• PDF

Ayah: Pria Idamanku

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 15:29
  • Ditulis oleh Saumiman Saud
  • Sudah dibaca: 2876 kali
Asal punya uang, maka di jaman modern seperti ini boleh dibilang segala-galanya dapat kita beli dan pilih. Mulai dari alat-alat elektronik termurah buatan China, hingga mobil mewah yang termahal. Tinggal gesek kartu kredit, semua bisa dibawa pulang ke rumah. Namun tidak dengan ayah, ia tidak bisa dibeli apalagi dipilih.

Secara normal tentu tidak ada ayah yang menyakiti anaknya, sebab bagaimanapun anak itu adalah darah dagingnya. Namun kadang dalama perjalanan hidup yang penuh tantangan ini kita bertemu dengan ayah yang menyakiti anak-anaknya. Kesibukan kerja di kantor, kadang kala memgakibatkan kurangnya perhatian sang ayah terhadap anak-anaknya. Sementara itu masalah yang terjadi di kantor, kadang pula mebawa dampak perubahan karakter sang ayah menjadi ayah yang tidak sabar dan kurang bijaksana. Hal ini jika tidak berusaha dihilangkan secara dinia, maka akan berakibat buruk antara sang ayah dan anak. Hubungan menjadi renggang, komunikasi menjadi kurang harmonis.

Jaman dulu ayah itu memang terkenal sebagai sosok ornag yang menakutkan; sehingga tidak jarang anak-anak yang lahir jaman dahulu sedikit sekali yang memiliki kenangan manis bersama sang ayah. Ayah pada saat itu dianggap sebagai sang kepala dalam keluarga yang harus dihormati dan ditaati sepenuhnya; bila perlu ayah itu tidak perlui banyak bicara yang penting berwibawa dan ditakuti. Namun karena perkembangan ilmu psikologi dan sosial, membuat sedikit demi sedikit adanya perubahan. Ayah masa kini lebih diharapkan sebagai teman dari anak-anak dan bahkan mereka yang diharapkan menjadi tempat berkonsultasi. Namun sayangnya hal ini tidak mudah dilakukan oleh seorang ayah. Apalagi kecanggihnan teknologi, misalnya komputer, televisi, games telah mengalihkan dan merampas semua perhatian anak ke arah itu. Sedangkan sang ayah sibuk dengan dunia kerjanya, rapat, deadline projek demi projek telah membuat jurang pemisah ini bertambah pula.

Hubungan yang renggang dan komunikasi yang kurang telah mebuat sang anak mencari dunianya sendiri dan orang lain. Jikalau keagamaan sang anak tidak kuat, maka kondisi yang mencemaskan serta mengerikan bakal terjadi. Anak dapat bergaul dengan bebas, melakukan apa saja, karena memang sang ayah tidak dapat menaruh perhatian sepenuhnya kepadanya. Apalagi pada saat bersamaan sang ibu juga merupakan wanita karir.  

Menurut Irwanto, Phd[1], sejak 1997 ada dorongan gerakan partisipasi kaum pria dalam keluarga. Gerakan ini kemudian muncul di tingkat dunia lantaran selama kurun waktu 15-20 tahun terakhir, terjadi pergeseran konsep dari motherhood menjadi parenthood. Dalam parenthood ini bukan hanya ibu yang penting, namun kedua-duanya yakni ayah dan ibu. Pada masa lalu ayah itu adalah sosok yang ditakuti, namun saat ini banyak ayah muda merasa tidak adil. Mengapa anak-anak harus takut pada ayah? Mengapa ayah harus menjdi musuh anak-anak?

Ayah masa kini seharusnya berbeda dengan ayah masa lalu, mengapa? Karena ayah masa kini berusaha lebih dekat dan memantaui sang anak. Ia ingin anak-anaknya menjadi teman main, teman ngobrol, teman berekreasi dan teman bertukar-pikiran. Jika ayah jaman dulu tertutup seratus persen akan hal ini, maka ayah masa kini tidak lagi. Itu sebabnya maka tuntutan terhadap sang ayah lebih banyak.

Sering terjadi ketimpangan sebab kadang ada ayah masa kini tidak dapat memenuhi tuntutannya. Kesibukan kantor memaksanya harus mengurangi aktifitasnya bersama sang anak. Oleh kareana itu tidak jarang kerenggangan terjadi. Namun semua ini dapat tetap dapat diatasi asal sang ayah tercinta tetap waspada dan berusaha merebut kembali waktu bersama sang anak. Cuti dan menjalani piknik bersama mungkin merupakan suatu acara pilihan yang cocok untuk itu, namun itu hanya sebenatar; itu sebabnya perlu ada perbaikan hubungan selama sang anak masih dapat diraih oleh ayah tercinta.

Menjadi seorang ayah yang baik memang tidak segampang segerobak teori, artinya tidak sekadar membaca buku-buku best seller.[2] Ayah yang baik juga tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan anak, makan , minum , sekolah dan uang jajan. Tetapi ia harus menaruh perhatian kepada mereka. Contoh teladan merupakan modal utama dari seorang ayah terhadap anak-anaknya. Apa yang diucapkan juga apa yang dilakukan merupakan hal yang tidak boleh dikesampingkan. Ayah bisa tertawa bersama anak-anaknya, ia juga bisa menangis bersama anak-anaknya.

Setiap ayah pasti memiliki kelemahan, kadang kita merasakan kasih sayangnya, ada canda, tawa dan sukacita, namun kadang kita melihat ia  cemberut, sedih dan marah. Jika hubungan kita tidak erat, maka kita tidak  tahu apa yang terjadi dengan sang ayah Mungkin ia merasa tertekan dengan perjuangan hidupnya, usahanya bermasalah, Mungkin ibu lagi ngambek padanya, atau ada orang yang menyakiti hatinya? Namun, bagaimana pun keadaannya, ia tetap adalah ayah kita.

Saya ingat kejadian pagi itu, memang tidak seperti biasanya, tetapi pagi ini lumayan sibuk, sebab ada beberapa orang yang harus dihubungi, baik via telepon maupun email. Pagi-pagi sekali anak saya yang laki waktu itu umur 3,5 tahun, ia sudah bangun, biasanya ia langsung menuju ke arah pintu lalu membawa surat kabar dan diserahkan kepada saya. Setelah itu biasanya, ia juga ikut-ikutan baca suratkabar itu, padahal ia belum bisa membaca, kecuali abjad dan angka.

Kemarin di gereja memperingati hari Ayah, anak-anak Sekolah Minggu rupanya juga mendapat hadiah berupa alat gambar. Saya sudah wanti-wanti padanya, saya bilang “ En, namanya En En, perhatikan ya, yang boleh kamu gambar hanya kertas ini, lihat yang lalu kamu melukis dinding, papa dan mama dengan setengah mati sudah menghapusnya. Lima belas menit kemudian, ia masuk ke ruang kerja saya, dan ia membawa selembar kertas yang dia gambar coret-coretan, dia warnai semua, saya memuji dia bagus, bagus sekali, hebat, good job. Lalu saya menempelkan hasil karyanya di depan pintu kamarnya, ia merasa senang dan berkali-kali  memperlihatkan gambarnya pada mamanya. Saya juga merasa senang -- ia merasa bahagia sekali.

Kemudian saya menerima telepon dan melanjutkan menghubungi beberapa orang, sementara saya mendengar suara, En En bernyanyi-nyanyi. Kira-kira sepuluh menit kemudian, saya mengintip dia kembali, aduh celaka, ia melukis lukisan di karpet. Langsung saja saya panggil dia dengan agak keras, En En!!!! kenapa kamu melukis karpet itu? Bukankah saya sudah beritahu kamu, jangan melukis di karpet?. Waktu itu dia kaget, dan saya sempat memukul tangannya dua kali. Matanya mulai berair mau menangis, tetapi saya tahu ia sengaja menahan terus.

Sambil membawa kain basah dan sabun saya sengaja memperlihatkan cara membersihkan karpet, dan dilanjutkan dengan ngomel-ngomel. En En diam seribu bahasa, sekali lagi ia tetap menahan tidak berani menangis. Saya katakan padanya, En En harus mendengar papa, kalau tidak mendengar maka En En pasti dihukum. Sekarang ini En En bersalah, makanya papa marah.

Selesai membersihkan, kemudian dengan lembut saya memanggil En En, kali ini dia ragu, sebab tadi saya marah padanya, ia takut tidak berani mendekat. Saya coba meyakinkannya bahwa saya tidak marah lagi. Saya katakana marilah, En En nggak boleh melukis-lukis karpet lagi. Ketika ia berada di pelukan saya, dia langsung menangis sekuat-kuatnya, tadinya ia menahan sedemikian rupa, ia hanya membiarkan air matanya menetes, namun saat ini, di pelukan saya yang erat ia seakan-akan bilang pada saya, papa maafkan saya. Saya bilang ama dia, papa tidak marah lagi, papa sayang En En, makanya papa tidak suka En En buat hal yang salah. Beberapa saat kemudian tangisannya pun reda, pagi itu juga kami berdamai kembali, dia kembali bernyanyi dan main mobil-mobilannya.

Saya tidak mengerti kondisi anda sebagai seorang ayah saat ini? Ada orang mengatakan ayahnya tidak pernah marah?  Oh good. Mau lakukan apa saja diperbolehkan. Lalu orang ini berkesimpulan ayahnya adalah ayah yang the best baik. Sebaliknya ada orang yang ayahnya begitu diktator, termasuk memilih sekolah, bergaul, berpacaran dan semua kehidupannya dipantau dengan super ketat. Lalu si anak merasa begitu tertekan, dan tersiksa, kemudian ia berkesimpulan bahwa di dalam diri ayahnya tidak ada pernah ada kenangan manis.

Bagaimana, dan siapapun ayah kita, semuanya pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya. Kita tidak berhak mengelak kenyataan dan membantah. Apabila engkau pernah atau hingga hari ini memperlakukan anak-anakmu dengan kasar, ketahuilah; mereka tidak suka hal itu. Jangan tinggalkan luka dalam hati anak-anak anda. Ayah yang baik adalah ayah yang rela memaafkan dan berkorban untuk anaknya. Inilah model Pria idaman dari seorang anak. Ayah bukan hanya memperhatikan sang anak, tetapi ia juga merupakan seorang sosok yang memberikan semangat pada anak-anaknya. Bukan hanya pada waktu ia berhasil saja, tetapi terlebih penting pada waktu ia gagal. Ayah yang baik juga mengerti dan mengetahui jelas keadaan anaknya saat ini. Ia tahu jelas masalah pelajaran, kesehatan bahkan kerohanian anaknya. Sudahkah engkau menjadi model ayah seperti itu? ( San Jose , 17 Juni 2006, Hari Ayah 2007)

*) Penulis adalah  pemerhati, rohaniwan yang berdomisili di San Jose, California, USA



[1] Irwanto Ph.D adalah dosen Unika Atmajaya, Jakarta . Dikutip dari harian Kompas 23 Agustus 2006, dalam artikel yang berjudul Menjadi Ayah yang hangat

[2] Saya kutip sedikit kisah ini dari harian sore Sinar Harapan terbitan tanggal, 13 Agustus 2005 dengan judul artikel "Ayah, mengapa engkau marah hari ini?" http://sinarharapan.co.id/berita/0508/13/opi04.html


--------------------------------------
Rom 8:28 "And we know that to them that love God all things work together for good, even to them that are called according to his purpose".

Kunjungi juga situs :
http://www.gii-usa.org atau
http://www.glorianet.org/


Bagi anda yang hendak join dengan milis 5MENIT2AYAT silahkan kirim email kosong ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya Please doakan untuk rencana menerbitkan buku-buku via Lentera Kehidupan literatur, ada satu judul Di Balik Topeng Orang Percaya sedang proses.

Oh ya, jika anda kebetulan berkunjung/sekolah/pindah di San Francisco or San Jose; jangan sungkan mampir ke Gereja Injili Indonesia San Jose. Atau supaya lebih jelas email ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya . Kebaktian di dalam Bahasa Indonesia hari Minggu jam 10.00 am

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
LarsenSheila  - respond     |91.201.66.xxx |31-12-2010 04:52:16
That is great that people are able to receive the business loans and this opens
new opportunities.
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."