• PDF

Jika Raksasa Itu Hendak Dikalahkan -- (1 Samuel 17)

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 15:31
  • Ditulis oleh Saumiman Saud
  • Sudah dibaca: 3225 kali
     Apabila kita mengingat kembali peristiwa-peristiwa besar dalam Alkitab, ternyata peristiwa-peristiwa yang besar bukan terletak pada perang antar negara atau bangsa, namun justru perang perorangan antara Daud dengan Goliat. Sebenarnya pertempuran ini bukan pertempuran yang wajar, karena kekuatan mereka jika diukur di meja pertarungan tidaklah seimbang. Di atas kertas Goliat itu harus menang atas pertandingan ini. Mengapa? Karena tubuh Goliat itu lebih besar. Alkitab mencatat ukuran tubuh Goliat itu kira-kira 9 kaki dan 9 inci atau 2,97 meter, jadi hampir 3 meter. Lebih tinggi dari pemain basket yang bernama Yao Ming, karena Yao Ming tingginya hanya 2,29 meter. Goliat bahkan sudah diberi gelar si manusia raksasa.

            Namun rupanya apa yang diperkirakan manusia justru berbeda dengan kenyataan. Daud yang bahkan tidak kuat mengenakan seragam perang ini dapat mengalahkan Goliat yang penuh dengan berbagai perlengkapan perang. Pertanyaannya mengapa demikian? Ada apa dengan sang Goliat? Apa kelebihan Daud? Mari kita lihat bagaimana Daud dapat mengalahkan si raksasa itu?         Ada banyak hal yang perlu diperhatikan bila seseorang hendak mengalahkan raksasa, namun melalui kesempatan ini kita akan coba melihat tiga cara yang dipakai oleh Daud. 

1. Daud sadar bahwa Tuhan pernah memeliharanya

Tidak ada musuh yang tidak membahayakan, termasuk juga musuh Daud saat ini. Namun mengingat apa yang telah Tuhan perbuat di dalam sejarah hidupnya maka Daud tidak merasa gentar. Daud tidak harus merasa cemas terhadap musuh, karena sesuai pengalamannya pada masa lalu Tuhan pasti menolongnya. Coba kita perhatikan 1 Samual 17:34-37, raja Saul sudah merasa gentar dan takut  terhadap Goliat (ay 11). Padahal Saul sendiri adalah orang yang terpilih, ingat bahwa tubuhnya lebih tinggi dari seluruh bangsanya, namun dihadapan Goliat ia menjadi takut.

Tatkala Daud mengetahui bahwa raja Saul tak berdaya, maka ia menawarkan diri untuk melawan musuh tersebut. Namun ia kurang mendapat tanggapan yang positip, karena selain Daud masih muda juga belum berpengalaman berperang (ay 33). Lalu Daud menceritakan bagaimana pengalamannya sebagai seorang gembala domba. Tatkala Singa dan Beruang menerkam dombanya, ia berdiri menyerang, menghajar dan membunuhnya. Daud tahu, bahwa semua kekuatan dan keberanian ini bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi di dalam ay 37 ia mengatakan: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Sehingga meyakinkan Saul dan ia berkata: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau." 

Mengingat kembali apa yang Tuhan pernah kerjakan dalam hidup kita dapat memberikan kekuatan secara khusus bagi kita. Ternyata selama ini Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Nah, kalau selama ini Tuhan telah memelihara kita begitu rupa, tentu untuk hari ini dan masa-masa mendatang Tuhan yang sama juga tidak meninggalkan kita. Kadang lucunya Tuhan justru mendatangkan kebaikan bagi kita melalui orang-orang yang sebenarnya hendak mencelakakan kita. Mungkin anda juga pernah mengalami seperti ini?

Kira-kira apa yang saat ini sedang menjadi musuh terbesar dalam hidup anda? Kesulitan mendapat pekerjaan? Persoalan keluarga? Masalah dalam perkuliahan? Sakit yang diderita tidak kunjung sembuh? Bukankah pada waktu-waktu silam Tuhan sudah memelihara engkau? Bahkan Tuhan Yesus juga telah mati untuk engkau, apalagi yang perlu ditakuti? Ada orang bilang kematian itu merupakan ketakutan yang paling dahsyat? Namun bukankah yang lebih baik dari itu sudah kita dapatkan yang keselamatan setelah kematian? Oleh sebab itu kalaupun ada bahaya yang mengancam hingga ingin merengut nyawa, kita pun tidak perlu gentar; sebab dahulu Tuhan telah menyelamatkan kita dan untuk hari ini dan masa mendatang juga berlaku hal yang sama.

2. Daud hanya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan

            Janji muluk-muluk dari dunia dapat mengecewakan kita, termasuk orang-orang yang paling dekat dengan kita. Suami, isteri, anak-anak dan para sahabat dekat dapat mengecewakan kita. Kita tidak dapat mengharapkan manusia sepenuhnya, karena hati mereka begitu cepat berubah. Pada waktu manusia itu  baik, maka rasanya baik sekali, namun bila terjadi benturan maka ia akan menjadi jahat sekali. Jadi di dunia ini tidak ada yang dapat kita andalkan. Diri sendiri juga bukan andalan (Hosea 10:13), karena tiba saatnya juga akan hancur dan lenyap. Lalu apa lagi yang dapat kita andalkan? Senjata? Uang? Titel? Jabatan? Kesehatan? Semua itu suatu saat akan lenyap dan hilang begitu saja. 

            Daud sangat memahami masalah ini. Baginya pakaian perang dan segala senjatanya tidak dapat diandalkan, selain tidak biasa baginya juga sangat berat, sehingga ia tidak sanggup berjalan. Fokus utama Daud saat ini bukan kepada sang musuh, namun ia berfokus pada Tuhan. Maka satu-satunya yang perlu diandalkan hanya Tuhan. Yeremia 17:7 mencatat ”Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” Kemudian Daud mengambil tongkatnya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia maju mendekati orang Filistin itu. (1 Samuel 17:40) 

            Hari ini apa saja yang menjadi andalan di dalam kehidupan anda? Kekayaan dapat lenyap, jika umur, maka kita dapat menjadi tua, teman bisa meninggalkan kita, pasangan hidup sifatnya sementara; satu-satunya yang paling utama adalah Tuhan, Ia tidak pernah meninggalkan kita. Mari bersandar sepenuh pada Tuhan, maka Ia pasti memberikan pertolongan pada kita.

3. Daud mengambil inisiatif beregerak maju

Dalam kondisi yang genting ini, Daud tetap tidak pernah merasa gentar; karena Ia tahu Tuhan bersamanya, dan ini merupakan modal utamanya. Dalam 1 Samuel 17:38-39 terlihat nyata bahwa Daud bukan berdiam diri menunggu nasib, tetapi ia mengambil inisiatif bergerak maju, walaupun musuh menyerang dengan penuh kegeraman. Daud memenangkan pertandingan akbar ini, karena Daud tahu untuk mencapai keberhasilan maka kita tidak boleh berdiam diri. Sebuah batu kecil telah menempil di dahi Goliat, sehingga membuatnya terkapar. Maju terus dan dan pantang menyerah. 

Sewaktu saya masih tinggal di Kampus Seminari, Malang, teman saya pernah bercerita suatu pengalaman yang unik dan menarik. Di Asrama sekolah dipelihara dua ekor anjing yang cukup galak. Jadi kalau malam hari setelah jam 23.00 anjing itu bakal dilepaskan hingga besok pagi kira-kira jam 05.30 baru anjing tersebut dimasukkan ke dalam kandang. Seorang teman seangkatan yang biasanya olahraga pagi kali ini cukup kelabakan karena ia dikejar oleh anjing tersebut. Di tengah-tengah kepanikan itu, apalagi tatkala ia tidak memiliki tempat untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba ia menjadi nekad. Ia membalikkan dirinya dan mengejar anjing itu; ternyata anjing itu yang melarikan diri. 

Bila ketakutan datang menyerang, kita tidak boleh tinggal diam, kadang kita juga perlu mengambil “sikap menyerang balik”. Kata '‘sikap menyerang balik” sengaja dipasang tanda petik maksudnya serangan baliknya itu bukan dalam arti balas dendam, namun justru melakukan yang terbaik. Dalam konteks ini Daud telah melakukan yang “terbaik” karena dengan demikian ia telah meyelamatkan seluruh bangsanya.

Sebuat artikel yang  disajikan oleh majalah Fortune mengenai sebuah perusahaan kecil yang berhasil mengalahkan jaringan kedai kopi raksasa Starbucks. “Saya hanya punya dua pilihan, melakukan hal yang radikal atau dengan terpaksa menutup usaha saya,” kata pengusaha Mike Sheldrake yang tokonya sedang mengalami ancaman. Usahanya telah berjalan 22 tahun, Polly’s Gourmet Coffee di Long Beach, California. Dengan dibukanya toko Starbucks yang hanya berjarak sembilan blok, menyebabkan pendapatan per-tahun Sheldrake yang bernilai $1 juta mengalami penurunan lebih dari 5% setiap bulannya. Akibatnya dalam setahun pandapatannya turun hingga bernilai $800.000.

Tidak lama kemudian, toko Starbucks lainnya dibuka lagi, kali ini jaraknya kurang dari 100 meter. Sebenarnya Sheldrake dapat saja menutup usahanya dan pindah tempat, namun seperti tokoh dalam Alkitab ini, Sheldrake memutuskan untuk bertarung. Sheldrake menggunakan pendekatan yang tepat sasaran yakni dengan beranologi pada "5 batu licin" yang diwujudnyatakan dalam bentuk memperbaharui penampilan toko, traning kembali para pegawai, insentif kerja pegawai dinaikkan, mulai menjual biji kopi hangat yang disajikan langsung dari pemanggang. Dan yang kelima teknik yang paling jitu dan ampuh yakni pemanggangnya yang dibuat tahun 1929 diletakkan di tengah-tengah toko untuk menarik perhatian orang. Bersama dengan tekad dan komitmen untuk melakukan pelayanan yang lebih baik akhirnya tim Sheldrake ini dapat mempertahankan eksistensi toko tersebut, walaupun sebenarnya mereka sedang menghadapi toko kopi raksasa Starbucks.

            Kehidupan kita di dunia ini penuh tantangan, dan semua itu muncul berupa raksasa yang begitu menakuti kita. Jika raksasa ini hendak disingkirkan, maka kita perlu ingat bahwa kasih Tuhan begitu luar biasa pernah terjadi dalam hidup kita, kita juga harus mengandalkan Tuhan saja, bukan pada manusia atau materi dan yang paling penting kita jangan berdiam diri, namun kita harus bergerak maju dan pantang menyerah. Maju tak gentar membela yang benar. (San Jose, 25 Juli 2007, 11:39 pm)



--------------------------------------
Rom 8:28 "And we know that to them that love God all things work together for good, even to them that are called according to his purpose".

Kunjungi juga situs :
http://www.gii-usa.org atau
http://www.glorianet.org

Bagi anda yang hendak join dengan milis 5MENIT2AYAT silahkan kirim email kosong ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya Please doakan untuk rencana menerbitkan buku-buku via Lentera Kehidupan literatur, ada satu judul Di Balik Topeng Orang Percaya sedang proses.

Oh ya, jika anda kebetulan berkunjung/sekolah/pindah di San Francisco or San Jose; jangan sungkan mampir ke Gereja Injili Indonesia San Jose. Atau supaya lebih jelas email ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya . Kebaktian di dalam Bahasa Indonesia hari Minggu jam 10.00 am

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."