• PDF

Apakah Allah Peduli?

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 15:00
  • Ditulis oleh Sunanto
  • Sudah dibaca: 2510 kali
Rom 8:32 “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”

Gerald L. Sittser, seorang Pendeta, Teolog dan penulis, dalam salah satu bukunya menceritakan pengalaman kecelakaan tragis yang menimpa hidupnya. Kecelakaan tragis tersebut yang diakibatkan oleh seorang pengemudi mabuk yang menabrak mobil yang sedang dikendarainya menyebabkan isteri, seorang anak dan ibunya meninggal dunia. Dalam sekejab mata dia kehilangan orang-orang yang sangat dikasihinya. Dia juga harus menjadi orang tua tunggal bagi tiga orang anaknya yang masih kecil. Selama dua tahun setelah kejadian tersebut dia hidup dalam kegelapan dan kekacauan. Anak-anaknya mengalami trauma hebat dan hampir setiap malam dia merasa kelelahan. Dengan jujur dia mengakui bahwa dia tidak mengerti mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan tersebut. Namun pada akhirnya dia bisa mengalami kasih karunia Tuhan yang memberikan kekuatan kepadanya sehingga dia merasa lega, bersyukur dan damai.

Sebagai Allah yang berdaulat dan maha kuasa tentu Dia dapat mencegah kita mengalami penderitaan. Kita tidak tahu dengan pasti mengapa Ia mengijinkan kita mengalami penderitaan tetapi kita tahu bahwa Ia sangat peduli dan dapat turut merasakan penderitaan tersebut. Nick Vujicik seorang pemuda yang lahir tanpa tangan dan kaki mengatakan bahwa bukti Allah peduli kepada kita adalah diberikan-Nya anak-Nya kepada kita. Jika Tuhan tidak peduli dengan umat manusia maka tidak akan diberikan-Nya anak-Nya yang tunggal mati demi menebus dosa manusia.

Sejak menyerahkan hidup kepada Tuhan sekitar 9 tahun yang lalu, Tuhan mengijinkan banyak krisis terjadi dalam hidup saya. Memang justru mereka yang telah mempersembahkan hidupnya akan semakin banyak mengalami proses pembentukkan dari Tuhan. Sekali kita menyerahkan diri kepada Tuhan maka penyerahan itu tidak dapat ditarik kembali. Kita akan diproses oleh Tuhan sampai ke titik yang tidak dapat kembali (point of no return).

Dia akan mengijinkan apapun termasuk penderitaan dan kesakitan agar kita menjadi sempurna serupa gambaran anak-Nya. Sama seperti tukang periuk yang menekan, membentuk dan membakar bejananya maka demikianlah Tuhan membentuk diri kita agar kita menjadi orang yang berguna dalam Kerajaan-Nya. Percayalah, Tuhan sangat peduli dengan kita sebab Dia adalah Bapa kita yang sangat mengasihi kita tetapi Dia harus mengijinkan penderitaan tersebut sebab Dia lebih peduli lagi dengan kebahagiaan abadi yang akan kita alami setelah proses penyempurnaan tersebut selesai!
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."