• PDF

Yang Merasa Diri Pemimpin Sejati, Tolong Berdiri!

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 16:01
  • Ditulis oleh Sendjaya
  • Sudah dibaca: 3387 kali
Banyak orang menganggap dirinya sebagai seorang pemimpin Kristen (entah itu di kantor, di organisasi, di kampus, di rumah, di gereja), meskipun pemahaman dan aplikasi kepemimpinan mereka sangat berbeda dengan konsep kepemimpinan yang pernah diajarkan dan didemonstrasikan oleh Yesus Kristus.

Konsep kepemimpinan umum biasanya dikaitkan dengan konsep power (kuasa). Karena pemimpin diidentikkan dengan kuasa, muncul opini umum yang mengatakan bahwa seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki kuasa. Kuasa sendiri seringkali didefinisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi. Beberapa sumber kuasa yang popular termasuk posisi, uang, fisik, senjata, kepakaran, dan informasi.

Yang penting digarisbawahi disini adalah bahwa Yesus tidak meniadakan kuasa. Namun Ia memutarbalikkan konsep dan aplikasi kuasa. Bahkan tekanan Yesus samasekali bukan pada kuasa seorang pemimpin, namun kerendahan hati seorang pelayan. Kristus memandang kerajaanNya sebagai suatu komunitas individu yang melayani satu sama lain - mutual service (Gal 5:13). 

Dalam Alkitab versi King James, kata 'pemimpin' muncul hanya 6 kali, yaitu 3 kali dalam bentuk tunggal dan 3 dalam bentuk plural. Namun itu tidak berarti bahwa konsep kepemimpinan tidak penting dalam Alkitab. Yang sangat menarik, konsep pemimpin dalam Alkitab muncul dengan terminologi yang berbeda-beda. Yang paling sering dipakai adalah 'pelayan' atau 'hamba'. Allah tidak menyebut, "Musa, pemimpinKu" tetapi "Musa, hambaKu". 

Kata 'pelayan' menurut Nelson Bible Dictionary berasal dari akar kata Yunani "doulos" yang menunjuk kepada "someone under another's authority." Terminologi ini mengacu kepada sebuah kerelaan untuk mengambil tempat yang terendah, dan bertahan mengalami kesulitan dan penderitaan karena pelayanannya terhadap orang lain. 

Itulah sebabnya pemimpin Kristen adalah seorang pemimpin-pelayan. Tapi ini seringkali dianggap sebagai sebuah oxymoron. Bagaimana mungkin kita dapat menjadi pemimpin dan pelayan pada saat bersamaan? Kalaupun mungkin, apakah itu artinya pemimpin yang melayani atau pelayan yang memimpin? 

Untuk mengerti kedalaman dan menghargai keindahan konsep pemimpin-pelayan tersebut, kita perlu melihat beberapa acuan firman Tuhan berikut:

"Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya" (Markus 9:30-37)

Dalam konteks Markus 9 diatas, murid-murid Yesus meributkan tentang siapa yang terhebat diantara mereka. Dan mereka meributkan itu persis setelah Yesus memberitahukan untuk kedua kalinya bahwa Ia hendak menuju ke jalan salib. Sungguh ironis! 

Namun betapa persis! Persis menggambarkan kita manusia yang berambisi terhadap kuasa, dan berani menyebut diri pemimpin Kristen. Ketika Yesus mengkonfrontasi mereka, saya bayangkan betapa malu mereka. 

Yesus lalu mengajarkan kepemimpinan yang sejati. Bagi yang ingin di depan haruslah menjadi yang paling belakang.Yang ingin menjadi pemimpin, harus menjadi hamba. Untuk menjelaskan ini, Ia lalu merangkul seorang anak kecil sebagai model. 

Seorang anak kecil tidak memiliki pengaruh sama sekali, tidak memiliki kuasa. Namun Yesus berkata, siapa yang menyambut sesamanya yang tidak berarti, ia menyambut Tuhan. Kebesaran seorang pemimpin kristen tidak terletak pada berapa orang yang menjadi pengikutnya tetapi berapa banyak orang yang dilayani. Kebesaran seorang pemimpin kristen terletak justru pada komitmennya kepada mereka yang tersisih, kecil, marjinal, dan sering terlupakan. 

Yesus membalikkan seratus delapan puluh derajat konsep kepemimpinan yang dimiliki kebanyakan orang termasuk para murid-muridNya. Alkitab menulis bahwa tidak seorang pun yang kuasanya melebihi Dia (Yoh 13:3). Keempat Injil mencatat segala perbuatan ajaib yang pernah dilakukanNya. Namun Yesus tidak pernah sekalipun menggunakan kuasaNya untuk kepentingan diri pribadi. Ia menganggap kuasaNya sebagai sesuatu untuk Ia pakai untuk melayani orang lain. 

"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya" (Markus 10:43-44)

Belum lama kejadian di Markus pasal 9 berlalu, murid-murid Yesus kembali menanyakan kemungkinan mereka memperoleh posisi saat suksesi kepemimpinan terjadi. Dan ini terjadi setelah Yesus memberitahukan tentang penderitaan jalan salib yang akan Ia lalui untuk ketiga kalinya! Tragis bukan?

Kita pasti pernah mendengar maxim terkenal dari Lord Acton yang berkata bahwa "Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely." Yang kita mungkin jarang dengar adalah bahwa kebalikannya juga benar. Bahwa powerlessness juga punya tendensi untuk korup, sebagaimana pernyataan Edgar Friedenberg: "All weakness tends to corrupt and impotence corrupts absolutely." Sebagaimana ditulis oleh Machiavelli's dalam karyanya yang terkenal The Prince, manusia senantiasa memiliki ambisi terhadap kuasa, dan setelah memiliki kuasa cenderung meng-abuse kuasa tersebut. 

Untuk kesekian kalinya, Yesus menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah pelayanan. Kata "ingin" dan "hendaklah" dalam ayat 43 dan 44 diatas berasal dari kata "want" and "must" dalam bahasa Inggris dengan konotasi yang lebih tegas dan gamblang. Kita cenderung untuk berat sebelah, condong kepada sisi "want" dan melupakan sisi "must"-nya. Kita cenderung untuk ingin jadi besar, namun tidak mau menjadi pelayan bagi sesama kita. Kita memilih untuk menjadi yang terkemuka, namun tidak pernah rela menjadi hamba bagi orang lain.

Yesus lalu berkata tentang diriNya, "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang" (10:45). Inilah yang disebut Oswald Sanders sebagai the Master's Master Principle. 

Yohanes dan Yakobus tidak mengerti prinsip ini. Mereka menginginkan mahkota, namun menghindari salib. Mereka mengejar kemuliaan, tapi menjauhkan penderitaan. Mereka berambisi menjadi tuan, dan menolak disebut hamba. 

Dari penjabaran diatas, paling tidak ada beberapa kesimpulan yang bisa ditarik:

1. Memimpin adalah melayani, namun melayani belum tentu memimpin.
Yang tidak mau melayani, tidak boleh dan tidak berhak memimpin. 
Pemimpin adalah pelayan, namun pelayan belum tentu pemimpin.
Yang tidak rela menjadi pelayan, tidak layak menjadi pemimpin.

2. Pemimpin Kristen adalah pemimpin-pelayan. Dan pemimpin-pelayan bukan pemimpin yang melayani, namun pelayan yang memimpin. 

3. Pemimpin Kristen adalah hamba sesama manusia. Namun manusia bukan tuan kita, Kristuslah tuan kita. Kita berkata kepada sesama kita, "I am your servant, but you are not my master." Ada dua implikasi dari kelimat tersebut: (1) Kita menjadi pelayan bukan karena kita lemah, namun justru karena kita meneladani Kristus yang memakai kuasa bukan untuk kepentingan diri, namun untuk melayani, dan (2) Yang tidak bersedia tunduk dan taat kepada Kristus, tidak bisa menjadi pemimpin Kristen. 

Kepemimpinan ala Yesus Kristus sangat sulit dan sangat tidak natural. Namun konsep tersebut terus-menerus menantang saya yang juga terus-menerus diperdaya oleh dahsyatnya godaan kuasa. Entah bagaimana dengan Anda, namun saya melihat diri saya persis didalam diri Yohanes dan Yakobus serta para murid lainnya yang selalu ingin menjadi yang terutama, yang terkemuka, yang terdepan, yang terhebat, dan berbagai predikat superlatif lainnya. 

Kiranya Allah menolong Anda dan saya untuk melepaskan diri dari jerat kuasa, dan mengalami kemerdekaan untuk menjadi pemimpin sejati dengan melayani sesama.

"True greatness, true leadership, is achieved not by reducing men to one's service but in giving oneself in selfless service to them"
--
J. Oswald Sanders

Sendjaya
Melbourne, 11 Desember 2002
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."