• PDF

Engagement & Withdrawal: Pola Hidup Pemimpin Kristen

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 16:04
  • Ditulis oleh Sendjaya
  • Sudah dibaca: 2310 kali
Charles Handy, filsuf dan guru manajemen dari Inggris, menulis dalam salah satu bukunya bahwa dunia kerja di abad ke-21 memiliki formula produktivitas yang diadopsi oleh berbagai perusahaan global multinasional di seluruh dunia. Formula tersebut adalah sebagai berikut: ½ x 2 x 3. Artinya, perusahaan akan memakai hanya setengah dari jumlah pekerja/pegawai yang ada, membayar mereka dua kali lipat lebih tinggi, dan menuntut mereka untuk memproduksi tiga kali lipat lebih banyak. 

Itulah potret dunia kita saat ini. Dunia yang menuntut kita untuk hidup kompetitif. Dulu orang bilang, kita harus work smarter, not harder. Namun realitanya, kita dipaksa untuk sekaligus work smarter, work faster, dan tetap saja, work harder. Sistem nilai dunia berkata bahwa semakin banyak yang kita lakukan dan raih, semakin kita menjadi orang yang berarti. Akhirnya, kita menjadi orang yang semakin sibuk. Dan karena kesibukan itu semakin menumpuk, terpaksa kita harus terburu-buru melakukan sesuatu. 

Lambat laun, semua kita lakukan dengan terburu-buru. Makan terburu-buru. Menyetir mobil terburu-buru. Membaca terburu-buru. Ngomong terburu-buru. Kerja terburu-buru. Berdoa pun terburu-buru. 

Psikologis Carl Jung pernah berkata bahwa "Hurry is not of the devil. It is the devil." Saat kita terburu-buru melakukan segala rutinitas dan aktivitas hidup kita, maka kita terjebak dan terbelenggu dalam sebuah pola pikir dan aksi yang membawa kita menjauh dari Allah. Karena kita tidak lagi punya waktu untuk berdiam diri dihadapan Allah. 

Dallas Willard, dalam bukunya The Spirit of the Disciplines, menceritakan tentang eksperimen seorang ilmuwan terhadap seekor tikus yang diberikan amphetamine yang merangsang agresivitas si tikus. Tikus tersebut dengan kalap lari kesana kemari tanpa arah, dan tidak berapa lama mati kelelahan. Dalam eksperimen kedua, ilmuwan tersebut memberikan dosis amphetamine yang jauh lebih kecil kepada segerombolan tikus. Tikus-tikus ini menjadi agresif. Dan semakin mereka saling melihat bahwa teman-temannya agresif, semakin agresiflah mereka. Yang menarik, beberapa tikus yang ada dalam kelompok ini sengaja tidak diberi amphetamine sama sekali. Namun mereka sama level agresivitasnya. Dan tidak berapa lama, semuanya mati kelelahan. 

Betapa hidup kita seperti tikus-tikus tersebut. Kita berada dalam dunia yang penuh dengan orang-orang yang begitu terburu-buru berlari kesana kemari dan melakukan segudang kesibukan mereka. Tanpa kita sadari, hidup kita menjadi mekanistis, karena kehilangan arti dan tanpa arah yang jelas.

Produktif atau Efektif 
Banyak pemimpin yang terjerat dalam candu produktivitas. Hal ini sepertinya terjadi secara natural karena dosis produktivitas berlebihan dengan subtle menciptakan kepuasan diri dan rasa aman yang palsu, membuat kita bergantung pada diri sendiri. Yang meski kita pikirkan adalah efektivitas. Dimana bedanya?

Saya mengerti produktivitas sebagai kapabilitas untuk melakukan banyak hal dalam periode waktu tertentu (doing many things). Semakin banyak hal yang dilakukan dalam periode waktu tersebut, semakin efektif. Sebaliknya, efektivitas adalah kapabilitas untuk melakukan sesuatu sesuai dengan prioritas dan misi hidup yang Allah telah berikan dalam hidup kita (doing the right things). Pemimpin yang efektif bekerja dengan sebuah kesadaran dan keyakinan bahwa Allah senantiasa hadir dalam setiap detik ia bekerja. 

Namun kesadaran dan keyakinan ini hanya bisa dimiliki dengan satu syarat. Pemimpin harus memiliki pola hidup yang seimbang antara engagement dan withdrawal. Hidup mereka bagai sebuah ritme yang indah antara melibatkan diri dan berdiam diri. Mereka mungkin sibuk, tapi mereka tidak pernah terburu-buru. 

Diamlah!
Nabi Yesaya menyampaikan pesan yang penting bagi umat Allah yang hidup di kerajaan selatan pada zaman pemerintahan raja Hizkia: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu. Tetapi kamu enggan, kamu berkata: "Bukan kami mau naik kuda dan lari cepat", maka kamu akan lari dan lenyap" (Yes 30:15-16). 

Konteks historis ayat ini menolong kita untuk lebih mengerti dan menghargai pesan tersebut. Sejak orang-orang Yehuda berada pada jaman pemerintahan raja Uzia, bangsa Asyur dengan perkasa mulai memperluas daerah kekuasaanya. Dalam pemerintahan raja Ahas, ia menolak nasihat Yesaya untuk percaya pada Allah dan memilih untuk meminta perlindungan raja Asyur agar aman dari serangan musuh lain seperti bangsa Aram. Dan mereka harus membayar upeti kepada raja Asyur. Pada jaman pemerintahan raja Hizkia, Hizkia tidak lagi sudi tunduk kepada raja Asyur yang notabene adalah bangsa kafir. 

Karena Hizkia adalah raja yang mencintai Tuhan, ia mengalami penyertaan Tuhan. Namun ketika raja Sanrehib dari Asyur hendak menyerang orang-orang Yehuda di Yerusalem, raja Hizkia menjadi gundah gulana. Ia memilih untuk beraliansi dengan bangsa Mesir yang pernah memperbudak umat Allah. Padahal nabi Yesaya dengan tajam telah memperingatkan Hizkia untuk tidak menaruh pengharapan kepada bangsa Mesir. Pengharapan mereka harus berada dan hanya berada dalam Allah yang adalah Raja diatas segala raja (Yes 30:1-3). 

Dalam konteks inilah kita membaca ayat yang indah tadi: Dalam tinggal tenang dan percaya, terletak kekuatanmu. In quietness and trust is your strength.

Sama seperti raja Hizkia, karena posisi dan keterburu-buruan kita sebagai pemimpin, kita seringkali terjebak dengan situasi eksternal yang menggiring kita untuk mengandalkan pikiran rasional dan kekuatan kita sendiri, dan berlaku seakan-akan Tuhan tidak ada dalam hidup kita. Akhirnya prioritas hidup dan agenda hidup kita didikte oleh situasi eksternal, bukan oleh pimpinan dan kehendak Allah. Mengapa? Karena kita tidak punya waktu lagi untuk berdiam diri dihadapan Allah. 

Firman Tuhan ini begitu tepat bagi pemimpin yang super-sibuk. Berdiam dirilah di hadapan Tuhan, dan nantikanlah Dia (Mazmur 37:7). Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! (Mzm 46:10).

Teladan Yesus
Yesus adalah orang yang sangat sibuk, namun tidak pernah terburu-buru. Ia sibuk, namun sibuk melakukan kehendak BapaNya di surga. Dia menyelesaikan misi hidupNya dengan sempurna dalam masa hidupnya yang relatif sangat singkat. Dia tidak rela kesibukan hidup dan pelayanannya merampas relasiNya yang intim bersama BapaNya. Hidupnya berjalan sesuai ritme engagement dan withdrawal.

Saat ia memulai pelayanannya di dunia, ia memulainya dengan menyendiri di padang gurun selama 40 hari (Mat 4:1-11). Sebelum ia memilih kedua belas muridNya, ia berdoa semalam-malaman (Lukas 6:12). Ketika ia menerima kematian Yohanes pembaptis, ia pergi menyendiri (Mat 14:13). Setelah ia melakukan mujizat memberi makan ribuan orang, ia pergi ke atas bukit seorang diri dan berdoa (Mat 14:23). Pagi-pagi buta sebelum memulai aktivitas pelayananNya yang padat, ia pergi ke tempat sunyi untuk bersekutu dengan bapaNya (Markus 1:35). Setelah melayani seorang yang kena kusta, ia menyendiri (Lukas 5:16). Dan sebelum ia melakukan tugasNya yang termulia di atas kayu salib, ia menyendiri untuk berdoa di Getsemani (Mat 26:36-46). 

Masih banyak ayat-ayat yang lain. Namun pola hidup Yesus begitu jelas. Engagement dan withdrawal. Ada waktunya untuk aktif melakukan ini dan itu sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita. Namun ada waktunya untuk mengundurkan diri. Berdiam diri di hadapan Allah. 

Arti, Tujuan, dan Manfaat 
Secara sederhana, withdrawal atau berdiam diri disini berarti mengalokasikan waktu bersama Tuhan agar kita memiliki hati yang dengar-dengaran dan taat kepadaNya. Ini tentu berbeda dengan bermeditasi ala New Age. Meditasi New Age mengajarkan kita untuk mengosongkan pikiran kita. Berdiam diri dihadapan Tuhan tidak mengosongkan pikiran kita, namun justru mengisi pikiran kita dengan Tuhan. Meditasi New Age mengajak kita untuk memisahkan diri dengan dunia. Berdiam diri di hadapan Tuhan juga mengajak kita memisahkan diri dengan dunia, namun tidak berhenti sampai disana. Kita memisahkan diri dengan dunia agar dapat mendekatkan diri kepada Allah. Withdrawal means detaching ourselves from the world so that we are able to attach ourselves to God. 

Tujuan berdiam diri adalah untuk menciptakan ruang bagi Allah untuk menata ulang orientasi hati kita dan perspektif hidup kita. Tanpa upaya sadar dan serius, ruang tersebut seringkali terhimpit oleh pola pikir dan aksi kita yang serba terburu-buru. Itu sebab untuk berdiam diri, kita perlu menarik diri dari segala keramaian, dari orang-orang di sekeliling kita, dari percakapan, dari TV, dari telpon, dari SMS, dari koran, dan seterusnya. Pendek kata, dari segala sesuatu yang dapat menstimulasi pikiran kita. 

Hal ini tentu tidak mudah dilakukan. Karena dalam dunia modern yg hiruk-pikuk, kita telah dikondisikan untuk tidak terbiasa dan tidak suka dengan keheningan dan kesendirian. Karena keheningan dan kesendirian itu kita identikkan dengan kesepian. Itu sebab setiap kali kita sendirian, kita selalu ingin ditemani dengan TV, CD, radio, majalah, dan seterusnya. 

Berdiam diri di hadapan Tuhan bukan soal tempat (di kamar tidur atau di gereja), bukan soal posisi tubuh (berlutut dan memejamkan mata), bahkan bukan soal waktu (pagi-pagi buta atau tengah malam). Itu semua terkait memang, namun sekunder sifatnya. Berdiam diri adalah soal hati dan pikiran kita. Memusatkan hati dan pikiran kita kepada Allah. 

Paling tidak, ada tiga manfaat yang saya alami dalam upaya berdiam diri dihadapan Tuhan. Pertama, mendengar Tuhan. Tentu bukan dengan suara yang audible atau penglihatan yang kasat mata atau hal-hal supranatural lainnya. Namun suara Allah dalam hati yang mengingatkan, menegur, menguatkan, dan menghibur saya. Suatu kali ketika saya mengevaluasi hidup doa saya, ternyata dalam doa, saya selalu berbicara kepada Tuhan. Tidak pernah mendengar. 

Berbicara tentu lebih natural karena kalau saya berbicara kepada Tuhan, saya lah yang sebenarnya sedang memegang kontrol. Bukan Tuhan. Ketika saya sadar akan hal ini, saya mencoba berdiam diri. Tidak bicara. Namun mendengar. Tentu ini jauh lebih sulit. Namun dalam keheningan itu, Tuhan mengingatkan saya akan banyak hal yang saya anggap remeh, namun ternyata sangat ampuh menjebak saya untuk berbuat dosa.

Manfaat kedua adalah penyerahan diri. Dunia kita yang super kompetitif ini memacu kita untuk terus mengejar sukses. Ekspektasi sosial untuk sukses begitu tinggi sampai-sampai kita sangat ketakutan berhadapan dengan kemungkinan kita gagal. Berdiam diri dihadapan Tuhan menolong saya untuk berserah kepada Tuhan. Allah mengasihi saya terlepas dari kegagalan atau keberhasilan saya. Dengan demikian saya tidak lagi diperbudak dibawah tekanan untuk selalu berkompetisi dengan orang lain, untuk menang, dan untuk sukses. 

Namun keheningan seringkali membuat kita merasa tidak berdaya. Karena sekali lagi sistem yang berlaku di dunia mengkondisikan kita untuk harus bersandar pada kata-kata verbal agar dapat mengontrol situasi (dan orang lain!). Kita kuatir sekali akan image kita dihadapan orang lain. Kita kuatir mereka salah mengerti terhadap apa kita baru saja lakukan, sehingga kita perlu menjelaskan semua itu dari awal sampai akhir. Kita selalu tergoda untuk membenarkan diri kita dihadapan orang. Inti dari semua ini adalah kita ingin tetap memegang kendali. Kita ingin selalu in control! Berdiam diri menolong kita untuk melepaskan diri dari keinginan tersebut dan mengijinkan Tuhan mengambil alih kontrol tersebut. 

Yang ketiga, berdiam diri juga menolong kita untuk mengalami perubahan yang sejati. Saat kita berdiam diri dalam keheningan, kita berhadapan secara pribadi one on one bersama Tuhan. Tidak ada orang lain. Hanya Anda dan Tuhan. Banyak orang menghindari saat-saat seperti itu karena berada di hadapan hadirat Tuhan dengan sungguh-sungguh membuat dirinya tidak nyaman. Mau tidak mau, kalau kita sudah berhadapan dengan Tuhan, kita dituntut untuk berubah. 

Dalam keheningan itu, kita dipaksa untuk menanggalkan segala atribut yang ada pada diri kita. Apakah atribut tersebut? Segala sesuatu yg kita pakai utk meyakinkan diri kita bahwa kita adalah orang penting. Kita menanggalkan segala prestasi kita, resume kita, harta kita, kebanggaan kita. Yang ada hanyalah "Just as I am". Hanya saya dan dosa-dosaku, dan Tuhan. 

Seringkali orang berkata mereka memiliki pengalaman "berjalan bersama Tuhan." Mereka berkata, "Pimpinan Tuhan begitu jelas bagiku" atau "Tuhan berbicara di hatiku". Namun apakah itu sungguh-sungguh atau hanya superfisial? Benarkah kita memiliki pengalaman tersebut? Benarkah dogma teologia tersebut benar-benar menjadi bagian dari realita hidup kita? Tanpa berdiam diri dihadapan Tuhan, sulit itu terjadi. 

Jika hidup kita tidak ingin disetir, didikte, dan diperbudak oleh situasi eksternal yang ada, maka kita harus menjalani hidup ini dengan ritme engagement dan withdrawal. Diamlah dan ketahuilah bahwa Ialah Tuhan!

Sendjaya
Melbourne, 26 Maret 2003
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."