• PDF

Seni Menegur Pemimpin

Penilaian Pengunjung: / 5
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 16:27
  • Ditulis oleh Sendjaya
  • Sudah dibaca: 5140 kali
Sudah lama saya memikirkan mana yang lebih mudah dilakukan oleh seorang pemimpin: menerima teguran atau memberi teguran. Yang jelas, keduanya sulit dilakukan. 

Namun efektivitas pemimpin sangat ditentukan oleh sikap dan responnya dalam memberi dan menerima teguran. Bahkan banyak pemimpin yang gagal karena tidak pernah bersedia menerima teguran.


Di pihak lain, kita yang tidak berada dalam posisi pemimpin sangat segan memberi masukan/teguran/kritik kepada pemimpin. Khususnya kita yang dibesarkan dalam kultur Indonesia yang sangat paternalistik. Ada tiga hal yang saya kira membantu menjelaskan mengapa kita sangat segan menegur/menghakimi orang lain: dua diantaranya menjadi pengalaman pribadi saya.

Buktikan Dulu!
Pernah suatu kali saya memberi masukan kepada seorang pemimpin gereja senior yang tergolong 'sukses' dalam pekerjaan pelayanannya. Masukan tersebut saya coba sampaikan dengan sangat hati-hati dan sopan agar jangan sampai ada kesan 'menggurui'. 
Dengan susah payah, saya terlebih dahulu menyusun kalimat-kalimat verbal yang ingin saya kemukakan. 

Sebenarnya saya segan memberi masukan tersebut kepada Bapak tersebut. Namun setelah mempertimbangkannya dan mendoakannya selama beberapa minggu, sepertinya ada dorongan hati untuk melakukan itu. Paling tidak, demi kepentingan kerajaan Allah. Lagipula, masukan tersebut kebetulan berkenaan dengan bidang studi yang saya geluti, yaitu seputar kepemimpinan dalam organisasi.

Singkat cerita, akhirnya dalam sebuah kesempatan pertemuan, tersampaikanlah point-point tersebut kepada si pemimpin besar ini. 

Namun sebelum selesai semua point disampaikan, si pemimpin langsung menunjukkan bahasa tubuh bahwa ia ingin menanggapi saya. Yang membuat saya hampir loncat dari kursi adalah tanggapan yang ia berikan: "Kamu buktikan dulu bahwa kamu bisa melakukan apa yang saya sudah lakukan dan membangun apa yang saya telah bangun. Kalau nanti kamu berhasil, baru saya akan minta nasihat dari kamu. Bahkan saya angkat kamu jadi penasihat saya."

Sejak itu cukup lama saya memikirkan jawaban tersebut. Lalu saya bertanya pada diri sendiri: Benarkah sebuah pendapat/nasihat/masukan itu patut didengar hanya apabila itu disampaikan oleh seseorang yang telah membuktikan diri berhasil atau berada pada level yang sama dengan dia? 

Kalau mengikuti logika tersebut, maka hal berikut juga benar adanya: Jangan beri masukan kepada seorang konglomerat kalau kita belum sekaya dia. Atau kepada seorang selebritis kalau kita belum setenar dia. Atau kepada seorang akademisi kalau kita belum meraih gelar sebanyak dia. Atau kepada seorang yang lebih tua dibanding kita kalau kita belum setua dia.

Apakah pendapat/masukan/nasihat yang kita kemukakan harus proporsional dengan level kesuksesan kita?

Pertanyaan tersebut menganggu saya, mengingat implikasinya sangat luas. Tetapi kemudian saya teringat akan seseorang yang profesinya adalah 'food critic'. Tugas utama seorang 'food critic' adalah datang ke restoran, mencoba makanan yang paling nikmat di restoran tersebut, dan mengkritiknya! Bukan saja dia dibayar mahal untuk kritiknya, namun dia bahkan tidak perlu bisa masak makanan tersebut! 

The Untouchables!
Pengalaman kedua tidak kalah menarik dan sarat dengan pelajaran. Dalam sebuah percakapan dengan seorang pemimpin gereja, kami lalu sampai pada topik tentang menegur dan ditegur. Lalu ia mulai bercerita tentang pengalamannya sebagai seorang pendeta dan hamba Tuhan ditegur oleh seorang anggota jemaatnya. Menurut persepsinya, teguran tersebut tidak bernada membangun dan cenderung memojokkan dia. Lalu ia memilih sikap diam. Namun dalam hatinya, ia merasa suatu ketidaknyamanan.

Ia lalu berkata bahwa beberapa waktu kemudian, sesuatu terjadi pada orang yang memberi teguran tersebut. Bisnisnya bangkrut! Dan menurut pendeta tersebut, itu adalah hukuman Tuhan atas tindakannya menegur seorang yang diurapi Allah. Kemudian dia menceritakan seorang lain lagi yang melakukan hal yang sama, dan mengalami hal serupa. Cuma kali ini lebih parah. Ditimpa penyakit ganas!

Pendeta ini lalu memberitahukan pelajaran yang dipetik dari pengalaman tersebut. Bukan bagi dirinya, tapi bagi saya. Hanya satu pelajaran. Jangan sembarangan memberi teguran kepada orang yang diurapi Allah. Mesti hati-hati! Lalu ia memberikan dasar ayat Alkitabnya: "Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabiKu" (Mazmur 105:15).

Sejenak saya terdiam mendengar nasihatnya. Yang terlintas di benak saya adalah implikasi dari pernyataan-pernyataan diatas terhadap orang-orang yang dipimpin oleh "orang yang diurapi Allah" tersebut. Pernyataan-pernyataan seperti itu justru mendorong orang 'awam' untuk semakin pasif, bahkan semakin takut memberikan masukan dan teguran kepada pendeta. Criticize, and you will be cursed!

Eksegesis Mazmur 115:15 akan memperlihatkan bahwa ayat tersebut telah disalahgunakan diatas. Paling tidak ada dua hal yang penting untuk dicermati.

Pertama, frase "yang Kuurapi" tidak menunjuk secara spesifik kepada pendeta atau hamba Tuhan yang hidup di abad ke-21 ini. Penggunaan frase tersebut dalam PL menunjuk secara umum kepada raja-raja Israel (lihat misalnya, 2 Sam 1:14; Mazmur 20:7; Ratapan 4:20). Jadi bukan menunjuk kepada nabi. Sedangkan dalam konteks Mazmur 105, frase tersebut menunjuk kepada anak cucu Abraham dan anak-anak Yakub secara umum (the patriarchs). 

Dalam PB, orang yang diurapi Allah adalah setiap orang percaya tanpa terkecuali. "Kamu telah beroleh pengurapan dari yang Kudus" (1 Yohanes 2:20). Kata "kamu" disana berbentuk plural dan menunjuk kepada anak-anak Allah. 

Jadi jelas disini bahwa tidak ada seorang pun dalam gereja yang memiliki status special sebagai "orang yang diurapi Allah" yang lebih tinggi daripada orang-orang percaya lainnya dan kebal terhadap masukan/nasihat/teguran.

Kedua, kata 'usik' (touch, KJV/NIV) dan 'berbuat jahat' (harm, KJV/NIV) dalam Mazmur 105:15 mengacu kepada hal yang bersifat fisik. Strong's Hebrew Dictionary memberikan definisi sebagai berikut: Menyerang dengan pukulan, mendatangkan malapetaka, menghancurkan sampai berkeping-keping. Pendek kata, ayat tersebut tidak berbicara tentang memberi masukan atau teguran dalam dua hal yang esensial pada diri pemimpin Kristen: Karakter dan ajaran (doktrin/prinsip).

Jangan Menghakimi!
Disamping dua hal diatas, ada satu bagian lagi di Alkitab yang sering disalahgunakan untuk mereduksi keinginan memberi nasihat, masukan, apalagi teguran. Yaitu perintah Tuhan Yesus dalam tiga kata yang sangat terkenal: "Jangan kamu menghakimi" (Matius 7:1). Apalagi 'menghakimi' pemimpin. 

Ayat diatas dipersepsi sedemikian rupa sehingga mengecilkan kapabilitas orang Kristen untuk membedakan yang benar dan yang salah (discernment), mendorong kita untuk menutup mata terhadap kesalahan dan ketidakberesan yang ada di sekitar kita, dan mematikan daya kritis kita terhadap orang lain. 

Berikut uraian singkat tentang beberapa hal yang menjelaskan maksud Yesus dalam bagian ini:

Pertama, relativisme yang kental mewarnai dunia berdosa abad ke-21 justru semakin membutuhkan penilaian dan penghakiman. Yang benar dan yang salah harus dinyatakan dalam ruang sidang, dalam ruang kelas dan kuliah, dalam keluarga, dalam perusahaan, dan juga dalam gereja. Tidak mungkin perintah Yesus diatas malah meniadakan daya kritis orang Kristen terhadap dunia. Ada banyak bagian lain di Alkitab yang mementingkan praktek 'saling menegur' dalam komunitas umat Allah. 

Kedua, penghakiman berbeda dengan pendapat. Seringkali pendapat yang kita lontarkan terhadap orang lain diselimuti dan didasari oleh ketakutan, kesombongan, atau ketidaktahuan kita. Sebaliknya, penghakiman adalah pendapat yang kita bentuk setelah kita berusaha dengan serius untuk mengetahui seluruh fakta yang relevan dan (sebagai seorang Kristen) berdoa dan berkonsultasi dengan Alkitab.

Ketiga, benang merah dari seluruh kotbah Yesus di bukit adalah agar para pengikut Kristus berbeda dengan dunia. Sedangkan tekanan dari kotbah di bukit adalah sikap dan motivasi hati ketimbang perilaku eksternal. Itu sebabnya Yesus membuat kontras antara para muridNya dan orang Farisi. 

Orang Farisi menganggap diri lebih superior secara rohani dan moral dibanding orang lain, dan menghakimi orang seakan-akan mereka sendiri kebal dari penghakiman tersebut. Mereka bertindak sebagai hakim dengan semangat meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Ini yang tidak diinginkan Yesus.

Fokus Yesus disini bukanlah tindakan menghakimi itu sendiri, namun sikap dan motivasi hati yang ada dibalik tindakan tersebut. Paraprase bebas dari ayat diatas bisa berbunyi demikian: Jangan kamu menghakimi seperti seorang Farisi! Jangan kamu menghakimi seperti seorang hakim!

Keempat, yang Yesus larang adalah upaya mengeluarkan selumbar dimata orang lain dengan balok masih bersemayam dimata kita. Kalau salah satu gigi Anda memiliki sebuah lubang kecil yang sangat dalam, maukah Anda datang ke dokter gigi yang sedang terkena penyakit mata katarak? 

Yang Yesus katakan adalah koreksi dulu dirimu, baru kita bisa mengkoreksi orang lain. Pola ini perlu kita lakukan dan pertahankan. Koreksi dan ubah diri sendiri, baru koreksi dan ubah orang lain. Tapi tidak berarti tunggu kita sempurna dulu di seluruh area kehidupan, baru bisa koreksi orang lain. Karena jangan-jangan sampai kita mati, kita tidak akan pernah sekalipun mengkoreksi orang lain.

Kelima, apakah selumbar dimata orang lain tersebut harus tetap dikeluarkan? Ya. Karena adalah tanggung jawab moral orang Kristen untuk mengkoreksi orang lain, bukan untuk menjatuhkan, namun untuk membawanya semakin serupa Kristus. 

Namun kita harus sadar bahwa tanggung jawab moral tersebut harus dilakukan dengan kerendahan hati dan kesadaran bahwa kita tidak akan pernah 100% benar dan tidak akan luput dari kesalahan. Dan jangan lupa, kita sendiri nanti akan berdiri dihadapan penghakiman Tuhan memberi pertanggungjawab tentang keaktifan dan kepasifan kita dalam hal menegur orang lain. 

Loving Critics 
Pemimpin tidak membutuhkan unloving critics. Tukang kritik yang hobinya mencari kesalahan pemimpin. Sebaliknya, uncritical lovers sangat berbahaya bagi integritas hidup pemimpin karena hanya menyampaikan hal-hal yang enak didengar ditelinga pemimpin. 
Yang dibutuhkan pemimpin adalah loving critics. 

Saling menegur adalah bagian dari kunci membentuk komunitas umat Allah yang sehat dan bertumbuh. Namun hal ini amat sulit dilakukan kepada pemimpin karena di satu sisi kita harus menghormati dan taat kepada pemimpin yang Allah telah tetapkan, dan di sisi lain pemimpin tetap adalah manusia yang masih bisa salah (fallible) yang membutuhkan kritik dan teguran.

Setelah seluruh diskusi diatas, ada beberapa kesimpulan yang mengemuka berkaitan dengan sikap kita menegur pemimpin:

1. Menegur pemimpin adalah bukti kasih kita kepadanya. Pemimpin memiliki 'blind spots' dan tidak bebas dari jebakan kuasa, seks, dan uang yang menyeretnya ke dalam dosa. Tidak menegurnya berarti membiarkan dia tergelincir lebih dalam. Tidak menegurnya berarti mengabaikan tanggung jawab moral yang Allah berikan sebagai seorang saudara seiman.

2. Menegur berpotensi membuat diri kita menjadi sombong dan sok suci. Tidak sulit bagi seseorang untuk menjelma menjadi orang Farisi: Kritik sana-sini dan tegur setiap orang! Itu sebabnya dibutuhkan orang yang dewasa rohani untuk menegur (Galatia 6:1).

3. Tujuan menegur bukan untuk mengutuk pemimpin atau membeberkan kesalahannya untuk memalukannya, melainkan untuk restorasi agar pemimpin semakin efektif dalam hidup dan pelayanannya. 

4. Setiap teguran yang kita hendak lontarkan harus didahului dengan tiga hal: fakta, firman Tuhan, dan pergumulan doa. Teguran yang positif juga disertai dengan tetesan air mata dan hati yang berat. Kalau salah satu dari elemen-elemen tersebut tidak ada, sebaiknya batalkan niat untuk menegur tersebut. 

5. Bagaimana teguran itu disampaikan sama pentingnya dengan isi teguran tersebut. Bahkan dalam budaya Timur, terkadang lebih penting. Khususnya kepada orang yang lebih tua atau lebih senior dalam pengalaman atau pengetahuan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan misalnya, pengkalimatan, bahasa tubuh, sikap hormat, mimik muka, intonasi, relasi, waktu, dan tempat. Tanpa hal-hal ini, niat yang baik biasanya malah berakibat buruk.

Yang tidak pernah menegur perlu berdoa meminta hikmat, kepekaan dan keberanian dari Allah. Yang terlalu sering menegur perlu berdoa juga meminta pengontrolan diri dan pengampunan dari Allah.

sendjaya 
Melbourne, 01 November 2003
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."