Memimpin Tanpa Mengontrol

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Mungkinkah memimpin dengan efektif tanpa mengontrol orang lain? Ataukah memimpin selalu berarti memegang kontrol? To lead is to be in control. Or is it?

Di Surabaya ada sebuah warung sederhana di sebuah trotoar jalan yang selalu dipadati oleh para pelanggannya setiap malam. Menunya hanya ada dua macam: Sayur asin baikut dan sate, disajikan dibalik tenda putih. Warung yang selalu tampak sibuk itu di-manage oleh seorang ibu tua dengan dibantu lima orang karyawannya.

Ibu ini memiliki beberapa karakteristik yang unik. Ia selalu tampil galak terhadap para karyawannya. Sedikit-sedikit marah. Tak heran mimik muka para pegawainya senantiasa dihiasi oleh kemurungan dan rasa takut. Karyawan tidak boleh terima uang dari pelanggan, meskipun si ibu ini seringkali salah dalam menghitung bon makanan dan uang kembalian. Namun setiap kali ia diberitahu kesalahannya oleh pegawai, bahkan pelanggannya sekalipun, pasti ia marah. Yang menarik, pelanggan warung tidak pernah kapok untuk datang bersantap disana. Yah, demi sayur asin baikut dan sate panggang!

Mungkin kita dapat memaklumi management style si ibu warung. Selalu ingin memerintah, mengatur, dan menguasai semua hal dan orang. Toh dia tidak pernah tahu gaya manajemen alternatif yang lain. "Biar antik, asal sukses", mungkin begitu pikir si ibu. Celakanya, gaya manajemen ini tidak hanya eksklusif dipratekkan oleh si ibu tersebut. Banyak pemimpin keluarga, perusahaan, bangsa dan bahkan gereja, yang memimpin dengan gaya yang sama.

Nature dan Nurture
Keinginan untuk selalu mengontrol segala sesuatu yang ada disekitar kita adalah suatu yang inheren dalam natur manusia. Kita ingin mengatur waktu kita, keuangan kita, dan rencana-rencana kita. Ini tentu sah-sah saja, bahkan penting dan bijaksana untuk dilakukan. 

Masalahnya kita cenderung melampaui batas kewajaran. Kita ingin waktu, harta, dan masa depan kita berjalan persis sesuai dengan kehendak kita. Kita ingin menguasai segala sesuatu di sekitar kita agar merasa nyaman dan aman. Termasuk didalamnya mengatur orang lain agar mereka berpikir dan bersikap sesuai dengan apa yang kita inginkan. 

Kecenderungan diatas mengalami pembesaran dalam diri seorang pemimpin. Apalagi proses kondisi sosial (nurture) melegitimasi seorang pemimpin untuk selalu menjadi seorang yang selalu in control. Bahkan ia akan dicap tidak kompeten apabila mulai timbul persepsi bahwa ia kehilangan kontrol. 

Untuk tetap dapat memegang kontrol, lalu dianggap wajar bagi pemimpin untuk memimpin dengan menciptakan rasa takut. Intimidasi yang halus menjadi bagian standar operasi pemimpin. Secara gradual pemimpin tersebut akan menjelma menjadi seorang tiran. 

Ilusi Kontrol
Bagaimana hal ini dapat terjadi? Fenomena ini telah diteliti dengan seksama dari perspektif psikoanalisa kepemimpinan oleh Manfred Kets De Vries. Studi klinikal yang ia lakukan menunjukkan bahwa ketika seorang diberikan posisi atau peran pemimpin, ia diberikan kepercayaan untuk memegang kontrol atas sesuatu atau sekelompok orang. Kontrol inilah yang sangat berbahaya, karena menciptakan ilusi bahwa si pemimpin harus selalu mengontrol segala sesuatu di luar dirinya. Ilusi ini memberi kepuasan tersendiri dalam diri pemimpin. Lalu ia berupaya keras untuk mengubah ilusi tersebut menjadi sebuah realita.

Yang menarik, justru pemimpin yang dicintai orang banyak cenderung memiliki ilusi kontrol dan kuasa. Semakin ia disanjung dan dipuja orang, semakin ia ingin mendominasi dan menguasai lebih banyak orang lagi. 

Gejala psikologis seperti ini terjadi dengan sangat gradual dan laten (subtle), sehingga seringkali luput dari perhatian pemimpin. Tidak sedikit pemimpin yang awalnya rendah hati lalu berubah menjadi pemimpin yang haus kuasa karena digerogoti oleh ilusi kontrol. 

Kalaupun pemimpin sadar akan gejala tersebut, biasanya ia sudah terlanjur mabuk kepayang akan nikmatnya kontrol. Ia kecanduan kuasa. Kontrol memang bersifat addictive. Mulanya pemimpin disetir oleh keinginannya untuk mengontrol orang lain. Lambat laun keinginan tersebut menjadi sebuah kebutuhan. Prosesnya tidak jauh berbeda dengan orang yang kecanduan narkoba.

Untuk melegitimasi proses diatas, pemimpin seringkali melakukan rasionalisasi dengan berbagai alasan, seperti: "Justru orang tunduk kepada saya menunjukkan bahwa apa yang saya lakukan efektif. Lagipula tanpa pemimpin, mereka mau kemana? Mereka mau jadi apa?"

Penyerahan Diri
Kunci permasalahannya disini adalah ilusi kontrol tersebut muncul karena pemimpin terobsesi dengan tuntutan agar segala sesuatu berjalan atau terjadi sesuai dengan kehendaknya. For things go the way the leader wants them to go. 

Padahal saat seorang pemimpin berpikir ia sedang mengontrol orang lain, sebenarnya ia sedang berada di bawah kontrol ambisinya. Ia sedang diperbudak oleh ego. Dalam natur kejatuhannya, Ia sedang disetir oleh keinginan untuk menjadi yang terutama. Untuk selalu lebih hebat dari yang lain. Lebih berpengalaman, lebih tahu, lebih pandai bicara, lebih banyak talenta, lebih berkarisma. Pendek kata, lebih dalam segala hal.

Pemimpin yang sedemikian perlu kembali kepada Yesus, yang mengajarkan bahwa pemimpin adalah pelayan dari sesamanya, dan bahwa kuasa terletak pada penyerahan diri (submission). 

Yesus mengajarkan konsep penyangkalan diri. Kata Yunani yang diterjemahkan ke "menyangkali diri" atau "to deny", menurut Joseph Thayer's Dictionary, berarti "to forget oneself, lose sight of oneself and one's own interest." Apa yang dimaksud Yesus adalah agar setiap orang Kristen, secara khusus pemimpin Kristen, tidak menuntut segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak kita. Penyangkalan diri ini menolong kita untuk mendahulukan orang lain dan menomorsatukan Allah diatas segalanya.

Saat pemimpin menyangkal diri, ia menyalibkan ambisi dan agenda pribadinya dan menaruh dirinya dibawah orang lain, demi ketaatan kepada Kristus. Saat pemimpin menyangkal diri, ia bahkan menyerahkan hak-haknya kepada Allah, demi melayani orang lain. Yang diserahkan adalah hak-hak yang selama ini dianggap menjadi milik seorang pemimpin by default. Hak untuk mendapat penghargaan, hak untuk didengar, hak untuk membuat keputusan akhir, hak untuk marah, hak untuk mendapat imbalan materi (seperti Paulus dalam 1 Kor 9), dan bahkan hak untuk menyatakan diri sebagai pemimpin. Ini ujian yang berat bagi seorang pemimpin.

Saul dan Yesus
Bagaimana sikap pemimpin terhadap kontrol terlihat jelas pada kontras antara Saul dan Yesus. 

Saul, pemuda tinggi dan gagah yang dipilih Tuhan untuk menjadi raja pertama atas umatNya, adalah seorang yang sangat rendah hati pada mulanya ((1 Sam 9:21). Setelah ia diurapi Samuel sebagai raja, ia tidak membanggakan diri samasekali ketika ia ditanya oleh pamannya apa yang telah terjadi (1 Sam 10:13-16). Ia tidak memanggil press conference. Dan Allah menyertainya sehingga Ia mengalami kemenangan mutlak dalam peperangan melawan bangsa Amon. 

Namun apa yang kemudian terjadi pada Saul adalah sebuah tragedi kepemimpinan. Ia memiliki ilusi kontrol. Ia ingin agar segala sesuatu berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan. Dalam 1 Samuel 13, kita membaca bagaimana Saul melakukan sebuah hal yang sangat serius dimata Tuhan. Ketika bangsa Filistin menyerang dengan kekuatan yang dahsyat, Ia mulai ragu-ragu terhadap Allah. Setelah menunggu Samuel selama tujuh hari untuk mempersembahkan korban bakaran, akhirnya Ia tidak sabar lagi. Lalu melakukannya sendiri dan melanggar perintah Allah yang eksplisit. Mengapa? Karena Saul takut kehilangan massa. Ia takut kehilangan rasa hormat dari rakyatnya. Ia takut kehilangan kontrol. 

Sebaliknya, Yesus memberi teladan yang sangat kontras. Ia senantiasa menantang para muridNya untuk masuk ke dalam proses seumur hidup yang penuh derita untuk mengikut Dia, namun Ia tidak pernah memaksa dan mengontrol mereka. Ia sendiri menjadi teladan sempurna dalam ketaatan terhadap Allah. Salib menjadi bukti penyerahan diriNya yang total kepada Allah. Sebagai seorang manusia sejati, Ia ingin agar cawan kesengsaraan itu diambil, namun Ia tidak menuntut hal tersebut. Ia menyerahkan hakNya kepada Bapa. Ia rela menyerahkan diriNya. Ia memimpin dengan melayani orang lain, bukan mengontrol orang lain.

---

Banyak pemimpin yang tidak rela kehilangan kontrol karena kuatir segalanya akan berantakan. Bagi mereka, absennya kontrol dapat mengakibatkan tirani. Itu sebabnya lebih baik menjadi seorang tiran yang baik. Namun mungkinkah ada seorang tiran yang baik?

Yang perlu dimiliki adalah kesadaran bahwa yang memegang kontrol akhirnya adalah Allah, bukan manusia. Ketika pemimpin selalu ingin memegang kontrol maka ia sedang tergoda untuk menjadi Allah. Jadi pertanyaannya: Relakah pemimpin berserah pada Allah dan mengijinkan Dia untuk memegang kontrol?

Ikutilah teladan Yesus, bukan Saul dan bukan si Ibu pemilik warung!

Sendjaya
Melbourne, 01 Juli 2003
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."