerja di kantor atau pelayanan di gereja juga kadang kita bertemu dengan kondisi yang sama. Ada saja orang-orang yang tidak senang dengan kita. Kadang karena kelicikannya sehingga kelakuannya sulit kita tebak. Kerjanya hanya mengritik, mencari kesalahan bahkan ingin menghancurkan kita. Celakanya semua ini dilakukannya di belakang kita, tidak pernah terus terang. Lalu apakah kita harus mundur menghadapi orang-orang model begini? Atau apakah kita harus memasang jurus melawan mereka? Kita akan kehabisan tenaga bila tergoda melawan mereka, sebab orang-orang begini ibarat sampah dan kita akan melawan kesia-siaan. Saya pikir apa yang dilakukan Nehemia dapat juga kita lakukan. Jika Tuhan Allah yang mendukung kita, maka orang-orang model begitu pasti segera ditelanjangi dan dipermalukan. Roma 8:31 mencatat “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?”


--------------------------------------
Rom 8:28 "And we know that to them that love God all things work together for good, even to them that are called according to his purpose".

Kunjungi juga situs :
http://www.gii-usa.org atau
http://www.glorianet.org/

Bagi anda yang hendak join dengan milis 5MENIT2AYAT silahkan kirim email kosong ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya Please doakan untuk rencana menerbitkan buku-buku via Lentera Kehidupan literatur, ada satu judul Di Balik Topeng Orang Percaya sedang proses.

Oh ya, jika anda kebetulan berkunjung/sekolah/pindah di San Francisco or San Jose; jangan sungkan mampir ke Gereja Injili Indonesia San Jose. Atau supaya lebih jelas email ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya . Kebaktian di dalam Bahasa Indonesia hari Minggu jam 10.00 am
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
nanank clleo  - Pemimpin yang pantang mundur harus memiliki Visi d   |125.167.124.xxx |15-06-2011 00:18:06
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."