• PDF

Kritik Dengan Kasih Bukan Dengan Benci

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 07 April 2015 17:00
  • Ditulis oleh Saumiman Saud
  • Sudah dibaca: 4244 kali

Kritik merupakan suatu masukan atau teori supaya seseorang atau organisasi itu menyadari adanya kelemahan dan perlu perubahan. Semua kritikan yang masuk kepada kita haruslah  didengar dengan baik-baik, namun tidak semua kritikan harus ditanggapi. Kritikan yang disampaikan dengan penuh emosional dan kebenciaan serta sifatnya menjatuhkan kita semata-mata harus diwaspadai dan dicermati dengan penuh hikmat, kemudian diabaikan, sedangkan kritikan yang sifatnya membangun, memperbaiki kita supaya lebih baik dan disampaikan dengan penuh kasih, inilah yang harus kita responi dengan mengambil tindakan memperbaiki.

Konteks utama yang sangat hangat dibicarakan saat ini adalah pemimpin dan calon pemimpin di negara Indonesia. Jika kita sebagai seorang pemimpin, kita tidak dapat membuat semua orang senang dan menerima kita, apalagi pemimpin yang berada di Jakarta. Kota megapolitan ini merupakan ICON-nya Indonesia, jadi boleh dikatakan sebagai replika Indonesia. Semua suku ada di sana, berbagai macam bahasa suku dan ragam agama ada di sana; nah sebagai pemimpin kita harus menghadapi mereka termasuk memahami karakternya. Ini baru tugas memahami orangnya, belum lagi pembangunan dan tetek bengek yang lain.

Ada sebuah cerita menarik yang dapat kita pelajari dari seorang pujangga Yunani yang bernama Aesof. Suatu hari ada seorang kakek yang sedang berjalan bersama cucunya, dan sambil berjalan mereka membawa seekor keledai dari suatu desa ke desa yang lain. Perjalanan yang mereka tempuh ini sangat jauh, sehingga mereka berdua merasa capek sekali. Di tengah perjalanan mereka bertemu seorang gadis, melihat mereka begitu capek maka gadis itu berkata "Hai saudaraku, saya lihat kalian begitu capek?, kenapa kalian tidak naik saja di atas keledai? Bukankah akan menghemat banyak tenaga kalian?"

Kakek dan cucu ini saling memandang, akhirnya sang kakek minta cucunya naik keledai itu. Namun tidak seberapa jauh, mereka bertemu dengan seorang petani "Hai anak muda!" demikian kata petani itu, "Engkau masih muda, mengapa kamu tega membiarkan kakekmu berjalan, sementara engkau dengan santai duduk di atas keledai?, bukankah lebih bijaksana jikalau engkau yang berjalan dan kakekmu yang naik keledai?" Mendengar itu sang cucu dengan malu cepat-cepat turun dari keledai tersebut sembari mempersilahkan kakeknya naik. Tetapi baru berjalan setengah jam, mereka bertemu seorang ibu "Hai sahabatku, apakah kalian tidak kasihan pada keledai yang lemah itu?" Sang kakek dan cucu berpikir sebentar, betul juga apa yang dikatakan perempuan itu. Akhirnya kakek dan cucu ini terpaksa berjalan kaki kembali sambil menggendong keledainya. Kita tidak bisa mendengar begitu saja kritikan orang-orang, masing-masing dengan pendapat yang berbeda. Kita perlu Hikmat yang dari atas.

Demikian juga dalam sebuah negara, masyarakat harus maklum jikalau sang pemimpin memiliki kekurangan karena mereka juga manusia biasa, itu sebabnya adanya kritikan; tetapi kritikan itu harus dengan kasih supaya sang pemimpin memperbaiki. Seorang pemimpin mesti mendengar segala kritikan, tetapi ia tidak mesti mengikuti segakla kritikan itu, karena belum tentu kritikannya benar. Selanjutnya, jikalau ada orang yang ngotot dengan kritikan penuh dendam dan bermaksud hendak menjnatuhkannya, maka dalam hal ini sebagai pemimpin harus mencoba supaya tidak menghiraukannya sepanjang tidak menyangkut keselamatan fisik sang pemimpin,

 

 

The Cornerstone (updated)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."