• PDF

C.S. Lewis: Memimpin lewat Tulisan

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 16:09
  • Ditulis oleh Sendjaya
  • Sudah dibaca: 3639 kali
Namanya ada peringkat pertama dalam rangking "Books of the Century" versi majalah Christianity Today, sebagai pengarang buku Mere Christianity. Dan juga di peringkat kedua dalam daftar "The Ten Most Influential Christians of the Twentieth Century" versi majalah Christian History.

Barangkali memang benar, bahwa definisi terpendek dari kepemimpinan adalah pengaruh. Memimpin pada dasarnya adalah mempengaruhi. Ada orang yang mempengaruhi tapi tidak memimpin. Tapi semua orang yang memimpin pasti mempengaruhi.

Iseng-iseng, saya memasukkan namanya menggunakan search engine online www.google.com. Hasilnya, ada 733,000 entries yang muncul tentang C.S. Lewis!

C.S. Lewis adalah seorang intelektual, penulis, pembicara, dosen, apologet, dan murid Kristus sejati yang karya-karyanya mempengaruhi banyak orang dari segala umur untuk percaya dan mengikut Kristus. Dia adalah salah seorang pemimpin yang Allah telah pakai melalui kecendekiawanan-nya untuk mempengaruhi, membentuk, dan mengukir sejarah gereja.

Buku-bukunya menembus lapisan jaman dan tetap berpengaruh sampai hari ini. Di Amazon.com, ketujuh bukunya dalam seri The Chronicles of Narnia, menjadi salah satu judul terlaris diwebsite tersebut. Dengan produktif, Lewis menulis ketujuh buku tersebut dari tahun 1950-56, setiap tahun satu buku. Ia mendapat penghargaan The Carnegie Medal yang bergengsi untuk The Chronicles of Narnia. Hari ini buku tersebut dibaca oleh jutaan anak-anak di berbagai negara. 

Meskipun bukan seorang professional minister, ia telah menulis 25 buku-buku apologetika dan pemuridan selama 30 tahun hidupnya. The Screwtape Letters (1942), Mere Christianity (1952), The Great Divorce (1946), and the Abolition of Man (1943) adalah beberapa buah bukunya yang termasuk dalam Great Books of the World versi Encyclopedia Britannica dan telah terjual jutaan eksemplar. Sehingga tidak heran dia pernah mendapat degree Honorary Doctor of Divinity dari University of St. Andrews. 

Disamping itu, ia juga menulis dibidang keilmuan yang ia tekuni, yaitu sastra Inggris. Karya-karyanya seperti The Allegory of Love menjadi klasik dan mendapat Gollancz Memorial Prize for Literature di tahun 1937. Tidak heran ia pun memperoleh Honorary Doctor of Literature dari University of Manchester. 

Baik dalam public dan private life, Lewis selalu berkata bahwa, "I believe in Christianity as I believe that the sun has risen-not only because I see it, but because by it I see everything else."

Bagaimanakah Tuhan bekerja melalui hidup hambaNya ini?

--

Charles Staple Lewis lahir dalam keluarga Protestan yang 'bookish' pada tanggal 29 November 1898 di Belfast, Irlandia Utara. Dimana-mana ia senantiasa terlihat membaca buku. Ibunya meninggal karena kanker ketika Lewis masih berusia 10 tahun. Hal ini menjadi pukulan batin yang amat dalam bagi Lewis, kakaknya, dan khususnya ayahnya. Suasana di rumah mendadak menjadi berbeda. Kejadian traumatis ini meyakinkan diri Lewis bahwa Allah yg ia kenal dalam Alkitab adalah Allah yang tidak selalu menjawab doa. 

Di usia remaja, Lewis yang rapor matematika-nya selalu merah mulai tertarik pada mitologi. Akhirnya, keraguannya terhadap Allah dan lingkungan sekolahnya yang okultis membuat dia memutuskan untuk meninggalkan iman Kristen yang diajarkan orang tuanya sejak kecil. Ia lalu memutuskan diri menjadi ateis. Bahkan dia pernah menyatakan Tuhan sebagai: 'Musuhku.'

Tahun 1916, ia mendapat beasiswa untuk masuk ke Oxford University. Disana ia berprestasi di berbagai bidang, mendapat First in Honour, antara lain Greek and Latin Literature (1920), Philosophy and Ancient History (1922), dan English literature (1923). Kepiawaiannya di bidang filsafat dan sastra semakin terbukti ketika dia terpilih menjadi Fellow di bidang English language and Literature di Magdalene College di universitas yang sama dan bekerja disana selama 20 tahun.

Lewis yang memang suka membaca dan menulis sejak kecil ini lalu mulai menikmati karya-karya dua orang penulis Kristen, George MacDonald dan G. K. Chesterton. The Everlasting Man, karya Chesterton, secara khusus menantang konsep-konsep materialisme intelektual muda ini. Buku tsb dalam kalimat Lewis "baptize my imagination." Ia menulis, "A young man who wishes to remain a sound atheist cannot be too careful of his reading." 

Di Oxford, dia juga berjumpa dengan Hugo Dyson and J.R.R. Tolkien (pengarang trilogi The Lord of the Rings) dan terlibat dalam diskusi-diskusi tentang Kekristenan dengan keduanya. Mereka pun menjadi sahabat karib. Perlahan Lewis menyadari bahwa rekan-rekan dekatnya adalah orang-orang Kristen. 

Dia bergumul dengan pandangannya terhadap Kristus. Dan pada tahun 1929, akhirnya ia menyerah, berubah dari seorang ateis menjadi teis, dan mengaku bahwa "God was God." Lalu ia pun berlutut dan berdoa. 

Kisah pertobatannya ia tulis dalam bukunya, Surprised by Joy. Konfiksi nya terhadap Allah tertuang dalam kalimat berikut: "Christianity, if false, is of no importance, and, if true, of infinite importance. The one thing it cannot be is moderately important."

Segera setelah pertobatannya, Lewis membanting setir. Kalau tadinya ia menulis karya-karya sastra sekuler (yang menjadi klasik dan terkenal), sekarang dia menggunakan seluruh talenta dan tenaganya untuk menulis buku-buku yang berlandaskan iman Kristen. Dalam waktu dua tahun setelah pertobatannya, ia menerbitkan The Pilgrim's Regress: An Allegorical Apology for Christianity, Reason and Romanticism. 

Di tahun yg sama buku tsb terbit, Lewis juga memulai sebuah forum dialog informal dengan rekan-rekannya baik Kristen maupun sekuler, yang disebut "The Inklings" (Inklings berarti suspicion/kecurigaan). Yang menjadi partisipan rutin termasuk J.R.R. Tolkien dan Hugo Dyson. Mereka bertemu bertukar ide di ruang kerja Jack di Oxford setiap Kamis malam secara rutin selama 16 tahun.

Meskipun dikritik bahkan oleh rekan-rekan dekatnya, Lewis tetap menulis dan berbicara dalam konteks penginjilan dan apologetika. Bahkan ia tidak mendapatkan professorship di Oxford selama beberapa kali gara-gara buku-buku Kristen yang ia tulis.

Pada tahun 1941, direktur BBC bagian religious broadcasting tersentuh secara pribadi oleh buku Lewis The Problem of Pain dan meminta dia untuk berbicara di radio BBC. Dengan agak segan, Lewis menerima tawaran tersebut agar dapat mempengaruhi lebih banyak orang lagi, demi Kristus. Hasilnya, tujuh seri ceramah radio yang bertema apologetik yang disiarkan antara tahun 1941 sampai 1944. Dari seri siaran radio tersebut, BBC memproduksi buku Mere Christianity yang sangat laris dan hari ini menjadi semacam 'buku wajib' bagi orang Kristen.

Buku-bukunya begitu laris. Dan namanya semakin populer. Namun ia tetap rendah hati. Ia mengatakan bahwa: "The intellectual life is not the only road to God, nor the safest, but we find it to be a road, and it may be the appointed road for us. Of course, it will be so only so long as we keep the impulse pure and disinterested." Ia juga menyumbangkan royalty dari buku-bukunya, khususnya Screwtape Letters, untuk bantuan kemanusiaan.

Dari begitu banyak surat korespondensi ke radio BBC tersebut, sebuah surat mengubah hidup Lewis, surat yang datang dari seorang New Yorker bernama Joy Gresham yang menjadi Kristen setelah membaca buku The Great Divorce and Screwtape Letters. Singkat cerita, Joy bertemu dengan Lewis dan menjadi sahabat baik. Melalui berbagai hal yang terjadi, akhirnya Lewis dan Joy menikah. 

Tidak berapa lama setelah mereka menikah, Joy mengidap kanker tulang. Namun dengan ajaib Tuhan mengijinkan Joy dan Lewis untuk menikmati 3 tahun lagi bersama. Sukacita ini menjadi inspirasi Lewis menulis buku The Four Loves. Namun kanker kembali menyerang tubuh Joy. Ia akhirnya meninggal di tahun 1960, dan Lewis kembali menghadapi kesedihan yang luar biasa seperti ketika ia ditinggal ibunya. Hal ini digambarkan dengan grafis dalam film modern tentang biografinya,
The Shadowlands.

Dukacita, kemarahan, dan keraguan meliputi diri Lewis; dan ia cetuskan Semua itu dalam bukunya A Grief Observed (1961). Buku tersebut mulanya terbit dengan nama samaran, karena isinya terlalu personal dan intimate sehingga ia tidak mau memakai nama asli. Buku tersebut akhirnya diterbitkan ulang dengan nama asli Lewis setelah ia meninggal.

Di pertengahan tahun 1963, kesehatan Lewis menurun drastis. Dan dia meninggal dengan damai di tidurnya pada tanggal 22 November, hari yang sama John F. Kennedy terbunuh, yang menjelaskan mengapa kematian Lewis tidak menyedot perhatian dunia. Namun saya yakin Allah Bapa memperhatikan hambaNya yang satu ini. 

Hari ini ada dua institusi Kristen yang berdiri untuk meneruskan idealisme Lewis. Organisasi yang pertama, C.S. Lewis Institute (http://www.cslewisinstitute.org/) dengan misi: "to challenge, educate, and disciple those who will, like Lewis, articulate, defend, and live faith in Christ through personal and public life." Kedua, C.S. Lewis Foundation (http://www.cslewis.org) yang berupaya menciptakan "the restoration of a vital Christian voice with the highest levels of academic life, a goal that Jack himself fought for throughout his life as a scholar and author."


Pengaruhnya tetap hidup sampai hari ini, mengubah hati dan hidup banyak orang. Tidaklah terlalu mengherankan apabila begitu banyak orang Kristen yang sangat mengagumi, terus belajar dari, dan diilhami serta dimotivasi oleh C.S. Lewis. 

Ia telah mempersembahkan yang terbaik dari dirinya bagi Allah, dan menjalani hidup yang penuh arti. Dalam salah satu bukunya, ia menulis, 

"When we want to be something other than the thing God wants 
us to be, we must be wanting what, in fact, will not make us happy." 

Sendjaya
Melbourne, 04 Juli 2003
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."