Dengarlah Suara Tuhan

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Banyak orang terkejut pada masa sekarang setelah mengetahui bahwa radio siaran bukan hanya sekadar mengeluarkan suara yang menghibur, asal berceloteh dan memutar lagu maupun memberikan aneka informasi dan berbagai ragam menu talk-show. Zaman bahwa jadi penyiar radio itu hanya bermodal suara, sudah lama lewat. Era asal omong dan putar lagu, lalu pendengar senang, sudah tak mempan lagi. Kini kalau mau jadi penyiar radio seabrek-abrek persyaratan haruslah dipenuhi termasuk proses panjang untuk menambah jam terbang mengudara harus ditempuh dengan sabar dan ulet dengan risiko bisa saja kontraknya tidak diperpanjang, atau kembali masuk box (arena pelatihan).

Tapi karena radio siaran adalah media audio maka pendengaran adalah utama. Artinya apa yang disuarakan, apa yang akan didengar oleh pendengar itulah yang memiliki nilai jual tinggi. Dan untuk bisa menyajikan hal ini maka penghayatan terhadap suara yang diperdengarkan, dan suara yang didengar haruslah tidak asal saja. Penyiar memercikkan suaranya ke mana-mana melalui seperangkat alat yang berada di ruang studio. Pendengar pun mendengarnya, menikmatinya, dan menangkap percikan suara itu. Lalu dimasukkannya ke dalam hati dan pikirannya, dan terekam!

Suara yang berkumandang di udara dan melintas ke mana-mana tak terhalangi oleh ruang dan waktu, sungguh sangat pribadi pada saat-saat tertentu. Namun juga dia akan menjadi milik publik, milik masyarakat pada saat yang bersamaan bila itu menyangkut persoalan yang ada di tengah-tengah kehidupan publik / masyarakat. Inilah uniknya radio siaran. Siapakah yang tidak pernah merasakan seolah-olah penyiar sedang menyapa diri kita, sekalipun itu ditujukan kepada orang lain? Siapakah yang tidak turut sedih ketika terungkap kisah sedih seorang pendengar berinterakif di sebuah acara radio? Ternyata sedikit banyak kisahnya juga pernah menimpa kita.

Ketika beberapa bulan lalu saya memberikan materi bagaimana membuat program acara radio (rohani) sekaligus mengadakan pelatihannya di aula Yayasan Gloria, Jogja bekerjasama dengan Radio Petra FM, ada sepasang suami istri yang mengikuti Lokakarya itu berbincang-bincang dengan saya. Saya kagumi semangat pasangan ini, karena tidak malu-malu mengikuti kegiatan tersebut di tengah-tengah sekitar 70-an mahasiswa Jogya. Rupanya mereka ingin sekali jadi penyiar acara rohani! 

Mengapa? Ternyata mereka memiliki motivasi yang di luar dugaan saya. Saya pikir pada waku itu, mungkin saja mereka hendak mencari ketenaran diri, dan sekaligus menyalurkan hobbi. Ternyata dugaan saya itu salah besar. Sebab dari cerita (kesaksian hidup) mereka, terungkaplah bahwa pada tahun 1980-an mereka menjalani kehidupan di Jakarta. Dan di ibukota negara RI inilah mereka mengalami pencobaan hidup yang luar biasa yang menghantam fisik dan jiwa. Hancur-hancuranlah hidup mereka! Sehingga ada situasi-situasi tertentu yang menggiring mereka ke arah hidup yang penuh dengan kegelapan. Penuh dengan keputus-asaan. 

Namun ... bersamaan dengan itu mereka juga tidak lupa menyetel siaran radio rohani. Waku itu menurut pengakuan mereka, yang didengar adalah program renungan malam dari Radio Pelita Kasih, dan saya adalah salah satu penyiar acara itu! Betapa terkejut saya mendengar kisah ini. Sudah belasan tahun lalu kejadiannya. Sekarang mereka bertemu penyiarnya dan saya bertemu pendengarnya. Bertemunya bukan di Jakarta tapi di Jogja! 

Nah ... isi siaran yang disampaikan melalui suara penyiar itulah yang telah mengubah hidup mereka. Pada saat-saat genting, suara penyiar yang membawakan Firman Tuhan tersebut mendorong mereka untuk mencari jalan keluar ke hamba Tuhan bukan ke pada orang-orang lain. Dan hati mereka tergerak ... maka hidup mereka pun dipulihkan. Oleh sebab itu dengan kerinduan yang dalam, dengan motivasi yang tulus, mereka ingin jadi penyiar radio rohani karena telah mengalami sendiri bagaimana Tuhan menyelamatkan hidup mereka melalui suara penyiar! 

"Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya." (Mazmur 34:19). Sekarang bagaimanakah kita bisa merasakan betapa Tuhan itu dekat dengan kita? Kita yang mungkin saja tengah patah hati terhadap kehidupan ini, dan sudah remuk jiwanya dihantam badai persoalan hidup yang tak berkesudahan. Suara siapakah yang harus kita dengar? Karena jutaan suara terpercik di dunia fana ini memberikan alternatif solusi yang dapat saja berujung ke pada kematian kekal. Tuhan penuh kasih. Tuhan tak dibatasi cara. Apa pun dapat dipakai-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya, termasuk suara penyiar! 

Jakarta, 09 Agustus 02
Tema
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."