Thought Leadership

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Thought Leadership adalah frase populer yang sedang digalakkan pemakaiannya oleh konsultansi manajemen global seperti PricewaterhouseCoopers, Accenture, dan lain sebagainya. Para konsultan tersebut meng-claim diri mereka sebagai Thought Leaders!

Yang dimaksud dengan thought leaders adalah pemikir strategis yang selalu terdepan dan lebih dulu dari orang lain dalam menelurkan ide inovatif, terobosan efektif, dan solusi transformatif untuk problematika dunia bisnis.

Menurut hemat saya, thought leadership semestinya tidak menjadi monopoli konsultan manajemen. Pemimpin Kristen juga sepatutnya menjadi thought leaders. Lebih tepat lagi, pemimpin Kristen harus menjadi thought leaders. Mengapa? 

Kebenaran yang Transenden dan Absolut
Allah telah beranugerah kepada umatNya sehingga kebutaan pikiran dan kedegilan hati kita disingkapkan. Kita menerima revelasi kebenaran Allah di dalam Kristus dan firmanNya. Yaitu kebenaran yang transenden dan absolut.

Ideologi-ideologi dalam sejarah dunia tidak pernah dapat bertahan karena tidak didasari oleh sumber ide yang transenden dan absolut. Dan hanya kebenaran Allah yang memiliki nilai transenden dan absolut. Itu sebab segala bentuk filsafat rekaan manusia mulai dari deisme sampai posmodernisme yang melawan Alkitab tidak akan mampu bertahan lama. 

Griffith University, sebuah universitas di Australia, pada bulan Mei 2002 lalu membuka sebuah program pascasarjana yang tergolong sangat unik, yaitu suicidology. Disiplin ilmu ini mempelajari kecenderungan manusia untuk bunuh diri dan tindakan preventifnya. Program ini dibuka karena tingginya angka kematian bunuh diri di Australia, khususnya diantara generasi muda, yaitu 2500 orang per tahun (rata-rata sekitar 7 orang setiap hari!) 

Sayangnya, segala macam ilmu, ideologi, dan filsafat manusia hanya mampu mendiagnosa penyakit, namun tidak pernah dapat menyembuhkan. Tidak pernah dapat memberi solusi yang tuntas kepada inti masalah manusia. Karena solusinya terjadi dan hanya terjadi di dalam Kristus. 

Jika kita adalah umat Allah, maka kita memiliki sebuah tugas yang krusial dan urgen sebagai penerima rahasia kebenaran Allah, yaitu merenungkannya, menggumulinya, mempelajarinya, menelaahnya, mengupasnya, mengaplikasikannya ke dalam semua area kehidupan kita dan realita dunia. 

Mandat Rasio
Perlawanan manusia terhadap Allah yang dimulai sejak kisah kitab Kejadian pasal ke-3 sampai abad ke-21 banyak diwarnai oleh strategi si jahat yang memiliki target utama: Pikiran manusia. Rasio manusia adalah, meminjam istilah CS Lewis, 'enemy-occupied territory'. Dan kita sebagai pewaris kebenaran Allah harus merebut kembali area yang dijajah oleh si jahat, seperti yang ditulis rasul Paulus.

         Our battle is to break down every deceptive argument and every imposing 
         defense that men erect against the true knowledge of God. We fight to 
         capture every thought until it acknowledges the authority of Christ 
         (II Korintus 10:5, J.B. Phillips). 

Salah satu kegagalan gereja pada abad ke-20 adalah menahan pengaruh Darwinisme yang begitu luas ke seluruh aspek kehidupan manusia. Pandangan utopis ini telah membuat banyak orang memalingkan diri dari Allah. 

Pada waktu teori ini masih sebesar butiran jagung, umat Allah diam dan tidak mampu meresponi. Pada waktu gereja sadar, semua sudah terlambat. Terlambat karena filsafat dan paradigma (worldview) tersebut telah mengakar di dalam kultur populer secara global. 

Itu sebab peringatan dari teolog Gresham Machen perlu kita renungkan bersama dan seksama: "What is today a matter of academic speculation begins tomorrow to move armies and pull down empires. In that second stage, it has gone too far to be combatted; the time to stop it was when it was still a matter of impassionate debate." 

Hari ini dunia tidak ubahnya seperti sebuah marketplace of ideas, dengan universitas menjadi hotbeds of worldviews. Kalau dunia adalah restoran yang menyajikan beragam menu ide dan filsafat yang mayoritas melawan Allah, maka universitas menjadi dapurnya. Ruang-ruang kuliah menjadi wadah dimana worldviews dimasak sampai matang. 

Umat Allah tidak pernah diijinkan untuk beristirahat. Hari ini kita yang hidup di abad ke-21 berhadapan dengan posmodernisme (worldview yang menolak segala worldview). Apakah kita akan mengulangi sejarah dan melakukan kesalahan kita di abad ke-20? Ataukah kita dapat melakukan mandat untuk membawa dunia dan pikirannya kembali dan tunduk kepada Allah?

Tidak Ada Pilihan Lain
Suara kenabian gereja menjadi semakin hilang ketika umat Allah tidak mampu memberikan pengaruh di tengah-tengah kompleksnya realita dunia ini. Anda dan saya tidak punya pilihan lain selain benar-benar memikirkan bagaimana talenta dan resources berupa "rasio" yang Allah berikan (atau titipkan) kepada kita dapat kita gunakan dengan bertanggung jawab. 

Jurnalis Kristen Philip Yancey menulis, "I used to believe that Christianity solved problems and made life easier. Increasingly, I believe that my faith complicates life, in ways it should be complicated. As a Christian, I cannot not care about the environment, about homelessness and poverty, about racism and religious persecution, about injustice and violence. God does not give me that option." 

Kita perlu para thought leaders yang mengasihi Allah di berbagai bidang yang sangat spesifik seperti ahli psikologi massa, linguistik verbal, pemutihan uang, fisika nuklir, rekayasa genetika, microchip komputer, pendidikan anak dari keluarga yang hancur, epistemologi posmodern, limbah beracun, anti terorisme, organisasi non-profit, dan seterusnya. Pendek kata, dalam setiap bidang.

Jika diabad yang ke-18, banyak orang pandai mulai melacurkan rasio mereka dengan mencampakkan Allah dan meninggikan manusia sebagai pusat dan standar, dan mendeklarasikan manifesto homo mensura, maka hari ini trend tersebut harus dibalik. 

Kita yang diberi kesempatan olah Allah untuk mengenyam pendidikan (yang menempatkan kita by default sebagai kaum elite Indonesia karena sebagian besar masyarakat kita tidak mendapat kesempatan dan akses tersebut), kita yang perlu ikut berperan membalik trend tersebut. Allah telah menerbitkan terang dalam kegelapan hati kita, sehingga kita dimampukan untuk menjadi terang bagi dunia yang gelap ini. 

Tugas tersebut bukanlah sebuah pilihan. Tapi sebuah keharusan. Sebuah mandat. Sebuah mandat bagi Anda dan saya. Mandat untuk menjadi Thought Leaders.

Thought Leaders yang mengerti kerinduan hati reformator-kulturalis Abraham Kuyper: 

"There is not a square inch in the whole domain of our human existence 
over which Christ, who is Sovereign over all, does not cry: 'Mine!'". 

Sendjaya
Melbourne, 03 April 2003
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."