Jiwaku Merindukan Allah

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Mzm 42:2 “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.”

Setiap insan manusia yang pernah hidup di dunia ini pasti pernah merasakan perasaan rindu akan sesuatu. Apalagi bagi pasangan yang sedang memadu kasih (pacaran), biasanya hampir setiap saat merindukan untuk bertemu sang pujaan hati. Satu hari nggak ketemu si dia, oh rasanya seperti sudah setahun lamanya tidak berjumpa. Tahukah anda saat ini kita sebenarnya juga sedang ‘pacaran’ dengan Tuhan? Kita semua yang telah ditebus oleh darah Kristus merupakan mempelai-mempelai wanita-Nya Kristus. Pada satu waktu sang mempelai pria yaitu Yesus Kristus akan datang untuk menyunting kita semua sang mempelai wanita-Nya.

Akan tetapi, marilah kita jujur bahwa seringkali yang kita rindukan dalam hidup ini bukanlah Tuhan. Pada waktu baru bertobat memang biasanya kita semua dipenuhi oleh kasih mula-mula sehingga begitu rindu dan bersemangat untuk ketemu Tuhan namun seiring dengan berjalannya waktu kita pasti akan mengalami masa-masa kering dalam kerohanian. Kebanyakan yang kita rindukan itu adalah mimpi-mimpi yang ingin kita capai dalam hidup ini mungkin itu berupa karir, menikah, punya anak atau bagi anda yang seorang gembala gereja mungkin memiliki mimpi rohani seperti gereja anda yang bertumbuh. Kita bisa saja setia saat teduh lewat doa dan pembacaan Firman setiap hari namun kegiatan tersebut bisa jadi hanya berupa kewajiban bukan kesukaan bagi kita (meski begitu tetaplah disiplin saat teduh). Saya ingin mengakui kepada anda bahwa seringkali saya tidak merasakan kerinduan (kegairahan) untuk datang kepada Tuhan setiap pagi, malah saya sering menggunakan doa sebagai media untuk meminta penggenapan mimpi-mimpi saya bukan untuk berhubungan intim dengan Allah. Hayolah mari kita jujur, bukankah anda juga pernah mengalami hal yang sama? Hal yang wajar bila anda pernah mengalaminya sebab semua orang pasti mengalami hal yang sama sebab masa-masa kering dan gelap secara rohani memang dibutuhkan dalam proses pendewasaan rohani.

Banyak mimpi-mimpi yang pernah saya impikan tidak atau belum menjadi kenyataan dan hal itu sungguh menyakitkan bahkan kadang menghancurkan hati saya. Kadang saya bertanya-tanya, mengapa Tuhan tidak atau belum mengijinkan mimpi-mimpi tersebut terwujud? Sekarang ini saya sadar bahwa mengapa Tuhan mengijinkan banyak mimpi-mimpi saya mengalami kegagalan sebab itu bukanlah hal terbaik yang Ia ingin berikan kepada saya. Walaupun dulu saya berpikir jika impian-impian tersebut dapat terwujud maka saya akan bahagia namun Tuhan tahu bahwa tanpa terlebih dahulu saya diproses maka seandainya impian tersebut terwujud tetap tidak akan membahagiakan saya. Tuhan membawa saya terlebih dahulu mengalami kegagalan dan kehancuran impian untuk membawa saya kepada pengharapan yang sejati yaitu untuk menemukan kebahagiaan melalui keintiman dalam hubungan dengan Tuhan. Mimpi-mimpi yang saya pikir bisa membahagiakan jiwa saya sebenarnya hanya sebuah fatamorgana (tipuan) sebab sebenarnya jiwa ini hanya dapat dipuaskan melalui kasih dari hubungan intim dengan Tuhan. Hanya air kehidupan yang mengalir dari hadirat-Nya yang dapat memberikan sukacita dan kepuasan sejati bagi jiwaku. Sama seperti pemazmur saya dapat bernyanyi dari hati karena memang mengalaminya yaitu seperti rusa merindukan sungai demikianlah jiwaku rindu kepadamu.

Memiliki impian itu sesuatu yang baik sebab bila kita tidak bermimpi maka sebenarnya kita tidak lagi hidup. Setiap kita pasti memiliki sebuah impian (visi) dalam hidup ini yang sudah ditaruh Tuhan di hati kita. Namun sebelum visi tersebut bisa terwujud akan terjadi sebuah proses kematian visi dimana kita merasa sudah tidak sanggup lagi mencapai visi tersebut. Proses kematian visi ini dialami oleh semua tokoh iman yang ada di Alkitab seperti Abraham, Musa, Yusuf, Daud dan lain-lain. Musa yang memiliki visi untuk membebaskan bangsanya dari cengkraman perbudakan di Mesir harus mengalami kematian visi selama empat puluh tahun dengan menjadi gembala domba di padang gurun. Abraham yang memiliki visi untuk menjadi bapak banyak bangsa harus mengalami kematian visi sebab ia dan istrinya sudah berumur lanjut tetapi belum juga punya keturunan.

Proses kematian visi ini sangat diperlukan agar kita siap untuk menerima penggenapan visi tersebut.
Tanpa terlebih dahulu diproses maka impian kita akan menjadi berhala yang lebih penting dari Tuhan saat mimpi tersebut terwujud. Abraham berani mengorbankan Ishak meski itu anaknya yang semata wayang sebab Tuhan telah memprosesnya sedemikian rupa sehingga di hati Abraham, Tuhanlah yang terpenting bukan impiannya untuk menjadi bapak banyak bangsa yang lebih penting. Saya percaya bila Tuhan memberikan keturunan kepada Abraham saat ia masih muda maka belum tentu Abraham rela dan taat untuk mempersembahkan anaknya kepada Tuhan. Tuhan itu bukannya jahat saat Ia menunda penggenapan mimpi kita sebab Ia tahu bila kita belum disiapkan maka mimpi tersebut akan menjadi berhala bila terwujud terlalu awal. Kita tidak akan memberhalakan mimpi yang telah digenapi bila kita telah terlebih dahulu mengalami proses kematian visi sehingga melalui itu Tuhan telah menjadi kesukaan yang terbesar bagi kita.

Tuhan tidak langsung membawa bangsa Israel ke tanah perjanjian (kanaan) melainkan membawa mereka melintasi dahulu daerah padang gurun sebab tanpa disiapkan di padang gurun pasti bangsa Israel tidak akan siap menerima tanah perjanjian. Bangsa Israel secara fisik memang sudah keluar dari Mesir namun mesir (lambang keinginan daging/dunia) belumlah keluar dari diri mereka. Di padang gurun Tuhan memproses mereka sehingga mesir yang ada dalam diri mereka dimatikan.
Padang gurun bukanlah suatu kutuk melainkan sebuah berkat sebab disanalah cengkraman dunia dalam pikiran dan hati kita dilepaskan sehingga hati kita ditawan oleh Tuhan dan rencanaNya yang kekal. Di padang gurun yang kering dan gersang itu kita akan menemukan sumber air kehidupan sejati yang dapat memuaskan jiwa kita yaitu air yang berasal dari batu karang rohani (Kristus). Kita harus merasakan dahulu dahaga sebelum kita berusaha untuk mencari air kehidupan yang dapat memuaskan kehausan jiwa kita. Disanalah kita diproses dan dimurnikan sedemikian rupa untuk menjadi akrab dengan Tuhan sehingga dapat memahami jalan-jalan-Nya. Setelah padang gurun, hadirat-Nya akan tinggal bersama kita, sebuah harta yang jauh lebih berharga daripada apupun yang dapat ditawarkan dunia kepada kita. Lalu kita akan memahami bahwa mimpi-mimpi kita bukanlah sumber kepuasan yang sejati tetapi hanya Yesuslah satu-satunya hal yang dapat membahagiakan hidup kita. Dari tempat keintiman inilah akan lahir pelayanan yang sejati yang akan membawa dampak kekal bagi Kerajaan Allah.

Kebanyakan pria menaruh kebahagiaan (keinginan, mimpi) mereka dalam karir (jabatan), kekuasaan, kemasyuran dan sex.. Sehingga ada yang mengatakan ada tiga ta yang dikejar pria yaitu harta, tahta dan wanita. Sedangkan kebanyakan wanita menaruh kebahagiaan mereka dalam hubungannya dengan pria (suami). Jane Hansen mengatakan anda hanya perlu melihat ke sekeliling anda untuk mengetahui bagaimana kaum wanita, bahkan wanita-wanita Kristen menaruh keinginan (kebahagiaan) mereka kepada laki-laki. Akibat dosa wanita telah berpaling kepada laki-laki agar dapat diterima, dipuji, dikagumi dan dipilih sehingga banyak wanita yang terobsesi pada kelangsingan dan keengganan makan karena keinginan tersebut. Hal apapun yang kita anggap akan menjadi kebahagiaan kita maka hal itu akan berkuasa atas kita. Bila kita meletakkan kebahagiaan pada kekayaan maka kekayaan akan menjadi berkuasa (berhala) dalam hidup kita. Bila kita meletakkan kebahagiaan pada hubungan dengan seseorang maka orang itu akan menjadi berkuasa (berhala) dalam hidup kita. Percayalah berhala-berhala tersebut tidaklah dapat memberikan kepuasan yang sejati.

Jonathan Edward mengatakan sukacita yang bersumber dari dunia tidaklah dapat memuaskan, hanya sukacita yang bersumber dari Allah yang dapat memberikan kepuasan. Tidak ada orang kaya yang puas dengan kekayaannya melainkan kebanyakan ingin terus bertambah kaya atau yang lebih buruk dihantui kekuatiran akan kehilangan hartanya. Tidak ada orang terkenal yang puas dengan kemasyurannya, malah banyak yang dicekam oleh ketakutan akan kehilangan popularitas. Seorang wanita yang menaruh kebahagiaan pada hubungan dengan suaminya tidak akan pernah puas sebab pada dasarnya hanya hubungan dengan Tuhan yang dapat memberikan kepuasan sejati. Itulah sebabnya banyak wanita yang kecewa dengan suaminya yang ternyata tidak dapat memenuhi kebutuhan emosional mereka. Dr. Joyce Brother, seorang psikolog memberikan statementnya bahwa kebutuhan psikologis yang paling mendasar dan paing dalam di dalam diri manusia adalah manusia membutuhkan kasih. Kekayaan, kemasyuran, jabatan, sex atau hubungan dengan orang lain tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia melainkan hanya kasih dari Tuhan yang tanpa syarat yang dapat memuaskan kebutuhan dasar kita sebab dari mulanya memang kita diciptakan untuk berhubungan dengan Allah. Keterpisahan dengan Allah akibat dosa merupakan sumber penderitaan dari semua penderitaan yang dialami oleh umat manusia.

Tuhan senang jika setiap kita bisa menggenapi impian yang telah Dia taruh di hati kita masing-masing. Namun Dia lebih senang lagi bila setiap kita bisa memiliki hubungan yang intim dengan-Nya. Seorang bapa akan sangat senang bila anak-anaknya bisa jadi orang dan berguna bagi masyarakat. Tetapi apakah bapa itu akan senang bila anak-anaknya yang sudah jadi orang itu tidak lagi memiliki hubungan yang penuh kasih dengan sang bapa? Bagi anda yang sudah memiliki anak tentu bisa memahami apa yang saya maksudkan ini. Semua orang tua ingin anak-anaknya berhasil menjadi orang dan hidup bahagia. Namun orang tua tentu tidak ingin jika anak-anaknya berhasil lalu mereka dilupakan sehingga di kala tua hidup di panti jompo sebab anak-anak yang telah berhasil itu melupakan mereka. Bapa di surga juga tidak ingin seperti itu, Dia menginginkan kita terlebih dahulu mengenal-Nya dengan intim sehingga kita menyadari bahwa hanya Dialah satu-satunya sumber kebahagiaan kita.

Sekitar tujuh tahun yang lalu dalam sebuah lawatan ilahi, Tuhan memberikan kerinduan di hati saya untuk memiliki kehidupan yang intim dengan-Nya dan juga membawa umat-Nya hidup intim dengan-Nya. Selama tujuh tahun ini saya telah mengalami banyak situasi sulit dimana kebingungan, kekecewaan, kegagalan dan frustasi silih berganti datang menerpa hidup ini. Tubuh menjadi sakit dan rambut rontok akibat stres berkepanjangan yang mengarah pada depresi. Beberapa kali saya hendak menyerah menghadapi beratnya tekanan yang harus dihadapi namun kasih karunia-Nya yang besar selalu menopang sehingga saya bisa tetap bertahan. Kunci untuk bisa menang adalah tetap taat, bersyukur dan memuji Tuhan walau situasi yang dihadapi sungguh menekan dan membingungkan. Bill Hybels mengatakan, “Jalan yang harus kita tempuh itu jalan yang sangat berat dan sukar; kehilangan hidup pribadi, memerosotkan diri sendiri bahkan sampai mati namun Alkitab dengan jelas dan konsisten berbicara tentang hal ini: Jalan yang keras itu pada saat yang sama juga merupakan jalan menuju sukacita abadi.” Cara mati dengan disalib memang merupakan cara kematian yang paling menyiksa di antara semua cara kematian yang ada tetapi dari kesakitan yang amat sangat itulah lahir sukacita yang sejati.

Hari ini saya bersyukur kepada Tuhan atas setiap pergumulan yang Dia ijinkan terjadi sebab semua penderitaan dan air mata yang ditumpahkan tidaklah sia-sia sebab sukacita Tuhan telah menjadi kekuatan dalam hidupku. Saya menuai dengan sukacita dan sorak sorai karena telah menabur dengan air mata. Saat ini tidak ada yang lebih membahagiakan dalam hidupku selain meluangkan waktu bersama Tuhan. Setiap pagi sehabis bangun tidur dan malam sebelum tidur saya meluangkan waktu untuk doa bukan karena kewajiban melainkan karena jiwaku sangat merindukan Tuhan. Saya rindu anda semua boleh mengalami keintiman dan kerinduan yang saya rasakan kepada Tuhan. Saya rindu anda semua boleh mengalami proses kematian manusia lama sehingga manusia baru dalam diri anda boleh dibangkitkan. Proses kematian melalui persekutuan dalam penderitaan-Nya itu memang tidak mudah namun percayalah kemuliaan yang kita terima tidak ada artinya dibanding penderitaan yang harus dialami. Semua yang ada di dalam dunia ini tidak ada artinya dibandingkan kemuliaan, kepuasan dan sukacita yang telah disediakan oleh Tuhan. Kiranya Tuhan membawa setiap kita untuk mengalami hubungan yang semakin intim dengan-Nya!
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."