Tinggi Hati Mendahului Kehancuran

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
II Taw 26:16 “Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.”

Uzia menjadi raja Yehuda ketika ia masih sangat muda yaitu berumur enam belas tahun. Alkitab mengatakan bahwa ia merupakan raja yang baik dan melakukan apa yang benar di mata Tuhan seperti yang dilakukan Amazia, Ayahnya. Tuhan membuat segala yang dilakukannya berhasil selama ia mencari Tuhan. Bahkan saking berhasilnya, ia mampu membangun kota-kota di daerah musuh. Raja Uzia termasyhur sampai ke negeri-negeri yang jauh, karena ia ditolong dengan ajaib sehingga menjadi kuat. Akan tetapi sayangya setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati dan melakukan perbuatan yang dilarang Tuhan sehingga ia kena penyakit kusta. Uzia mengawali hidupnya dengan sangat baik namun ia mengahirinya dengan sangat buruk.

Kisah Uzia ini mengajarkan kita bahwa keberhasilan bisa menjadi musuh yang terbesar dalam hidup kita bila kita menjadi sombong dan lupa bahwa keberhasilan itu tercapai semata-mata karena anugerah-Nya. Abraham Lincoln berkata, “Aku tidak kuatir ketika kamu jatuh, tetapi aku justru mulai kuatir ketika kamu mulai bangun.” Kebanyakan hamba Tuhan yang mengalami kejatuhan justru terjadi ketika mereka sedang dalam masa-masa ‘keemasan’. Keberhasilan dapat menjadi awal dari kejatuhan bila kita menjadi sombong dan melupakan salib.

Rasul Paulus bisa dikatakan salah satu rasul yang paling berhasil dalam melayani pekerjaan Tuhan sebab begitu banyak jemaat yang dirintisnya. Paulus juga memiliki banyak anak-anak rohani yang dipakai oleh Tuhan dengan luar biasa. Namun keberhasilan tersebut tidak membuat Paulus menjadi sombong sebab dia tidak bermegah dalam semuanya itu. Hanya satu yang ia megahkan yaitu ia bermegah atas kelemahannya. Paulus menyadari bahwa semua keberhasilan yang dia capai hanyalah semata-mata karena kasih karunia Allah bukan karena kemampuan dirinya sendiri. Bahkan Paulus mengatakan bahwa di dalam dirinya sebagai manusia tidak ada yang baik.

Percayalah, Tuhan menginginkan kita semua mengalami keberhasilan dalam hidup ini. Jika bapa kita di dunia ini saja tahu memberi yang baik untuk anaknya, apalagi Bapa kita di surga yang jauh lebih sempurna itu. Bila kita selalu mencari Tuhan dan menempatkanNya di tempat pertama maka Ia pasti akan membuat hidup kita berhasil. Tuhan ingin memakai hidup kita untuk menjadi terang dan garam bagi dunia ini. Tuhan ingin menjadikan hidup kita sebagai berkat bagi orang-orang di sekeliling kita. Namun ingatlah selalu bahwa keberhasilan yang kita raih tersebut semata-mata karena anugerah-Nya. Jangan menjadi tinggi hati dan lupa diri dalam keberhasilan tersebut. Tetaplah rendah hati dan setia kepada Tuhan sampai akhir!
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."