• PDF

Kegagalan Menuju Kemenangan

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 15:29
  • Ditulis oleh Saumiman Saud
  • Sudah dibaca: 3470 kali
Jumat Agung 2007, seperti biasanya malam nanti di gereja kami ada kebaktian, namun saya tidak berkotbah, karena ada pembicara tamu. Itu sebabnya di dalam perenungan saya hari ini, saya mencoba mencoret-coret sesuatu yang saya renungkan mengenai peristiwa Getsemani dan Golgota.  Saya akan mulai dari tokoh Petrus. Itu sebabnya maka saya harap kita bersedia membaca Lukas 22:31-34

Jangan berpikir apabila kita sudah aktif dalam pelayanan, rajin membaca Firman Tuhan dan selalu berbuat baik di hadapan Tuhan maka kita akan bebas dari persoalan dalam hidup ini? Selama di dunia kita tetap saja tidak aman; banyak godaaan dan cobaan yang selalu mengancam dan menguji kita. Saya teringat pada waktu masih remaja, jika saya hendak bermain layangan, maka saya perlu mengambil dua buah sapu lidi, kemudian dilem sedemikan rupa dengan kertas koran, maka jadilah layangan. Kemudian saya menuju ke mesin jahit mama, lalu meminjam benangnya dan layangan pun dinaikkan. Jika saya hendak main mobil-mobilan, maka saya harus  pergi ke tetangga yang menanam pohon yang biasanya disebut pohon “buah roda” , bentuknya persis roda. Lalu membentuk mobil-mobilan dan main balapan mobil bersama teman-teman.

Lalu saat ini, jaman begitu canggih dan modern, kita bahkan bisa bermain layangan di depan komputer; demikian juga sepak bola dan sebagainya. Apabila kita malas duduk dan capek di depan komputer maka melalui telepon genggam juga dapat kita akses internet. Begitu canggih bukan? Namun tunggu dulu, justru semakin kecanggihan itu terjadi, atau semakin teknologi itu tinggi, bukankah cobaan dan godaan juga semakin besar? Oleh karena itu siapapun kita, yang artinya sudah senior pun dalam kekristenannya, tetap saja perlu waspada terhadap cobaan itu yang bakal selalu datang bertubi-tubi serta tiada henti.

Ayat Alkitab yang kita baca khususnya ayat 31, di situ Yesus memperingati Simon bahwa  sebentar lagi iblis akan menampinya seperti gandum. Di dalam terjemahan sehari-hari, kata menampi itu diterjemahkan dengan menguji. Jadi kita dapat melihat di sini bahwa ujian yang datang atas sepengetahuan Yesus. Seperti kita ketahui bahwa Simon itu adalah murid Tuhan Yesus , ia begitu sering bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Di mana saja Yesus berada, nampaknya Simon selalu ikut serta, termasuk juga saat ini  yang mana Yesus sedang berbicara dengannya. Itu sebabnya tidak heran maka Simon dengan sangat percaya diri menjawab, "Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!" Namun Tuhan Yesus mengetahui isi hati manusia, dan Ia tentu tahu apa sebenarnya yang ada dalam benak hati Simon ini. Oleh sebab itu maka Yesus langsung memotong jawaban Simon, Yesus berkata: "Aku berkata kepada Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku."

Bila kita melihat ulang ayat 31, secara khusus terjemahan sehari-hari; di situ tertulis "Simon, Simon, dengarkan! Iblis sudah diberi izin untuk menguji kalian; seperti gandum dipisahkan dari kulit sehingga yang baik dipisahkan dari yang buruk. Jika ayat ini hendak diaplikasikan di dalam kehidupan kita, maka yang perlu waspada bukan hanya Simon bukan? Tetapi kita sekalian yang harus selalu waspada. Firman Tuhan mengatakan, apabila kita jatuh, tidak sampai tergeletak, sebab tangan Tuhan menopang. Konsep ini yang rupanya hendak Yesus terapkan di dalam diri Petrus, tentunya juga terhadap kita.

Melalui ayat 32, kita dapat melihat 4 hal yang Tuhan Yesus praktekkan serta ajarkan kepada Simon, yang berlaku bagi kita hingga hari ini. Yang pertama, “Tetapi Aku sudah berdoa untuk engkau”, hal ini sangat penting, sebab yang berdoa itu bukan sekadar majelis gereja atau pendeta, tetapi Tuhan Yesus sendiri. Saya yakin kita semua percaya akan hal ini bukan? Karena Tuhan Yesus tidak lupa bahkan lalai, termasuk dalam hal mendoakan kita. Manusia dapat lupa, termasuk juga kaum rohani misalnya pendeta. Pernah terjadi di suatu gereja ada seorang pendeta yang baru selesai berkotbah, seperti biasanya ia berdiri di pintu keluar bersalaman dengan para jemaat. Lalu ada seorang ibu yang dengan agak loyo berkata pada sang pendeta, “Pak pendeta, mau minta tolong doakan suami saya, yang sedang sakit sekarat di Rumah Sakit” Sang pendeta mengangguk-angguk, tanda setuju akan hal permohonan doa ini. Namun sayangnya sang pendeta karena begitu sibuk dengan tugas dan pelayanan sehingga ia lupa akan hal itu. Sebulan kemudian, ibu tersebut datang lagi berbakti di gereja, kali ini sewaktu bersalam-salaman ibu itu dengan penuh riang gembira berkata pada pendeta “Terima kasih pak pendeta, atas doa-doanya, suamiku sudah sehat kembali, hari ini juga ia datang ke gereja” Sang pendeta kaget bukan main, sebab ia memang lupa sama sekali akan hal ini. Namun di dalam hatinya tetap memuji Tuhan. Ia berkata dalam hati, luar biasa memang, saya lupa berdoa saja, suaminya sembuh, apalagi kalau saya berdoa untuknya?” Manusia bisa lupa bukan? Namun saya yakin Tuhan Yesus tidak akan pernah lupa, bahkan Ia telah berdoa untukmu.

Kedua, kita tentu bertanya, mengapa begitu pentingnya doa Tuhan Yesus itu? Jelas sekali penting, sebab Yesus sedang berdoa untuk orang yang sedang diuji oleh iblis ini. Supaya mereka yang mendapat ujian itu tidak jatuh. Istilah yang dipakai dalam Injil Lukas ini, “supaya imannya tidak gugur”. Tidak jarang saya menemukan orang-orang percaya, bahkan mereka yang telah bertahun-tahun aktif melayani, termasuk juga hamba Tuhan, ada yang tatkala mengalami persoalan, ia gagal dan jatuh, kemudian tidak bangkit lagi. Ia seakan-akan hilang dari peredaran dunia ini. Tentu hal semacam ini tidak disetujui oleh Tuhan kita. Godaan boleh saja menimpa kita, dan kita boleh saja gagal, tetapi di dalam kegagalan itu kita harus berusaha bangkit kembali. Kita tidak boleh terbuai di dalam kegagalan kita. Bukankah Thomas Alfa Edison, sang pencipta lampu pijar pernah beribu-ribu kali gagal? Namun ia coba dan mencoba lagi, sehingga temuannya dapat kita rasakan manfaatnya hingga hari ini. Ada pepatah yang mengatakan lebih kita “mencoba tetapi gagal dari pada gagal mencoba”

Mengapa hingga hari ini masih ada orang percaya yang masih begitu sulit memaafkan dirinya sendiri? Padahal jelas sekali Tuhan Yesus sudah mengampuni dosa-dosanya. Siapa sih di antara kita yang tidak berdosa? Tatkala orang banyak itu menyeret seorang wanita yang tertangkap basah karena berzinah, langsung saja mereka minta supaya Yesus menghukum wanita itu. Menurut tradisi pada waktu itu, wanita itu harus dilempari batu. Namun Tuhan Yesus yang kita sembah itu sangat arif dan bijaksana. Lihat , Ia tidak menolaknya. Justru Ia mempersilahkan orang banyak itu melempari wanita itu, dan kehormatan diberikan kepada mereka yang merasa dirinya tidak berdosa untuk melempar terlebih dahulu. Dan apa yang terjadi? Alkitab mencatat, orang banyak itu satu-persatu mengundurkan diri dan bubar, sekarang  hanya tinggal Tuhan Yesus dengan wanita itu berdua. Lalu kata Yesus kepadanya, mereka tidak melempari engkau, maka Aku juga, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.

Manusia itu lemah, begitu ada godaan dan persoalan saja ia bisa hancur. Namun, jangan takut, ada Tuhan Yesus yang menolong. Kekayaan, pengetahuan, kecantikan, dan bahkan ilmu pengetahuan tidak ada artinya di hadapan Tuhan, sebab semua itu tidak berdaya untuk melawan kuasa Tuhan. Kematian merupakan musuh utama manusia yang hingga hari ini tidak ada manusia perkasa manapun yang sanggup melawannya. Menurut salah seorang dosen saya, virus yang tidak dapat dilihat oleh mata kepala kita saja tidak dapat kita lawan. Baru-baru ini dari Indonesia saya mendengar berita ada seorang penyanyi yang sejak remaja menjadi idola saya yakni Chrisye telah meninggal dunia. Ia dipangil Tuhan karena mengidap penyakit kanker paru-paru. Nah, orang yang terkenal seperti dia, tetap saja Tuhan panggil, dan ia tidak berdaya bukan? Apa artinya ini?  Ini membuktikan kita tidak berkuasa terhadap kematian. Nah, kalau kita sadar, bahwa kita tidak berkuasa, itu berarti kita membutuhan Tuhan Yesus. Di dalam ayat 32 dikatakan bahwa Tuhan Yesus telah berdoa untuk kita. Jika hari ini ada yang mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan Tuhan Yesus maka ia adalah pembohong yang terbesar di dunia ini. Lihat saja perjalanan hidupnya, ia pasti akan mengakhiri dengan kematian, karena ia tetap saja tidak berkuasa akan hal itu.

Ketiga, ayat 32 dilanjutkan dengan setelah Simon insaf, yang artinya setelah selesai segala pengujian tersebut, di dalam terjemahan sehari-hari dikatakan setelah engkau kembali pada-Ku. Lihatlah sekali lagi, orang yang mengalami pergumulan bahkan kegagalan itu harus makin dekat dengan Tuhan, bukan semakin menjauhi Tuhan. Apabila di dalam hidup kita, Tuhan memberikan kesempatan kepada kita mengalami pergumulan dan kesulitan; maka satu hal yang perlu kita ingat adalah bahwa kita mesti makin dekat lagi dengan Tuhan dan hal ini tidak bisa ditawar lagi. Sering kali saya menemukan orang-orang yang mengalami persoalan lalu mulai tidak ke gereja. Ia mulai kurang semangat, imannya suam-suam. Yang sibuk adalah pendeta dan bagian pembesukan, orang tersebut mulai dikunjungi. Apabila orang tersebut tetap saja menjauhi Tuhan, maka akhirnya persoalannya bukan tambah beres, karena makin menyebar dan diketahui orang banyak. Maka akhirnya ia malu dan tidak ke gereja sama sekali. Di sinilah letak kesalahan anak-anak Tuhan, makanya Tuhan Yesus meminta Simon kembali kepada-Nya atau insaf.

Sebagai contoh, lihat saja  respon dari kedua orang murid Tuhan Yesus ini. Boleh dibilang rohani mereka sama, dididik oleh Tuhan Yesus dalam jangka waktu yang tidak begitu berbeda. Mereka berdua adalah Simon Petrus dan Yudas Iskariot. Simon Petrus menyangkal Tuhan Yesus, dan Yudas Iskariot mengkhianati Yesus. Kesalahan mereka juga tidak jauh berbeda. Namun responsnya kita lihat sangat berbeda sekali, Simon Petrus kembali kepada Tuhan, namun Yudas Iskariot malah menjauhi Tuhan, akhirnya ia bunuh diri. Di sinilah letak bahayanya orang yang jauh dari Tuhan.

Keempat, setelah itu maka tugas utama Simon harus menguatkan saudara-saudara yang lain. Apa hak kita menasihati orang lain? Kalau teori saja mungkin gampang sekali, namun ini adalah pengalaman pribadi kita. Kita akan lebih percaya diri memberikan petunjuk kepada orang lain kalau kita memang sudah berpengalaman dalam hal tersebut.

Saya masih ingat tatkala saya berada di Surabaya , sekelompok pemuda pada sebuah gereja mengundang saya untuk menyampaikan renungan sekaligus membahas yang berhubungan dengan Internet. Waktu itu pengetahuan saya tentang internet masih dangkal karena internet masih asing, walaupun sekarang ini sesungguhnya pengetahuan saya tentang internet juga masih dangkal. Saya masih ingat waktu itu berkali-kali saya telah menolak undangan tersebut, namun mereka mengatakan tidak masalah, karena bagian saya hanya menyampaikan kotbah saja. Tetapi tetap saja saya merasa sangat asing, membawakan sesuatu yang hanya saya kuasai secara teori, rasanya sangat kosong sekali. Kita berhak menguatkan orang lain, karena kita telah mengalaminya; dan Yesus meminta pada Simon untuk melakukan hal itu.

Jika hari ini Tuhan ijinkan kita mengalami kesulitan, bukan berarti Tuhan itu jahat pada kita. Justru orang-orang yang sama sekali belum merasakan kesulitan perlu bertanya-tanya pada Tuhan mengapa kehidupan ini demikian? Tuhan Maha Tahu, ia tahu kalau kita tidak sanggup menghadapi kesulitan itu, maka kemungkinan besar hal itu tidak diijinkan terjadi di dalam hidup kita. Nah, bagi mereka yang saat ini bergumul dengan masalah keluarga, bergumul dengan masalah pemecatan pekerjaan, putus cinta, sakit-penyakit dan sebagainya; justru hal ini merupakan modal utama. Apabila pemulihan telah terjadi, maka kita dapat memberikan kekuatan kepada orang lain apabila mereka mengalami peristiwa yang sama. Yang terpenting dalam hal ini, kita harus tetap datang kepada Tuhan, bukan meninggalkannya.

Kegagalan tidak harus membuat kita undur dan gugur, namun kita harus segera bangkit; dengan demikian barulah terasa adanya kekuatan yang baru. Tuhan tidak mengesampingkan orang yang gagal; buktinya ia tetap mau memakai Simon yang pernah menyangkal-Nya itu. Di dalam Kisah Para Rasul disebutkan bahwa tatkala Simon Petrus berkotbah, yang bertobat itu lima ribu orang, tidak termasuk anak-anak dan kaum wanita.

Sebagai manusia kita ini lemah, sangat riskan untuk jatuh dan gagal. Namun kita tidak perlu takut, sebab tatkala kita gagal – Tuhan Yesus itu telah berdoa untuk kita. Bukan hanya itu, di dalam rangka peristiwa Jumat Agung, maka saya teringat Getsemani dan Golgota. Tuhan Yesus bukan hanya berdoa untuk kita, terlebih dari itu ia telah mati untuk kita juga. Ia mati untuk menebus segala dosa-dosa kita. Semestinya Tuhan berpaling terhadap wajah kita, karena kita bobrok, dan tidak ada artinya. Namun kematian Yesus, telah menggantikan kebobrokan tersebut menjadi bernilai di hadapan-Nya. Status kita pun berubah, kita menjadi anak Tuhan, bukan lagi manusia yang dikuasai dosa.

Setelah semua itu kita alami, kita tidak diminta menjadi orang percaya yang egois, melainkan kita justru akhirnya dapat menjadi berkat bagi orang lain. Kita harus menguatkan yang lemah, membangkitkan merka yang jatuh. Dengan demikian maka kegagalan tersebut akan terasa menjadi kemenangan yang besar. Tuhan Yesus mati di atas kayu salib, orang banyak berpikir hal ini merupakan suatu kegagalan; namun kematian Yesus adalah kematian yang sementara; ia telah bangkit dari kubur-Nya. Dan di sinilah kita melihat kemenangan besar itu terjadi. Maut telah dikalahkan, dosa sudah keok, iblis sudah hancur; maka orang percaya mesti bangkit.

 

Campbell , 07 April 2007
00.13 pm

 

Saumiman Saud
Selamat Paskah


--------------------------------------
Rom 8:28 "And we know that to them that love God all things work together for good, even to them that are called according to his purpose".

Kunjungi juga situs :
http://www.gii-usa.org atau
http://www.glorianet.org/

Bagi anda yang hendak join dengan milis 5MENIT2AYAT silahkan kirim email kosong ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya Please doakan untuk rencana menerbitkan buku-buku via Lentera Kehidupan literatur, ada satu judul Di Balik Topeng Orang Percaya sedang proses.

Oh ya, jika anda kebetulan berkunjung/sekolah/pindah di San Francisco or San Jose; jangan sungkan mampir ke Gereja Injili Indonesia San Jose. Atau supaya lebih jelas email ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya . Kebaktian di dalam Bahasa Indonesia hari Minggu jam 10.00 am
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."