Imitasi Kristus: Tantangan Radikal Pemimpin Kristen

Penilaian Pengunjung: / 4
TerjelekTerbaik 
"When Christ calls a man, he bids him come and die", demikian kalimat mutiara yang pernah keluar dari mulut Pendeta Dietrich Bonhoeffer.

Ikut Kristus, berarti mati. Begitu jernih kualitas konfiksi iman Bonhoeffer, sehingga terkadang menyilaukan bagi Anda dan saya, yang seringkali malu-malu dlm perjalan kita mengikut Kristus. 

Sekitar 57 tahun yang lalu, 9 April 1945, Dietrich Bonhoeffer, dihukum mati di tangan 
S.S. Black Guards di Concentration Camp di Flossenburg, hanya beberapa hari sebelum Gestapo menyerah kepada tentara sekutu.

Sebagai seorang teolog muda yang sangat berbakat jebolan Tubingen University dan Union Theological Seminary, karir Bonhoeffer begitu cerah. Ia menjadi dosen Systematic Theology di Berlin University ketika ia masih berusia 24 tahun. Lalu sempat menjadi gembala dari 2 jemaat di London. 

Namun Tuhan memiliki rencana lain dalam dan dengan hidupnya. Ketika Hitler mulai berkuasa di tahun 1933, ia telah sadar bahwa National Socialism Hitler adalah sebuah upaya manusia untuk menciptakan sejarah yang dibangun dengan manusia sebagai pusat. Tidak ada Allah didalamnya. Pergumulan ini mengkristalisasi dalam dirinya, menghasilkan sebuah konfiksi iman yang sangat kokoh.

Ia memilih keluar dari comfort-zone nya di London, dan kembali ke Jerman dimana ia membuka training college secara gelap. Namun itu ditutup dgn paksa oleh Gestapo. Ketika perang mulai terjadi di th 1935, teman-temannya berhasil membawanya keluar dari Jerman ke Amerika. Namun sekali lagi ia mengalami ketidaktenangan dalam hatinya.

Ia merasa bahwa ia harus kembali ke Jerman karena hatinya ada pada orang-orang yang tertindas dan teraniaya. Bagaimana ia dapat tinggal di comfort zone, menjadi seorang hamba Tuhan, berkhotbah dan melayani dengan hati nurani yang tidak terusik, sementara ia tahu ada saudara-saudaranya yang sedang menderita di bawah tirani Hitler?

Mana yang lebih baik dari kedua option berikut:
a. 100 orang dengan 90% komitmen kepada Kristus? 
b. 10 orang dengan 100% komitmen kepada Kristus? 

"Bukankah menjadi pendeta menggembalakan jemaat adalah pekerjaan yang memuliakan Tuhan?", demikian mungkin pergumulan Bonhoeffer. Dan ia bisa memakai justifikasi 'rohani' ini untuk tidak mentaati panggilan Allah dalam hidupnya. Lalu dengan tenang membuat hati nuraninya kebal terhadap panggilan Allah yang semakin mengecil. 

Benar memang kata Leo Tolstoy, "The test of observance of Christ's teachings is our consciousness of our failure to attain an ideal perfection. The degree to which we draw near this perfection cannot be seen; all we can is the extent of our deviation." 

Bonhoeffer tahu kecenderungan 'deviation' tsb. Dan ia memilih untuk taat. Yaitu taat terhadap panggilannya: melawan pemerintahan yang tidak lagi mempedulikan hukum 
natural dan hukum Allah. Bahkan ia melihat itu sebagai kewajiban setiap orang Kristen di hadapan Allah 

Setiap murid Kristus harus secara berkala bertanya pada dirinya sendiri: "Do I have a price? What is my price?" Anda dan saya harus jujur. Tanpa topeng. Tanpa kosmetik. Dan berani bertanya pada diri kita: What would it take for me to disobey God? 

Nehemia memilih keputusan yang sama untuk taat ketika ia harus meninggalkan posisinya, kenyamanan hidupnya, hak-haknya, keamanan hidupnya, cita-citanya, masa depan cerah-nya, di kerajaan Persia dan berjuang bersama saudara-saudaranya yang tertindas karena tembok Yerusalem tetap menjadi reruntuhan puing.

Sejak Bonhoeffer memilih untuk taat dan kembali ke Jerman, dimulailah perjuangan panjang yang berat yang diwarnai dengan tetesan air mata, keringat, dan darah.

Dalam korespondensi pribadinya dengan Reinhold Niehbur sebelum ia meninggalkan Amerika, ia menulis, "I shall have no right to participate in the reconstruction of Christian life in Germany after the war if I do not share the trials of this time with my people." 

Pendeta Bonhoeffer memulai sebuah gerakan politik bawah tanah, beroposisi dengan rejim Hitler. Sampai akhirnya ia ditangkap dan dipenjara di awal tahun 1943. Namun kesaksian hidup dan pelayanannya di penjara membuat para tawanan dan sipir mengenal
Kristus. Para sipir penjara sampai merasa perlu meminta maaf kepadanya setiap kali mereka harus mengunci pintunya. Bahkan mereka bersedia menyelundupkan tulisan dan puisi Bonhoeffer yang ditulisnya selama ia dipenjara. 

Ia dipindah beberapa kali ke concentration camp yang berbeda-beda sampai akhirnya ia menjalani panggilan termulia bagi seorang pengikut Kristus: mati sebagai martir 9 April 1945. 

Ketika Yesus memberitahu para murid tentang kematiaannya yg semakin dekat, Ia mengatakan "Unless a kernel of wheat falls to the ground and dies, it remains only a single seed. But if it dies, it produces many seeds" (John 12:24). Jika biji tidak jatuh ke tanah, diinjak-injak, dan mati, ia tidak akan pernah berbuah. Mau berbuah perlu mati dulu. Tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan. Tidak ada mahkota tanpa salib. 

Lalu Yesus berkata: "Whoever serves Me must follow Me" 

Itulah tantangan Yesus yang radikal (radix=root) kepada Anda dan saya hari ini yang mengaku menjadi muridNya. Jangan lupa, kata "kristen" hanya muncul 3x dalam PB. 
Sementara kata "murid" (atau mathetes) muncul 264 kali dalam kitab Injil dan Kisah Para Rasul. 

Jika kita mengaku murid, tantangan untuk menapaki jalan salib yang telah Ia tempuh ada pada Anda dan saya. Tantangan untuk menjadi imitasiNya. Allah tidak memanggil kita untuk menjadi "comfortable". Ia ingin kita menjadi "conformable" dengan AnakNya (Roma 8:29).

Stop menafsirkan ajakan "Menyangkal diri dan memikul salib" dalam arti kiasan/
metafora/analogi. Maksud Yesus adalah literal. Dan Ia telah tunjukkan itu dengan hidupnya. Menyerahkan segala hakNya kepada Bapa dan rela menderita demi menjalankan misi hidupNya. 

Bonhoeffer mengerti prinsip radikalisme imitasi Kristus. Dan ia telah menjadikan hidupnya sebagai monumen prinsip tersebut. Berikut kalimat mutiara yang menjadi wake up call bagi Anda dan saya:

Cheap grace is grace without discipleship, grace without 
the cross, grace without Jesus Christ, Living and Incarnate.

Costly grace is the gospel which must be sought again and 
again. Such grace is costly because it calls us to follow,
and it is grace because it calls us to follow Jesus Christ.

It is costly because it cost God the life of his Son,
and what has cost God much cannot be cheap for us. 
It is grace because God did not reckon his Son too dear
a price to pay for our life, but delivered him up for us.

Sendjaya
Melbourne, 04 Desember 2002
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."