Pemimpi Pragmatis

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Apa yang mendominasi pikiran Anda hari-hari ini:
- Ancaman Terorisme di negara Asia? 
- Resesi ekonomi global?
- Konflik agama dan sosial di Indonesia? 
- Perbudakan anak di sweatshops yg ada di negara berkembang? 
- Atau jaringan pencopet yang beraksi di pasar sebelah rumah?

"Let's face it", ini frase populer yang akan semakin populer. Let's face it, hidup kita diwarnai oleh begitu banyak hal-hal negatif ketimbang yang positif. Kalau kita menjadi pesimis, itu sangat manusiawi. Come on, let's face it.

Berhadapan dengan sistem yang berlaku di Indonesia, baik itu di universitas, di tempat kerja, maupun di masyarakat, kita mendadak hilang semangat. Melihat sistem, struktur, dan kultur yang begitu kompleks dan korup, bukan saja kita pesimis bahkan kita menjadi apatis. Indonesia penuh dengan, meminjam istilah C.S. Lewis, 'men without chest', yaitu manusia yang ½ hidup ½ mati karena hati nuraninya telah dicangkok. Astaganaga!

Karena begitu biasa bersentuhan dan hidup dibawah system tersebut, kita perlahan menderita mati rasa, dan menjadi kebal. Tidak jarang lalu kita berpikir, daripada apatis terus, lebih baik ikut bermain dalam sistem, menjadi oportunis dan masuk dalam bisnis tunggang-menunggangi sesama untuk menggelembungkan diri. Aji-aji mumpung, atau dalam bahasa yang lebih keren, "If you can't beat them, join them." Ujung-ujungnya, kita menjadi seorang narsisis (jatuh cinta pada diri sendiri). 

Dalam level yang mana Anda berada saat ini: Pesimis, Apatis, Oportunis, atau Narsisis? 
Semoga bukan di level manapun.

Sebaliknya, kita harus berani bermimpi. Dan menjadi pemimpi. Bukan pemimpi di tengah malam buta, namun pemimpi di siang hari bolong, seperti yang ditulis T.E. Lawrence berikut:

All men dream; but not equally. 
Those who dream by night in the dusty recesses 
of their minds awake to find that it was vanity.

But the dreamers of day are dangerous men, 
that they may act their dreams with open eyes to make it possible.

Pemimpi di siang hari bolong adalah pemimpi yang merindukan sebuah realita alternatif yang sangat kontras dengan realita kini yang parah dan korup. Kapasitas untuk berimajinasi ke depan, untuk meng-entertain idealisme di tengah pesimisme, untuk menantang status quo, dan lalu bertindak konkrit merealisasikan impian tersebut tersebut, itulah karakter pemimpi pragmatis. 

Dalam kalimat Robert Kennedy:

Some men see things as they are and say, why? 
I dream things that never were and say, why not? 

Ketika MLK, Jr. melihat rasisme yang sangat brutal terhadap African-American, yang telah menjadi bagian dari social fabric dari masyarakat, dia berani bermimpi. Mimpi yang radikal. 

Mimpi dimana derajat hidup anak-anaknya tidak akan dinilai dari warna kulit mereka, namun dari integritas karakter mereka. Mimpi dimana anak-anak dari para bekas budak dan anak-anak bekas pemilik budak duduk bersama dalam satu meja persaudaraan. 

Impian inilah yang membuat dia bertahan dalam perjuangan yang membuatnya berhadapan dengan ancaman, pukulan, tembakan, dan bom. 

Jika kita melihat kembali ke Alkitab, kita akan temukan bahwa Allah Alkitab adalah Allah yang memanggil umatNya untuk berkolaborasi dengan Dia berkarya menghadirkan realita nilai-nilai kerajaan Allah di tengah sistem nilai dunia yang melawan Allah, dan yang amburadul. Itu sebab Ia 'memberi' mimpi kepada Abraham, Yakub, Musa, Nehemia, Gideon, Paulus, dan bahkan sampai hari ini kepada Anda dan saya!

Jika kita berani menerima mimpi, dan berani merealisasikannya dengan sekuat tenaga, mimpi itu akan mengubah hidup kita secara radikal. Dan kita tidak akan 'tawar hati' menghadapi berbagai tantangan dan kegetiran hidup. Inilah rahasia rasul Paulus menjalani hidup yang begitu sulit dan keras, yaitu hidup yang dimotivasi dan didorong oleh impiannya

"Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan" (2 Kor 4:18). Karena itu, ia dimampukan untuk tetap optimis. Dalam segala hal ia dan koleganya "ditindas, namun tidak terjepit; habis akal namun tidak putus asa; dianiaya, namun tidak sendirian; dihempaskan namun tidak binasa (2 Kor 4:8-9). 

To die hard, you have to live by the unseen, kurang lebih begitu rahasia ketegaran hidup Paulus.

Jangan terjebak dengan apa yang kita lihat karena itu akan mempedaya kita. Lalu menyeret kita masuk kedalam lingkaran pesimisme-apatisme-oportunisme-narsisisme. Namun jadilah pemimpi pragmatis, untuk menghadirkan realita alternatif sesuai kapasitas dan resources yang Allah berikan (tepatnya, titipkan) kepada kita masing-masing. 

Mari kita bermimpi bersama. Dan merealisasikan impian tersebut dalam anugerahNya. Kecuali jika Anda dan saya memang tidak serius menjadi pengikut Kristus. Spiritualis Kristen Henry Nouwen suatu kali berkata, "You are a Christian only so long as you constantly pose critical questions to the society you live in...so long as you stay unsatisfied with the status quo and keep saying that a new world is yet to come"

Sebelum menjadi pemimpin, Anda harus menjadi pemimpi terlebih dahulu. Maukah menjadi pemimpi pragmatis?

Sendjaya
Melbourne, 30 Oktober 2002
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."