• PDF

Natal Subversif

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 16:02
  • Ditulis oleh Sendjaya
  • Sudah dibaca: 1905 kali
Dunia modern memberi persepsi natal sebagai sebuah festive season di mana segala sesuatu yang tangible diberikan nuansa kebahagiaan (belanja natal, hadiah natal, pesta natal), kehangatan (menikmati pohon natal, lagu natal, dan hot chocolate), dan keceriaan (libur kerja dan kuliah, keluarga berkumpul, tukar kado). 

Namun natal yg pertama memiliki nuansa yang sama sekali berbeda dari scenario di atas. Natal pertama di Betlehem-Efrata adalah natal yang radikal, ekstrim, dan bahkan subversif.

Natal pertama adalah natal subversif karena ia menandai demonstrasi konkrit dari Allah yang tidak terbatas untuk membatasi diriNya dengan begitu ekstrim sebagai konsekuensi dari keputusan yang Ia ambil untuk berintervensi dalam kehidupan manusia. Aksi ini berkontradiksi dengan segala totalitas atribut dan eksistensi Allah yang Mahatinggi dan Mahakuasa. 

Paling tidak ada tiga titik subversif aksi Allah: 

Pertama, Allah begitu membatasi diriNya sampai-sampai kelahiran AnakNya Yesus Kristus bergantung penuhnya kepada dua orang remaja desa yang tidak berpengalaman dan diliputi ketakutan, Maria dan Yusuf. Jika kartu-kartu natal orang modern menggambarkan Maria dengan begitu lembut dan peaceful menggendong bayi Yesus, Injil Lukas mengatakan sebaliknya: Maria terkejut dan ketakutan ("greatly troubled"). 

Sejak malaikat Gabriel memberitahukan bahwa Maria akan mengandung Anak Allah yang Mahatinggi yang kerajaanNya tidak akan berkesudahan, Maria langsung memikirkan sesuatu yang sangat logis, "Bagaimana mungkin, aku masih seorang perawan!". 

Allah datang ke dunia dengan mengikuti aturan main dari dunia, yaitu bahwa setiap bayi yang lahir di luar nikah dan tanpa bapak yang jelas selalu mengundang kecurigaan dan cibiran orang. 

Bagi orang modern yang memiliki klinik aborsi untuk "memperbaiki kesalahan" banyak gadis muda, apa yang dialami Maria mungkin kurang begitu mencekam bagi kita. Namun pada saat itu, di tengah komunitas Yahudi yang kohesitas sosialnya begitu tinggi, berita yang Maria dengar begitu menakutkan karena hukum Yahudi memberi label gadis yang hamil di luar nikah sama seperti seorang pelacur, dan harus dirajam batu sampai mati. Itu sebabnya Matius mencatat bagaimana Yusuf, tunangannya, hendak menceraikannya diam-diam tanpa diketahui orang lain. Namun hal ini segera dicegah oleh malaikat. Dalam hati kecil mereka, mungkin ada sebuah jeritan, "Tuhan, mengapa ini semua terjadi? Mengapa kami?"

Kelahiran Yesus Kristus terjadi begitu kontras dengan kelahiran pendahulunya, Yohanes Pembaptis. Elisabet telah terlebih dahulu mengandung bayi Yohanes sebelum Maria mengandung bayi Yesus. Jika Elisabet bersukacita dengan seluruh tetangga dan kerabatnya karena rahimnya yang mandul telah mengalami mujizat Allah dan dibukakan, Maria berupaya begitu rupa menutupi aib yang ia harus tanggung dengan bayi di luar nikah, meskipun itu juga terjadi karena mujizat Allah. Sungguh aneh. 

Allah bekerja melebihi akal manusia dengan cara yang begitu unik pada setiap manusia. Namun barangkali tidak berlebihan kalau kita bertanya, mengapa justru kelahiran AnakNya mengakibatkan sebuah situasi yang sangat memalukan bagi Maria dan Yusuf, bukannya kebanggaan? 

Bayangkan selama 9 bulan lebih Yusuf diliputi rasa malu ketika orang melihat perut tunangannya semakin membesar. Apalagi Maria! Jika pasangan muda lain mengalami "kecelakaan" akibat sebuah act of passion yang terjadi dalam waktu singkat, tidak demikian halnya dengan mereka. 

Itu sebabnya mereka memiliki hak untuk protes, marah, dan menolak kandungan tersebut. Berapa kali mereka harus me-review janji malaikat Gabriel kepada mereka dan memaksa diri untuk rela taat? Maria dan Yusuf menjadi sebuah kasus klasik yang mengajarkan kita bahwa ketika Allah bekerja melalui manusia, maka ada sukacita besar yang terjadi namun terkadang didahului atau bersamaan dengan penderitaan yang tidak kalah besarnya. 

Namun yang paling subversif adalah keputusan Allah untuk menggantungkan seluruh proses lahirnya Juruselamat dunia di tangan seorang perawan muda belia dan tunangannya. Tentu argumentasi-argumentasi teologis dapat dikemukakan disini, namun terlepas dari itu, respon manusiawi Maria dan Yusuf yang dicatat Lukas dan Matius tidak menghilangkan kemungkinan kandungan bayi Anak Allah yang Mahatinggi digugurkan atau ditelantarkan setelah lahir. 

Kedua, Allah begitu membatasi diriNya sampai-sampai kelahiran AnakNya terjadi begitu sederhana di kandang hewan. Pada saat Yohanes Pembaptis lahir dan disunat pada hari yang ke-8, para sanak saudaranya, tetangga, dan bidan datang untuk merayakan kelahiran seorang putra Yahudi dan bergembira memuji Allah. Enam bulan setelah Elizabet melahirkan, ketika tiba giliran Maria untuk melahirkan bayi Yesus, kelahiran tersebut terjadi jauh dari rumah mereka. Tidak ada bidan, tidak ada sanak saudara, tidak ada nyanyian dari para tetangga. Yang ada pada waktu itu hanyalah Maria, Yusuf, kambing, dan domba. 

Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah film Hollywood berjudul Coming to America. Dalam film tersebut, putra mahkota pewaris tunggal kerajaan Zamunda yang begitu makmur dan kaya raya berkunjung ke Amerika untuk mencari calon istri. Di bagian akhir film tersebut diceritakan mahabesar raja Zamunda hendak berkunjung ke Amerika untuk menjenguk kehidupan putra mahkotanya di sana. Ia datang dengan berbagai atribut kebesaran kerajaannya. Barisan pengawal kerajaan dan polisi lokal, layanan nonstop dari dayang-dayang kerajaan, belasan mobil Limousine, puluhan koper untuk pakaian kebesaran, dan hotel termewah di Amerika. 

Ketika Anak Allah yang Mahatinggi datang berkunjung ke planet bumi, ia datang dengan segala kesederhanaan. Begitu sederhana. Terlalu sederhana. Kemuliaan Allah yang tiada taranya dinyatakan melalui kelahiran Yesus didalam sebuah kandang binatang yang bau dan kotor. Kelahiran Yesus yang membagi sejarah manusia menjadi dua bagian (BC dan AD) disaksikan oleh lebih banyak hewan ketimbang manusia. Betapa subversif!

Ketiga, Allah begitu membatasi diriNya sampai-sampai kelahiran Yesus Kristus terkena imbas dari perilaku dan teror politik manusia berdosa yang sangat brutal. Yesus lahir ketika dunia diperintah oleh kaisar Augustus yang memerintah wilayah kekaisaran Romawi, sementara raja Herodes Agung memberlakukan hukum Romawi atas orang-orang Yahudi di tingkat lokal. Jika Augustus hanya dicatat oleh Matius sebagai reference bahwa Yesus lahir di Betlehem ketika sensus penduduk diterapkan, Herodes dicatat sebagai orang yang sangat brutal. 

Ketika raja ini merasa kekuasaannya terancam dengan kelahiran bayi Yesus, ia memerintahkan sebuah tindakan a-manusiawi yang begitu barbarik dan bertentangan dengan setiap sel-sel akal sehat manusia: pembunuhan seluruh bayi yang baru lahir di Yerusalem yang berusia 0-2 tahun. Seakan belum cukup derita yang dialamiNya, Yesus harus melewati masa bayinya dalam penyembunyian di Mesir sebagai pengungsi selama raja Herodes masih hidup. 

Setelah raja Herodes mati, malaikat memberitahu Yusuf bahwa telah aman bagi dia dan Maria untuk kembali ke Israel. Mereka lalu kembali, namun bukan ke daerah kekuasaan anak Herodes, Archelaus, melainkan ke daerah kekuasaan anak Herodes yang lain, Antipas, ke kota Nazaret. Beberapa tahun kemudian pemerintahan Romawi mengambil alih kekuasaan bagian selatan Israel termasuk Yerusalem dengan salah satu gubernurnya yang terkejam, Pontius Pilatus. 

Dan ketika Yesus diadili, Injil Lukas mencatat bahwa Herodes Antipas dan Pontius Pilatus yang adalah musuh bebuyutan selama bertahun-tahun pada hari itu menjadi bersahabat karena ingin melanjutkan apa yang raja Herodes Agung telah mulai dan tidak selesaikan: Mengenyahkan Yesus (Lukas 23:12). 

Apa itu natal? Natal adalah realita Allah yang suci turun dari surga yang mulia ke dalam dunia yang berdosa. Natal adalah realita Allah pencipta datang kepada manusia ciptaanNya dengan cara yang hina dan penuh resiko. Natal adalah realita Allah yang mahakuasa berinkarnasi dalam bayi Yesus yang tidak berdaya dibawah ancaman keji manusia. Natal adalah realita Mesias lahir ke dunia untuk menanggung segala dosa manusia.

Kalau natal adalah demonstrasi konkrit kasih Allah yang tidak bersyarat kepada manusia, maka natal juga sekaligus demonstrasi konkrit penolakan manusia terhadap Allah. Semenjak kelahiranNya, Anak Allah yang mahatinggi harus lari dan bersembunyi dari manusia yang hendak membunuhNya. Dan ini terus berlanjut hingga kematianNya diatas salib. 

"Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita", tulis Injil Yohanes, "Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaannya itu tidak menerimaNya". 

Blaise Pascal suatu kali berkata, "If man is not made for God, why is he not happy except in God? If man is made for God, why is he so opposed to God?" 

Kiranya natal tahun ini tidak menjadi rutinitas tahunan Anda dan saya. Karena natal terlalu subversif untuk dijadikan sebuah rutinitas. Biarlah realita natal pertama menjadi bagian dari refleksi kita. Dan refleksi tersebut menghantar kita untuk bertelut dihadapan Tuhan. kembali kepadaNya dengan kesungguhan jiwa. Karena hati yang patah dan remuk Tuhan tidak akan pandang hina. 

* Penulis adalah mahasiswa doktoral di bidang kepemimpinan di Monash University, Australia
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."