• PDF

Dari Sukses Menuju Kebermaknaan

Penilaian Pengunjung: / 7
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 04 November 2009 14:51
  • Ditulis oleh Sunanto
  • Sudah dibaca: 3590 kali

Seorang teman lama saya yang dulu sama-sama melayani di kampus saat ini bekerja di Singapura. Bersama dengan isteri dan anaknya, dia tinggal di Singapura yang serba bersih dan teratur itu. Karena memiliki keahlian di bidang IT maka dia mendapatkan gaji yang cukup tinggi. Akan tetapi, saya cukup terkejut ketika dia mengatakan kepada saya bahwa ia merasa sangat bosan bekerja di sana. Walaupun tinggal di negara yang aman, bersih dan teratur serta memiliki kemapanan ekonomi, tetap saja dia mengeluh dengan rutinitas pekerjaan di kantor. Pada waktu mendengar suaranya melalui telepon, saya bisa merasakan tekanan dan kejenuhan yang dialaminya. Ketika dulu saya bekerja di sebuah kafe di Sydney, ada seorang tukang daging yang hampir setiap sore mengantarkan daging mengeluh bahwa ia merasa sangat bosan hidup di Australia. Sang pemilik kafe di tempat saya bekerja bahkan dulunya merupakan seorang manager di sebuah perusahaan tetapi karena mengalami kebosanan, ia memutuskan untuk membuka kafe meskipun ia harus ikut bekerja melayani para pembeli. Padahal bagi saya kota Sydney itu sangat indah, teratur, bersih dan romantis; sangat kontras dengan keadaan kota Jakarta.

Bob Buford, penulis ‘Halftime’, menyatakan bahwa bahwa sebagian besar orang Amerika menghabiskan paruh pertama dari karier mereka dengan membanting tulang untuk meraih sukses, hanya untuk mendapati bahwa mereka tidak berbahagia. Banyak pria dan wanita berusia 40-an yang telah mengalami kesuksesan dalam karier mereka akhirnya menyadari bahwa bukan kesuksesan yang mereka inginkan melainkan arti kehidupan. Agustinus pernah mengatakan bahwa “Di dalam diri setiap manusia terdapat lubang yang dibuat oleh Tuhan dimana hanya Tuhan yang dapat memenuhinya”. Dalam paruh  pertama dari hidup, kebanyakan orang mencoba memenuhi lubang tersebut dengan mengejar karir dan kesuksesan. Anda mencoba memuaskan keinginan inti tersebut melalui penumpukan dan perolehan. Buktinya ada pada gudang dan garasi Anda; catat juga berapa lama waktu yang Anda sediakan untuk rekreasi, santai dan kegiatan-kegiatan sosial.

Setelah pulang ke Indonesia pada akhir tahun 2000, saya bekerja di sebuah perusahaan kecil yang hanya memiliki beberapa orang karyawan (saya percaya Tuhan menempatkan saya di perusahaan ini). Setelah beberapa tahun perusahaan tersebut berkembang menjadi besar dan pindah ke kawasan elit di Jl. Sudirman. Sebagai orang lama dan perintis, sebenarnya saya tinggal menikmati kerja keras dalam membangun perusahaan tersebut. Tetapi di akhir tahun 2003, saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan tersebut karena Tuhan menginginkannya. Waktu itu saya tidak tahu bahwa Tuhan sedang membawa saya dari sukses menuju kebermaknaan. Kalau saja waktu itu saya tidak taat maka saya pasti akan kehilangan banyak hal dan Anda tidak akan menikmati tulisan-tulisan saya yang juga sudah dibukukan tersebut. Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman dalam mengikuti Tuhan, kita harus taat dahulu baru kemudian dapat mengerti. Ketika Yesus memanggil murid-murid-Nya, mereka harus taat dahulu dan kemudian baru mengerti.

Langkah pertama untuk mengalami hidup kebermaknaan adalah mentaati Tuhan dengan keluar dari zona kenyamanan. Ketika saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan, penghasilan yang saya dapatkan  kurang dari seperlima dari pendapatan saya sebelumnya. Akibatnya tabungan yang telah saya kumpulkan semakin menyusut seiring berjalannya waktu. Namun saya tidak menyesalinya sebab justru di saat krisis tersebut Tuhan memulihkan luka-luka batin saya sampai ke akar-akarnya dan membentuk karakter saya semakin serupa Kristus. Untuk memperoleh keselamatan memang gratis sebab hal itu sudah dibayar oleh Kristus tetapi untuk memiliki karakter Kristus ada harga yang harus dibayar. Saya tidak menyarankan Anda untuk meninggalkan pekerjaan Anda saat ini kecuali bila memang Anda yakin Tuhan menghendakinya. Keluar dari daerah kenyamanan tidak berarti Anda harus meninggalkan pekerjaan, pelayanan atau usaha Anda. Mungkin saja itu berarti Anda diminta untuk pindah ke perusahaan lain atau ke kota (negara) lain, itu semua tergantung pimpinan Tuhan. Seperti kata Bob Buford, yang terpenting adalah perubahan hati yang berserah penuh dan mengutamakan Tuhan melebihi segalanya.

Saya percaya banyak di antara Anda yang membaca tulisan ini mengalami kebosanan dan tekanan dalam kehidupan Anda. Jika Anda hidup dalam ketaatan maka tekanan dan kebosanan itu akan membawa Anda semakin serupa karakter Kristus. Sebaliknya jika Anda tidak hidup dalam ketaatan maka tekanan dan kebosanan bisa menghancurkan hidup Anda. Tidak sedikit orang yang mengalami krisis setengah baya (baca: puber kedua) jatuh ke dalam perselingkuhan/perzinahan sehingga hidup dan keluarganya menjadi berantakan. Keluarlah dari daerah kenyamanan Anda dan hiduplah dalam ketaatan penuh sehingga hidupmu akan menjadi berarti!

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Sendy Beatrix  - Dari Sukses menuju kebermaknaan   |125.160.106.xxx |05-11-2009 15:11:27
Makasi ya, karena saya dikuatkan dengan tulisan tersebut. GBU
yuli  - dari sukses menuju kebermaknaan   |222.124.227.xxx |05-11-2009 17:52:19
Thanks Pak, tulisannya menjadi motivasi dan pengalaman yg luar biasa bagi
saya.
Kadang kita takut melangkah keluar dari zona nyaman kita, tapi kita mesti
taat supaya dapat melihat kemuliaan ALLAH.
Artha  - waktu Tuhan memang indah   |203.191.47.xxx |05-11-2009 20:30:20
Waktu Tuhan memang indah, terkadang kita terjebak dalam budaya konsumtif,
padahal Tuhan mau kita hidup apa adanya, krn tiap hari punya berkat tersendiri,
seperti Doa yang Tuhan Yesus ajarkan, Tuhan mau setiap hari kita mau meminta
hanya kepada DIA sang pemilik kehidupan itu sendiri, Amin
aprijanto  - dari sukses menuju kebermaknaan     |202.147.241.xxx |06-11-2009 14:32:59
Terima kasih, saya diingatkan dan diteguhkan untuk tidak "alergi"
terhadap masalah. Untuk berani keluar dari rutinitas dan kemapanan. Tidak
gampang memang, tapi saya tahu itu salah satu cara yang Tuhan Yesus pakai agar
saya memiliki : "hati yang berserah penuh dan mengutamakan Tuhan melebihi
segalanya." Terima kasih banyak
Tutun  - Masalah adalah berkat   |61.30.105.xxx |06-11-2009 17:28:13
Menjadi orang yang taat memang tidak gampang. Taat pada orang tua saja sulit,
apalagi taat pada Tuhan yang kita tidak bisa lihat. Tetapi dengan
pengalaman-pengalaman iman yang kita alami setiap hari kita akan di mampukan
oleh Tuhan untuk menjadi anak-anak yang taat pada-Nya. Pada akhirnya kita akan
mengerti bahwa MASALAH yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita sesungguhnya
adalah sebuah BERKAT, Tergantung bagaimaa kita menyikapinya. Thank Pak
artikelnya. DIA memberkati kita semua.
Tjiauw  - Taat dulu, baru mengerti..   |114.125.216.xxx |06-11-2009 17:49:05
Thanks, Pak, atas tulisannya..
Memang benar, jika kita mau ikut & taat kepada
TUHAN akan banyak hal yang tidak kita mengerti di awalnya, karena PASTI
bertentangan dengan 'logika jasmani' kita..

KITA HARUS TAAT DULU, BARU
KEMUDIAN DAPAT MENGERTI!!!..

GOD BLESS YOU ALL..
Samuel Chandra Barus  - dari sukses menuju kebermaknaan   |216.7.145.xxx |16-11-2009 04:15:13
Pergumulan yg sama.. Thanks banget
Darma Surbakti  - Dari Sukses Menuju Kebermaknaan     |202.78.25.xxx |10-12-2009 22:47:49
Saya sungguh tergugah juga membaca tulisannya karena baru hari ini saya tulis
surat pengunduran diri saya dari tempat lama bekerja. Ada rasa bahwa yang
kumiliki hanya Tuhan Yesus yang menjadi andalan saya. Saya memang masih bekerja
tapi sebagai temporary employee setiap waktu bisa diberhentikan. Saya sekarang
mengandalkan Tuhan bukan lagi pekerjaan yang mapan. Orang tua pun sudah
meninggal dua-duanya dalam waktu yang belum lama ini sehingga tempat
perlindungan di dunia hanya Tuhan Yesus. Tapi saya percaya apa yang tertulis di
Mathew 6: 25-34. Therefore I tell you, do not worry about your life, what you
will eat or drink; or bout your body, what you will wear. Is not life more
important than food, and the body more important than clothes? Look at the birds
of the air; they do not sow or reap or store away in barns, and yet your
heavenly Father feeds them. Are younot much more valuable than they? Who of you
by worrying can ad...
Tahir Wijaya  - rutinitas, kesuksesan dan kebosanan   |125.165.51.xxx |19-12-2009 18:59:24
terima kasih untuk tulisannya yang memberikan "insight" untuk
merenungkan makna kesukesesan. kemapanan dan kenyamanan bukanlah jaminan
kesuksesan sejati. tetapi rutinitas bukanlah harus di"musuhi", karena
menjalani rutinitas dengan sukacita dan konsistensi adalah juga ukuran
kedewasaan iman kita. hidup kita dipenuhi dengan rutinitas, persoalannya
dapatkah kita memberikan arah dan makna sorgawi untuk hidup kita?
thanks ya
untuk tulisannya.
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."