• PDF

Ketaatan dan Otoritas Pemimpin

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 16:06
  • Ditulis oleh Sendjaya
  • Sudah dibaca: 3341 kali
Penipuan akuntansi perusahaan multinasional WorldCom sebesar US$11 billion di sekitar pertengahan tahun 2002 adalah skandal akuntansi terbesar dalam sejarah. Setelah melakukan investigasi selama setahun penuh terhadap skandal tersebut, Richard Thornburgh, eks-US Attorney General, dalam laporannya memuat sebuah temuan berikut: 

Penipuan tersebut berjalan selama bertahun-tahun dengan sepengetahuan dan tanpa diprotes samasekali oleh para pegawai, auditor, dan direktur WorldCom

Upaya menutup-nutupi kerugian perusahaan terhadap investor dan analis Wall Street ini direkayasa dengan apik para pemimpin puncak perusaahan, khususnya CEO Bernard Ebbers dan CFO Scott Sullivan. Pemalsuan data akuntansi ini terjadi berulang kali karena tidak adanya kesadaran dan keberanian untuk mengungkap kebusukan yang terjadi di divisi finansial dan akuntansi. Mereka memilih berdiam diri dan taat pada 'aturan main' yang berlaku. 

-- 

Tentu kita tidak dapat melupakan tragedi bunuh diri masal yang dilakukan oleh para pengikut kelompok kultik pimpinan Jim Jones. Jim Jones memulai kelompok The People's Temple pada tahun 1950-an dan, dengan karismanya, menarik massa dari berbagai kelompok ras. 

Kelompok ini bertumbuh pesat sampai sekitar tahun 1970-an. Bagaimana tidak? Orang-orangnya sangat ramah dan rela membagi hidup dalam arti yang sesungguhnya. Pemimpinnya sangat perhatian dan penuh kasih. Konsepnya menarik: Persamaan derajat dan kelas sosial. Dan berbagai jasa yang ditawarkan sangat berguna: Jones mendirikan klinik kesehatan dan rehabilitasi obat. Tidak heran kelompok yang besar ini lalu menjadi sebuah kekuatan politik yang tidak bisa dianggap enteng.

Namun siapa mengira Jones dalam kefrustrasiannya lalu memerintahkan 914 anggota kelompoknya untuk meminum minuman berisi cyanide di pedalaman hutan Guyana. Sebagian besar dari mereka dengan rela mentaati perintah Jones dan membunuh diri dengan minuman maut tersebut. 

--

Dua gejala diatas patut dicermati lebih jauh!

Sumbangsih terbesar yang diberikan oleh disiplin ilmu psikologi terhadap isu otoritas diberikan oleh psikologis bernama Stanley Milgram. Ia dikenal dunia karena temuan hasil risetnya yang kontroversial tentang ketaatan terhadap otoritas. 

Motivasi Milgram dalam studi ini didasari oleh tragedy Holocaust. Pertanyaan sentral yang selalu mengusik hatinya adalah: mungkinkah para petugas Nazi Jerman seperti Eichman dan jutaan accomplice yang lain hanya menjalankan perintah Hitler untuk melakukan pembunuhan massal? Sedemikian luar biasakah ketaatan mereka kepada otoritas?

Ia menjawab pertanyaan tersebut dengan melakukan eksperimen di Yale University pada tahun 1961-1962. Eksperimen tersebut umumnya melibatkan 2 orang. Orang pertama, yang disebut "murid", diikat ke sebuah kursi kaki dan tangan nya sampai tidak bisa bergerak dan sebuah kabel electrode ditaruh diatas tangannya. Orang kedua, yang disebut 'guru', ditempatkan di kamar sebelah dimana ia diiinstruksikan untuk membaca sebuah daftar berisi dua pasang kata. Lalu sang guru akan meminta sang murid untuk mengulanginya setiap dua pasang kata yang ia ucapkan. 

Kalau si murid menjawab dengan benar, maka mereka melanjutkan ke dua pasang kata berikutnya. Kalau jawabannya salah, maka si guru harus memberikan tegangan listrik yang dimulai pada 15 volts. Setiap kali si murid menjawab salah, si guru harus menambah jumlah tegangan listrik dengan kenaikan 15 volts. Dan tegangan listrik yang tersedia yang dapat diberikan adalah 450 volts.

Eksperimen yang sangat disturbing diatas diulang berkali-kali dengan 'guru' yang berbeda-beda (warga kota New Haven). Hasil kumulatifnya menunjukkan bahwa mayoritas dari 'guru' taat melakukan perintah dari instruktur eksperimen untuk memberi tegangan listrik kepada para 'murid' yang menjawab salah. Begitu taat mereka sampai-sampai mereka tidak ragu-ragu memberi tegangan bahkan sampai 450 volts! 

Yang tidak diketahui oleh si guru adalah bahwa si murid yang menjadi korban sebenarnya adalah aktor yang telah disewa oleh Stanley Milgram untuk berpura-pura merasa kesakitan oleh tegangan listrik yang sebenarnya tidak ada. 

Dalam eksperimen tersebut, beberapa kali si murid berlagak mengerang kesakitan dan meminta berhenti, namun sang instruktur terus memerintahkan si guru sebagai pelaksana hukuman untuk tidak mempedulikan keluhan dan jeritan si murid. Hasilnya, para guru taat memberi tegangan listrik yang lebih tinggi!

Mengapa? Karena mereka diperintah untuk melakukan itu!

Koran New York Times edisi 26 Oktober 1963 memuat headline tentang riset Milgram sebagai berikut: "Sixty-five Percent in Test Blindly Obey Order to Inflict Pain."

Dari hasil temuannya ini, Milgram menarik beberapa kesimpulan yang penting tentang tendensi perilaku manusia berkaitan dengan otoritas dan kontrol. Salah satu yang menurut saya sangat penting untuk dipikirkan adalah:

The disappearance of a sense of responsibility is the most far-reaching
consequence of submission to authority.

Meskipun manusia memiliki kapasitas untuk membuat pilihan moral dan bertanggung jawab secara moral, seringkali kapasitas tersebut terkikis apabila diperhadapkan dengan otoritas pemimpin yang sangat dominan. Proses ini dapat terjadi secara drastis. Namun yang lebih berbahaya secara laten adalah apabila proses tersebut terjadi secara perlahan dan gradual tanpa kita sadari. Saat kita tunduk kepada figur otoritas, rasa tanggung jawab pribadi kita akan menipis. 

Contoh dramatis dari aplikasi teori Milgram telah kita temukan pada skandal akuntansi WorldCom diatas. Namun hasil riset empiris Milgram ini saya kira juga muncul dalam berbagai bidang kehidupan kita sehari-hari. Misalnya dalam interaksi kita dengan berbagai figur otoritas yang ada di sekeliling kita: polisi, pemerintah, boss, suami/istri, orang tua, pendeta, dst. 

Kita lebih memilih berdiam diri daripada bertindak menyatakan tanggung jawab moral kita. Bahkan kediaman dalam ketaatan kita terhadap figur otoritas tersebut memberi rasa aman tersendiri. Toh yang memberi perintah adalah orang yang memang memiliki otoritas. Begitu pikir kita. 

Tolong jangan salah tangkap. Kita perlu dan bahkan harus tunduk pada otoritas pemimpin. Kalau tidak, dunia akan kacau balau. Namun kita juga tidak boleh lupa bahwa dalam dunia yang jatuh ini, pemimpin dapat menyalahgunakan wewenang yang ia miliki untuk kepentingan dan ambisi diri atau kelompoknya. 

Itu sebab ketaatan kita janganlah membabi buta. Jangan sampai terjadi beonisasi. Komunitas apapun, termasuk gereja, yang penuh dengan burung beo adalah komunitas yang tidak sehat. Pada waktu kita menerima mentah-mentah setiap hal yang dikatakan oleh para pemimpin kita, kita jatuh ke dalam ketaatan buta. Dan ini adalah hal yang berbahaya, sebagaimana gerakan cult Jim Jones membuktikan.

Dalam kalimat Albert Einstein: "Unthinking respect for authority is the greatest enemy of truth."

Sendjaya
Melbourne, 18 Juni 2003
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Agustinus Ketaren  - excellent   |110.137.34.xxx |27-08-2010 22:17:37
sangat luar biasa contoh nya hidup , klo bs yg up todate (saat ini)...
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."