Kebahagiaan Tidak Memiliki Apa-Apa

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Seorang pengurus Partai Politik pendukung pemerintah mengatakan Presiden SBY akan lebih berani dan efektif bila ia terpilih lagi menjadi Presiden untuk yang kedua kalinya sebab ia tidak lagi memikirkan untuk mempertahankan jabatannya (jabatan Presiden dibatasi dua periode). Saat ini Presiden terkesan sangat hati-hati sebab dia memikirkan untuk mempertahankan jabatannya tersebut. Ya begitulah sifat manusia bila sudah memiliki jabatan maka ia akan berusaha untuk mempertahankan jabatannya tersebut. Tidak ada pejabat yang tidak takut kehilangan jabatannya sehingga mereka akan berusaha untuk mempertahankan jabatannya bahkan kalau perlu dengan mengorbankan orang lain. Penyebab mengapa mereka berusaha mempertahankan jabatannya tersebut karena mereka menaruh kebahagiaan dan rasa berharga mereka pada jabatan tersebut. Padahal bagaimana bisa disebut berbahagia jika seseorang hidup dalam ketakutan akan kehilangan sesuatu?

Satu kali Ibu saya mengatakan bahwa seorang sepupu saya sudah hidup bahagia sebab dia sudah mapan secara ekonomi dan memiliki keluarga yang harmonis. Sebuah kepercayaan yang sudah ditanamkan oleh orang tua kita sejak masih kecil yaitu bila sudah besar kita harus jadi orang yaitu memiliki pekerjaan mapan, berkeluarga dan punya keturunan. Kita ditanamkan jika kita mapan secara ekonomi, memiliki jabatan dan keluarga yang harmonis maka hidup kita pasti akan bahagia. Akan tetapi semakin kita kaya maka kita semakin takut kehilangan harta; semakin kita memiliki jabatan tinggi maka semakin kita takut disingkirkan; semakin populer kita maka semakin takut kita satu hari akan dilupakan orang; semakin harmonis keluarga maka semakin takut kita kehilangan mereka. Bukannya kebahagiaan yang kita peroleh malah sebaliknya kita hidup dalam ketakutan.

Bila kita ingin meraih kebahagiaan yang sejati maka kita harus melepaskan diri dari setiap ikatan (berhala) yang menjadi tempat kita menggantungkan kebahagiaan tersebut. Proses untuk melepaskan ikatan ini memang tidak mudah sebab sedari kecil kita sudah dikondisikan (diprogram) untuk memiliki kepercayaan yang salah tersebut. Sebenarnya untuk bisa mengalami kebahagiaan kita tidak perlu memiliki apa-apa melainkan justru harus melepaskan sesuatu yaitu kepercayaan yang salah. Itulah sebabnya kitab suci memerintahkan kita untuk berubah melalui pembaharuan pikiran (budi) sebab memang sumber masalah manusia adalah di pikirannya.

Saat kita tidak lagi menaruh atau menggantungkan kebahagiaan kita pada dunia ini maka kita menjadi orang-orang yang merdeka. Kebahagiaan kita tidak lagi tergantung pada harta, jabatan, keluarga dan sahabat yang kita miliki. Setelah itu barulah kasih yang sejati akan lahir dari hati kita.
Kita tidak bisa mengasihi orang lain dengan kasih yang tulus jika kita masih menggantungkan kebahagiaan kita pada mereka. Jika kita masih mengharapkan pujian, dukungan dan penghargaan dari orang lain sebagai sumber kebahagiaan kita maka yang dapat kita lakukan hanyalah memanipulasi dan memanfaatkan mereka untuk kebahagiaan kita.

Pada awalnya untuk melepaskan diri dari keterikatan ini memang sangat sulit, prosesnya seperti orang yang melepaskan diri dari ketergantungan akan obat bius. Tahukah Anda bahwa kita semua merupakan para pecandu? Kita kecanduan akan pujian, penghargaan dan dukungan dari orang lain.
Kita hidup dalam ketakutan apa kata orang mengenai diri kita. Kita berusaha menjaga gengsi supaya tidak dianggap rendah oleh orang lain. Menjaga gengsi merupakan tanda bahwa masih ada kesombongan (keangkuhan hidup) dalam diri kita.

Biasanya melalui krisis dan penderitaanlah maka kita akan terdorong untuk berubah. Penderitaan akan menyadarkan kita bahwa kita perlu berubah. Hanya dengan mengalami penderitaanlah kita akan merasa muak dengan suatu keadaan. Hanya orang sakit yang akan menyadari bahwa dia memerlukan obat. Manfaatkanlah setiap kali anda mengalami penderitaan sebab dibalik setiap penderitaan tersembunyi kemuliaan. Kiranya Anda semua mengalami perubahan tersebut dan menjadi orang-orang yang mengalami kebahagiaan yang sejati ini!

Sunanto Choa

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."